Rabu, 29 Agustus 2018

Ketika Ampar-Ampar Pisang Menggema di Gelora Bung Karno



Perhelatan pesta olahraga bangsa-bangsa Asia, ASIAN GAMES ke-18 yang diselenggarakan di Jakarta-Palembang telah memasuki paruh waktu ke-dua. Pesta olahraga terbesar ke-dua di dunia setelah Olimpiade yang kali ini mengambil tema Energy of Asia ini, benar-benar menebarkan pesona Indonesia sebagai energi Asia yang sebenarnya! 

Sampai hari ini, dahsyatnya suguhan Opening Ceremony yang berlangsung di Gelora Bung Karno pada tanggal 18-8-2018 yang lalu, masih menjadi buah bibir baik di dalam maupun di luar negeri. Upacara pembukaan yang mengambil tema Unity in Diversity yang tidak lain merupakan terjemahan dari Bhinneka Tunggal Ika itu, rupanya sukses mencuri perhatian khalayak tidak hanya di dalam negeri saja, tapi juga masyarakat dunia internasional.

Menurut INASGOC  (Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee), panitia lokal Asian Games 2018, total broadcast dan media asing yang terdaftar di panitia untuk meliput Asian Games termasuk pada malam Opening Ceremony adalah sekitar 11.000 orang. Mereka berasal dari berbagai media dan broadcaster mainstream yang tersebar di seluruh dunia, seperti BeIn Sport, FOX, Reuters, CNN, Straight Times dll. Merekalah yang menyebarkan berita dahsyatnya kemegahan Opening Ceremony ASIAN GAMES 2018 ke seluruh pelosok dunia.

Selain itu, data sahih yang secara resmi dirilis oleh Twitter Indonesia menyebutkan, tercatat ada satu juta tweet yang menyertakan tagar #OpeningCeremonyAsianGames2018 dalam tempo kurang dari satu hari saja, sekaligus menjadikan tagar tersebut sebagai trending topic dunia. Selain itu, Twitter Indonesia juga merilis peta sebaran percakapan di Twitter terkait acara pembukaan Asian Games 2018 yang ternyata tidak hanya di seputar Indonesia dan Benua Asia saja, tapi juga menyebar sampai ke pelosok berbagai negara di benua Australia, Eropa, Amerika dan Afrika. 

Fakta-fakta diatas “hanya” sebagian kecil dari fakta riil dilapangan. Bahkan dari media sosial, sample data hanya diambil dari Twitter saja, belum merambah ke media sosial mainstream lainnya seperti Facebook, Instagram, You Tube,  G+,  LINE dan yang lainnya. Setidaknya, dari data diatas kita bisa melihat “tanda-tanda awal” dari keberhasilan Indonesia menjadi tuan rumah ASIAN GAMES 2018, sekaligus menahbiskan target kesuksesan sebagai penyelenggara.   

Memang tidak bisa dipungkiri, kemegahan artistik Opening Ceremony yang diramu dari eksotika berbagai produk budaya traditional khas Indonesia yang dikemas secara cerdas dan berkelas international oleh anak-anak bangsa yang tercatat sebagai profesional di bidangnya masing-masing ini membuat Opening Ceremony tampak lebih “berwarna” dan hebatnya mampu merubah sebuah tradisi dalam sebuah acara Opening Ceremony gelaran pesta olahraga akbar.

Jika biasanya, defile atlit dan official dari semua negara peserta yang menjadi daya tarik utama sebuah opening ceremony,  khusus di ASIAN GAMES  ke-18 ini beda! Di sini, daya tarik utama bergeser pada penampilan atraktif ribuan penari yang menampilkan atraksi kolosal yang diiringi berbagai lagu daerah secara medley yang dipadu dengan tata panggung serta atraksi kembang api (flare) yang semakin membuat suasana semakin meriah dan full artistik. Segmen inilah yang diyakini banyak pihak menjadi “kunci” pembuka dari kemegahan Opening Ceremony ASIAN GAMES 2018, Jakarta-Palembang.

Tema Opening Ceremony : Unity in Diversity dan tema Asian Games : Energy of Asia, benar-benar diterjemahkan secara brilian di atas panggung raksasa di dalam Stadion Gelora Bung Karno, selama hampir tiga jam.

Dari tema Unity in Diversity, muncul desain panggung yang “Indonesia banget!” Diorama pegunungan berikut terasering sawah dan tampias air terjun cantik yang hijau segar, semakin dramatis ketika di kombinasikan dengan teatrikal pencahayaan yang eksotis. Fragmen ini mengingatkan kita pada “Indonesia”! Puluhan ribu pulau, laut yang kaya, ratusan etnis dan bahasa serta banyaknya agama yang diakui, semuanya dirajut oleh semangat kebersamaan dalam spirit Unity in Diversity alias Bhinneka Tunggal Ika.

Sampai saat ini, Indonesia tetap menjadi contoh terbaik bagi dunia, bagaimana keragaman serta kemajemukan sebuah bangsa justeru menjadi pengikat dan pemersatu yang kuat. Kita patut bangga menjadi Bangsa Indonesia, karena bukan persamaan yang membuat kita besar tetapi justeru perbedaanlah yang mebuat kita kuat dan tahan banting. Inilah Indonesia! Inilah kekuatan dahsyat Energy of Asia yang sebenarnya yang suatu saat nanti akan mengguncang dunia.

Tarian kolosal Ratoeh Jaro, tarian tradisional penggugah semangat dari bumi Serambi Mekah, Aceh yang merupakan merupakan modifikasi penggabungan beberapa jenis tarian khas Aceh seperti tari Saman, Ratoeh Doek, Loloek Puloe, Ratep Meuseukat dan Ratu Bantai dipilih oleh duo koreografer andal Denny Malik dan Eko Suprianto sebagai “magnet” untuk membuka penyambutan kedatangan para tamu kehormatan.

Kekompakan, konfigurasi gerak dan kostum para penari yang memunculkan berbagai penampakan konfigurasi unik dalam bentuk gradasi warna maupun gradasi tekstur aneka bentuk berhasil mengundang decak kagum para penonton yang secara spontan menjadikan Gelora Bung Karno kembali bergemuruh.

Menariknya, dalam sajian budaya yang masuk dalam segmen upacara selamat datang ini, dua dari beberapa lagu yang menjadi pengiring ribuan penari itu adalah Ampar-Ampar Pisang dan Paris Barantai, dua lagu daerah Banua Kalimantan Selatan. Saking bangganya mendengar lagu daerah Banua menggema di Gelora Bung Karno yang sedang dalam puncak euforia dan tersiar secara langsung ke seluruh dunia, membuat saya yang saat itu menyaksikan secara langsung moment bersejarah di Gelora Bung Karno merasa merinding.
Tiket masuk Opening Ceremony Asian Games 2018 (Foto : @kaekaha)


Kejutan demi kejutan menghibur terus mengalir pada rangkaian Opening Ceremony ini, salah satunya adalah penampilan menghibur fragmentasi perjalanan Presiden Joko Widodo menghadiri Opening Ceremony yang dimulai dari istana Bogor untuk membuka secara resmi ASIAN GAMES 2018. 

Kejutan berikutnya muncul saat defile atau pawai atlit beserta oficial yang berjalan diantara konfigurasi para penari yang membentuk liukan jalan sambil terus bergoyang mengikuti irama. Salah satu moment paling menarik perhatian adalah munculnya kontingen Korea tanpa embel-embel Selatan/Utara. Mereka berjalan bersama dengan memakai seragam dan bendera yang sama. Moment ini menunjukkan kuatnya soft power diplomacy Indonesia sebagai negara merdeka yang mempunyai haluan politik luar negeri “bebas aktif”, termasuk berinisiatif untuk ikut menjaga perdamaian dunia melalui event olahraga.
Siap-siap menunggu opening Ceremony di GBK (Foto : Sarif Hidayat)

Saya benar-benar beruntung menjadi salah satu dari sekian puluh ribu pasang mata yang bisa melihat secara langsung opening ceremony Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno pada tanggal 18-8-2018 lalu, berkat undangan dari Kementerian Komunikasi dan Informasi yang diberi mandat oleh Presiden Joko Widodo untuk menyelenggarakan berbagai lomba berbasis kreatifitas, edukatif dan bermanfaat dengan tujuan untuk menjaring sebanyak-banyaknya pemuda-pemudi dari seluruh pelosok Indonesia untuk bergabung bersama menggaungkan gema event Asian Games 2018 Jakarta-Palembang keseluruh pelosok Indonesia melalui keahlianya masing-masing. Lomba-lomba tersebut diantaranya adalah  Writingthon, Duta Suporter, Dance Pesta Rakyat, Virtual Run, Lomba Gapura, Lomba Video Kreatif, Foto online dll.
Banner lomba Writingthon Asian Games 2018

Alhamdulillah, saya bersama seorang mahasiswi Fakultas Hukum ULM. Nagawati Limantara terpilih mewakili Kalimantan Selatan melalui jalur lomba Writingthon, yaitu lomba menulis secara marathon untuk blogger dan Pelajar/Mahasiswa yang karyannya langsung dibukukan. 


Artikel ini juga bisa dibaca di sini

Kamis, 16 Agustus 2018

Writingthon, Kolaboraksi Dahsyat Untuk Meledakkan Gaung Asian Games



Menyemarakkan Asian Games 2018 melalui Writing Marathon

Perhelatan akbar olahraga terbesar se-Asia akan diselenggarakan di Indonesia yang akan dibuka secara resmi pada 18 Agustus 2018 mendatang. Semangat merah putih dan dukungan masyarakat Indonesia sangat terlihat dalam menyambut Asian Games 2018 ini. Dalam menyemarakkan Asian Games 2018, Presiden Joko Widodo mengharapkan agar semangat Asian Games 2018 dapat digaungkan hingga ke pelosok negeri. Di ibukota, semangat ini dapat terlihat jelas di sepanjang jalan yang dipenuhi dengan spanduk dan banner dukung bersama Asian Games 2018. 

Asian Games 2018 juga disemarakkan oleh setiap masyarakat Indonesia, seperti 68 orang blogger dan pelajar/mahasiswa dari perwakilan 34 provinsi di Indonesia yang menyemarakkan Asian Games 2018 bersama melalui  kegiatan Writing Marathone (Writingthon) Asian Games 2018. Kegiatan Writingthon ini diselenggarakan oleh Kementerian Informasi dan Komunikasi (Kominfo) dan Bitread yang terinspirasi dari sebuah acara kepenulisan yaitu Hackaton (Hacking-Marathon). Blogger dan pelajar/mahasiswa yang terpilih mewakili setiap provinsi untuk mengikuti kompetisi menulis terlebih dahulu sebelum mengikuti karantina Writingthon Asian Games 2018. Blogger dan pelajar/mahasiswa dengan tulisan terbaik dari setiap provinsi diundang untuk mengikuti karantina Writingthon Asian Games 2018 yang bertempatkan di Hotel Millenium, Jakarta sejak 15 Agustus hingga 19 Agustus 2018. Writingthon Asian Games 2018 ini memiliki luaran berupa buku mengenai Asian Games 2018 yang disusun secara kolektif oleh para peserta. 

Selain melalui tulisan, para blogger dan pelajar/mahasiswa juga menyemarakkan Asian Games 2018 melalui akun media sosial mereka, dengan demikian baik Asian Games 2018 dan Writingthon Asian Games 2018 dapat menginspirasi setiap orang untuk bangga sebagai bangsa Indonesia. Menjadi harapan besar bagi setiap peserta bahwa tulisan yang disumbangkannya akan menjadi bukti sejarah pesta olahraga terbesar kedua di dunia yang diadakan di Indonesia. Rasa bangga menyambut Asian Games 2018 ini harus terus dipupuk, dan melalui sebuah tulisan begitulah cara blogger dan pelajar/mahasiswa itu menyemarakkan Asian Games 2018. 


Berjuang Seperti Halnya Atlit Asian Games dengan Virtual Run

Perhelatan event olahraga terbesar se asia sebantar lagi akan segera dibuka pada tanggal 18 Agustus 2018 mendatang, banyak sekali evoria dan semangat dari seluruh rakyat indonesia dalam menyambut pesta akbar olahraga se asia ini. Mulai dari kampanye di media digital hingga karya moral kreatif yang dibuat di seluruh penjuru kota di indonesia. Dalam semarak dukung bersama ini banyak kalangan masyarakat menyambut event dengan penuh suka cita, banyak sekali program dari beberapa pihak untuk menyukseskan Asian Games 2018 ini. Dari beberapa event yang yang diselenggarakan yang sangat menarik ialah virtual run. Virtual run adalah sebuah program berlari dengan jarak yang sudah ditentukan oleh pihak panitia kemudian kita berlari dari daerah tempat asal kita dengan menggunakan aplikasi pengukur jarak dan waktu.

Menurut saya program virtual run ini sangat positif sekali membantu mengampanyekan  program dukung bersama kepada seluruh masyarakat daerah tempat tinggal karena selain untuk memberikan dukungan bersama kepada seluruh kontingen indonesia kita juga bisa menebarkan virus berolahraga kepada seluruh masyarakat untuk lebih bisa hidup sehat. Dengan melakukan program Virtual run sebagai bentuk dukung bersama di event asian games kita juga bisa merasakan sensasi berjuang seperti halnya atlet yang akan tanding di event Asian Games.

Virtual run sendiri pun dapat dilakukan dimanapun dan kapan pun sehingga kita bisa menjadwal pola hidup yang lebih sehat sekaligus menjadi motivasi diri kita untuk selalu berolahraga mencapai target yang ditetepakan oleh panitia. Harapanya dengan mengikuti program virtual run ini bisa memompa semangat para atlet yang akan berjibaku dalam merebutkan medali di asian games 2018.


 
 “ Cenderawasih Pucuk dari Ujung Timur “

Menyambut pesta olahraga terbesar asia yang bertempat di Jakarta –palembang tertanggal 18 Agustus 2018  -  02 september 2018,banyak sekali pesiapan- persiapan yang pastinya telah dimulai dari panitia,peserta dan lebih lagi kepada setiap atli-atlit Indonesia,unuk menyemarakan pesta tersebut ada beberapa panitia yang telah membuat Lomba menulis dengan tema yang sudah di siapkan panitia peserta yang terdaftar antara lain Blogger serta writingthon kategori pelajar/Mahasiswa.

Salah satu peserta yang lolos Writingthon kategori pelajar/mahasiswa adalah Mahasiswi yang berasal dari kota study Denpasar-Bali , bernama Natalia Tabuni namun dia adalah Seorang putri dari ujung bumi Cenderawasih pulau di mana sang surya memancarkan cahayanya dengan malu di pagi hari , Bumi Cendarawih Papua.Awal mengikuti Lomba dia sempat berpikir d benaknya ‘dari sekian banyak peserta writingthon apakah akan ada nama saya ?’

 Awal mendengar tema ini ( SAYA BANGGA INDONESIA SEBAGAI TUAN RUMAH ASIAN GAMES ) dia sangat senang karena dia sangat menyukai olahraga khususnya Rugby,Futsall dan tradisional dancing of papuan people  itu semua dilakukannya di selah-selah kesibukan kuliahnya.

Natalia dan beberapa teman-temannya  adalah seorang pemain Rugby Cewe pertama mewakili provinsi bali,di selah selah kesehariannya dia juga sering bermain futsal,dan latihan menari. Tanpa lama berfikir panjang dia memutuskan untuk mengikuti lomba writingthon ,setelah selesai dari satu paragraph ke paragraph lain , dia pun mengirimkan kembali hasilnya ke pada panitia melalui email miliknya.beberapa haripun berlalu , dia mendapat email balasan dari panitia bahawa dirinya telah lolos dalam kategori pelajar/mahasiswa,,dia mengikuti semua persyaratan dari pania untuk mengisi berbagai form untuk mengikuti kegitan beberapa hari di Jakarta,dan tepat pada tanggal 15 august 2018  kemarin dia dan beberapa teman-teman berbeda provinsipun tiba di Jakarta berkat Kominfo dan Bitread.

Ps: kepada mereka yang berkulit hitam dan kerting rambut yang turut ikut ambil bagian dalam pesta olahraga se-Asian , Ciptakan segala permainan  cantikmu agar ada rasa kebanggan tersendiri bagi kami di ujung bumi cenderawasih,agar kelak menjadi cerita bagi anak cucu Masyarakat kami tercinta   Papua.

“HITAM BUKAN KELAM , KERITING BUKAN RUSAK,TAPI HITAM DAN KERITING ADLAAH MARTABATKU” (Mansar Hugo Warami) .


Writingthon, Kolaboraksi Dahsyat Untuk Meledakkan Gaung Asian Games 

Perjalanan Writingthon Asian Games 2018 hampir mendekati titik kulminasi,  gairah untuk menulis tema-tema dengan ¬angle terbaik menjadi motor penggerak terdahsyat bagi semua peserta yang datang dari seluruh penjuru Indonesia.

Event writingthon,  meskipun bukan sebuah ide yang original dari sisi “marathon-nya”, Dari sisi teknis penulisan, proses pengayaan materi yang melibatkan banyak orang dan adanya pressing time tetap saja memberikan atmosfer baru yang akan memperkaya “seni” penulisan bagi para writer  kedepannya. Bisa jadi, tren “writingthon” ini akan menjadi sebuah role model kompetisi menulis paling rame dan heboh di Indonesia bahkan mungkin dunia.

Khusus untuk event  writingthon Asian Games 2018 ini, keseruannya semakin tampak luar biasa karena materi peserta yang berasal dari semua propinsi di Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke semua ada. Keren kan! Dari wilayah barat Indonesia, ada Ammar dari Bangka Belitung, dan Syarif Hidayat dari Ngayogyokarto Hadiningrat, dari Tengah Indonesia ada Kartika Eka dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan dan dari Timur Indonesia ada Talia dari Papua, negeri eksotis yang kaya dengan potensi alam.

Event writingthon Asian Games 2018 memang digagas untuk semakin menggaungkan gelaran pesta  olahraga bangsa-bangsa Asia ke 18  alias Asian Games 2018 yang diselenggarakan di Jakarta dan Palembang.

Disini di arena writingthon semua ide dan gagasan terbaik anak-anak bangsa dari seluruh penjuru Nusantara untuk dukungbersama Asian Games bisa bertemu dan dikolabarasikan menjadi sebentuk amunisi terbaik yang bisa “meledakkan” gaung Asian Games lebih dahsyat ke segala penjuru dunia!   
Penulis : 
Muhammad Ammar Hidayahtulloh
Sarif Hidayat
Kartika Eka Hendarwanto
Natalia Tabuni

Minggu, 15 Juli 2018

Kayuh Baimbai, Waja Sampai Kaputing Untuk Kesuksesan ASIAN GAMES 2018


Peta Republik Indonesia (Grafis : nkriweb.blogspot.com)

Bangsa dan Negara Indonesia merupakan sebuah analogi dari badan atau tubuh kita. Jika ada bagian tubuh kita yang sakit, maka bagian tubuh yang lain juga akan ikut merasakan sakit berikut dampaknya. Begitu pula sebaliknya, jika ada bagian tubuh kita yang merasakan nikmat, maka anggota tubuh yang lain juga ikut merasakan nikmat berikut efek dan dampaknya juga. 

Itu juga yang saat ini sedang terjadi! Disaat Kota Jakarta dan Palembang atas nama Indonesia dipercaya menjadi venue dari pesta olahraga bangsa-bangsa Asia yang ke-18. Semua daerah di Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang jaraknya ribuan kilometer dari Jakarta maupun Palembang juga ikut merasakan semaraknya euforia Energy of Asia, energi persaudaraan, perdamaian dan persatuan bangsa-bangsa Asia yang dipertemukan dan diimplementasikan melalui event olahraga dengan label ASIAN GAMES 2018. 

Lambang Propinsi Kalimantan Selatan
(Grafis : id.wikipedia.org)


Dari Kalimantan Selatan Untuk Asian Games 2018

Jauh-jauh hari, Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor yang lebih akrab dipanggil dengan Paman Birin oleh rakyatnya ini, berkomitmen sekaligus memastikan pemerintah dan rakyat Kalimantan Selatan kayuh baimbai (berjuang bersama-sama) terlibat dalam membantu menyukseskan jalannya pesta olahraga bangsa-bangsa Asia ke-18 yang akan berlangsung pada 18 Agustus - 2 September 2018 ini.  

Kesuksesan ASIAN GAMES 2018, bagi Indonesia tentu tidak hanya kesuksesan dalam penyelenggaraanya saja, tapi juga sukses prestasi! Kita (terutama para duta bangsa yang bertarung di lapangan) harus berusaha sekeras mungkin, waja sampai kaputing (tetap bersemangat dan kuat bagaikan baja dari awal sampai akhir) untuk meraih prestasi setinggi mungkin di setiap cabang olahraga yang dipertandingkan.
Jajaran Kepolisian di Kalimantan Selatan juga mendukung ASIAN GAMES 2018
(foto : @kaekaha)

Sejak awal, tekad Kalimantan Selatan untuk turut serta secara aktif menggaungkan, menyemarakkan dan menyukseskan gelaran ASIAN GAMES 2018 di Jakarta dan Palembang, tidak terlepas dari niat Kalimantan Selatan  menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional ke XXI tahun 2024. Kalimantan Selatan ingin menyandingkan kampanye dari dua even olahraga ini bisa berjalan bersamaan. Agar gaung PON  XXI yang diharapkan bisa berlangsung di Kalimantan Selatan, juga bisa sebesar ASIAN GAMES. Sayang, dalam bidding proses pemilihan tuan rumah PON  XXI tersebut, Kalimantan Selatan kalah voting dari duet Sumatera Utara-Aceh yang terpilih dan Bali sebagai runner up.

The Show Must Go On! Meskipun Kalimantan Selatan gagal terpilih menjadi tuan rumah PON XXI tahun 2024, dukungan Kalimantan Selatan untuk perhelatan pesta olahraga terbesar ke-2 di dunia setelah Olimpiade itu tetap bulat. Inilah komitmen Kalimantan Selatan sebagai bagian dari “tubuh” NKRI.

Seperti daerah lain di Indonesia, untuk menyukseskan  Asian Games 2018, Paman Birin telah menghimbau kepada seluruh elemen masyarakat Kalimantan Selatan untuk mendukung pelaksanaan  ASIAN GAMES 2018  tersebut  dengan memasang umbul-umbul, baliho, spanduk dan atau materi sosialisasi lain dengan tema menyesuaikan ketentuan yang ditetapkan oleh panitia pusat. 
RRI Banjarmasin ikut serta mendukung ASIAN GAMES 2018
(foto : @kaekaha)

Hal ini seperti yang diucapkan beliau saat meninjau Stand ASIAN GAMES 2018,  Kementerian Pemuda dan Olahraga RI pada Puncak HUT ke-43 Taman Mini Indonesia Indah di TMII Jakarta, dimana Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan didaulat sebagai tuan rumah atau sponsor utama, Jumat (20/4/2018).

“Sebagai wujud dukungan untuk menyukseskan ASIAN GAMES 2018, saya mengimbau diawali  instansi pemerintah dan swasta, termasuk perbankan di Kalsel untuk mendukung kemeriahan kegiatan multi cabang olahraga dunia itu dengan memasang baliho, terutama mereka yang memiliki ruang promosi strategis di depan kantor masing masing,” “Asian games ini kesempatan negara kita untuk memperkenalkan kepada dunia luar bahwa kita memiliki atlet berprestasi. Makanya mari kita semua menyukseskan Asian games dengan memasang spanduk atau baliho di lingkungan masing-masing,” ajaknya. 

Gayung bersambut, semua intansi pemerintah dan non pemerintah, sipil dan militer, kepolisian, swasta dan ormas langsung merespon himbauan Paman Birin. 

Salah satu instansi yang mempunyai lokasi kantor strategis untuk memasang baliho dan atau spanduk sosialisasi ASIAN GAMES 2018 adalah Radio Republik Indonesia dan jajaran Kementerian Hukum dan HAM Kalimantan Selatan. 
Pemprov Kalimantan Selatan mendukung ASIAN GAMES 2018
(foto : @kaekaha)
Khusus untuk jajaran Kementerian Hukum dan HAM Kantor Wilayah Kalimantan Selatan, selain memasang baliho dan spanduk sebagai bentuk dukungan dalam rangka pelaksanaan Asian Games Ke-XVIII di Jakarta dan Palembang, jajaran Kementerian Hukum dan HAM Kantor Wilayah Kalimantan Selatan juga memasang sticker sosialisi dukungan untuk ASIAN GAMES 2018 di semua Kendaraan Dinas dan Operasional  Kantor Wilayah.
pemasangan sticker dukungan terhadap Kendaraan Dinas
(Foto : kalsel.kemenkumham.go.id)

Berikut pernyataan Kepala Bagian Program dan Pelaporan, Kementerian Hukum dan HAM Kantor Wilayah Kalimantan Selatan, Andi Basmal, pada penyelenggaraan seremonial dukung bersama ASIAN GAMES 2018, sekaligus pemasangan sticker dukungan di Kendaraan Dinas dan Operasional  yang ada di halaman Kantor Wilayah, beberapa waktu yang lalu,
Kanwil Kemenkumham Kalimantan Selatan mendukung ASIAN GAMES 2018
(Foto : kalsel.kemenkumham.go.id)

"Kurang lebih ada 100 buah kendaraan roda 4 yang terparkir dihalaman Kanwil kita Pasang stiker dalam rangka menyukseskan ASIAN GAMES 2018 ini, Kendaraan yang kita pasang stiker bukan hanya mobil dinas atau operasional namun kendaraan para pegawai dengan sukarela untuk dipasangkan stiker, selain untuk mempromosikan kegiatan tersebut kanwil Kemenkumham kalsel juga dalam kesempatan ini sekaligus mensosialisasi salah satu tugas dan fungsi kami yaitu Keimigrasian yang mana akan berhubungan dengan pelaksanaan Asian Games, terkait dengan atlet dan kru serta wartawan asing yang mengunjungi Indonesia terutama di Kalsel." 

Sementara itu jajaran keimigrasian sendiri saat ini tengah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya agar bisa menjadi tuan rumah yang baik karena mungkin ada di antara partisipan ada yang akan berkunjung ke wilayah Kalimantan Selatan.

Anak-anak komplek kami masih tetap main sepakbola
(foto : @kaekaha)

Masyarakat Kalimantan Selatan Menyongsong Asian Games 2018 

Euforia final Piala Dunia 2018 di Russia pada awalnya dianggap mengganggu antusiasme masyarakat Indonesia terhadap gelaran ASIAN GAMES 2018. Apalagi, hajatan Piala Dunia 2018 berlangsung tepat saat libur panjang sekolah. Sedangkan, ASIAN GAMES 2018 berlangsung saat anak-anak mulai masuk di kelas baru masing-masing.

Anak-anak masih mencoba bermain bulu tangkis
(Foto : @kaekaha)


Ternyata, asumsi ini tidak sepenuhnya benar! Karena antusiame anak-anak untuk mengikuti euforia gelaran ASIAN GAMES 2018 tetap tinggi. Sepertinya, masyarakat Kalimantan Selatan masih ingin terus larut dalam euforia gegap gempitanya even olahraga dan ASIAN GAMES 2018 menjadi semacam pelipur lara dari perginya Piala Dunia 2018.

Bagaimana dengan anda!?

Sabtu, 14 Juli 2018

Melintas Hutan Kalimantan Timur, Menikmati Infrastruktur Ramah Hutan



Inilah Hutan Kalimantan!

Bagi yang belum pernah melihat langsung alam Pulau Kalimantan, membayangkan pulau terbesar di Indonesia ini yang terlintas pasti hutan belantara yang lebat, suku dayak dengan ciri khas telinga panjangnya dan orang utan yang bergelantungan di ketinggian dahan-dahan pohon hutan! Betul...? Memang benar, semua itu bagian dari Kalimantan. 

Konservasi Flora dan Fauna

Hutan hujan tropis Pulau Kalimantan, sejak lama memang berperan sebagai area konservasi sekaligus suaka bagi plasma nutfah berbagai spesies hayati (flora) dan hewani (fauna) endemik Pulau Kalimantan yang secara kuantitas mulai terancam punah sehingga perlu perlindungan ekstra. Sebut saja spesies orang utan (Pongo pygmaeus),  bekantan atau si monyet belanda (Nasalis larvatus)  yang berhidung mancung, gajah Kalimantan (Elephas maximus borneensis),  burung enggang (Bucerotidae) atau hornbill yang begitu diagungkan oleh saudara  kita suku dayak. 

Untuk spesies hayati,  Kalimantan  adalah rumah bagi ratusan jenis anggrek eksotis yang sifatnya endemik seperti anggrek hutan meratus,  tabat barito  (ficus deltoidea jack) atau tongkat ali si pohon ajaib yang diakui masyarakat bisa menjaga dan menambah vitalitas orang dewasa,  pohon kayu besi atau kayu ulin (Eusideroxylon Zwageri)  yang sudah sangat langka (konon,  salah satu penyebab kelangkaanya adalah pertumbuhan pohon ini yang hanya bisa tumbuh 1cm saja dalam setahun), kayu meranti (Shorea acuminatissima),  bengkirai atau yellow balau (Shorea lavefolia Endent) dsb.


Paru-paru Dunia

Hutan hujan tropis Kalimantan juga dikenal luas sebagai paru-paru dunia, artinya keutuhan serta kelestarian hutan hujan tropis Kalimantan merupakan sebuah keniscayaan bagi Bangsa Indonesia, karena posisinya sebagai penyangga utama stabilitas iklim dunia. 

Keberadaan serta kelestarian hutan hujan tropis Kalimantan merupakan kepentingan seluruh masyarakat dunia, bukan hanya domain Indonesia. Situasi ini merupakan modal besar bagi pulau Kalimantan dan Indonesia dalam menjalankan peran politik lingkungan dunia.  Inilah salah satu kartu truf Indonesia dalam menjaga kedaulatan bangsa dan negara dimata dunia.

Konservasi adat Istiadat dan Budaya

Hutan hujan tropis Kalimantan tidak hanya menjadi area konservasi dan suaka bagi flora dan fauna saja, tapi juga menjadi rumah bagi orang, adat istiadat serta budaya lokal yang bergantung kepada hutan-baik secara fisik maupun spiritual untuk bertahan hidup.

Secara umum, kita mengenal ada tiga suku terbesar penghuni asli pulau Kalimantan, yaitu Suku Banjar, Dayak dan Kutai. 

Siapa yang belum mendengar eksotisnya budaya dayak? Budaya Banjar? Budaya Kutai? Pasar terapung, uma betang atau lamin, alat musik Sampeq? Semuanya merupakan hasil dari olah budaya penduduk asli Pulau Kalimantan. Hanya itu? Tentu tidak! Kekayaan bahasa,  kesenian,  kerajinan tangan,  arsitektur bangunan dan keragaman budaya lainnya tidak akan pernah bisa habis untuk di eksplorasi keindahannya. 

Semua adat istiadat dan budaya masyarakat Kalimantan mempunyai akar budaya yang sama-sama kuatnya pada alam, semua berporos pada alam termasuk hutan didalamnya. Hanya saja, untuk saat sekarang mungkin hanya tinggal sebagian dari sub suku Dayak saja yang masih bertahan untuk berinteraksi dengan hutan secara langsung.  

Inilah sekelumit dari sejuta cerita eksotisme tentang Pulau Kalimantan,  sejengkal surga yang jatuh di bumi nusantara. Tertarik untuk mengeksplorasinya?  




Perjalanan menembus Hutan Kalimantan Timur

Perjalanan dari Balikpapan menuju Tanjung Redep (Kabupaten Berau), merupakan salah satu perjalanan darat terpanjang yang pernah saya lakukan. Dengan memanfaatkan fasilitas berupa mobil dari salah satu produsen asal Jepang, kami memulai ekspedisi dengan rute sebagai berikut

Balikpapan - Samarinda

Perjalanan di mulai dari Bandar Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sepinggan, Balikpapan menuju Sangatta, Kabupaten Kutai Timur.

Pada etape ini, eksplorasi belum fokus pada hutan yang ada di sepanjang perjalanan, termasuk potensi hayati di sekitar Bukit Soeharto yang tutupan kawasan hujaunya, konon terus menurun tiap tahunnya, karena berbagai sebab. Hanya saja, kalau dilihat secara sepintas secara kasat mata dikiri dan kanan jalan tegakan pohon masih rapat, walaupun sesekali memang terlihat batang pohon yang ambruk dan mati karena tanah pijakan tumbuhnya longsor.

Infrastruktur jalan raya yang menghubungkan Kota Balikpapan dengan Kota Samarinda ini tergolong mewah dan spesial, yaitu dibuat dengan aspal hotmix yang mulus. 

Samarinda – Sangatta

Kota yang berada di tepian Sungai Mahakam ini mempunyai sejarah panjang sebagai kota perdagangan yang sangat penting bagi pergerakan dan pertumbuhan perkonomian regional Kalimantan. Posisi strategis Kota Samarinda yang tepat berada  di jalur lalu lintas antar pulau dan antar daerah di pedalaman Kalimantan,  menjadikan pelabuhan sungai Mahakam sebagai pelabuhan tersibuk di jamannya.

Menuju Kota Sangatta yang juga dijuluki senagai negeri Batubara itu, Tipikal jalan menuju Kota Sangatta dari Kota Samarinda didominasi oleh tanjakan dan turunan yang dikombinasi dengan tikungan-tikungan tajam yang berkelok-kelok,  sangat jarang kami bertemu dengan jalur lurus datar dengan panjang lebih dari 500meter!  Keren kan?

Di sepanjang perjalanan yang menempuh jarak sekitar 250 km ini, kami menemukan bentang alam yang beragam, ada perkampungan penduduk yang mendominasi area yang masih berdekatan dengan kota Samarinda dan Sangatta,  selebihnya kami menemukan area pertambangan milik perusahaan-perusahaan nasional dan sebagian lagi hutan lebat yang masih rapat. 

Hutan-hutan yang kami temui di sepanjang perjalanan sepertinya hutan lindung yang masih perawan, terlihat dari tegakan pohonnya yang besar-besar dan tingginya mencapai puluhan meter. Bahkan, di beberapa titik lokasi yang jalannya longsor dan menyempit, kami hanya bisa  melihat pucuk-pucuk pohon saja tanpa bisa melihat batang apalagi akarnya.

Sangatta (Kabupaten Kutai Timur) - Tanjung Redep (Kabupaten Berau)

Untuk perjalanan etape ini di bagi menjadi dua bagian, yaitu Sangatta-Miau Baru dan Miau Baru-Tanjung Redeb.



Sangatta-Miau Baru

Memasuki 20 menit perjalanan, kami mulai memasuki daerah tidak berpenghuni yang didominasi oleh lahan kosong pertambangan batubara baik yang masih aktif mapun yang sudah tidak aktif, mirip dengan sebagian rute Samarinda-Sangatta. Jalanan yang kami lalui semakin menyempit dan terdapat beberapa ruas yang aspalnya terkoyak,  sehingga perlu ekstra hati-hati untuk melintasinya. 

Semakin jauh dari Kota Sangatta, jalan yang kami lalui semakin menantang, selain kerusakan jalan yang semakin meluas dan menyebar,  kontur geografis wilayah Sangatta-Miau Baru yang berbukit-bukit dengan tutupan berupa kombinasi perkebunan kelapa sawit dan hutan lindung di sekelilingnya menyebabkan sepanjang jalan yang kami lalui layaknya mengendarai roller coaster di tengah hutan, bergelombang, tanjakan,  turunan dengan tingkat kecuraman sedang, luar biasa,  sampai yang super ekstrem plus kelokan dengan variasi tikungan biasa sampai hampir berputar 180 derajat dengan lengkung putar yang relatif sempit, belum lagi di sebelah kiri atau kanan sebagian besar adalah jurang-jurang menganga dengan kedalaman sampai puluhan meter yang tidak jarang terkombinasi dengan badan jalan yang tinggal 1/3-nya saja,  karena longsor.

Kondisi jalan raya antara Sangatta-Miau Baru memang tidak sebaik, rute Balikpapan-Samarinda dan Samarinda-Miau Baru. Infrastruktur yang dibangun untuk membuka jalur perekonomian daerah pedalaman Kalimantan Timur ini, sepertinya sering lepas kontrol dari pengawasan pihak-pihak yang berkepentingan (pemerintah, sesuai kelas jalannya).



Miau Baru-Tanjung Redeb

Tidak seperti perjalanan Kota Sangatta-Desa Miau Baru yang kiri kanan kami sepanjang perjalanan didominasi lahan kebun sawit dan hutan, perjalanan dari Desa adat Dayak Miau Baru menuju Tanjung Redeb, yang berjarak sekitar 170km lebih didominasi oleh hijaunya hutan hujan tropis Kalimantan yang masih perawan dengan pohon-pohon tinggi dengan kerapatan yang masih terjaga dengan baik. Meskipun kontur jalanan yang kami lalui masih sama seperti roller coaster tapi setidaknya pemandangan hijau disekitar kami bisa membuat segar mata dan paru-paru kami, sehingga mengurangi rasa jenuh dan lelah kami para risers setelah menempuh perjalanan jauh.

 Medan yang kami lalui masih relatif sama. Kiri kanan kami masih berupa jurang-jurang menganga yang dibalut oleh hijaunya dedaunan hutan hujan tropis Kalimantan yang masih perawan, hanya saja kami mulai bertemu dengan peradaban manusia, berupa beberapa rumah dan perkampungan penduduk walaupun masih relatif jarang dan sedikit.

Semakin mendekati Kota Tanjung Redeb, hutan hujan tropis Kalimantan yang menyegarkan mata perlahan-lahan menghilang berganti dengan pemukiman dan perkampungan rumah penduduk yang rata-rata terbuat dari kayu dengan desain arsitektur dan ornamen khas adat dayak yang sudah dimodifikasi. 

Secara umum, infrastruktur jalan raya yang menghubungkan Kota Balikapapan - Tanjung Redeb, Kabupaten Berau sebagian besar melalui hutan lindung yang dilindungi oleh negara, sehingga desain jalan yang dibuat tidak terlalu lebar agar tidak terlalu banyak mengurangi area hutan lindung. Hebatnya, jalanan di tengah hutan ini kesemuanya terbuat dari lapisan aspal hotmix berwarna hitam pekat yang halus mulus. Tidak kalah dengan jalan-jalan protokol di kota-kota besar. Gak percaya!? Yuk jalan ke Derawan....  


Minggu, 08 Juli 2018

Asyiknya Menjadi "Penjarah" Keren di Saat Lebaran Tiba!



Perkampungan suku Banjar di tepian dalam Sungai Martapura
Foto : @kaekaha

Inilah Kotaku, Kota 1000 Sungai!

“Kota 1000 Sungai” itulah julukan yang paling dikenal masyarakat di Indonesia untuk kotaku tercinta, Banjarmasin! Ibu kota Propinsi Kalimantan Selatan yang pada tanggal 24 September nanti genap berusia 492 tahun. Wooooow…! Hampir 5 abad usianya!

Kota Banjarmasin, merupakan salah satu kota tua di Nusantara yang sejak abad XVI telah dikenal sebagai kota perdagangan internasional sekaligus pintu masuk mobilisasi barang dan manusia dari dan menuju pedalaman Pulau Kalimantan. 


Pasar Sungai Lulut, Salah satu sudut Kota 1000 Sungai
Foto : @kaekaha

Posisi strategis  ini didukung oleh topografi alam khas pesisir Kalimantan yang sangat unik dan ideal, yaitu dataran rendah (bahkan teramat rendah, karena rata-rata permukaan tanah di Kota Banjarmasin adalah sekitar 60 cm dibawah permukaan laut) yang beriklim panas dengan kelembaban udara yang tinggi. Posisi daratan yang teramat rendah ini, menyebabkan wilayah Kota Banjarmasin di dominasi oleh lahan basah berupa rawa lebak dan sungai. Itulah sebabnya Kota Banjarmasin mempunyai banyak sungai, sehingga akhirnya di juluki sebagai “Kota 1000 Sungai”


Sungai Kerukan, Salah stu dari sekian banyak sungai di Kota Banjarmasin

Banyaknya rawa lebak dan sungai dengan berbagai ukuran yang mengalir di Kota Banjarmasin menjadikan aktifitas sosial, ekonomi, seni dan budaya bahkan politik dan keamanan masyarakat tidak bisa dipisahkan dari sungai beserta segala atributnya. Inilah peradaban budaya perairan (rawa/sungai) khas Banjarmasin, Kalimantan Selatan yang unik dan khas, buah dari harmonisasi dan interaksi antara manusia dengan alamnya yang berlangsung berabad-abad lamanya. 



Ketika Lebaran Tiba…

Lebaran adalah hari yang paling ditunggu oleh umat Islam di seluruh dunia, begitu juga dengan masyarakat di kampungku di tepian dalam Sungai Martapura, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Kampung tempatku tinggal sebagian besar merupakan rawa lebak pasang surut yang terkoneksi dengan Sungai Martapura yang membelah tengah Kota Banjarmasin. Uniknya, di musim kemarau air rawa di sekitar tempatku tinggal selalu berubah-ubah warna dan rasanya, kadang pagi hari rasanya tawar, siang agak sepet  sorenya bisa payau atau bahkan jadi asin. 
Titian kayu ulin
Foto : @kaekaha

Perubahan rasa ini juga diikuti oleh perubahan warna airnya. Semua ini terjadi karena rawa-rawa di sekitar rumah kami terkoneksi secara langsung dengan sungai martapura, karena posisi daratan lebih rendah dari permukaan air laut, maka ketika laut pasang akan terjadi intrusi air laut ke Sungai Barito dan akhirnya menyebar ke anak-anak sungai lainnya termasuk Sungai Martapura. 

Kampungku memang unik! Untuk transportasi antar kampung, sebagian warga masih memakai jukung, sebutan untuk perahu kecil yang terbuat dari kayu ulin (eusideroxylon zwageri). Jalan darat, baik berupa jalan tanah yang dipadatkan maupun berupa aspal sebenarnya sudah ada, tapi masih belum bisa menjangkau semua kampung, terutama yang ada di bagian dalam. Untuk itu, masyarakat membangun titian  dari kayu ulin (eusideroxylon zwageri) agar bisa tetap berkomunikasi dan bersilaturrahmi dengan dunia luar, seperti saat lebaran tiba!


Jembatan Gantung di atas Pasar Terapung
Foto : @kaekaha


Di kampung kami, ada beberapa tradisi unik saat lebaran tiba yang berlangsung secara turun-temurun, dari generasi ke generasi sejak jaman dahulu,  yaitu 

- Tradisi Serba Baru -

Tradisi yang satu ini memang bukan domain kampung kami saja, tapi sepertinya seluruh umat Islam di indonesia ya...!? 

Menurut Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, dalam buku Sejarah Nasional Indonesia, ternyata tradisi “serba baru” saat lebaran sudah dimulai sejak tahun 1596 di wilayah Kesultanan Banten, khususnya tradisi untuk memakai “baju baru” dengan tujuan untuk memberikan semangat dan motivasi agar meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT setelah selesai berpuasa di bulan Ramadan.





Seperti halnya di daerah lain, tradisi “serba baru” juga menjadi salah satu tradisi masyarakat di kampung kami ketika lebaran tiba. Baju baru, celana baru, sarung baru, mukena baru, kacamata baru, jam tangan baru, HP baru, sepeda baru, mobil baru bahkan istri ba…..eh, maaf kalau yang ini jangan dulu deh! Kecuali syarat dan ketentuan berlaku …he…he…he… 

Selain baju baru, kacamata dan jam tangan melengkapi tradisi “serba baru” di lebaranku kali ini. Bukan sekedar untuk penampilan semata atau bahkan sengaja untuk berlebih-lebihan, keduanya memang benda yang  paling aku butuhkan untuk menunjang pekerjaanku.

Tapi….. tetap harus bisa dipakai untuk #tampilkerensaatlebaran, terutama saat aku jadi penjarah di H+1 nanti. Untuk itu, aku harus “memilih” kacamata dan jam tangan yang berkualitas, bukan yang asal-asalan.

Apalagi, semua sudah tahukan!? Kondisi alam lingkungan tempat tinggalku yang “serba air”! Halaman muka, samping kiri dan kanan adalah rawa-rawa, sedangkan  halaman belakang tidak jauh beda, semua air, air dan air. 

Karena lingkungan dan aktifitasku yang tidak jauh-jauh dari air, maka khusus untuk jam tangan aku memerlukan jam tangan pria tipe sporty yang tahan air dan tidak mudah korosif, aku tertarik dengan jam tangan terbaru produk TIMEX yang dijual di situs THE WATCH CO, seperti TIMEX THE WATERBURY LINEAR CHRONOGRAPH - TW2R69200 atau TIMEX ALLIED CHRONO PU - TW2R60400 dan khusus untuk istriku tercinta, aku ingin memberikan hadiah lebaran jam tangan wanita yang cute seperti produk keren TIMEX ORIGINAL SEMI BANGLE - TW2R70100 

atau TIMEX ORIGINAL SEMI BANGLE - TW2R70000, agar dia juga bisa #tampilkerensaatramadhan dan #tampilkerensaatlebaran terutama saat jadi penjarah sepertiku di lebaran H+1 nanti. Apalagi dibulan ramadhan ini, THE WATCH CO. hadir dengan program promo ramadhan yang tentunya sangat-sangat memanjakan semua pelanggannya…

-- Bajarah --

Tradisi Bajarah ini merupakan tradisi khas kampung kami saat lebaran tiba, baik lebaran Idul Fitri maupun Idul Adha, berupa jamuan makan dan atau pun sekadar minum dari warga untuk warga yang umumnya dilaksanakan pada H+1, atau hari ke-2 lebaran. 

Tradisi bajarah ini mirip dengan tradisi saruan bamaulid di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, bedanya saruan bamaulid merupakan tradisi untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, jadi diadakan bukan pada saat lebaran di bulan syawal atau Dzulhijjah, tapi di bulan Rabbiul Awal.

Di sini, siapa saja bisa menjadi tamu (penjarah) atau tuan rumah (dijarah). Dengan dipimpin tetuha kampung atau tokoh masyarakat, setelah berkumpul ditempat yang disepakati, rombongan bergerak menuju rumah-rumah yang dituju. Setelah membaca doa bersama-sama, rombongan menikmati hidangan yang biasanya dihabiskan sambil berdialog ringan (bersilaturahmi) dengan semua yang hadir.

Umumnya, hidangan yang disediakan oleh tuan rumah adalah berbagai kuliner khas Banjar, seperti Soto Banjar, Ketupat batumis, Nasi Kuning, Nasi Itik Gambut, Ketupat Kandangan, Lamang dan aneka wadai atau kue legit khas Suku Banjar seperti bingka, tapai lakatan hijau dll.

Hidangan yang disediakan untuk penjarah, pada dasarnya memang tidak ada pakem atau ketentuannya, semua terserah atau tergantung pada kemampuan tuan rumah (dijarah) yang penting tidak memberatkan, bahkan bila ada warga yang tidak ingin dijarah-pun tidak ada sanksi sosial apa-apa! Warga yang lain tetap menghormatinya! Terpenting, silaturahmi antar warga masyarakat tetap terjaga dengan baik.
Ketupat Banjar
Foto : @kaekaha

Setelah dianggap cukup, sambil bermaafan-maafan dengan semua penghuni rumah, rombongan  penjarah langsung pamit untuk menuju rumah berikutnya. Begitu seterusnya hingga semua rumah yang hari itu masuk daftar dijarah, semuanya ludes dan tuntas dijarah. 

Karena tidak semua rumah di kampung kami terhubung dengan jalan darat, maka untuk menuju ke rumah tersebut kami harus naik jukung beramai-ramai atau naik kelotok yang ukurannya lebih besar sehingga bisa memuat penumpang yang lebih banyak. Asyik ya….!

Bagi warga yang dijarah, banyaknya penjarah yang datang merupakan kebahagiaan tersendiri. Mereka akan semakin bersyukur, karena semakin banyak yang mendoakan keluarganya. 
ini yang namanya, Kelotok, alat transportasi khas Banjarmasin
Foto : @kaekaha 

Khusus untuk penjarah dalam tradisi bajarah ini, awalnya harus dilakukan secara bersama-sama atau rombongan, tapi sekarang sudah mulai ada pergeseran dalam penerapannya, terutama untuk anak-anak mudanya! Mereka sekarang lebih suka bergerak dalam grup-grup dengan jumlah rombongan yang lebih kecil, bahkan perorangan. 

Sedangkan pergeseran untuk dijarah, ada pada jenis hidangan dan  kemasannya. Kalau dulu, hidangan untuk penjarah sebagian besar berupa kuliner tradisional khas Banjar, sekarang sudah banyak yang menggantinya dengan fastfood  merek luar negeri yang banyak dijual di mall-mall di Banjarmasin. Lebih Praktis?

Begitu juga dengan kemasannya, kalau dulu disajikan dengan setting hanya untuk makan di tempat saja, sekarang sudah ada yang menyediakan hidangan yang sudah atau siap untuk di bungkus. Jadi penjarah tidak perlu lama-lama duduk. Setelah bermaaf-maafan dan berdoa bisa langsung pulang dengan sebungkus hidangan ditangan. Lebih praktis dan higienis? 

Entahlah, mungkin anda lebih obyektif dalam memberi penilaian yang akurat. Kami hanya berusaha menjaga tradisi "bajarah" ini tidak hilang dari kampung kami, meskipun kemasan asli tradisinya mulai bergeser dan berubah karena mengikuti perkembangan jaman.