Tampilkan postingan dengan label Gerhana Matahari Total. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gerhana Matahari Total. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Februari 2016

Menulis & Mereka Ulang Catatan Sejarah dengan Cara Berbeda!

 Kenangan GMT 1983 (Foto : Detik.com)

Setiap ada berita tentang munculnya fenomena gerhana matahari baik sebagian maupun total, pasti akan menuntun memori saya ke kampung halaman tempat saya lahir dan dibesarkan oleh kedua orangtua saya di daerah pedesaan yang asri dan subur di ujung utara Kabupaten Magetan, Propinsi JawaTimur. Mungkin semua akibat “rekaman keganjilan dan ketidakbiasaan” yang tertangkap indra dan logika kanak-kanak saya saat itu tentang sebuah fenomena alam langka yang terjadi pada hari Sabtu Pon, 11 Juni 1983 atau sekitar 33 tahun yang lalu, Gerhana Matahari Total! Hari itu, kampung saya menjadi salah satu daerah terdekat dengan pusat lintasan gerhana matahari total 1983 di daerah Tanjung Kodok Lamongan, Jawa Timur. Konon, kata tetangga-tetangga saya yang nekat melihat secara langsung fenomena GMT dengan berbagai alat bantu, GMT di daerah kami saat itu komposisinya begitu sempurna dan penampakannya begitu indah! Nah lho…..

Pagi hari Sabtu Pon, 11 Juni 1983 marupakan salah satu hari yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya! Bukan hanya karena langit Kota Madiun dan sekitarnya yang khabarnya sebentar lagi akan gelap gulita sesaat karena Gerhana Matahari Total saja. Tapi karena berbagai kehebohan, keanehan, kejanggalan dan semua ketidak biasaan yang tampak pada lingkungan di sekitar saya yang terjadi pagi itu benar-benar aneh, tidak lazim dan terlihat membingungkan di mata saya, anak SD kelas 1 yang masih ingusan.
GMT 1983 melumpuhkan aktifitas ekonomi (Foto : Detik.com)

Warung nasi pecel Simbah Putri yang biasa buka pagi selepas Subuh, tiba-tiba hari ini tutup. Kata Simbah Kakung, “Hari ini Simbah Putri dilarang berjualan sama Pak Polisi!”. Entah benar-atau tidak jawaban Simbah Kakung, dalam benak saya hanya ada satu pertanyaan yang sangat mengganggu saat itu. “Lha pagi ini kita sarapan apa mbah?”. Simbah Kakung hanya tersenyum mendengar pertanyaan saya, entah apa maksudnya. Padahal saya benar-benar menunggu jawabannya, bukan tanpa sebab lho! Masalahnya, warung nasi pecel Simbah Putri ini bisa dibilang menguasai hajat hidup orang banyak. Kalau mendadak tutup bisa bahaya,  alamat orang sekampung tidak ada yang bisa sarapan pagi. Makanya, kalau mau tutup Simbah bisanya akan memberi woro-woro atau pengumuman jauh-jauh hari, minimal 2-3 hari sebelumnya. Harap dimaklumi, Warung nasi pecel Simbah adalah andalan sarapan pagi bagi orang sekampung yang rata-rata memang sudah kecanduan sama citarasa nasi pecel plus racikan kopi hitamnya Simbah Putri, begitu juga anak-anak kecil yang harus berangkat sekolah pagi-pagi seperti saya biar praktis bungkus saja…….! Tutupnya warung nasi pecel simbah Putri yang terkesan mendadak dan tanpa woro-woro, merupakan keanehan dan ketidaklaziman bagi saya dan orang sekampung.

Didalam rumah Simbah yang bersebelahan dengan rumah saya, saya melihat beberapa keanehan yang sampai sekarang masih saya ingat betul kronologinya. Saya melihat Paklik-paklik saya (adik-adik ibu saya) sedang sibuk menutup lubang dan celah baik yang ada di dinding kayu rumah Gebyog Simbah maupun lubang cahaya dari genteng kaca yang ada di langit-langit rumah yang biasa dilewati cahaya matahari untuk menerangi ruang dalam rumah ketika siang hari. Ketika saya tanya Simbah, “Kenapa di tutupi semua mbah?” Simbah hanya menjawab, “biar mata kita tidak buta!” Jawaban Simbah mengingatkan saya pada kata-kata Bapak dan Ibu saya beberapa hari yang lalu, “Le, nanti kalau pas Gerhana Matahari datang, kamu harus masuk dan sembunyi di bawah kolong tempat tidur ya! Biar matamu tidak buta!”
Cara aman mengamati fenomena GMT (Gambar : Detik.com)

“Laaaaah, hari ini kan seharusnya ada acara megengan, bu?” tanya saya pada Ibu yang sedang menutup sebagian jendela kaca yang terlihat tidak tertutupi korden dengan sempurna. Acara atau upacara megengan adalah salah satu tradisi indigenius atau khas muslim di Pulau Jawa dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan yang dilaksanakan 1 atau 2 hari sebelum jatuh tanggal 1 Ramadhan. Kebetulan besok tanggal 12 Juni sudah ditetapkan oleh pemerintah sebagai awal bulan Ramadhan 1403 H. Tradisi acara megengan merupakan hari yang paling ditunggu-tunggu oleh sebagian besar anak-anak di kampung saya selain hari lebaran, karena anak-anak seusia saya biasanya di hari itu akan kaya mendadak! Naaaaah, begini ceritanya. Biasanya pada hari pelaksanaan acara megengan, orang tua kami akan memasak masakan lebih banyak dan lebih beraneka variasi, bukan untuk dimakan sendiri tapi untuk dihantarkan kepada para sesepuh, orang yang dituakan dan dihormati di kampung, keluarga besar bapak/ibu, juga para Bapak/Ibu Guru dan tidak ketinggalan kepada para tetngga di sekitar rumah. Biasanya anak-anak seperti sayalah yang disuruh menghantarkan masakan-masakan itu dengan menggunakan rantang susun dan biasanya setiap orang yang dihantari akan memberikan sangu atau uang sekedarnya untuk si penghantar alias anak-anak seperti saya. Ini yang saya sebut kaya mendadak ala kami! Tapi sayang, jadwal acara megengan hari ini sepertinya tidak jadi alias batal karena adanya GMT yang melintas di langit Kota Madiun dan sekitarnya. Walaaaah, betapa kecewanya saya! Hari itu tidak jadi kaya mendadak…

 Ilustrasi Buto (Batara Kala) yang diabadikan dalam medali GMT 1983 (Foto : Detik.com)

Di seberang rumah, saya melihat Datik dan kawan-kawanya (Saat itu, lidah saya masih agak susah menyebut nama aslinya, Mbak Darti) sedang memukul-mukul kaleng bekas bersama bapaknya, Pakde Kukuh yang dikenal orang sekampung sebagai seniman karawitan yang jago memainkan instrument kendang itu, terlihat sedang menyusun kaleng-kaleng bekas di emperan depan rumahnya. Saya kira, kaleng-kaleng bekas itu buat mainan Datik, ternyata bukan! Kata Pakde Kukuh kaleng itu untuk mengusir buto (Batara Kala) yang nanti mau makan matahari biar tidak lama-lama dimakannya! 

Setelah matahari agak naik, kira-kira jam 7-an WIB, saya, adik-adik, Simbah Kakung dan Putri diajak Ibu kerumah Bude Surati, kakak tertua dari ibu yang rumahnya sekitar 500 meter dari rumah kami, sementara Bapak dan Paklik bertugas menjaga rumah. Sudah menjadi kebiasaan keluarga besar kami untuk berkumpul di rumah Bude Surati setiap ada acara keluarga seperti lebaran, lebaran haji dsb. Selain rumahnya besar dan luas, beliau juga jago masak. Tapi hari ini ada apa? “Kita sembunyi sekalian sarapan dirumah Bude Surati saja” Kata ibu saya saat itu.
Fenomena terjadinya Gerhana Matahari Total (Foto : Detik.com)

Singkat cerita, akhirnya sekitar jam 11 siang WIB (cerita ibu saya, karena saya masih belum bisa membaca jam), bumi di kampung kami benar-benar gelap gulita. Gerhana matahari total benar-benar datang. celah-celah genteng yang tadi masih membiaskan cahaya matahari, sekarang sama sekali tidak terlihat biasnya. Saya yang saat itu sedang sarapan nasi pecel buatan Bude Surati bersama saudara-saudara sepupu yang semuanya berkumpul di rumah Bude Surati langsung disuruh masuk ke kamar meninggalkan menu sarapan andalan kami. Dari kejauhan, sayup-sayup saya mendengar suara bunyi kaleng, kentongan bambu dan kentongan besar di gardu ronda dipukul orang bertalu-talu entah siapa dan apa maksudnya. Dari ruang tengah rumah bude Surati saya mendengar Pakde Sukirman menyalakan Televisi hitam-putih yang konon menyiarkan secara langsung proses terjadinya gerhana matahari total saat itu. Saya bilang “konon” karena saya tidak ikut menyaksikan nya sendiri, karena kami anak-anak kecil saat iru dikumpulkan di dalam kamar dan disuruh diam di ditempat tidak boleh kemana-mana.

Itulah sekelumit ingatan plus sedikit hasil interview saya dengan ibu yang Alhamdulillah masih seger waras dan masih menetap di Kampung halaman di Magetan Jawa Timur, mengenai fragmentasi GMT 1983 yang pernah saya alami 33 tahun yang lalu. Sebuah “rekaman” dimasa kecil yang awalnya saya anggap biasa tapi menjadi luar biasa setelah sekarang fakta-fakta ilmiah mencengangkan seputar GMT semakin mudah diakses seiring perkembangan revolusi teknologi informasi dan pemangku kebijakan yang juga telah “melek teknologi dan IPTEK”.

Yuk menjadi saksi GMT 2016 (Gambar : Detik.com)

Alhamdulillah! Sekarang di tahun 2016 Pulau Kalimantan, kampung halaman saya yang baru. Insha Allah tanggal 9 Maret nanti akan mendapatkan anugerah berupa fenomena alam bernama Gerhana Matahari Total (GMT). Tidak ingin mengulangi sejarah masa kanak-kanak saya 33 tahun silam yang dianggap sebagian orang sebagai domain kekuasaan yang sesat pikir, saya terus berdoa dan bertekad, semoga panjang umur dan diberi kesempatan untuk menjadi saksi indahnya fenomena alam langka bukti kuasa dan kebesaran Allah SWT, Pemilik Semesta Alam beserta isinya, dengan melihat langsung GMT 2016. Syukur-syukur bisa tergabung dengan “Laskar Gerhana detikcom”, bisa melihat langsung GMT 2016 di Bangka Belitung!….Ngareeeep banget!. …he…he…he….Amin.

 "Laskar Gerhana detikcom"


Tulisan ini diposting pertama kali di Detik.com dan Alhamdulillah membawa saya ke tanah Belitong....

Minggu, 21 Februari 2016

Mimpiku, Mengurai Eksotisme Alam dan Budaya Bumi Sriwijaya!



 Yuk! Menikmati fenomena GMT 2016 di Palembang (Grafis : detik.com)

Mengulang sejarah astronomis Kota Palembang 18 Maret 1988 silam, Insha Allah, tanggal 9 Maret 2016 langit Kota Palembang kembali menjadi panggung teatrikal kreasi  Yang Maha Pencipta, Allah SWT, yaitu munculnya fenomena astronomis paling sepektakuer di awal abad 21, Gerhana Matahari Total (GMT) 2016 yang puncaknya,  untuk langit Kota Palembang diperkirakan akan terjadi pada pukul 07:21:43,3 WIB dengan rentang durasi sekitar 1 menit 47 detik.

Sejumlah destinasi wisata populer di Kota Palembang seperti Jembatan Ampera dan Plaza Benteng Kuto Besak di tepi Sungai Musi telah dipersiapkan dengan matang oleh Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan dan Kota Palembang guna menjadi icon utama bagi penikmat wisata yang berkunjung ke Palembang untuk menikmati detik-detik prosesi GMT 2016. Menariknya lagi, untuk menambah semarak event GMT 2016 di Palembang, berbagai acara unik dan menarik juga telah dipersiapkan guna memanjakan semua pengunjung yang datang, diantaranya festival foto internasional, glowing night run, berbagai atraksi budaya, pertunjukan barongsai, pelepasan lampion dan tur edukasi gerhana yang bekerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).


 Jalur lintasan GMT 2016 (Grafis : trenmuslim.web.id)

Palembang dan Sumatera Selatan merupakan mimpi saya sejak dulu dan menjadi destinasi pilihan saya jika diberi jalan oleh-Nya untuk menikmati fenomena GMT 2016, selain karena langit Kota Palembang nantinya bisa menyajikan GMT secara utuh alias terlihat 100%,  Kota terbesar ke-dua di Pulau Sumatera ini juga mempunyai segudang destinasi wisata eksotis lain yang bisa dieksplorasi sebelum atau setelah menyaksikan detik-detik GMT 2016 dari Jembatan Ampera atau plaza Benteng Kuto Besak. Apalagi lengkapnya berbagai sarana dan prasarana pendukung pariwisata Kota Palembang dan Sumatera Selatan akan memanjakan semua pengunjung secara maksimal untuk menikmati eksotisme bumi Sriwijaya. 


Gunung Dempo (Gambar : Indonesia.travel)

Konfigurasi geografis alam bumi Sriwijaya terbilang sangat lengkap, semua destinasi wisata berbasis keelokan alam semua tersedia disini, mulai dari dataran rendah seperti pantai, pulau eksotis, ekosistem sungai yang menakjubkan sampai indahnya perkebunan teh yang dingin di lereng pegunungan yang menyegarkan semua tersedia, sebut saja Gunung Dempo dan Bukit Siguntang yang hijau, Curup Maung, Air terjung Lematang Indah dan air terjun Bidadari yang kesemuanya menyajikan konfigurasi alam yang begitu indah dan menakjubkan! Wahana Hutan Wisata Punti Kayu dengan vegetasi pojhon pinus dan kebun binatang mininya yang menyegarkan, Danau Ranau dan Goa Putri yang eksotis atau Pantai Pantai Setia surganya para surfer! tinggal pilih dan mengatur waktu kunjungannya saja. Tidak hanya sajian alam yang tersedia di sini, karena destinasi wisata budaya, sejarah, religi dan kuliner bumi Sriwijaya dijamin akan membuat semua pengunjung betah untuk berlama-lama menikmati setiap jengkal tanah surga yang diturunkan-Nya di Nusantara ini. Siapa tidak ingin melihat proses pembuatan kain tenun songket yang begitu indah atau mencicipi martabak Har dan Pempek Saga Sudi Mampir Palembang yang begitu melegendaris dan terkenal seantero nusantara?!  Atau ingin melihat langsung peninggalan budaya megalithikum yang unik di bumi besemah, Kota Pagaralam?

Travelling ke Sumatera selatan? Jangan kelamaan mikirnya! Langsung berkemas,  siapkan perlengkapan dan langsung go...! Liburan ke Bumi Sriwijaya akan memberikan berbagai pengalaman wisata menakjubkan yang dijamin tidak akan terlupakan seumur hidup. Berikut beberapa destinasi wisata Bumi Sriwijaya yang paling menggoda dan akan membuat saya dan anda semua akan kehabisan kata-kata untuk menguraikan keindahannya ….


WISATA  BUDAYA

1.     Peradaban Sungai Musi

Jembatan Ampera (Gambar : jayanjayan.com)

            Sungai Musi yang membelah Kota Pelembang menjadi dua bagian, merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera dan juga menjadi salah satu yang terpanjang Indonesia. Dengan panjang mencapai 750 km, menjadikannya sebagai urat nadi kehidupan masyarakat di sekitarnya sejak berabad-abad silam yang secara otomatis juga membentuk peradaban budaya sungai khas perairan darat di Sumatera Selatan. Sejak jaman kejayaan Kerajaan Sriwijaya, DAS Sungai Musi telah menjadi jalur penting perdagangan, distribusi dan mobilisasi barang dan manusia, salah satu buktinya adalah keberadaan Benteng Kuto Besak yang dibangun disalah satu sisi tepian Sungai Musi. Begitu juga dengan keberadaan berbagai destinasi di Pulau Kemaro yang menyimpan catatan sejarah dan kisah yang telah melegenda.   Di era Palembang modern, sejak diatasnya dibangun Jembatan Ampera, salah satu landmark Kota Palembang yang paling terkenal, semakin menguatkan potensi ekonomi khususnya pariwisata di sekitar Sungai Musi. Berbagai kegiatan ekonomi masyarakat banyak tumbuh di sepanjang DAS Sungai Musi.

          Sebagai destinasi wisata, menyaksikan aktivitas masyarakat di atas Sungai Musi dengan berbagai atribut budaya sungainya sambil menikmati sajian mpek-mpek atau berbagai sajian kuliner khas lainnya akan memberikan sensasi yang luar biasa, bisa menjadi peluruh ketegangan dan kepenatan seusai beraktifitas. Atau mau langsung menjelajahi sebagian ruas sungai Musi dengan wisata arung sungai!? Boleeeeeh….



Rumah Limas ( Gambar : azwisata.com)

 
Rumah Limas merupakan rumah tradisional khas Sumatera Selatan berarsitektur panggung dengan atap berbentuk limas dengan bahan baku pembuatan dari kayu. Rumah limas sangat unik, baik dari segi filosofi maupun bentuk fisiknya. Salah satunya adalah bahan kayu yang dipakai untuk pembuatan rumah yang rata-rata sudah sangat langka dan dibeda-bedakan sesuai peruntukannya. Kayu tembesu hanya digunakan untuk membuat dinding, lantai, serta pintu. Untuk tiang rumah, pada umumnya menggunakan kayu unglen yang tahan air (mungkin sejenis kayu ulin/kayu besi dari hutan Kalimantan) dan kayu Seru dipakai untuk rangka rumah. Kayu seru sengaja tidak digunakan untuk bagian bawah Rumah Limas, sebab kayu Seru dalam kebudayaannya dilarang untuk diinjak atau dilangkahi.  Rumah Limas sangat luas (400-1000 m2) dan seringkali di pakai untuk tempat hajatan atau acara adat. Luas rumah limas dari. Jika penasaran langsung saja meluncur ke Rumah Limas milik keluarga Bayuki Wahab di Jl. Mayor Ruslan dan Hasyim Ning di Jl. Pulo, 24 Ilir, Palembang.



Sentra Industri Songket Palembang (Gambar : Jalan2.com)

Tenun/Siwet Songket Palembang merupakan kerajinan tradisional khas dari masyarakat Palembang yang umumnya dihasilkan dari industri rumah tangga. Songket adalah kain tenun yang dibuat dengan teknik menambah benang pakan sebagai hiasan (inlay weaving system), yaitu dengan menyisipkan benang perak, emas atau benang warna di atas benang lungsin. Tenun ini memiliki berbagai motif, seperti: lepus, jando beraes, bunga inten, tretes midar, pulir biru, kembang suku hijau, bungo cino, bunga pacik, dan lain-lain.
Tenun songket umumnya dipakai kaum wanita dalam upacara-upacara perkawinan, resepsi-resepsi resmi, dan acara-acara adat. Songket yang dikenakan seseorang akan menunjukkan status sosial pemakainya.
Untuk melihat dari dekat prosesnya, bisa langsung meluncur ke Pusat pengrajin Tenun Songket Palembang di Kawasan Industri Songket Kelurahan 30 – 32, Kecamatan Ilir Barat, Kota Palembang.


WISATA  KULINER

1.     Restoran Riverside 

 


Riverside Resto (Gambar : panduanwisata.id)

 

Restoran ini merupakan tempat makan paling tepat untuk menikmati keindahan Jembatan Ampera, terutama di malam hari. Terletak persis di pinggir Sungai Musi dan berada di Komplek Benteng Kuto Besak, Jalan Rumah Bari, Palembang. Bangunan utama restoran yang menggunakan sejenis kapal besar 3 lantai yang disulap menjadi restoran berkelas akan memberikan sensasi yang luar biasa. Restoran yang mampu menampung hingga 500 orang ini menyajikan berbagai menu masakan khas Palembang dan nusantara.

 

2.     Pempek Saga Sudi Mampir

 

 Warung Pempek Saga "Sudi Mampir" (Gambar : kulinerkito.xyz)

          Makanan pempek khas Palembang sudah terkenal dan dikenal seantero nusantara sejak lama, tapi jangan salah! Rasa pempek yang ada di luar Palembang dan Sumatera Selatan biasanya sangat berbeda dengan aslinya. Bisa jadi karena menyesuaikan dengan lidah masyarakat tempat kedai pempek berdiri. Di Palembang, salah satu warung pempek yang paling ingin saya coba adalah Pempek Saga “Sudi Mampir” yang sangat terkenal di kota Palembang. Disebut Pempek Saga, karena dulu lapaknya di deket bioskop Saga sebelum akhirnya pindah di seberang Kantor Walikota.



WISATA  RELIGI

1.     Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin


Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin (Gambar : bujangmasjid.blogspot.co.id)
 
Masjid termegah di Sumatera Selatan ini dibangun pertama kali pada masa pemerintahan Sultah Mahmud Badaruddin I dari tahun 1738 - 1748 dan telah mengalami 6 kali renovasi dengan luas awal sekitar 1.080 m2 sekarang telah mencapai 5,520 m2. Masjid megah berarsitektur campuran Indonesia, Cina dan Eropa yang terletak di Jalan K.H. Faqih Usman ini,  merupakan salah satu landmark kebanggan masyarakat Kota Palembang selain bangunan Jembatan Ampera.

2.     Masjid Cheng Hoo Sriwijaya



Masjid Cheng Hoo Sriwijaya (Gambar : Indonesiakaya.com)
        
        Masjid dengan arsitektur khas perpaduan China, Arab dan Nusantara di kawasan Jakabaring ini menjadi salah satu destinasi religi yang unik dan menarik di Palembang. Keunikan yang paling mencolok dari serangkaian bangunan Masjid berlantai dua ini adalah keberadaan dua menara berbentuk klenteng dengan warna merah dan hijau giok yang yang mencolok.


WISATA  SEJARAH

1.     Benteng Kuto Besak


Benteng Kuto Besak (Gambar: Indonesia.travel)
 
Bangunan tua peninggalan kerajaan yang dibangun pada saat pemerintahan Sultan Muhammad Badaruddin tahun 1776-1803 ini merupakan salah satu destinasi wisata andalan Kota Palembang. Posisinya yang berdekatan dengan Sungai Musi, menjadikan situs ini menjadi destinasi yang sangat wajib bagi para wisatawan. Sebagai salah satu landmark penting Kota Palembang, Benteng Kuto Besak mempunyai nilai sejarah yang tinggi. Kemegahan situs dengan spesifikasi tinggi 9,9 meter, panjang 288,75 meter, lebar 183,75 meter. Dan ketebalan didinding 1,99 meter ini masih terlihat sampai detik ini.

2. Bukit Siguntang


Bukit Siguntang yang hijau dan asri (Gambar : lemabang.wordpress.com)
 
Titik tertinggi di Kota Palembang ini merupakan salah satu tempat bersejarah yang dimilik Kota Palembang. Keasrian dan kesegaran udara destinasi yang konon banyak menyimpan misteri ini memang begitu menggoda. Sepanjang mata memandang yang terlihat adalah pepohonan rindang dangn kombinasi kursi dan gazebo yang sanagt representative untuk melihat alam sekitar. Di lokasi ini juga terdapat situs sejarah berupa makam dari Panglima Tuan DjungDjungan.

3.     Candi Bumi Ayu


Komplek Candi Bumi Ayu (Gambar : bp.blogspot.com)
 
Komplek candi Hindu Siwa terbesar di luar Jawa ini terletak di Desa Bumiayu, Kec. Tanah Abang, Muara Enim. Bangunan situs candi di komplek ini menurut data hasil penggalian dari para arkeolog merupakan tiruan dari Candi Prambanan yang ada di Jawa Tengah. 






Alhamdulillah, tulisan ini mendapatkan apresiasi JUARA 2!
Terima Kasih @pesonasriwijaya  #wonderfulsriwijaya