Rabu, 04 Juli 2018

Kecilku Disuka, Mudaku Terkenal, Tuaku Kaya-Raya, Mati ku Masuk Surga


 
Minoritas (1996) Salah satu album masterpiece milik Slank
foto : @kaekaha 

Inspirasi dari suara kaum "Minoritas" ( Slank, 1996)

Anda seorang slankers? Kalau anda slankers anda wajib baca sampai tuntas artikel keren ini! Tapi kalau anda bukan seorang slankers sepertinya lebih wajib lagi untuk membaca artikel ini sampai habis, bahkan kalau perlu di baca berulang-ulang ya....
  
Bagi para Slankers generasi awal di era 90-an, kalimat judul diatas tentu tidak asing lagi! Kalimat "provokatif" yang menurut saya sangat visioner tersebut sengaja saya kutip dari lirik salah satu lagu dari grup musik fenomenal yang bermarkas di Gang Potlot tersebut. Lagu berjudul "entah jadi apa?" ini termuat dalam album "Minoritas" yang rilis tahun 1996 yang menurut saya merupakan salah satu album studio masterpiece Slank pada formasi awal yang saat itu diperkuat Kaka (Vokal), Bimbim (Drum) Bongky (Bass) Pay (Gitar) dan Indra Q (Keyboard).  

Di album yang menelurkan hits bang bang tut dan kalau kau ingin jadi pacarku ini, sebenarnya mempunyai materi lagu yang semuanya layak menjadi hits. Semua lagu dalam album ini benar-benar berasa "roh" slank-nya, baik dari sisi musikalitasnya maupun kecerdasan pemilihan diksi dalam lirik-liriknya. Album yang saat itu diedarkan dalam format pita kaset tersebut, di side A selain berisi hits bang bang tut, berikutnya ada komposisi tut wuri handayani, Jinna! belasan dalam pelarian, gemerlap kota, bidadari penyelamat. Sedangkan pada side B, tersusun komposisi-komposisi eksentrik semacam suku benalu, h.a.m. burger, pak tani, entah jadi apa? dan hits kalau kau ingin jadi pacarku.  

Sayang, album ekspresif yang sarat dengan ungkapan kritik sosial kaum "minoritas" seperti judul albumnya ini merupakan album studio terakhir dari kebersamaan format awal sekaligus format terbaik Slank (menurut saya...!), karena setelah album ini Bongky (Bass) Pay (Gitar) dan Indra Q (Keyboard) menyatakan mundur dari Slank dan beberapa saat kemudian mendirikan grup baru bernama BIP yang ditengarai merupakan akronim dari nama ketiganya, Bongki Indra Pay.

Formasi lengkap terbaik Slank
foto : @kaekaha

Mengkaji Kalimat Provokatif Visioner!

Apa sih yang menarik dari kalimat "Kecil Disuka, Muda Terkenal, Tua Kaya-Raya, Mati Masuk Surga!" yang saya kutip dari lirik lagu Slank Entah Jadi Apa? tersebut? 

Seperti saya sebutkan diatas, kalimat tersebut menurut saya punya potensi provokasi yang multi intrepretasi dan multi tafsir!  Tentu hanya Tuhan dan Slank yang tahu maksud yang sebenarnya. Hanya saja, merujuk pada pada komentar teman-teman saya yang kebetulan ikut menjadi saksi dari terbitnya album Slank yang memuat lirik lagu tersebut, setidaknya ada 2 poros pemahaman. Bagi yang apatis dan cenderung pesimis (rata-rata mahasiswa yang saat itu resah dengan keadaan sosial ekonomi dan budaya yang kebetulan berada di awal jurang krisis ekonomi multidimensi menjelang kejatuhan orde baru yang entah kebetulan atau tidak bertepatan dengan time release atau setting lahirnya album ini) pasti akan langsung mencibir kalimat diatas sekaligus berkomentar dengan kalimat-kalimat sumbang seperti ini, "Emang surga punyak engkong lo....!" atau "Kalau anak konglomerat mah ya mungkin saja.... tapi kalo kong lo melarat ya mustahil bin mustajab!"  Kalimat-kalimat sumbang ini benar-benar muncul dalam berbagai obrolan di berbagai forum kala itu (terutama obrolan kami anak-anak kuliahan yang saat itu syarat dengan keterbatasan... he...he...curhat jadinya!) 

Tapi itu dulu! Ketika euforia ketertindasan di berbagai bidang terasa semakin menyesakkan dada dari hari ke hari. Sekarang setelah pikiran lebih dewasa dan terbuka, saya justeru melihat sebuah visi yang luar biasa dari kalimat  "Kecil Disuka, Muda Terkenal, Tua Kaya-Raya, Mati Masuk Surga!" tersebut. Seandainya saya dan rekan-rekan saat itu (1996) lebih mempunyai positive thingking, kalimat ini bisa menjadi kalimat motivasi yang luar biasa dahsyatnya! Coba perhatikan dan kalau perlu renungkan dalam-dalam kalimat diatas dengan cara melepas rangkaian kalimatnya menjadi per- frasa, mulai dari "kecil disuka"  sampai "mati masuk surga!" Bukankah semuanya merupakan sebuah visi dan atau  doa mulia seorang anak manusia untuk menjadi manusia dengan "stempel" yang baik bahkan mungkin mulia! Dan yang menarik, semua  frasa  dalam kalimat tersebut sepertinya saling terkait satu sama lain dari awal sampai akhir, seperti layaknya sebuah fragmentasi tutorial perjalanan hidup ideal seorang anak manusia. 

Ketika waktu kecil disuka oleh banyak orang dilingkungan sekitar, selain karena bawaan fisik bisa juga karena kebaikan akhlak yang sudah ditanamkan sejak dini oleh orangtua dan lingkungan. Untuk bisa terkenal disaat muda (makna denotatif) tentu bukan perkara mudah untuk mendapatkannya, perlu kerja keras dan kerja cerdas untuk mewujudkannya. Alhamdulillah jika bisa mewujudkannya! Ketika disaat muda sudah terkenal, tentu bisa dimanfaatkan untuk menjalin dan membangun relasi, komunikasi bahkan eksistensi seluas-luasnya untuk membangun masa depan yang lebih menjanjikan. Dari titik ini, dengan dibarengi ikhtiar dan doa secara kontinyu, Insha Allah untuk menjadi orang kaya di masa tuasepertinya tinggal menuggu takdir saja. Saat hidup dimasa tua dianugerahi fasilitas serba kecukupan, tentu semakin mudah untuk mendapatkan surga-Nya, karena tidak ada lagi yang perlu di risaukan, fasilitas dari Tuhan berupa kekayaan yang tersedia tinggal dimanfaatkan semaksimal mungkin untuh mendekatkan diri kepada-Nya melebihi yang lainnya, Sehingga kemungkinan "mati masuk surga" semakin terbuka lebar! Insha Allah. Untuk detailnya, mari kita kupas tahapan kehidupannya satu per-satu...     

Dimulai dari frasa  "kecil disuka", menurut saya yang dimaksud disini adalah siklus manusia ketika masih kecil atau usia kanak-kanak. Pada siklus ini memang si anak masih sebatas berposisi sebagai obyek saja. Artinya dia bisa disuka oleh semua (orang) lebih karena posisinya sebagai makhluk yang masih suci dan belum tersentuh oleh dosa. Kalaupun karena ada kelebihan fisik, seperti montok, putih, bersih, ganteng, lucu dan atribut lain yang membuatnya di sukai oleh semua (orang), semua bukan karena usahanya sendiri tapi lebih karena anugerah dari Yang Maha Kuasa melalui kedua orang tua. Jadi untuk bisa menjadi kecil disuka, tentu membutuhkan suport dari orang-orang di sekitar, terutama orang tua.

Nah, disinilah "pelajaran" visionernya dimulai! Posisi kita yang telah bergeser menjadi orang tua, tentunya mempunyai keinginan anak-anak kita nantinya adalah "individu-individu" generasi unggul dengan berbagai atribut yang (ter) baik bukan?  Untuk mewujudkan keinginan tersebut tentu kita sebagai orang tua harus mempunyai perencanaan "visi" mendidik berikut metode aplikasinya secara tepat. Coba bayangkan, seandainya kita tidak mempunyai perencanaan yang tepat dan aplikatif, apa jadinya output yang dihasilkan? Lha ... kalau masih kecil saja semua atribut yang menempel pada si anak sudah tidak disukai (orang) bagaimana besarnya?

Selanjutnya, frasa "muda terkenal", terkenal dalam konteks frasa ini bisa diartikan terkenal dalam arti yang sebenarnya atau bisa juga dimaknai secara luas sebagai bentuk keberhasilan atau kebermanfaatan lainnya, yang pasti dalam konteks yang positif bukan hanya asal terkenal!  Seperti kita ketahui, di jaman sekarang banyak sekali jalan untuk menjadi terkenal. Mungkin masih ingat dengan ungkapan "kalau mau terkenal, kencingi saja air zamzam!" Tentu bukan ini yang kita maksudkan bukan?

Pada tahapan "muda terkenal" dalam koridor positif, tentu tidak bisa datang tiba-tiba dengan sendirinya. Umumnya, untuk menjadi seorang "muda terkenal" tidaklah mudah, perlu niat, tekad, semangat, strategi dan ikhtiar usaha keras plus cerdas, bahkan bisa jadi memerlukan perjuangan dan pengorbanan ekstra  yang tidak sedikit dan sederhana.  Di titik ini, penerapan pola perencanaan strategis melalui pendekatan fungsi-fungsi ilmu manajemen, mungkin akan lebih mempermudah proses pencapaian target posisi "muda terkenal" 

Berikutnya, frasa "tua kaya raya", menjadi orang tua yang kaya raya atau kaya raya di saat tua pasti menjadi pilihan dan harapan diantara kita semua, Betul? Berbicara masalah "kaya dan kekayaan" tentu tidak bisa lepas dari yang namanya "proses" yaitu proses untuk bisa menjadi kaya! Bicara proses berarti bicara ikhtiar atau usaha, kalau sudah bicara ikhtiar atau usaha berarti kita harus menerapkan metode, cara dan atau strategi! Sekali lagi, disini sepertinya pendekatan fungsi-fungsi ilmu manajemen bisa membantu mempermudah jalannya proses.

Untuk bisa kaya raya disaat tua, memang bukan perkara mudah! Setidaknya dengan berusaha menerapkan fungsi-fungsi ilmu manajemen yang dimulai dari perencanaan yang matang sejak awal, secara konsisten dan berkesinambungan sebagai ikhtiar proses yang dijalani bisa lebih terukur, sehingga akan semakin mempermudah kemungkinan tercapainya kehidupan yang layak bahkan kaya raya di masa tua, Insha Allah semua tinggal menunggu takdirnya saja. 

Salah satu alasan, kenapa sebagian besar orang ingin kaya raya di masa tua adalah agar lebih tenang di usia senja dan lebih mudah berkonsentrasi mendekatkan diri kepada-Nya. Nah, insha Allah kemungkinan diberi kemudahan mati masuk sorga semakin terlihat jalannya...   Mau dan berani mencoba?

Bisakah Mewujudkannya!? 

Pada dasarnya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia yang serba nisbi ini! Kalau Allah berkehendak sesuai dengan angan dan usaha kita kenapa tidak? Menurut saya, pertanyaan yang harus kita jawab justeru sejauh mana kesanggupan kita  untuk mewujudkan semua mimpi-mimpi kita? Strategi apa yang bisa kita manfaatkan untuk mewujudkannya?
Kumpulan frasa kata yang disusun Slank dalam lirik lagu berjudul Entah Jadi Apa? tersebut, menurut saya masih masuk akal, artinya masih sangat mungkin bagi kita untuk mewujudkannya. 

Bagaimana caranya?  Mulai dengan Bismillah, segera berbenah dan terus melangkah! Mulai dari yang kecil, mulai dari diri kita sendiri dan mulai dari sekarang...
Insha Allah, yuk!


artikel keren ini juga bisa di baca di acc  KOMPASIANA saya, klik disini untuk membuka, jangan lupa di kasih komentar konstruktif dan dishare ya ....



Minggu, 24 Juni 2018

…Selalu Beda Tidak Pernah Sama! Inilah #AsyiknyaNaikFerry



 
Peta Lintasan armada ASDP Indonesia Ferry
(sumber:www.indonesiaferry.co.id)
Nenek Moyangku Seorang Pelaut

Naik kapal laut, apapun bentuk, jenis, nama dan ukurannya selalu memberikan pengalaman seru yang tidak mudah untuk dilupakan, apalagi bagi orang-orang yang lahir dan dibesarkan jauh dari lautan seperti saya!
Kalau mengingat luas laut Indonesia yang mencapai 3,25 juta km2  atau sekitar 60% dari total luas seluruh wilayah Indonesia, rasanya kok rugi ya kita pemilik laut terbesar di dunia, kok belum pernah naik kapal laut apalagi kapal ferry.  

Masih ingat dengan lagu tentang nenek moyangku seorang pelaut? Lagu gubahan Ibu Sud ini merupakan dokumentasi dari realitas nenek moyang kita yang sejak dulu memang telah dikenal sebagai pelaut-pelaut ulung yang cakap dan tangguh menyeberangi samudera. Hayooo, sudah berapa samudera yang kalian sebera….. Eh, maaf!…maksudnya sudah berapa kali naik kapal laut!? 

Sampai saat ini, baru 5 (lima) rute kapal ferry milik ASDP Indonesia Ferry yang pernah saya naiki, yaitu :
Pertama, Surabaya (Ujung) – Madura (Kamal) (PP)   
Kedua, Banyuwangi (Ketapang) –Bali (Gilimanuk) (PP)
Ketiga, kapal ferry cepat Surabaya (Tanjung Perak) – Banjarmasin (Tri Sakti) (P)
Keempat, Batulicin-Kotabaru (Kalimantan Selatan) (PP)
Kelima, Penajam Paser Utara-Balikpapan (Kalimantan Timur) (PP)

Padahal total rute perjalanan kapal ferry yang dikelola ASDP Indonesia Ferry lebih dari 200 perjalanan lho! Woooow! Artinya rute yang saya naiki belum sampai 2% -nya dong…. Hiks! Jadi malu sama nenek moyang kita yang pelaut, apalagi sama kakek moyang kita ya…???? He…he…he….


Romantika Naik Kapal Ferry
(Sumber : www.borneonews.co.id)

 
Romantika Naik Kapal Ferry

Bagi saya, sensasi perjalanan laut merupakan petualangan yang sesungguhnya! Karena, sepanjang perjalanan merupakan romantika seru yang penuh dengan kejutan-kejutan tak terduga. Selalu Beda Tidak Pernah Sama! inilah yang saya sebut sebagai #AsyiknyaNaikFerry.


Ujung (Surabaya) – Kamal (Bangkalan, Madura)

Ketika pertama kali naik kapal ferry yang membawa saya dan kawan-kawan dari Pelabuhan dermaga Ujung Surabaya menuju Pelabuhan Kamal Madura dengan waktu tempuh sekitar 1 (satu) jam, saya benar-benar merasakan pengalaman baru yang sangat luar biasa.

Tidak hanya mengerti bagaimana sirkulasi peran truk-truk pengangkut beras tujuan berbagai daerah di Madura yang baru saja masuk kapal dengan membawa beras dari daerah Madiun dan sekitarnya yang dikenal sebagai lumbung padinya Jawa Timur, tapi juga bisa melihat aktifitas beberapa kapal perang milik TNI AL dan kapal layar latih milik Akademi Angkatan Laut yang sedang sandar di pelabuhan, selain itu juga ada juga kapal-kapal dagang dari berbagai daerah sedang lego jangkar, bahkan terlihat juga kapal pesiar mewah berbendera asing.

Di sepanjang  jalur pelayaran yang kami lewati kami juga sering berpapasan dengan kapal-kapal nelayan berbagai ukuran sedang lalu lalang di atas riak gelombang. Luar biasa dinamikanya! Inilah salah satu #AsyiknyaNaikFerry.

Untuk jalur balik dari Pelabuhan Kamal menuju Dermaga Ujung Surabaya yang kita ambil pada sore harinya, pengalaman seru lainnya juga telah menunggu kami. Sore itu, kami naik kapal ferry yang berbeda dengan yang kami tumpangi saat berangkat menuju Madura.

Sore itu, sepertinya kawasan Surabaya, selat madura dan sekitar Bangkalan sedang dilanda hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang. Saat itu, kekhawatiran jelas terlihat di wajah semua penumpang, termasuk saya. 

Karena derasnya curah hujan yang turun plus angin yang berhembus sangat kencang membuat kami berlarian kearah bagian dalam kapal. Saat itu kami sama sekali tidak bisa melihat kearah luar. Kami tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Syukur Alhamdulillah, berkat ijin Allah, kapal ferry yang memang layak pakai dan petugas yang menjalankan SOP pelayaran dengan benar akhirnya kapal ferry yang kami tumpangi merapat di Dermaga Ujung Surabaya dengan selamat, hanya saja waktu tempuh kami  relatif menjadi lebih lama, yaitu sekitar 2 jam.

Suasana Pelabuhan Ketapang, Banyuwanngi
(Sumber : newkbr.id)

Ketapang (Banyuwangi) – Gilimanuk (Bali)

Rute penyeberangan yang satu ini merupakan rute penyeberangan kapal ferry paling terkenal di Indonesia. Syukurnya, jadwal penyeberangan 24 jam yang dilayani oleh  ASDP Indonesia Ferry ini, telah beberapa kali saya nikmati sensasinya! Hayoooo, kamu sudah berapa kali?

Dari beberapa kali menyeberangi selat Bali, paling banyak saya lakukan pada malam hari atau tepatnya pada tengah malam. Pada jam-jam kritis seperti ini, memang hanya dua pilihan untuk penumpang kapal ferry, melanjutkan tidur setelah naik ke lantai atas kapal atau mengeksplor kapal sampai tingkat atas sekaligus menikmati indahnya kerlap-kerlip bintang dan rembulan (bila sedang muncul) serta dinginnya hembusan angin laut yang berbau khas. Inilah #AsyiknyaNaikFerry selanjutnya.

Suasana dalam kapal ferry Ketapang-Gilimanuk
(sumber : DetikTravel.com)

Selain itu, bagi yang suka fotografi, fragmentasi sekitar yang minim cahaya di sepanjang perjalanan kapal juga menyuguhkan ­angle-angle dramatis yang sangat layak untuk dieksplor lebih jauh, seperti kerlap-kerlip lampu pelabuhan yang semakin lama semakin mengecil atau sebaliknya, atau juga satu-dua kerlip lampu tempel nelayan pencari ikan di kejauhan, begitu juga suguhan langit cerah yang mungkin (jika beruntung) menyajikan hamparan gugusan galaksi yang cantik untuk di abadikan.

Untuk penyeberangan sejauh   3 (tiga) mil laut yang membutuhkan waktu tempuh normal sekitar 30 menit sampai 1 jam di siang hari ini, keasyikannya tentu berbeda dengan yang malam hari, begitu juga fragmentasi alam yang disajikan. Pada penyeberangan kapal ferry siang hari, kita bisa dengan jelas melihat landskap perairan selat Bali yang terkenal dengan arusnya yang kuat secara utuh, lalu-lalang kapal ferry lainnya, aktifitas kapal nelayan dan kita juga bisa melihat dengan jelas manuver kapal ketika berlayar dari maupun menuju ke Gilimanuk, Bali yaitu membentuk jalur seperti busur kearah utara. Inilah #AsyiknyaNaikFerry  

Oya, hampir saja tertinggal, khusus di sekitar kapal ferry yang sandar di pelabuhan Ketapan Banyuwangi ini, jika beruntung kita bisa melihat atraksi anak-anak sekitar pelabuhan yang melakukan atraksi lompat dari kapal untuk mengejar uang yang dilempar penumpang ke arah laut….. Hiiiiii, berbahaya sih atraksi ini! Jadi ngeri-ngeri sedap lho melihatnya!


KRI Karang Banteng 983 ex KFC Serayu
(Sumber:indomiliter.com)

Tanjung Perak (Surabaya) – Tri Sakti (Banjarmasin)

Di akhir tahun 90-an sampai awal yahun 2000-an, transportasi Kapal Ferry Cepat jurusan Surabaya-Banjarmasin PP, sempat menjadi primadona masyarakat baik dari Surabaya menuju Banjarmasin maupun sebaliknya.

Khusus untuk armada kapal ferry cepat (KFC) Serayu yang mampu membawa hampir 1000 penumpang dengan kecepatan maksimal 40 knot (74,08 km/jam) itu, saya punya kenangan khusus dengannya. Kapal inilah yang membawa saya pertama kali bertemu dengan istri saya berikut keluarganya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. 

Perjalanan saya naik KFC Serayu dari Surabaya menuju Banjarmasin, merupakan perjalanan jarak jauh pertama saya dengan kapal laut. Saya sangat terkesan dengan kapal yang ternyata larinya sangat kencang tersebut.

Saya baru menyadari setelah 4 (empat) jam berlayar atau setelah separuh perjalanan. Ketika waktu Sholat Dhuhur tiba, saya naik ke lantai 2 untuk mencari mushalla, setelah sholat saya mencoba naik bagian paling atas kapal. Dari tempat itu saya baru menyadari ternyata bagian depan pesawat seperti berdiri menerjang ombak layaknya speedboat. Wooooooow! Agak ngeri juga jadinya…he…he… Inilah #AsyiknyaNaikFerry

Interior bagian dalam kapal buatan galangan Kapal Lauzern Jerman, tahun 1998  ini mirip sekali dengan interior dalam pesawat terbang, layanan pramugari juga sangat ramah dan maksimal, konsumsi untuk penumpang juga enak, cukup dan tepat waktu, piranti keselamatan penumpang seperti jaket pelampung juga lengkap tersedia di bawah tempat duduk.

Akhirnya, setelah berlayar sekitar 8 jam perjalanan, akhitrnya kapal merapat di pelabuhan Tri Sakti Banjarmasin yang berada di alur Sungai Barito.

Sayang, Kapal berbahan Alluminium Alloy dengan dimensi  68,8  x 10,4 meter serta bobot 493 metrik ton  yang bodinya mirip kapal pesiar itu sekarang sudah berada di dasar lautan Selat Bali karena ditenggelamkan, setelah masa tugasnya sebagai kapal perang KRI Karang Banteng berakhir (2014), pasca dihibahkan oleh ASDP ke Departemen Pertahanan RI dan di operasikan oleh Armada RI Kawasan Timur yang berpusat di Surabaya (2006).

Sayang ya….. seandainya kapal Karang Banteng 983 (ex KFC Serayu) dijadikan museum, mungkin masyarakat akan lebih mengenal dunia kelautan berikut atribut-atributnya, sehingga gelora semangat untuk mencintai Indonesia dari laut semakin mudah untuk memulainya…..

Pelabuhan Batulicin, Tanah Bumbu
(Sumber : tanahbumbu.merdeka.com)

Batulicin (Tanah Bumbu) – Tanjung Serdang (Kota Baru)

Setelah Kabupaten Kotabaru dimekarkanan menjadi 2 (dua) wilayah yakni Kabupaten Kotabaru (sebagian besar wilayahnya di Pulau Laut) dan Kabupaten Tanah Bumbu (sebagian besar wilayahnya di Pulau Kalimantan) pada tahun 2003. Kegiatan ekonomi 2 (dua) daerah penghasil emas hitam alias batubara ini memang relatif semakin berkembang.

Sampai saat ini, pelabuhan laut masih menjadi satu-satunya penghubung jalur transportasi dari 2 (dua) daerah bertetangga itu. Untuk menyeberang ke Pelabuhan Tanjung Serdang di Kota Baru dari Banjarmasin, bisa melalui Pelabuhan Batulicin.

Disini, selain ada armada sepit (sebutan armada speedboat) juga ada armada kapal ferry yang beroperasi 24 jam milik ASDP Indonesia Ferry. Waktu tempuh untuk menyeberang dari Batulicin ke Pelabuhan Tanjung Serdang sekitar 1 (satu) jam perjalanan. 

Karena saat itu, saya dan rekan membawa sepeda motor, maka pilihan kami adalah naik kapal ferry. Setelah berdoa dan melalui prosesi standar untuk naik kapal ferry, sepeda motor kita bawa masuk ke tempat parkir di lantai 1 (satu) dengan cara di standar tengah. Setelah dirasa aman, kami langsung naik kelantai atas untuk menikmati camilan yang kita bawa dari Batulicin sambil menikmati segarnya udara pagi di selat Pulau Laut.

Berdasarkan pengalaman saya naik kapal ferry di beberapa rute, kualitas interior kapal memang berbeda-beda. Parameter yang paling mudah dilihat adalah wujud penampakan dari “tempat duduk”! Ada yang empuk seperti sofa tapi tidak jarang bertemu dengan kursi yang keras karena telanjang tanpa pelapis. Uniknya ketika hal ini saya tanyakan kepada kru kapal, dengan bercanda si bapak bilang…”Semua tergantung imannya, Mas!” Hi…hi…hi…sepertinya bener juga ya! Inilah #AsyiknyaNaikFerry.

Secara umum, kapal ferry yang saat itu beroperasi seperti KM Gutila, Mahakam Raya, Srikandi Nusantara, dan Truno Joyo masing-masing relatif lebih kecil (kapasitas muatan 20 unit kendaraan roda empat dan 30 unit kendaraan roda dua) dari pada yang beropeasi di jalur rute Surabaya-Madura.

Keunikan trip rute Batulicin ke Pelabuhan Tanjung Serdang, yang menyeberangi selat Pulau Laut, Kotabaru ini adalah banyaknya kapal tug boat yang lalu-lalang menarik tongkang yang sebagian besar mengangkut gunungan batubara atau minyak, tapi kalau sedang beruntung ada juga yang mengangkut alat berat berbagai ukuran. Inilah #AsyiknyaNaikFerry

Pelabuhan Kariangau, Balikpapan
(Sumber : kaltim.procal.com)

Penajam (Paser Utara) – Kariangau (Balikpapan)

Penyeberangan dari Penajam ke kota Balikpapan ini, menyeberangi teluk Balikapapan dengan waktu tempuh sekitar 1 jam perjalanan.

Seperti halnya rute dari Batulicin ke Pelabuhan Tanjung Serdang di Kalimantan Selatan, rute Penajam ke kota Balikpapan, Kalimantan Timur ini, masyarakat juga dilayani oleh  armada sepit (sebutan armada speedboat) dan armada kapal ferry yang beroperasi 24 jam milik ASDP Indonesia Ferry. Bagi armada bus trans Kalimantan berbadan bongsor yang saya naiki dari Banjarmasin ini, tentu tidak ada pilihan selain harus naik kapal ferry.

Rute penyeberangan kapal ferry dari Penajam ke kota Balikpapan ini termasuk rute yang padat, hal ini terlihat dari antrean kendaraan roda 4 (empat) dari arah Kalimantan Selatan yang mengular di pintu masuk pelabuhan. Bis yang saya naiki, sebenarnya sudah sampai di pelabuhan sejak subuh, tapi lebih dari 1 (satu) jam menunggu untuk bisa menyeberang.

Untungnya, sepanjang perjalanan melintasi teluk Balikpapan saya dan seluruh penumpang mendapat suguhan fenomena alam yang luar biasa indahnya, gerimis hujan yang turun pagi itu memunculkan pelangi yang sangat indah menghias langit teluk Balikpapan. Sayang, saat itu belum ada HP berkamera untuk mengabadikan keindahan gradasi warna ciptaan Tuhan itu. Inilah #AsyiknyaNaikFerry.

Kapal Tug Boat Menarik Tongkang Batubara
(Sumber : Tempo.com)

Diteluk Balikpapan ini, hampir mirip dengan perairan selat Pulau Laut, selain kapal ferry, sepit dan kapal nelayan tradisional, juga terdapat banyak kapal tug boat yang menarik tongkang pengangkut Batubara, minyak dan juga alat berat berbagai ukuran.

Selain, suguhan pelangi yang begitu mempesona, pagi itu teluk Balikpapan juga mulai ramai oleh aktifitas para nelayan yang berlalu-lalang. Sambil menikmati sarapan nasi pecel bungkus dan seduhan kopi agak pahit kesukaan saya, akhirnya kapal memasuki muara sungai yang kiri kanannya lebat ditumbuhi pohon bakau dan nipah, sesekali dari kejauhan saya melihat segerombolan bekantan (Nasalis larvatus) si-monyet belanda berhidung mancung sedang berlompatan diantara pepohonan rumbia/nipah. Inilah #AsyiknyaNaikFerry.

Teringat jawaban bernada candaan "semua tergantung imannya mas!" dari salah seorang kru kapal ferry saat berlayar dari Batulicin menuju Tanjung Serdang, Kotabaru saat saya tanya tentang tempat duduk kapal ferry yang berbeda-beda penampakannya,  menurut saya memang inilah #AsyiknyaNaikFerry. 

Seperti yang saya katakan di awal tulisan ini, sensasi perjalanan laut merupakan petualangan yang sesungguhnya! Karena, sepanjang perjalanan merupakan romantika seru yang penuh dengan kejutan-kejutan tak terduga. Selalu Beda Tidak Pernah Sama! 

Masing-masing kapal ferry dan masing-masing rute yang dilayari mempunyai keelokan pesonanya sendiri-sendiri, sedangkan masing-masing penumpang tentu juga akan mendapatkan porsi pengalaman sekaligus rejekinya masing-masing... semua tergantung imannya! he...he,.,,he..... 

Selamat ulang tahun yang ke 45 kepada ASDP Indonesia Ferry semoga visi dan misi perusahaan segera terwujud sehingga semakin memberi manfaat kepada seluruh rakyat Indonesia. Amin....


 Tamat










Jumat, 15 Juli 2016

Alhamdulillah! Akhirnya Jepretan Kamera Ponselku dihargai Jutaan Rupiah dan Dimuat Majalah NGI




http://www.uniekkaswarganti.com/2016/05/Asus-giveaway-aku-dan-kamera-ponsel.html


Berita Bahagia di Hari Bahagia

Deg! Jantung saya seperti berhenti berdetak untuk sesaat ketika membaca SMS dari salah satu tim official majalah National Geographic Indonesia yang masuk ke ponsel saya beberapa detik yang lalu.

Iniliah foto Juara itu!
“Selamat sore, Kartika Eka H, Saya Harry… dari National Geographic Indonesia. Selamat anda menjadi salah satu pemenang kontes foto #PasarRakyat kategori Smartphone.

Mohon melakukan konfirmasi data diri berupa nama lengkap, no telp (lebih dari 1), foto kopi KTP & NPWP dan file foto highrest beserta keterangan nama pasar dan lokasi pasar.
Data dikirimkan via email ke harry…@gramedia-majalah.com dan m.nas…@nationalgeographin.co.id”

Antara percaya dan nggak percaya, saat itu saya terbengong-bengong sendirian, nggak tahu mau ngapain!? Tiba-tiba ponsel saya berbunyi dan di layar muncul nomor telepon asing dengan kode dari Jakarta (021), tanpa pikir panjang telepon langsung saya angkat. Benar dugaan saya, dari seberang seseorang memperkenalkan diri dari majalah National Geographic Indonesia dan menyampaikan berita yang isinya kurang lebih sama dengan isi SMS yang baru saja saya baca.

Pengumuman pemenang semua kategori
Semuanya semakin jelas, setelah saya membuka email dari official majalah National Geographic Indonesia yang memuat link pengumuman pemenang dari situs resmi kontes foto #PasarRakyat kerjasama antara Bank Danamon dengan situs Fotokita milik majalah National Geographic Indonesia. 

Hati saya semakin berbunga-bunga ketika membuka link pengumuman pemenang, disitu terpampang foto hasil karya saya dengan tema kearifan lokal masyarakat Banjar berupa “akad jual beli” dalam transaksi jula beli masyarakat dengan setting Pasar Terapung Lok Baintan di Kecamatan Sungai Tabuk Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan dengan predikat sebagai juara 1 untuk kategori smartphone dan yang paling seru, foto-foto juara ini akan dimuat dalam segmen khusus di majalah National Geographic Indonesia. Hmmmm... siapa yang tidak senang dan bangga, karya foto dimuat majalah sekelas National Geographic Indonesia? Gak boleh ngiri ya....he..he...he...


Alhamdulillah! Saya langsung sujud syukur saat itu juga. Karuan saja, apa yang saya lakukan sukses menjadi tontonan beberapa pasang mata yang kebetulan berada di sekitar saya. O ya, kebetulan saat itu saya sedang mengantri beli obat di apotik salah satu Rumah Sakit Ibu dan Anak di Kota Banjarmasin, tempat istri saya yang beberapa saat lagi menjalani operasi bedah Caesar kelahiran anak kami yang ke-4.  


Berkah Hobi “Njepret” dengan Kamera Ponsel

Berita Dibalik Penjurian
Jujur! Saya sendiri awalnya hampir tidak percaya dengan berita kemenangan saya di ajang tahunan yang diselengarakan oleh duet Bank Danamon dengan situs Fotokita milik majalah National Geographic Indonesia ini. 

Betapa tidak, ini merupakan moment pertama kali saya bisa ikut secara sadar dalam kompetisi foto yang serius dan beneran (emang kemarin-kemarin ikutan lomba fotonya sambil pingsan mas…!? He…he…he…), apalagi menurut release panitia, total foto yang masuk untuk event tahun 2016 ini sebanyak 7000-an foto untuk 3 (tiga) kategori yaitu, wartawan (DSLR), umum (mirrorless/kamera saku) dan smartphone, woooow! Sudah gitu salah satu jurinya adalah Arbain Rambey. Siapa fotografer negeri ini yang nggak kenal sama fotografer senior yang satu ini!?

Saya sangat mengapresiasi kontes #PasarRakyat kerjasama antara Bank Danamon dengan situs Fotokita milik majalah National Geographic Indonesia yang memberi kesempatan semua fotografer berbagai kelas dan kemampuan untuk bertarung secara fair melalui 3 kategori yang disediakan. 

Rasanya, memang sudah saatnya dunia fotografi mengikuti petuah "Jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihatlah isi dari bica... Eh, maaf! Maksud saya, "Jangan lihat siapa yang memfoto! Tapi lihat hasil fotonya!" Sepakat?

Saya menganggap, semua merupakan berkah dari hobi saya suka njepret  moment-moment yang saya anggap menarik (terutama tema humaniora dan landscape alam) dengan kamera ponsel, kapanpun dan dimanapun saya berada, kecuali di kamar mandi ya….he…he…he… Apalagi, sejak fitur kamera yang ditanam dalam ponsel, khususnya smartphone yang beredar di pasaran saat ini, hampir semuanya mempunyai kemampuan menangkap moment gambar dengan kemampuan terbaiknnya, resolusi tinggi plus berbagai fitur canggih lainnya seperti geo-tagging, touch focus, face detection, panorama, HDR dll yang tentunya memberi kemudahan bagi pengguna untuk mengabadikan berbagai moment menarik yang ada di depan mata dengan cara yang lebih mudah, tapi hasilnya luar biasa indah. Mau? 



Salah satu smartphone yang sekarang sedang naik daun karena mempunyai fitur kamera yang mumpuni adalah Zenfone 2 LaserZE550KL keluaran dari ASUS. Berikut video review produknya atau klik disini, untuk download  booklet panduan produk secara lengkap.

 
Review produk (video : You Tube/ASUS)

Hobi saya njepret saebenarnya sudah ada sejak saya dalam kandungan ibu saya! Kalau nggak percaya coba cek deh catatan kandungan ibu saya saat hamil saya! (Kalau masih ada ya di dukun bayi di lereng Gunung Lawu…he…he…he…). 

Bagi saya, njepret berbagai moment menarik yang ada di depan mata, sebenarnya termasuk hobbi akut lho! Soalnya bukan lagi sekedar kewajiban apalagi iseng semata, tapi sudah menjadi kebutuhan lahir dan batin! 

Karya foto dimuat di koran lokal
Menjadi kebutuhan lahir, karena sejak dalam kandungan saya sudah hobi njepret! he..he..he...! Bukan, bukan! Begini, saya memerlukan berbagai moment menarik dalam bentuk gambar karena hobbi saya yang lain, yaitu menulis! Selain menulis untuk aktifitas ngeblog, saya juga hobi dan mempunyai aktifitas menulis di beberapa surat kabar, majalah baik lokal maupun nasional baik online maupun cetak. Lha, kalau tulisan di blog, koran atau majalah tidak ada ilustrasi gambar pendukung, kan sama dengan menyiksa pembacanya! Apalagi kalau tulisan tentang pariwisata!? Betul...? 

Jadi, fungsi hasil jepretan kamera ponsel, bagi saya memberi dua fungsi utama sebagai sumber inspirasi untuk menulis sekaligus sebagai bumbu pelengkap renyahnya tulisan. Syukur Alhamdulillah! kalau ada lomba atau kontes foto dan kebetulan stok fotonya saya punya, seperti kontes foto #PasarRakyat diatas. Ternyata ada berkah rejeki dari hobi njepret!

Sedangkan untuk kebutuhan batin saya kira berbanding lurus dengan kepuasan kita ketika tulisan yang juga berisi ilustrasi gambar hasil jepretan kita, ternyata diapresiasi banyak orang apalagi bisa memberi manfaat dengan menginpirasi pembacanya. Selain dapat duit, juga dapat pahala lho! Insha Allah...

Puas? Belum, karena saya tidak akan pernah puas dengan hasil karya foto saya! Saya akan terus berburu moment-moment menarik lainnya, apalagi kalau ada produk ASUS seri Zenfone 2 Laser  Zenfone 2 Laser ZE601KL, Zenfone 2 LaserZE550KL atau Zenfone 2 LaserZE500KL di tangan! Amin.

Yuk lebih sering njepret! Biar feeling semakin terasah dan berkahnya semakin lengket....
Inilah kampungku Banjarmasin Kalimantan Selatan



 'Giveaway Aku dan Kamera Ponsel by uniekkaswarganti.com'









Sabtu, 25 Juni 2016

Pasca Tewasnya “Dante”, Kota Banjarmasin Mencekam!



 
Senyum damai masyarakat Banjarmasin (Foto : @kaekaha)

Mimpi buruk itu hampir saja terulang kembali di bumi Kalimantan! Pertumpahan darah akibat “perang” antar suku itu hampir saja mengulang trauma masa lalu yang begitu menyesakkan dada.

Kota Banjarmasin, Ibu kota Kalimantan Selatan yang selama dikenal  harmonis, aman dan damai, tiba-tiba di akhir bulan Pebruari kemarin mendadak mencekam! Berita akan adanya perang antara suku Dayak dengan Suku Madura mulai menyebar luas keseluruh masyarakat Kota Banjarmasin, termasuk di lingkungan tempat tinggal saya yang berada di pinggiran Kota. Memang, beritanya masih simpang siur dan mempunyai banyak versi.

Awalnya, saya mendengar berita tersebut dari seorang tukang sayur langganan istri saya yang biasa keliling komplek. Menurutnya, beberapa hari terkahir di pasar beredar khabar “burung” akan ada serangan balasan atas meninggalnya seorang pemuda keturunan Dayak yang meninggal karena diserang oleh “oknum” dari Suku Madura akibat berebut lahan parkir, tapi si tukang sayur juga tidak bisa memastikan validitas dari isu-isu tersebut.

Postingan damai dari Ketua DAD Kalimantan Barat (Grafis : Facebook Yakobus kumis)


Memang, saat itu dari beranda berbagai medsos popular terutama facebook, saya juga banyak mendapati postingan berita-berita yang kurang lebih sama dengan cerita si Paman sayur, tapi karena saya anggap postingan berita hoax, maka saya tidak terlalu menanggapi berbagai berita tersebut.

Tapi, saya mulai berubah pikiran, ketika anak saya yang sekolah di salah satu Madrasah di Kota Banjarmasin, sepulang sekolah bertanya,
“Bah, mau ada perangkah antara Orang Dayak dengan Orang Madura?”
Betapa terkejutnya saya mendengar pertanyaan anak saya. Ketika saya tanya asal berita itu! Anak saya mengatakan kalau wali kelasnya memberi himbauan yang kurang lebih isinya sebagai berikut, “Tolong disampaikan kepada semua orang tua masing-masing, dalam beberapa hari ini, kalau tidak terlalu penting jangan keluar rumah terutama ke tempat-tempat keramaian umum, seperti pasar, menara siring dll, karena kemungkinan akan ada perang antara orang Dayak dengan Orang Madura di Banjarmasin”.

Sampai disini, saya berpikir sepertinya ini bukan main-main! Kalau wali kelas anak saya saya memberi himbauan (entah atas nama pribadi ataupun institusi) seperti diatas. Sayang, sampai saat itu belum ada informasi resmi dari pihak berwajib maupun dari pemerintah tentang situasi dan kondisi keamanan Kota Banjarmasin, karena secara umum aktifitas masyarakat masih terlihat normal-normal saja. Begitu pula media massa lokal yang terbit di Kalimantan Selatan, tidak satupun yang mengulas kasak-kusuk yang menurut saya sudah pada taraf meresahkan tersebut. Hal ini berbanding terbalik dengan postingan berita di facebook yang menggelinding semakin  liar dan bikin ngeri membacanya. Berbagai postingan provokatif bertebaran dimana-mana, sahut-menyahut di kolom komentar berisi hasutan, kebencian, yang bercampur dengan rasa takut dan kengerian, semua campur aduk bikin mual dan sakit kepala. Tapi intinya tetap sama! Tetap simpang siur dan tidak jelas sumbernya.

Berawal dari Alkohol dan Media Sosial
Alhamdulillah, sebelum “perang” benar-benar terjadi, kebenaran itu terungkap!

Semua berawal dari tragedi tewasnya Eki Rianda Persia atau DANTE, seorang keturunan Dayak di tangan dua pemuda mabuk yang kebetulan berasal dari Madura, Faruk dan Ardiansyah. Perselisihan yang berujung maut ini dipicu masalah yang sangat sepele yaitu tatapan mata!

Menurut penjelasan Polisi, pasca pembunuhan (Minggu, 21/2), Rabu (24/2) polisi dan semua unsur Muspida Kota Banjarmasin sampai Gubernur mempertemukan seluruh tokoh adat yang ada di Banjarmasin, termasuk DAD (Dewan Adat Dayak) dan (KAWAMA) Kerukunan Warga Madura. Semua sepakat, masing-masing pihak berkeinginan menjaga keharmonisan dan ketenteraman Kota Banjarmasin, dengan aktif meredam isu yang beredar dan sama-sama menenangkan massanya. Kedua belah pihak sepakat menyerahkan kasus kriminal murni ini untuk diproses polisi. Selanjutnya, Jumat (26/2) seluruh tokoh adat dikumpulkan lagi menegaskan kemufakatan dan malamnya menggelar acara damai adat.

Postingan Menyejukkan Walikota banjarmasin via facebook (grafis : facebook Ibnu Sina)


Pernyataan polisi ini diperkuat oleh postingan dari Walikota Banjarmasin, Ibnu Sina di akun facebook pribadinya. Selanjutnya, selain memburu tersangka Faruk yang buron, polisi juga bertekad memburu semua pihak yang sengaja menyebarkan isu provokatif melalui media sosial dengan memanfaatkan kasus pidana tersebut.

Tragedi Dante dan Ragam Media Sosial dalam Keragaman Nusantara Kita

Bagi bangsa Indonesia, keberagaman budaya adalah kenyataan hidup, (cultural diversity is a fact of life), sedangkan kehadiran ragam media sosial dibawah bayang-bayang teknologi internet yang borderless dan interconnected merupakan sebuah keniscayaan bagi masyarakat Indonesia sebagai bagian tak terpisahkan dari peradaban masyarakat dunia.

Kekhawatiran terhadap efek negatif dari perkembangan ragam media sosial yang menyerbu masyarakat dunia, termasuk Indonesia, berupa benturan budaya yang bisa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa merupakan konsekuensi yang tidak bisa dihindari.  Hal ini mengacu pada sifat internet sebagai aplikasi teknologi informasi yang cepat dan terbuka yang menyebabkan batas-batas privasi semakin samar dan pada gilirannya menghadirkan fenomena transparansi sebagai bagian dari demokratisasi informasi. Apalagi jika dikaitkan dengan fakta “The world in your pocket” yang sudah didepan mata, yang tentunya akan semakin memperbesar dan memperluas intensitas interaksi tanpa batas. 

 
Ragam Media Sosial (Grafis : www.newsth.com)

Menurut pakar Manajemen Komunikasi Lintas-budaya, Prof. Dr. H. ANDRIK PURWASITO, DEA bentuk transparansi informasi yang cepat dan terbuka inilah yang menyebabkan terjadinya kemungkinan benturan (kepentingan) budaya yang akan menghasilkan 2 (dua) konsekuensi yaitu “benturan” kepentingan yang membawa berkah (advantage) dan “benturan” kepentingan yang mengakibatkan bencana (disadvantaged) dan situasi ini bisa menjadi semakin runyam, ketika kehadiran negara sebagai regulator masih kesulitan melakukan tindakan pengawasan (sensorship) terhadap containt internet berikut produk turunannya berupa medsos.

Provokasi massa yang meresahkan melalui medsos di Kota Banjarmasin seperti ilustrasi diatas, merupakan salah satu fenomena dari “benturan” kepentingan yang mengakibatkan bencana (disadvantaged) seperti penjelasan Prof. Dr. H. ANDRIK PURWASITO, DEA. Dimana ketiadaan pengawasan (sensorship) oleh regulator dan ditambah “kepentingan” tidak bertanggung jawab dalam memanfaatkan aplikasi media sosial terbukti bisa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. 

Himbuauan dalam Facebook (Grafis : facebook Ibnu Sina)


Disinilah dibutuhkan kehadiran dan keterlibatan semua pihak, terutama negara sebagai regulator, para cendekiawan, pemuka/pemimpin sosial kemasyarakatan, kaum terdidik dan terpelajar, para praktisi dan tentunya semua elemen teknis dan praktis yang terlibat di dalamnya sebagai motor technology adapter untuk bisa merumuskan sebuah blueprint yang cerdas dan aplikatif, sebagai strategi  edukatif pemanfaatan aplikasi teknologi informasi (internet) yang sehat, bermanfaat, tepatguna dan berdayaguna bagi pembangunan peradaban bangsa sesuai dengan karakter ke-bhineka-an kita.  Sehingga masyarakat sebagai technology user atau technology taker bisa lebih dewasa, arif, bijaksana dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan aplikasi teknologi informasi berikut produk turunannya seperti medsos yang terlanjur menjadi rujukan informasi masyarakat baik secara pribadi maupun komunal.

Pelajaran berharga dari Banjarmasin ini, mudah-mudahan kembali menyadarkan sekaligus membangunkan sel-sel dorman dalam alam bawah sadar kita agar kembali aktif bergerak untuk merespon berbagai gejala sosial yang berpotensi mengaburkan ke-bhineka-an kita. Semoga bermanfaat!



Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog yang diselenggarakan oleh ICRS dan Sebangsa