Tampilkan postingan dengan label Kalimantan Selatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kalimantan Selatan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juli 2018

Menjelajah Eksotika Pasar Terapung Banjarmasin


Inilah Kota Banjarmasin Kota 1000 Sungai
Banjarmasin Kota 1000 Sungai

Banjarmasin, ibu kota Propinsi Kalimantan Selatan telah lama dikenal sebagai salah satu kota perdagangan tua di Nusantara. Sejak jaman kejayaan Kesultanan Banjar pada abad XVI telah menjadi bandar perdagangan Internasional sekaligus pintu masuk utama bagi mobilisasi dan distribusi manusia serta barang dari dan menuju pedalaman Kalimantan. 

Eksistensi peran strategis Kota Banjarmasin ini tetap terjaga sampai sekarang, salah satunya karena dukungan topografi alam Kota Banjarmasin yang unik! 

Banjarmasin yang juga dengan julukan “Kota 1000 Sungai” ini,  merupakan kota yang daratannya banyak dialiri sungai dengan berbagai ukuran yang jumlahnya sangat banyak, bisa jadi yang terbanyak di Indonesia bahkan mungkin dunia.
Beberapa papan nama sungai yang ada di Banjarmasin

Konfigurasi banyaknya aliran sungai yang membelah daratan, menjadikan lanskap kota Banjarmasin seperti sekumpulan pulau-pulau kecil jika dilihat dari udara. Bahkan ada juga yang melihatnya seperti liukan seekor ular raksasa yang dikerubuti anak-anaknya. Unik bukan!? Tapi tunggu dulu, karena ada lagi yang lebih unik! 

Ketinggian rata-rata permukaan tanah di Kota Banjarmasin ±60cm dibawah permukaan air laut. Hal ini menyebabkan sebagian besar wilayah daratan Kota Banjarmasin didominasi oleh dataran rendah berupa lahan basah /rawa-rawa dengan intensitas kedalaman yang berbeda-beda. Bisa membayangkan bagaimana posisi sebuah kawasan/daratan yang permukaannya lebih rendah dari permukaan air laut?

Keunikan lain yang dimiliki Kota Banjarmasin terkait topografinya adalah fenomena arus serta arah aliran sungai yang tergantung oleh pasang surut air laut. Normalnya, aliran air sungai mengalir dari hulu menuju ke hilir atau dari hulu menuju muara, tapi di Banjarmasin bisa sebaliknya bila air laut pasang. Hal ini menyebabkan terjadinya intrusi air laut, sehingga air sungai dan rawa bisa berubah-ubah taste-nya tergantung waktunya. Terkadang pagi tawar, siang atau sore bisa berubah menjadi payau bahkan asin. Unik bukan?
Bus Air atau Taksi Air, salah satu produk budaya sungai khas Kota Banjarmasin

Pasar Terapung, Produk Budaya Sungai 
Khas Banjarmasin

Sungai telah menjadi identitas Kota Banjarmasin dan masyarakat suku Banjar yang mendiaminya. Sungai adalah urat nadi kehidupan masyarakat yang tidak akan pernah tergantikan. Proses interaksi selama berabad-abad diantara keduanya, membentuk peradaban budaya sungai yang telah berurat dan berakar begitu kuat dalam pola aktifitas sosial, ekonomi, seni dan budaya masyarakat Kota Banjarmasin. 
Masjid Sultan Suriansyah, Masjid tertua di Kalimantan  ini dibangun di tepian Sungai Kuin, Banjarmasin

Sebagai bukti, hampir semua sarana dan prasaran publik lokasinya ada di sekitar sungai dan pada awalnya menghadap ke arah sungai, mulai dari sekolah, perkantoran pemerintah, militer, sarana ibadah, bahkan pelabuhan Tri Sakti yang merupakan pintu masuk jalur perairan, juga dibangun di tepi sungai bukan di tepi laut layaknya pelabuhan besar lainnya di Indonesia. 

Fakta yang paling menarik adalah keberadaan 3 pasar tradisional khas Kota Banjarmasin, yaitu “pasar terapung” di daerah Kuin, Siring Kota dan Lok Baintan, lokasinya bukan di daratan layaknya pasar-pasar rakyat pada umumnya, tapi mengapung diatas aliran sungai. Ini dia yang paling unik! 
Ulun Himung Pian Datang
Saya Senang Anda Datang
Mengabadikan Senyuman Terindah 
Pasar Terapung Siring Kota 

Berpetualang menjelajahi keunikan pasar terapung di Banjarmasin merupakan wisata alam dan budaya yang tidak akan bisa ditemui di daerah lain, bahkan di belahan dunia manapun! Setiap moment yang terekam di sepanjang petualangan, dijamin akan memberikan pengalaman berkesan yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup!

Agar petualangan berjalan lancar, jangan lupa membawa MIXAGRIP ya! Karena MIXAGRIP cocok untuk melawan “kombinasi maut” antara panasnya iklim Banjarmasin dengan tingginya  kelembaban udara yang dikhawatirkan akan mengundang  flu dan batuk, jika “bertemu” dengan badan yang tidak fit, karena kelelahan setelah seharian berpetualang bersentuhan dengan air. 

Saat ini, di Kalimantan Selatan terdapat 3 destinasi Pasar Terapung, yaitu Pasar Terapung alami tertua yang berusia ratusan tahun di muara Sungai kuin di tepian Sungai Barito (tempat syuting ID Station RCTI, awal tahun 90-an), Pasar Terapung buatan di Siring Kota Sungai Martapura (keduanya terletak di wilayah Kota Banjarmasin) dan yang terakhir adalah Pasar Terapung Desa Lok Baintan, di Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar yang sekarang sedang naik daun.

Dari ketiga pasar terapung diatas, masing-masing menawarkan karakteristik sensasi dan eksotisme yang berbeda-beda, tapi semuanya dijamin ngangeni! 
Eksotisnya warna-warni Pasar Terapung 

Khusus bagi wisatawan yang ingin menikmati sensasi dan eksotisme pasar terapung, tapi mempunyai keterbatasan waktu! Jangan kuatir! Berbeda dengan pasar terapung alami di muara Sungai Kuin dan di Desa Lok Baintan yang hanya sekitar 2 jam saja (wisatawan harus berangkat pagi buta, karena biasanya pasar akan bubar ketika matahari mulai beranjak terang), maka pasar terapung buatan di kawasan siring kota yang berada di tengah kota Banjarmasin ini bisa menjadi alternatif pilihan.
Suasana menara pandang, kawasan wisata sungai terpadu di jantung Kota Banjarmasin


Pasar terapung ini lokasinya di kawasan wisata sungai terpadu yang dibangun di tepian Sungai Martapura, tepat di jantung kota Banjarmasin. Selain destinasi pasar terapung, di sini juga terdapat beberapa destinasi lain yang tak kalah menarik untuk di eksplorasi, ada wisata susur sungai, rumah adat ANNO 1925, patung Bekantan raksasa dan menara pandang, untuk melihat landscape Kota Banjarmasin dari ketinggian.

Pasar terapung buatan yang digagas oleh Pemko Banjarmasin ini, relatif lebih mudah untuk “dinikmati”, karena lokasinya yang strategis serta jam operasional yang lebih lama dan yang terpenting, meskipun buatan tapi tetap menyuguhkan “suasana” ala pasar terapung alami di muara Sungai Kuin dan Desa Lok Baintan yang legendaris. 
Suasana khas pasar terapung, jukung para pedagang saling berdesak-desakan mencari posisi paling strategis

Para pedagang disini biasa disebut dukuh atau penyambangan sebagian besar adalah ibu-ibu dan nini-nini yang berasal dari desa-desa di hulu perbatasan Kabupaten Banjar. Karena jaraknya yang relatif jauh, biasanya mereka datang dan pulang bersama-sama dengan cara ditarik dengan kelotok, sebutan untuk perahu bermesin tempel yang ukuranya lebih besar.
  
Pulang bersama-sama dengan ditarik kelotok

Sebagian besar, keunikan pasar terapung alami muara Sungai Kuin dan Desa Lok Baintan juga ada di sini. Para pedagang disini biasa di panggil acil, sebagian besar “berseragam” atribut khas layaknya perempuan petani suku Banjar, yaitu memakai baju muslim, tanggui untuk tutup kepala dan memulas pupur dingin tradisonal di seluruh wajah untuk melindungi dari terik matahari. 
Inilah wajah-wajah ceria dengan senyuman khas yang akan selalu menyapa anda di pasar terapung


Penampilan khas acil-acil ini semakin mempesona tatkala senyuman tulus, hangat dan bersahabat khas mereka mulai mengembang disaat menyapa para pengunjung yang datang. Hanya saja, kesan ini mungkin berbeda di mata pengunjung anak-anak yang baru pertama kali melihat penampilan ibu-ibu “bertopeng” layaknya riasan badut ini, ekspresinya bisa macam-macam. Ada yang tertawa terpingkal-pingkal tapi tidak jarang ada juga yang menangis ketakutan. Lucu ya!
Aneka buah-buahan dan sayuran yang dijajakan oleh acil-acil di Pasar Terapung

Acil-acil pedagang disini menjual, buah-buahan, sayuran, bumbu dapur, tanaman, bunga, ayam, itik, telur, sembako, aneka wadai (kue), nasi kuning, soto Banjar, sampai kerajinan tangan khas suku Banjar juga ada di sini. 
Kedai apung "SOTO ALAM ROH" menyediakan kuliner Soto Banjar di pasar terapung 

Sebagian besar acil-acil disini berbicara dengan bahasa Banjar pesisir yang relatif mudah dipahami oleh pengunjung dari luar Banjar, hanya saja logat dan cara bicara yang relatif agak cepat sering kali mempersulit komunikasi, tidak jarang si-pembeli akhirnya hanya melongo mendengarkan pandiran si-acil. 
"Pilih...pilih...pilih handak yang mana ikam......!?"
Pilih...pilih...pilih mau yang mana kamu.......!?

Jukung yang dipakai acil-acil berjualan ukurannya berbeda-beda, sehingga tidak semua jukung bisa benar-benar merapat mendekati pembeli. Hal ini mengharuskan para acil memakai tongkat dayungnya untuk mengambil uang atau menyerahkan barang yang dibeli oleh pengunjung. Begitu pula jika pembeli ingin mengambil gorengan atau kudapan, mereka harus memakai tongkat dengan tusukan diujungnya….. 
Seorang Pembeli menyerahkan sejumlah uang pembayaran kepada pedagang di Pasar Terapung

Selain keunikan-keunikan diatas, ada beberapa tradisi warisan budaya Banjar bahari (lama) yang sampai sekarang masih terlihat di sini, yaitu tradisi bapanduk atau barter barang dengan barang dan akad jual beli diantara penjual dan pembeli seperti yang disyaratkan dalam syariat agama Islam. Saat ini, selain di pasar terapung sepertinya susah untuk menemui tradisi bapanduk alias barter dan akad jual beli dalam transaksi jual beli di masyarakat.
Si-Acil menyerahkan sekantung buah kepada pembelinya dengan memakai tongkat dayungnya

Inilah #CeritaSamaMixagrip tentang eksotika budaya pasar terapung di Banjarmasin. Warisan peradaban budaya sungai suku Banjar yang telah berumur ratusan tahun dan tetap terjaga sampai saat ini. Penasaran!? Yuk jalan-jalan ke Banjarmasin…..!


Artikel terkait :

1. Membangun Ruang Publik, Berbasis (Budaya) Sungai ala Kota Banjarmasin



Sabtu, 25 Juni 2016

Pasca Tewasnya “Dante”, Kota Banjarmasin Mencekam!



 
Senyum damai masyarakat Banjarmasin (Foto : @kaekaha)

Mimpi buruk itu hampir saja terulang kembali di bumi Kalimantan! Pertumpahan darah akibat “perang” antar suku itu hampir saja mengulang trauma masa lalu yang begitu menyesakkan dada.

Kota Banjarmasin, Ibu kota Kalimantan Selatan yang selama dikenal  harmonis, aman dan damai, tiba-tiba di akhir bulan Pebruari kemarin mendadak mencekam! Berita akan adanya perang antara suku Dayak dengan Suku Madura mulai menyebar luas keseluruh masyarakat Kota Banjarmasin, termasuk di lingkungan tempat tinggal saya yang berada di pinggiran Kota. Memang, beritanya masih simpang siur dan mempunyai banyak versi.

Awalnya, saya mendengar berita tersebut dari seorang tukang sayur langganan istri saya yang biasa keliling komplek. Menurutnya, beberapa hari terkahir di pasar beredar khabar “burung” akan ada serangan balasan atas meninggalnya seorang pemuda keturunan Dayak yang meninggal karena diserang oleh “oknum” dari Suku Madura akibat berebut lahan parkir, tapi si tukang sayur juga tidak bisa memastikan validitas dari isu-isu tersebut.

Postingan damai dari Ketua DAD Kalimantan Barat (Grafis : Facebook Yakobus kumis)


Memang, saat itu dari beranda berbagai medsos popular terutama facebook, saya juga banyak mendapati postingan berita-berita yang kurang lebih sama dengan cerita si Paman sayur, tapi karena saya anggap postingan berita hoax, maka saya tidak terlalu menanggapi berbagai berita tersebut.

Tapi, saya mulai berubah pikiran, ketika anak saya yang sekolah di salah satu Madrasah di Kota Banjarmasin, sepulang sekolah bertanya,
“Bah, mau ada perangkah antara Orang Dayak dengan Orang Madura?”
Betapa terkejutnya saya mendengar pertanyaan anak saya. Ketika saya tanya asal berita itu! Anak saya mengatakan kalau wali kelasnya memberi himbauan yang kurang lebih isinya sebagai berikut, “Tolong disampaikan kepada semua orang tua masing-masing, dalam beberapa hari ini, kalau tidak terlalu penting jangan keluar rumah terutama ke tempat-tempat keramaian umum, seperti pasar, menara siring dll, karena kemungkinan akan ada perang antara orang Dayak dengan Orang Madura di Banjarmasin”.

Sampai disini, saya berpikir sepertinya ini bukan main-main! Kalau wali kelas anak saya saya memberi himbauan (entah atas nama pribadi ataupun institusi) seperti diatas. Sayang, sampai saat itu belum ada informasi resmi dari pihak berwajib maupun dari pemerintah tentang situasi dan kondisi keamanan Kota Banjarmasin, karena secara umum aktifitas masyarakat masih terlihat normal-normal saja. Begitu pula media massa lokal yang terbit di Kalimantan Selatan, tidak satupun yang mengulas kasak-kusuk yang menurut saya sudah pada taraf meresahkan tersebut. Hal ini berbanding terbalik dengan postingan berita di facebook yang menggelinding semakin  liar dan bikin ngeri membacanya. Berbagai postingan provokatif bertebaran dimana-mana, sahut-menyahut di kolom komentar berisi hasutan, kebencian, yang bercampur dengan rasa takut dan kengerian, semua campur aduk bikin mual dan sakit kepala. Tapi intinya tetap sama! Tetap simpang siur dan tidak jelas sumbernya.

Berawal dari Alkohol dan Media Sosial
Alhamdulillah, sebelum “perang” benar-benar terjadi, kebenaran itu terungkap!

Semua berawal dari tragedi tewasnya Eki Rianda Persia atau DANTE, seorang keturunan Dayak di tangan dua pemuda mabuk yang kebetulan berasal dari Madura, Faruk dan Ardiansyah. Perselisihan yang berujung maut ini dipicu masalah yang sangat sepele yaitu tatapan mata!

Menurut penjelasan Polisi, pasca pembunuhan (Minggu, 21/2), Rabu (24/2) polisi dan semua unsur Muspida Kota Banjarmasin sampai Gubernur mempertemukan seluruh tokoh adat yang ada di Banjarmasin, termasuk DAD (Dewan Adat Dayak) dan (KAWAMA) Kerukunan Warga Madura. Semua sepakat, masing-masing pihak berkeinginan menjaga keharmonisan dan ketenteraman Kota Banjarmasin, dengan aktif meredam isu yang beredar dan sama-sama menenangkan massanya. Kedua belah pihak sepakat menyerahkan kasus kriminal murni ini untuk diproses polisi. Selanjutnya, Jumat (26/2) seluruh tokoh adat dikumpulkan lagi menegaskan kemufakatan dan malamnya menggelar acara damai adat.

Postingan Menyejukkan Walikota banjarmasin via facebook (grafis : facebook Ibnu Sina)


Pernyataan polisi ini diperkuat oleh postingan dari Walikota Banjarmasin, Ibnu Sina di akun facebook pribadinya. Selanjutnya, selain memburu tersangka Faruk yang buron, polisi juga bertekad memburu semua pihak yang sengaja menyebarkan isu provokatif melalui media sosial dengan memanfaatkan kasus pidana tersebut.

Tragedi Dante dan Ragam Media Sosial dalam Keragaman Nusantara Kita

Bagi bangsa Indonesia, keberagaman budaya adalah kenyataan hidup, (cultural diversity is a fact of life), sedangkan kehadiran ragam media sosial dibawah bayang-bayang teknologi internet yang borderless dan interconnected merupakan sebuah keniscayaan bagi masyarakat Indonesia sebagai bagian tak terpisahkan dari peradaban masyarakat dunia.

Kekhawatiran terhadap efek negatif dari perkembangan ragam media sosial yang menyerbu masyarakat dunia, termasuk Indonesia, berupa benturan budaya yang bisa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa merupakan konsekuensi yang tidak bisa dihindari.  Hal ini mengacu pada sifat internet sebagai aplikasi teknologi informasi yang cepat dan terbuka yang menyebabkan batas-batas privasi semakin samar dan pada gilirannya menghadirkan fenomena transparansi sebagai bagian dari demokratisasi informasi. Apalagi jika dikaitkan dengan fakta “The world in your pocket” yang sudah didepan mata, yang tentunya akan semakin memperbesar dan memperluas intensitas interaksi tanpa batas. 

 
Ragam Media Sosial (Grafis : www.newsth.com)

Menurut pakar Manajemen Komunikasi Lintas-budaya, Prof. Dr. H. ANDRIK PURWASITO, DEA bentuk transparansi informasi yang cepat dan terbuka inilah yang menyebabkan terjadinya kemungkinan benturan (kepentingan) budaya yang akan menghasilkan 2 (dua) konsekuensi yaitu “benturan” kepentingan yang membawa berkah (advantage) dan “benturan” kepentingan yang mengakibatkan bencana (disadvantaged) dan situasi ini bisa menjadi semakin runyam, ketika kehadiran negara sebagai regulator masih kesulitan melakukan tindakan pengawasan (sensorship) terhadap containt internet berikut produk turunannya berupa medsos.

Provokasi massa yang meresahkan melalui medsos di Kota Banjarmasin seperti ilustrasi diatas, merupakan salah satu fenomena dari “benturan” kepentingan yang mengakibatkan bencana (disadvantaged) seperti penjelasan Prof. Dr. H. ANDRIK PURWASITO, DEA. Dimana ketiadaan pengawasan (sensorship) oleh regulator dan ditambah “kepentingan” tidak bertanggung jawab dalam memanfaatkan aplikasi media sosial terbukti bisa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. 

Himbuauan dalam Facebook (Grafis : facebook Ibnu Sina)


Disinilah dibutuhkan kehadiran dan keterlibatan semua pihak, terutama negara sebagai regulator, para cendekiawan, pemuka/pemimpin sosial kemasyarakatan, kaum terdidik dan terpelajar, para praktisi dan tentunya semua elemen teknis dan praktis yang terlibat di dalamnya sebagai motor technology adapter untuk bisa merumuskan sebuah blueprint yang cerdas dan aplikatif, sebagai strategi  edukatif pemanfaatan aplikasi teknologi informasi (internet) yang sehat, bermanfaat, tepatguna dan berdayaguna bagi pembangunan peradaban bangsa sesuai dengan karakter ke-bhineka-an kita.  Sehingga masyarakat sebagai technology user atau technology taker bisa lebih dewasa, arif, bijaksana dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan aplikasi teknologi informasi berikut produk turunannya seperti medsos yang terlanjur menjadi rujukan informasi masyarakat baik secara pribadi maupun komunal.

Pelajaran berharga dari Banjarmasin ini, mudah-mudahan kembali menyadarkan sekaligus membangunkan sel-sel dorman dalam alam bawah sadar kita agar kembali aktif bergerak untuk merespon berbagai gejala sosial yang berpotensi mengaburkan ke-bhineka-an kita. Semoga bermanfaat!



Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog yang diselenggarakan oleh ICRS dan Sebangsa






 





Selasa, 19 April 2016

[Pasarkita] Romantika Seputar Vermaak Wajah "Pasar Kindai Limpuar" Gambut



Wajah baru Pasar Kindai Limpuar, Gambut, Kabupaten Banjar

Kindai Limpuar Idiom Bahasa Banjar yang Unik dan Sarat Makna 

Kindai Limpuar! Frasa idiomatik dalam Bahasa Banjar yang satu ini menempati ruang spesial dalam benak saya. Aksentuasinya menurut saya unik dan menarik, mudah dibaca, dilafalkan dan nyaman didengarkan.! Melafalkan kata kindai berasa seperti melafalkan english style, sedangkan kata limpuar berasa banget ethnical taste-nya. Selain itu, kombinasi kata pembentuk frasa-nya terasa pas dan paling menarik perhatian saya, jika dibanding frasa-frasa idiomatik dalam Bahasa Banjar lainnya yang jumlahnya sangat banyak, layaknya kecerdasan budaya bahasa sub-suku bangsa Melayu lainnya.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah rantau, tanah seberang, Kalimantan Selatan yang juga tanah moyang keluarga besar saya. Frasa idiomatik Kindai Limpuar pertama kali saya dapatkan di papan nama sebuah pasar tradisonal di daerah Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. Pertama kali membaca sekaligus mengamati papan nama sederhana yang terletak dibagian atas bangunan pasar dengan latar belakang atap sirap khas suku Banjar yang menurut saya begitu artistik dan kental rasa tradisinya itu, saya seperti dibawa menjelajahi muara dari kearifan lokal sebuah entitas budaya masyarakat Banjar. 

Wajah lama Pasar Kindai Limpuar (2015) (Foto : banjarmasin.tribun,news)
Perpaduan dua elemen budaya Banjar, berupa desain artistik arsitektur khas Banjar yang diwakili oleh atap sirap plus beberapa ornamen kayu yang membentuk rumah adat Banjar bubungan tinggi dengan susunan frasa idiomatik Bahasa Banjar sebagai identias budaya Banjar lainnya di dalam satu bingkai yang diletakkan di salah satu ruang publik dengan intensitas interaksi masyarakat paling tinggi merupakan salah satu wujud dari sense of belonging atau rasa memiliki yang tinggi masyarakat terhadap sebuah entitas budayanya. Sekaligus sebagai bentuk strategis pemangku kebijakan dalam  upaya  melestarikan entitas budaya masyarakat Banjar. 

Idiom tematik yang didasarkan dari kearifan lokal masyarakat Banjar, khususnya daerah Gambut Kabupaten Banjar ini tersusun dari dua kosakata pembentuk, yaitu Kindai yang berarti lumbung (padi) dan Limpuar yang berarti penuh sampai meluber. Jadi makna leksikal dari idiom ini adalah lumbung padi yang penuh sampai meluber, sedang makna gramatikal-nya secara umum dipahami  sebagai lambang kemakmuran, yang dilambangkan dengan wadah yang isinya melimpah ruah. Hal ini terkait dengan posisi Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar yang dikenal sebagai lumbung padi-nya Kalimantan Selatan, khususnya untuk varian padi jenis Siam dan Unus, jenis padi penghasil beras Banjar nomor wahid sekaligus paling mahal. Di sinilah ternyata titik temu dari logika kausalitas penamaan pasar Kindai Limpuar, titik simpul perekonomian masyarakat Gambut.

Macam-macam beras Banjar dengan keterangan harga dalam satuan liter (Foto : Koleksi Pribadi)
Saya baru menyadari, seperti mempunyai ikatan emosional dengan perpaduan dua kata ini. Mungkin karena taste unik dari kosakatanya atau juga frasa kata yang menurut saya pas (seperti uaraian saya diatas) atau juga karena idiom ini adalah rangkaian kata dalam Bahasa Banjar pertama yang mendarat dalam kontak visual saya yang akhirnya mendarat mulus dalam alam bawah sadar saya. Seperti emosi "cinta pertama" yang katanya tidak akan terlupakan seumur hidup. Mungkin emosi layaknya cinta pertama inilah yang tanpa saya sadari telah menghadirkan ikatan emosional antara saya dengan idiom "Kindai Limpuar". 

Papan nama Pasar Kindai Limpuar Baru (Foto ; Koleksi Pribadi)
Pasar Kindai Limpuar, Ruang publik pusat perekonomian Masyarakat Gambut

Pasar Kindai Limpuar adalah sebuar pasar rakyat atau pasar tradisonal yang lokasinya sangat strategis. Berada tepat di pinggir jalan poros trans Kalimantan, tepatnya di Jalan Ahmad Yani Km. 14 Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar. Lokasi ini merupakan lokasi premium di Kalimantan Selatan, sebagai jalur utama transportasi dari Kota Banjarmasin ke Bandar Udara Syamsuddin Noor di Banjarbaru dan Kota Banjarmasin ke komplek Kantor Gubernur di Banjarbaru plus jalur darat satu-satunya yang reperesentatif untuk jalur koneksi antar propinsi di Kalimantan (Kaltara-Kaltim menuju Kalteng-Kalbar atau sebaliknya)  tidak heran jika kawasan ini disebut-sebut sebagai etalase-nya Kalimantan Selatan. Bagi anda yang sempat atau pernah berkunjung ke Banjarmasin via Bandara Syamsuddin Noor tentu akan melewati pasar ini. Jika perjalanan dari Bandara menuju Banjarmasin, maka posisi pasar Kindai Limpuar terletak di sebelah kiri jalan dengan rentang jarak dari Bandara Syamsuddin Noor sekitar 8 km.

Pedagang "iwak karing" alias ikan kering  ( Foto : Koleksi Pribadi)
Pasar Kindai Limpuar, pada sisi bagian depan terdiri dari dua lantai bangunan semen permanen berbentuk kios, sebagian besar diisi oleh pedagang "keringan" seperti baju, elektronik, grossir makanan ringan, stasionary dan toko kelontong. Selebihnya di bagian belakang berupa kios dan lapak yang didominasi oleh pedagang hasil pertanian dan perikanan air tawar khas Kalimantan Selatan. Situasi di dalam pasar yang konon sudah puluhan tahun berdiri itu tidak jauh berbeda dengan pasar-pasar tradisonal lainnya. Selalu penuh di pagi hari dan mulai sepi menjelang siang. Rata-rata pedagang di sini hanya buka pada pagi sampai tengah hari saja, hanya beberapa saja yang berjualan sampai sore hari. 

Kios pebjahit pakaian (Foto : Koleksi Pribadi)

Pedagang Sayuran di Los Pasar Kindai Limpuar (Foto : Koleksi Pribadi)

Dari pantauan saya beberapa hari yang lalu, saat bernostalgia di pasar rakyat pertama di Kalimantan Selatan yang pernah saya masuki sekitar 15 tahun yang lalu itu, tampak tidak ada perubahan yang signifikan di dalamnya. Mungkin hanya jumlah pedagang yang terlihat semakin banyak dan luas pasar yang semakin melebar ke arah belakang yang terlihat berubah. Selebihnya masih seperti yang dulu, layaknya pasar tradisional lainnya terlihat semrawut, kumuh dan di beberapa bagian terlihat becek  plus tercium bau yang tidak sedap. Inilah romantika sebagian besar pasar tradisonal kita yang sering memunculkan dilema tapi disisi lain tetap saja memunculkan sisi romantisme yang sulit untuk diterjemahkan dengan kata-kata. Atau mungkin, kata "ngangeni" bisa dipilih untuk mewakili?

Pedagang ikan air tawar (Foto : Koleksi Pribadi)
Menurut Informasi dari beberapa pedagang, sebenarnya sejak 4-5 tahun yang lalu pasar Kindai Limpuar direlokasi berikut para pedagangnya ke lokasi baru di bekas lahan UPT Penyuluhan Pertanian Kabupaten Banjar yang terletak di seberang jalan arah Banjarbaru yang jaraknya sekitar 300 meter dari lokasi sekarang. Tapi para pedagang menolak untuk direlokasi dengan alasan tempatnya kurang strategis meskipun sama-sama di pinggir jalan raya Ahmad Yani. Selain itu, karena daya tampung di lokasi baru masih belum siap untuk menampung semua pedagang yang sudah terdaftar dan satu lagi alasan relokasi pasar menurut mereka masih belum jelas. Ada yang mengatakan untuk revitalisasi jalur hujau, ada juga yang mengatakan untuk terminal regional bahkan ada juga selentingan yang mengatakan bahwa lahan pasar Kindai Limpuar diminati oleh investor besar untuk dijadikan pasar modern lengkap dengan fasilitas masyarakat urban lainnya. Entah mana yang benar?
Dari berita yang dirilis beberapa media masa lokal, dikabarkan tahun 2016 ini semua pedagang akan direlokasi ke lokasi yang baru, seiring telah rampungnya semua fasilitas pasar Kindai Limpuar baru untuk menampung semua pedagang Kindai Limpuar lama. 

Bongkar muat di depan pasar (Foto : Koleksi Pribadi)

Restorasi Total Wajah Pasar Kindai Limpuar

Berita tentang relokasi pasar Kindai Limpuar memang sudah lama terdengar, jadi bukan berita baru yang mengagetkan bagi masyarakat Gambut dan sekitarnya, termasuk saya. Tapi, saya justeru dibuat kaget oleh vermaak total  wajah depan dari pasar Kindai Limpuar yang entah sejak kapan terjadinya!?

Tampilan wajah baru pasar kebanggan masyarakat Gambut itu sekarang lebih ngejreng  dari biasanya. Warna kuning dan merah berikut nama dari salah satu operator seluler besar tanah air tampak mendominasi wajah baru Pasar Kindai Limpuar.  Dari penampakan ini, semua bisa menebak kalau wajah Pasar Kindai Limpuar sudah masuk dalam wilayah komersialisasi ruang publik. 

Wajah baru Pasar Kindai Limpuar. (Foto : Koleksi Pribadi)
Secara pribadi, menurut saya branding product wajah pasar Kindai Limpuar oleh operator seluler nasional bukanlah sebuah masalah, selama tidak mengganggu ketertiban umum, aturan/hukum adat dan hukum positif yang berlaku. Bahkan menurut saya, ini sebuah terobosan cerdas dari pemangku kebijakan untuk menambah PAD dengan memaksimalkan manfaat aset-aset “tidur” milik pemerintah. Tentu tetap harus melalui prosedur yang benar dan tanpa KKN!  

Apalagi, tampilan fresh dan ngejreng warna-warni pasar Kindai Limpuar yang didominasi warna kuning dan merah, selaras dengan makna simbol warna yang selama ini menjadi trademark  budaya Banjar dan Melayu umumnya yang mengartikan warna kuning sebagai simbol kemakmuran dan warna merah sebagai simbol keberanian. Hanya saja, sepertinya ada yang terlewatkan dan terabaikan dari proses vermaak wajah Pasar Kindai Limpuar yang menurut saya merupakan “kesalahan” fatal! yaitu, dihilangkannya “penampakan” ornament-ornament khas budaya Banjar tanpa berusaha mengganti dengan tampilan yang baru, termasuk tulisan nama Pasar Kindai Limpuar yang biasa menempel di wajah pasar.

"Ngejreeeeng!". Wajah baru Pasar Kindai Limpuar. (Foto : Koleksi Pribadi)


Memang harus diakui, tema ornament tradisional terakhir  yang masih tersisa dari wajah Pasar Kindai Limpuar yang berupa atap sirap, memberi kesan kuno dan jadul.  Mungkin dianggap tidak akan mix n’ match  dengan tema modernitas dan teknologi high end yang diusung oleh operator seluler yang menyewa  wajah Pasar Kindai Limpuar untuk di branding. Tapi budaya Banjar yang elok kan tidak hanya melulu atap sirap saja! Kalau mau lebih arif dan repot sedikit, sebenarnya ornament kain sasirangan  khas Banjar bisa ditampilkan pada cat warna-warni merah dan kuning polos yang mendominasi wajah pasar. Apalagi, warna merah dan kuning juga cukup dominant pada kain sasirangan. Sehingga sangat cocok.  Seandainya ini benar-benar mendapatkan apresiasi dan menjadi kenyataan, ada beberapa manfaat yang didapat dari vermaak  wajah pasar Kindai Limpuar. 

Pertama. Tetap sebagai media promosi dari operator seluler, karena warna-warna identik perusahaan mereka tidak berubah, tetap merah dan kuning.
Kedua.  Dengan menambahkan ornament kain sasirangan pada blok ruang warna tersebut maka perusahaan seluler tersebut juga ikut serta dalam pelestarian asset seni dan budaya masyarakat Banjar dan cara ber-empati pada seni dan budaya masyarakat setempat seperti ini, sebenarnya termasuk strategi marketing yang cantik dan smart untuk merebut hati masyarakat Banjar. Bukankah itu tujuan perusahaan seluler melakukan branding  wajah Pasar Kindai Limpuar?
Ketiga. Seandainya ide kreatif ini terwujud, tidak menutup kemungkinan, kedepan Pasar Kindai Limpuar tidak hanya menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli saja, tapi juga menjadi destinasi wisata baru yang menarik. Lukisan mural raksasa ornament kain sasirangan di wajah Pasar Kindai Limpuar berwarna dominant merah dan kuning bisa dijual sebagai destinasi wisata.  

Corak ornamen Kain Sasirangan (Gambar : BatikSasirangan.com)
Mudah-mudahan ide sederhana ini bisa memberi sedikit wacana untuk upaya melestarikan sebagian asset seni dan budaya Banjar, khususnya di ruang public terbuka. Dan ….ikatan emosional masyarakat Banjar dengan Pasar Kindai Limpuar tidak akan sirna seiring keniscayaan sebuah perubahan yang akan terus terjadi di muka bumi.

Semoga bermanfaat!

Kertakhanyar, Banjar  17 April 2016


Minggu, 17 April 2016

[Masjidklopedi] Cerita Masjid Tua Tanpa Nama di Sungai Jingah




Sejak Kesultanan Banjar berdiri di abad XVI yang ditandai dengan masuk Islamnya Pangeran Samudra yang akhirnya mengakui dan menetapkan Islam sebagai agama resmi kerajaan, pengaruh Islam terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat Banjar semakin kuat tanpa harus berbenturan dengan tradisi dan budaya asal masyarakat yang banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu dan Buddha. Bahkan dalam perjalanannya, Islam telah menjadi simbol dan identitas masyarakat Banjar sampai saat ini.

Tampak samping Masjid Jami Sungai Jingah

Salah satu bukti kuatnya implementasi ajaran Agama Islam, sekaligus toleransi yang berujung pada munculnya akulturasi pada ruang sosial budaya masyarakat Banjar adalah masih lestarinya keberadaan sekaligus fungsi masjid-masjid tua di Banjarmasin dan daerah-daerah lain di Kalimantan Selatan yang tetap mempertahankan desain arsitektur campuran/akulturasi, salah satu di antaranya adalah Masjid Jami Banjarmasin yang dikenal dengan Masjid Jami Sungai Jingah yang terletak di Jl. Mesjid Jami, Surgi Mufti, Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Tarikh tahun pendirian Masjid di Kayu Penyangga Bedug (Foto : Koleksi Pribadi)

Berbeda dengan masjid-masjid atau tempat ibadah Islam di Indonesia secara umum yang biasanya mempunyai nama definitif dengan mengadopsi dari kosakata bahasa arab, seperti Al Hidayah, Al AKbar, Al Mabrur dll., sampai sekarang Masjid Jami Sungai Jingah tidak mempunyai catatan tentang penamaan ini. Masyarakat Kota Banjarmasin dan catatan resmi pemerintah daerah tetap mencatat nama masjid tua yang dibangun secara gotong-royong oleh masyarakat ini dengan nama Masjid Jami Banjarmasin, tapi karena terletak di daerah Sungai Jingah, masyarakat lebih mengenali dengan sebutan Masjid Jami Sungai Jingah. 

 
Kotak infaq kuno berbahan besi cor yang tertanam di lantai pendopo pintu utama
 (Foto : Koleksi Pribadi)

Berdasarkan catatan sejarah yang ada, salah satunya tertulis dalam sebuah prasasti berbentuk plakat kuningan yang terletak di samping mimbar “Tarikh didirikan Masjid asal adalah hari Sabtu, 17 Syawal tahun 1195 (tarikh tahun juga terdapat pada kayu penyangga bedug di pendopo pintu masuk depan utama) H Sultan Tamdjidillah dan dicabut 11 Rajab tahun 1353 umurnya 157 Tahun 8 bulan 245 hari. Tarikh didirikan masjid baru hari Ahad 16 Zulhijjah 1352. Mufti H. Ahmad Kusasi”, diperkirakan Masjid Jami yang lama didirikan pada tahun 1195 H (1777 M). Lokasi awal masjid ini adalah tepi Sungai Martapura, namun pada tahun 1352 H (1934 M) masjid dipindahkan secara gotong-royong ke lokasi yang sekarang di daerah surgi mufti.

Soko guru Masjid yang berusia ratusan tahun 
(Foto : Koleksi Pribadi)

Meskipun telah berusia ratusan tahun, secara fisik masjid yang mempunyai desain arsitektur perpaduan/akulturasi beberapa budaya antara lain Banjar, Jawa, dan beberapa sentuhan kolonial ini, sampai saat ini tetap kokoh berdiri dengan ornamen-ornamen ukiran kuno khas Kesultanan Banjar dan beberapa tambahan hiasan ornamen akulturasi beberapa budaya yang masuk dalam skema budaya Banjar secara natural saat dilakukan pemugaran.

Kaki tiang soko guru utama yang penuh dengan ukiran indah 
(Foto : Koleksi Pribadi)

Sebagian besar bahan material kayu masjid ini adalah terbuat dari batang kayu ulin atau kayu besi (Eusideroxylon zwageri), kayu khas hutan Kalimantan yang terkenal sangat kuat. Di antaranya adalah semua kerangka bangunan, tiang besar penyangga utama (tiang soko guru) yang berjumlah 17 buah, kusen semua pintu, gebyog utama atau rangkaian dinding dari kayu pada samping kiri dan kanan mihrab, pendopo dan atap sirap. Khusus untuk tiang soko guru, dari total 17 buah tiang yang melambangkan rakaat dalam sholat ini ada 1 tiang yang paling unik, tingginya mencapai 35 meter utuh tanpa sambungan, jika dihitung dari pangkal tiang di atas permukaan lantai sampai ujung tiang yang menempel pada bagian dalam kubah masjid. Posisi tiang yang juga terbuat dari kayu ulin utuh ini menancap tepat di tengah-tengah ruangan masjid dari lantai sampai atas.

Atap sirap Masjid Jami Sungai Jingah (Foto ; Koleksi Pribadi)

Khusus untuk desain konstruksi atap yang tutupannya terbuat dari material sirap (atap dari kayu ulin), masjid yang mampu menampung hingga 5.000 jamaah ini mempunyai keunikan tersendiri, yaitu konstruksi atap berundak dengan total 4 (empat) undakan seperti layaknya atap masjid-masjid tua di Pulau Jawa tempo dulu.



Teras pendopo depan dengan pintu-pintu berdaun besar berukir indah 
(Foto : Koleksi Pribadi)

Keunikan lainnya, masjid ini juga mempunyai pendopo, layaknya rumah-rumah priyayi atau bangsawan Jawa yang tersebar di 3 (tiga) jalur pintu masuk utama yang bisa mengakses 38 pintu masuk masjid dari sebelah kiri, kanan, dan depan masjid. Luas masjid bagian dalam adalah 40 x 40 m atau 1600 m2, sedangkan total luas area masjid jika dihitung dengan mihrab dan plaza atau halaman di seputar masjid totalnya mencapai ± 2 Hektar.

Tampak pendopo pintu depan utama yang berangka tahun 1352 H 
(Foto : Koleksi Pribadi)

Menurut KH. Husin Naparin, selaku ketua pengelola Masjid Jami Sungai Jingah, sebagai salah satu masjid tertua di Banjarmasin bahkan Kalimantan Selatan, Masjid Jami Sungai Jingah merupakan salah satu landmark kebanggaan masyarakat Kota Banjarmasin dan Kalimantan Selatan. Sebagai salah satu penanda peradaban Islam di Banjarmasin, Masjid Jami Sungai Jingah tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah semata, tapi telah menjadi pusat sekaligus sumber inspirasi ghirah keislaman masyarakat Kota Banjarmasin dan Kalimantan Selatan.
Bersama-sama dengan Masjid Sabilal Muhtadin dan beberapa masjid besar lain di Kota Banjarmasin, Masjid Jami Sungai Jingah merupakan pusat dakwah Islam yang punya peran besar dalam memperkuat ukhuwah Islamiyah di antara umat Islam, tidak hanya di Kota Banjarmasin, tapi juga seluruh Pulau Kalimantan.

Artikel ini menjadi headline Kompasiana pada tanggal 17 Maret 2016. Untuk membaca dan menjelajahi artikel lainnya, silahkan klik disini   
Artikel terkait :