Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Maret 2015

Bank Waktu

Anda pernah berhubungan dengan dunia perbankan? Atau mungkin anda sendiri adalah nasabah dari salah satu bank yang ada?
Istilah bank dan dunia perbankan secara umum tentu bukan barang baru bagi sebagian besar masyarakat kita, selain karena realitas pertumbuhan dan perkembangan kuantitas bank-bank di daerah semakin banyak, secara spesifik ekspansi marketing dunia perbankan (khususnya untuk funding atau pembiayaan) sekarang ini telah merambah usaha mikro di daerah pedesaan yang relatif terpencil sehingga pada gilirannya secara bertahap akan mempertemukan masyarakat dengan berbagai seluk beluk dunia perbankan umum.
Berbicara tentang bank, kira-kira apa yang akan anda lakukan seandainya mendapatkan fasilitas dari bank berupa pinjaman modal Rp. 86.400,-/hari, dengan ketentuan anda ”hanya” diwajibkan untuk memanfaatkan uang tersebut sebaik mungkin (hanya) sepanjang hari itu saja tidak boleh kurang apalagi lebih karena pada malam harinya bank secara otomatis akan menarik dan menghapus semua uang tersisa yang tidak digunakan, sekaligus menerbitkan rekening baru untuk hari esoknya!? Sekali lagi, apa yang akan anda lakukan dengan fasilitas pinjaman modal Rp. 86.400,- /hari itu? Sebagai individu dengan kategori ”normal”, tentu banyak hal yang bisa kita lakukan dengan adanya fasilitas itu, karena seperti menjalani ”kutukan abadi”, hampir semua manusia dalam peradaban modern ini dari sebelum lahir sampai sekian tahun setelah meninggal-pun masih perlu uang! Sebagai simbol sebuah peradaban modern ( kecenderungan dunia kearah kapitalis) uang berhasil menempatkan dirinya di posisi tertinggi dalam hierarki kebutuhan manusia. Disini uang adalah tujuan utama, kalaupun berposisi sebagai sarana itupun sarana untuk mengeruk dan menumpuk uang lebih banyak lagi!. Begitu dan seterusnya seperti lingkaran setan tidak ada ujung pangkalnya.
Kembali ke masalah fasilitas pinjaman, sebenarnya kita tidak perlu menghayal apalagi berandai-andai dengan fasilitas pinjaman modal Rp. 86.400,-/hari, karena sejatinya sejak lahir di dunia fana ini, kita semua benar-benar telah mendapatkan fasilitas pinjaman itu setiap hari tanpa jeda apalagi berhenti, dari bank bernama ”Waktu”.  Bank Waktu secara otomatis setiap harinya selalu membuka rekening baru untuk kita dan secara otomatis pula men-debet saldo baru ke rekening kita sebesar 86.400 detik atau 1440 menit atau 24 jam per-hari. Bank Waktu tidak akan mengembalikan waktu yang tersisa dan juga tidak akan memberikan tambahan  kepada kita bila kekurangan, apalagi minta uang muka alias persekot untuk hari esok, tidak akan pernah dikabulkan!. Intinya, kita harus hidup dengan pinjaman hari ini saja.
Uang dan waktu, keduanya adalah modal riil sebuah kehidupan dalam peradaban manusia (modern). Hanya saja bila dibandingkan dengan uang, ”waktu” mempunyai skala posisi lebih tinggi. Logikanya, dengan naluri dan akalnya tanpa uangpun manusia masih bisa bertahan hidup, tapi tanpa waktu berarti manusia itu mati alias tidak hidup lagi. Waktu sebagai modal terbesar dalam hidup kita mempunyai sifat dan karakter yang sangat unik, tidak mungkin dapat diganti, disimpan tanpa digunakan, dibeli atau dicuri seperti layaknya uang. Walaupun dalam keseharian kita sering mendengar istilah mencuri waktu, menyingkat waktu atau bahkan mengganti waktu sekalipun, semua itu tak lebih dari sekedar ilusi dan proses dramatisasi verbal sebagai wujud ketidak pahaman manusia atas hakekat pergerakan waktu sebagai bagian dari Sunatullah. Alat penunjuk waktu kita apapun merek dan jenisnya, berapapun harganya dan dari manapun asalnya bisa mati dan berhenti berputar, tapi hakekat waktu akan terus berjalan, terus berputar karena tidak ada satupun yang sanggup menghentikannya, selain yang punya Bank Waktu itu sendiri. Allah SWT.  
Dalam Islam yang rahmatan lil alamin, aplikasi manajemen waktu yang efektif dan efisien didasari dengan mengetahui dan mempetakan, mana yang wajib, mana yang sunah dan mana yang mubah, yang secara linier berbanding lurus dengan indikasi derajat keimanan dan ketaqwaan seorang hamba kepada Tuhan-Nya. Allah SWT. Sekaligus sebuah tanda kesuksesan dan keunggulan seorang insan kamil, sebagaimana tersirat dalam firman Allah SWT, ”Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur” (QS. Al Furqan : 62) dan ” Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Yunus : 6)
Tuntunan lebih detail  mengenai waktu terdapat dalam Surah Al-Ashr ayat1-3, “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran”, yang berkaitan erat dengan pesan Hadist ”lima perkara sebelum lima perkara”, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit dan hidup sebelum mati.
Dari dunia barat, kita mengenal idiom aksiomatik yang cukup brilian time is money yang telah menjadi sumber inspirasi etos kerja terpenting bagi hampir semua bangsa-bangsa eropa. Walaupun sekilas kental rasa kapitalisnya, tapi dibalik makna sesungguhnya sebenarnya menyimpan filosofi bijak bagaimana memperlakukan waktu secara benar, efektif dan efisien yang jelas-jelas berakar dan bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadist

Untuk lebih memahami dan merasakan arti penting waktu secara mendasar, riil dan konkrit, coba renungkan dan kalau perlu benar-benar tanyakan!
Untuk memahami arti pentingnya waktu setahun, coba tanyakan pada siswa yang  tidak naik  kelas.
Untuk memahami arti pentingnya waktu sebulan, coba tanyakan pada seorang ibu yang baru saja melahirkan prematur.
Untuk memahami arti pentingnya waktu seminggu, coba tanyakan pada editor tabloid mingguan.
Untuk memahami arti pentingnya waktu sehari, coba tanyakan pada sopir ekspedisi paket dan logistik.
Untuk memahami arti pentingnya waktu satu jam, coba tanyakan pada kekasih hati anda yang sedang menunggu di taman.
Untuk memahami arti pentingnya waktu satu menit, coba tanyakan pada seseorang yang baru saja ketinggalan pesawat terbang.
Untuk memahami arti pentingnya waktu sedetik, coba tanyakan pada seseorang yang baru saja terhindar dari kecelakaan.
Untuk memahami arti pentingnya waktu semili detik, coba tanyakan pada peraih medali perak olimpiade.
Untuk itu, mari hargai waktu yang kita miliki, dengan mengelola waktu sebaik mungkin dengan harapan mendapatkan optimalisasi hidup dan kehidupan yang sesungguhnya. Bukankah motto ideal seorang abdullah adalah ”Hayatuna kulluha Ibadah” atau Hidup seluruhnya untuk ibadah!? Wallahu ’alam.

Minggu, 14 Desember 2014

Umat Muslim atau Umat Islam?

Jujur! Saya sering bingung dengan istilah “umat muslim” yang sering di gunakan oleh media baik cetak maupun elektronik akhir-akhir ini. Siapa sebenarnya yang dimaksud dengan umat muslim itu? Kalau membaca atau mendengar rangkaian kalimatnya secara utuh, sepertinya yang dimaksud umat muslim itu adalah pemeluk atau penganut agama Islam. Lhaaaaah! Kalau yang dimaksud memang penganut atau pemeluk agama Islam, lantas umat Islam itu siapa? Apakah umat muslim itu sama atau padan kata dengan umat Islam? Maaf, saya orang awam yang sebenarnya tidak begitu paham dengan pemaknaan sebuah kata atau istilah atau yang sejenisnya layaknya para ahli bahasa, tapi ketika saya mencoba untuk berdamai dengan istilah umat muslim, perasaan saya justeru semakin gelisah dan puncaknya ketika beberapa hari yang lalu, beberapa kali dalam sehari saya mendengar istilah umat muslim disebut-sebut oleh pembawa berita di salah satu stasiun TV swasta nasional. Saya merasakan ada sedikit ganjalan dalam hati saya stiap membaca atau mendengar istilah umat muslim disebut. Demi untuk menjawab kegelisahan saya yang semakin memuncak! Mau tidak mau saya harus mengikuti naluri “keawaman” saya untuk mencari jawabannya sesegera mungkin.
Mungkin, sebenarnya “masalah” ini terlalu sepele bila dibandingkan dengan kewajiban kodrati saya sebagai makhluk untuk terus mengangkat derajat ke-Islaman saya sendiri di Mata Allah SWT, tapi saya kira tidak ada salahnya untuk mencoba menggali hikmah dari kebingungan saya terhadap penerapan istilah umat Islam dan umat muslim tersebut. Siapa tahu dari sini akan muncul spirit dan gairah baru yang bisa memompa semangat untuk terus “mengkaji” lebih dalam berbagai aspek dalam Islam guna mendapatkan kebenaran hakiki menuju ke-Islaman yang kaffah. Insha Allah!
Berikut ini beberapa contoh pemakaian istilah umat muslim dan umat Islam dalam berita dan artikel online!

1.  Sebut Umat Muslim Teroris, Media Massa Dinilai Pemicu Islamofobia


4. April Mop: Hari Dimana Umat Islam Dibantai


Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), arti kata umat adalah (1) para penganut (pemeluk, pengikut) suatu agama ; pengikut nabi , (2) makhluk manusia. Dalam konteks bahasan ini, tentu pengertian kata umat merujuk pada pengertian angka (1) para penganut (pemeluk, pengikut) suatu agama ; pengikut nabi. Sedangkan menurut wikipedia, kata umat diartikan sebagai “masyarakat” atau “bangsa” (merujuk pada bahasa arab, sebagai bahasa asal/induk). Dari dua sumber rujukan diatas jelas terlihat adanya benang merah diantara keduanya, dimana keduanya sama-sama menterjemahkan kata umat yang mengarah pada sebuah komunitas (penganut/pemeluk agama, penganut nabi, masyarakat/bangsa).
Sekarang kita telusuri makna kata “muslim” dan “Islam”, menurut Kamus besar Bahasa Indonesia, kata muslim berarti penganut agama Islam
Sedangkan kata Islam artinya “agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, berpedoman pada kitab suci Al Quran yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah SWT.
Menurut wikipedia, kata muslim secara harfiah berarti seseorang yang berserah diri kepada Allah SWT ; Kata muslim kini merujuk kepada penganut agaman Islam saja
Sedangkan kata Islam, artinya adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah SWT ; penyerahan dini sepenuhnya kepada Tuhan.

Arti dan makna kata muslim dan Islam dari dua sumber diatas, masing-masing mempunyai arti dan makna yang identik. Artinya dua sumber terpercaya diatas memberi pemaknaan yang kurang lebih sama untuk kata muslim dan Islam.
Mengacu dari arti kata umat dan muslim diatas, menurut saya keduanya mempunyai kesetaraan posisi dalam hal makna yaitu sama-sama menunjuk ke arah komunitas/golongan pemeluk agama (Islam). Untuk lebih memperjelas, saya coba untuk mengurai makna istilah dari umat muslim dan umat Islam, dengan dasar acuan dua sumber diatas.
Terjemahan bebas (menurut saya) dari kata umat adalah komunitas/golongan/kelompok/sekumpulan pemeluk agama. Sedangkan Islam adalah jenis agama (yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, berpedoman pada kitab suci Al Quran yang diturunkan ke dunia oleh Allah SWT melalui wahyu). Dalam kaidah bahasa Indonesia dikenal kaidah hukum DM atau diterangkan-menerangkan. Untuk istilah “umat Islam”, berarti komposisinya adalah umat = D (diterangkan) dan Islam = M (menerangkan) maksudnya, apabila dalam membaca atau mendengar berita terdapat istilah umat Islam artinya adalah golongan pemeluk agama Islam atau lebih gampangnya umat dari agama Islam. Sebagai contoh, di point 3 dan 4, penggunaan istilah umat Islam (bertanda blok warna hijau) dalam kalimat tersebut dimaksudkan kepada kelompok/komunitas pemeluk agama Islam dan ini sesuai dengan topik atau tema berita.
Sedangkan untuk “umat muslim”, terjemahan bebasnya, umat adalah komunitas/golongan /kelompok/sekumpulan pemeluk agama. Sedangkan muslim adalah kelompok penganut agama Islam atau singkatnya umat Islam. Dengan kaidah DM, komposisinya adalah umat = D (diterangkan) dan muslim = M (menerangkan) artinya, kalau dirinci maknanya menjadi umat dari kelompok penganut agama Islam atau umat dari umat Islam. Sebagai contoh penggunaan istilah umat muslim, di pont 1 dan 2 (bertanda blok warna kuning). Waduuuuh, siapa mereka? Umat dari umat agama Islam?
Melihat rincian makna yang saya uraikan diatas, terlihat dengan jelas kalau istilah umat muslim sebenarnya tidak tepat, karena setelah dirinci maknanya tidak mengarah pada hal yang dimaksudkan oleh tema berita atau artikel yaitu kelompok/golongan pemeluk agama Islam. Menurut saya istilah yang paling tepat untuk menyebut komunitas/golongan/kelompok pemeluk agama Islam adalah umat Islam bukan umat muslim. Bagaimana menurut anda?

Artikel ini juga bisa dibaca disini