Tampilkan postingan dengan label blogger. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blogger. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 April 2016

[Jika Aku Tim Nusantara Sehat] Keliling Indonesia! Kampanyekan Pentingnya Test Buta Warna Sejak Dini

 
Jalan setapak datar pegunungan meratus (Foto : Daftar Pustaka)

  

Kabar dari Kalimantan Selatan

Kalimantan Selatan merupakan salah satu dari Propinsi di Indonesia yang mempunyai daerah tertinggal karena lokasi yang terpencil dan belum mendapatkan akses transportasi memadai, sehingga menghambat distribusi pemerataan ekonomi, pendidikan dan pelayanan kesehatan yang layak  Daerah-daerah terpencil tersebut tersebar hampir di semua kabupaten di Kalimantan Selatan dan totalnya mencapai 40% dari 1.858 desa yang ada.

Kampung Dayak Loksado (Foto : Daftar Pustaka)

Kesulitan akses transportasi di Kalimantan Selatan sebagian besar didominasi oleh belum adanya akses infrastruktur penghubung karena kondisi geografis yang memang tidak mendukung. Sebagian besar wilayah daratan Kalimantan Selatan mempunyai dua kontur geografis yang sama-sama menjadi hambatan serius dalam upaya pemerataan pembangunan, yaitu   dominasi lahan basah dataran rendah berupa rawa-rawa lebak dengan intensitas kedalaman bervariasi yang mendominasi dengan luas penampang mencapai ribuan hektar (Hulu Sungai Utara dan sebagian Rantau) dan kontur alam pegunungan yang liar dengan hutan perawan plus medan ekstrem Pegunungan Meratus (Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Banjar, Tanah Laut, Tanah Bumbu dan Kotabaru). Selain itu Kalimantan Selatan juga mempunyai banyak pulau kecil terpencil yang berpenghuni di wilayah laut Kotabaru dan Tanah Laut di perairan lepas pantai laut Jawa dan Selat Sulawesi yang sampai sekarang belum mempunyai akses penghubung regular dengan daerah induknya.

 Kampung adat Dayak Meratus (Foto : Daftar Pustaka)

Momen yang masih hangat seperti yang dilangsir oleh berbagai media adalah upaya tim medis Kabupaten Hulu Sungai Tengah, dalam upayanya menyukseskan Pekan Imunisasi (PIN) Polio 2016. Tim medis yang terdiri dari enam orang perawat dan dua bidan desa yang tergabung dalam tim Daerah Terpencil (Dacil) dari Puskemsmas Hantakan harus menembus rimba belantara selama berhari-hari untuk memberikan imunisasi kepada masyarakat di pedalaman Pegunungan Meratus yang meliputi beberapa desa seperti Mancatur, Tamburasak, Aruhuyan, Bindang, Kaba, dan Desa Ambih.

 Menjelajah pegunungan Meratus (Foto : Daftar Pustaka)

Untuk menembus medan yang sangat berat dan ekstrim di dalam rimba liar berupa tanjakan tebing yang curam, turunan yang licin dan terjal, sungai berarus kuat, jalan setapak berlumpur, titian jembatan yang dibangun hanya dengan sepotong papan plus basah karena guyuran hujan, tim DACIL tidak bisa menggunakan jenis alat transportasi apapun. Sepeda motor trail yang dibawa juga tidak bisa sepenuhnya membantu karena kombinasi ekstremnya alam pegunungan Meratus.

 
Hutan Pegunungan Meratus (Foto : Komeng)

Inilah Kalimantan! Surga yang setiap saat bisa menjadi neraka bagi siapapun yang tidak siap berjibaku didalamnya! Memang, alam tidak bisa dilawan, harus disikapi dengan cerdas dan yang paling relistis adalah menunggu keseriusan pemerintah untuk membangun sarana dan prasarana infrastruktur nyaidi daerah pedalaman sesegera mungkin sesuai skala prioritasnya.


(Gambar : kemkes.go.id)

Program Nusantara Sehat

Berkaitan dengan Program Nusantara Sehat [mengadopsi sistem Pencerah Nusantara, inisiatif lintas sektoral yang di prakarsai Kantor Urusan Khusus Presiden untuk Millennium Development Goal (KUKP-RI MDGs)] yang di luncurkan oleh Kementerian Kesehatan untuk memperkuat pelayanan kesehatan primer (Fisik/infrastruktur, sarana/fasilitas dan SDM) terutama di daerah tertinggal, perbatasan serta kepulauan terpencil dengan meningkatkan jumlah, area sebaran, komposisi dan mutu tenaga medis dengan cara membentuk tim kerja yang melibatkan fungsi semua tenaga medis (dokter, bidan, perawat dan tenaga kesehatan lainnya), masyarakat, sukarelawan, pemerintah, swasta, lembaga swadaya masyarakat dan pemuda dengan prioritas kerja pada masalah kesehatan riil dalam masyarakat yang sangat mendesak seperti, kematian ibu dan anak, gizi buruk dan angka harapan hidup.
Pulau Kalimantan khususnya Kalimantan Selatan merupakan salah satu target sasaran yang tepat untuk program tersebut. Harapannya, mekanisme program ini kedepannya bisa menjadi katalisator yang efektif dan efisien untuk proses penguatan pelayanan kesehatan primer, pemerataan ekonomi dan akses pendidikan yang layak di Kalimantan Selatan, menuju visi butir-butir Pancasila sila ke-2, Kemanusiaan yang adil dan beradab   dan ke-5 Pancasila, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jika Aku Bagian Tim NUSANTARA SEHAT

Sejak kecil saya mempunyai cita-cita untuk keliling Indonesia! Ada dua hal yang melatarbelakangi cita-cita besar saya ini (saya anggap besar karena ternyata masih sedikit lho orang yang benar-benar punya cita-cita keliling Indonesia dan berhasil mewujudkannya!), yaitu 



1. Darah yang mengalir di dalam tubuh saya.

ang jelas ep esia menerapkan sy
Darah yang mengalir di dalam tubuh saya adalah miniatur dari Bhinneka Tunggal Ika karena terbentuk dari beberapa sumber yang berbeda. Tidak hanya dua tapi lima sumber berbeda ada Jawa, Tionghoa, Banjar, Palembang dan Manado. Nah lho….! Jangan berpikiran aneh-aneh ya….! Karena komposisi ini terbentuk jika dirunut dari kakek buyut kedua orangtua saya. Sadar dengan komposisi darah saya yang langka, membuat rasa penasaran terhadap ke-bhinneka-an Indonesia semakin jadi dari hari ke-hari.
2. Saya Buta Warna
Kenyataan pahit dan menyakitkan, gagal melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran (disaat satu kaki saya sudah menginjaknya), merupakan awal dari pemicu kedua niat saya untuk keliling Indonesia. 
Kegagalan saya masuk program pendidikan kedokteran, karena saya mempunyai kelainan “buta warna”, yaitu kelainan pada mata dalam merespon warna yang merupakan bawaan (terpaut sex) dari jalur ibu saya (carrier), tapi ibu saya sendiri tidak buta warna. 
Lantas apa hubungan buta warna dengan keliling Indonesia? 
Begini ceritanya!… Moment pahit ini sempat memporak porandakan kehidupan saya selepas lulus SMA. Bagaimana tidak?  Cita-cita yang sudah kubangun dan kuperjuangkan sejak kecil, mimpi indah yang selalu kujaga sepanjang waktuku kini harus ku akhiri justru ketika sebelah kakiku sudah menapaknya. Terlebih lagi, semua berakhir oleh sebab yang sama sekali aku tidak tahu hal ihwal-nya….buta warna! Sebagai manusia biasa, aku sangat terpukul dengan kenyataan ini. Jiwaku merasakan goncangan yang begitu dahsyat, duniaku serasa telah berakhir (*). 
Saya yakin, semua bisa membayangkan apa yang saat itu saya rasakan!? Begitu juga dengan keluarga besar saya. Bukan hanya perasaan dan uang yang telah kami korbankan, tapi ada satu lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu “waktu”. Terlalu mahal biayanya untuk kembali memutar waktu untuk merevisi “cita-cita” baru! Sementara untuk berpindah haluan kepada cita-cita yang lain, tentu juga bukan tidak beresiko dan pasti bukan perkara yang mudah!
Saya telah “salah” memilih cita-cita! Karena takdir sebagai penyandang kelainan buta warna plus (menurut saya) kelalaian pemerintah dalam menjamin hak-hak warga negara yang menyandang buta warna, karena ketiadaan akses informasi, perencanaan dan pemetaan potensi untuk pendidikan anak-anak Indonesia sejak dini, khususnya tes buta warna! 
Kalau boleh berandai-andai, seandainya sistem pendidikan di Indonesia memberlakukan test buta warna sejak dini, tentu pengalaman pahit yang saya alami dan saya yakin banyak yang lainnya akan berbeda akhir ceritanya! Saya pasti sadar diri dan tidak akan memaksakan diri untuk membangun cita-cita menjadi dokter, bila sejak dini saya mengetahui menyandang buta warna. Sehingga energi yang ada bisa disalurkan lebih efektif untuk membangun harapan dan cita-cita dibidang lain yang sesuai dengan statusnya sebagai penyandang buta warna, dengan begitu kerugian material maupun nonmaterial bisa dihindari sejak dini pula. Bagaimana pemerintah? 
Test buta warna sejak dini untuk anak-anak Indonesia tidak hanya diperlukan oleh para orangtua sebagai dasar untuk membantu merencanakan dan menentukan arah jalur pendidikan dan masa depan yang sesuai dengan kondisi dan potensi yang dimilki oleh si anak, tapi sebenarnya juga penting untuk pemerintah. sebagai dasar pemetaan potensi anak-anak Indonesia, generasi penerus yang kelak pasti akan menerima estafet kelangsungan kehidupan bangsa dan Negara di masa mendatang dengan cara yang lebih efektif dan efisien, sekaligus untuk menyusun blueprint jangka panjang manajemen sumber daya manusia Indonesia.
Coba bayangkan! Seandainya tiap tahun di Indonesia ada 1.000 saja generasi emas bangsa ini yang bernasib sama saya, salah memilih cita-cita karena buta warna, tentu bangsa Indonesia rugi besar! kehilangan banyak generasi emas, generasi potensial yang seharusnya kelak bisa diberdayakan dengan benar.
Berangkat dari sinilah! Muncul niatan saya untuk keliling Indonesia mengkampanyekan pentingnya test buta warna sejak dini kepada seluruh lapisan masyarakat, setelah berbagai upaya saya menulis berbagai artikel tentang masalah ini di berbagai media belum mendapatkan respon positif dari pihak-pihak terkait.
Harapan saya, mudah-mudahan melalui program NUSANTARA SEHAT yang digagas oleh kementerian kesehatan ini, saya dan gagasan saya untuk mengkampanyekan test buta warna sejak dini bisa menjadi bagian dari program ini.Insha Allah...Amin!



(*) petikan dari cerpen "Ternyata Cinta Tidak Buta (Warna)" karya kaekaha, sinopsis dari novel dengan tema sama 


Artikel terkait : 




Rabu, 27 Januari 2016

(Eksploitasi) Pariwisata Pulau Kakaban, Bukti Ego dan Keserakahan Manusia



"Pulau Kakaban merupakan surga kekayaan biologi yang ada di Indonesia. Misteri bagaimana hewan dan tumbuhan yang terisolasi dalam danau ini merupakan salah satu obyek yang sangat diminati oleh ilmuwan untuk diungkap. Karena itu, laut ini memang pantas menjadi obyek konservasi alam yang seharusnya dilindungi dan dilestarikan"
(Dr. Thomas Tomaschik, Ahli kelautan Kanada) 


 "Pesona Danau Kakaban memang memikat siapapun yang pernah datang (Foto : Koleksi Pribadi)


Dasar ilmiah pernyataan dari Dr. Thomas Tomaschik, adalah : 
  1. Pulau Kakaban yang menurut bahasa lokal setempat berarti "pelukan", karena pulau atol dengan luas 774,2 ha ini mempunyai laguna berair payau yang terperangkap sejak jaman prasejarah sekitar 19 ribu tahun yang lalu di zaman peralihan holosin di dalamnya yang seolah-olah berada dalam pelukan rimbunya tepian danau yang berupa karang terjal setinggi sekitar 50 meter yang ditumbuhi oleh berbagai vegetasi tanaman hutan Pulau Kakaban yang khas.
  2. Di dunia hanya ada 2 tempat yang mempunyai fakta  alam dan sejarah terbentuknya seperti Pulau Kakaban yang unik, yaitu terbentuk dari uplifted reef atau terumbu karang yang terangkat yaitu Pulau Kakaban sendiri dan Pulau Palau, Kepulauan Micronesia di sebelah tenggara Samudra Pasifik sekitar 1000 km dari Filipina. 
  3. Danau Kakaban dan beberapa danau kecil di pulau Kakaban termasuk dalam kategori anchialine, yaitu danau yang tidak mempunyai hubungan permukaan air dengan laut di sekitarnya, walaupun masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
  4. Kekayaan, kelangkaan, keunikan dan keberagaman biota danau kakaban yang berbeda sifat dan kondisi fisiknya dengan spesies sejenis di sekitarnya sebagai akibat proses adaptasi dan evolusi yang berlangsung sejak ribuan tahun lamanya, merupakan misteri alam yang menjadi daya tarik bagi penelitian ilmiah multi science.
  5. Danau Kakaban menjadi rumah bagi 4 spesies ubur-ubur tanpa sengat sekaligus, yaitu ubur-ubur terbalik (Cassiopea ornata) ubur-ubur ini berenang terbalik karena sedang ber-simbiosis mutualisma dengan Algae yang menempel dibagian kaki yang membutuhkan sinar matahari untuk ber-fotosentesa, ubur ubur totol (Mastigias cf papua) besarnya sekepalan tangan seperti bola pijar dengan warna biru kecoklatan, ubur-ubur bulan (Aurelia aurita)  ubur-ubur ini bening seperti mangkok kaca dan ubur-ubur kotak (Tripedalia cystophora) ubur-ubur ini relatif lebih kecil dibanding lainnya dengan kecenderungan berbentuk kota dengan ukuran rata-rata sebessar ujung jari. Sedangkan Danau Pulau Palau di gugusan Kepulauan Micronesia hanya dihuni satu jenis ubur-ubur saja, yaitu Golden Jellyfish atau ubur-ubur emas (Mastigias sp).
  6. Selain ubur-ubur tanpa sengat, Danau Pulau Kakaban juga dihuni oleh berbagi jenis biota air yang tentunya juga telah ber-evolusi selama ribuan tahun. Ada jenis ikan [ikan kupu-kupu (Chaetodontidae), serinding (Apogon lateralis), puntang (Exyrias puntang), teri karang (Antherinomorus endrachtensis) dan ikan julung-julung (Zenarchopterus dispar)], ular laut, kepiting bakau dsb.
  7. Selain berbagai jenis fauna unik, Pulau kakaban juga menjadi habitat dari berbagai flora khas yang beberapa diantaranya merupakan endemik setempat. Bagian daratan Pulau Kakaban yang terlihat memeluk danau kakaban sebagian besar ditumbuhi oleh berbagai jenis mangrove dengan tutupan mencapai lebih dari 60% seperti Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Xylocarpur granatum, Tanjang (Bruguiera gymnorrhiza) dan Excoecaria agalocha. Ada juga pohon api-api (Avicennia), dan pidada (Sonneratia). Di sepanjang kiri dan kanan jembatan titian yang terbuat dari kayu meranti penghubung dermaga luar dengan bibir Danau Kakaban, tumbuh menjulang berbagai jenis pepohonan liar yang sebagian diberi identitas dengan nama lokal, seperti Asin-asin, Bituai,Bulung-Bulung, Gaggil, Puut, Taluntung dsb.
 
Sebagian pohon yang tumbuh di hutan Pulau Kakaban (Foto : Dokumen Pribadi)

[/caption]Dari beberapa fakta dan data ilmiah tentang Pulau dan Danau Kakaban diatas yang begitu spesial, dari sudut pandang orang awampun ungkapan Dr. Thomas Tomaschik adalah sebuah keniscayaan! Rasanya memang tidak ada alasan lain bagi kita semua "pemilik" pulau dan danau warisan jaman prasejarah tersebut selain harus melindungi dan melestarikannya. Lantas, apa yang kira-kira bisa kita lakukan untuk tujuan dan maksud tersebut?
Menurut Permenhut Nomor P 57 Tahun 2008, tentang daftar spesies-spesies prioritas nasional untuk katagori spesies bahari dan perairan tawar, ubur-ubur danau Kakaban termasuk salah satu dari total 21 jenis satwa yang mendapatkan prioritas tinggi untuk dilindungi.
Menurut Surat Keputusan Bupati Berau, No.70 Tahun 2004, Pulau Kakaban ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Laut (KKL) Daerah, dengan mengemban visi : konservasi dan misi : Pelestarian, pendidikan dan ekonomi yang secara teknis membagi Pulau Kakaban menjadi 2 kategori wilayah (zone), yaitu :
  • Inner Zone : Perlindungan habitat dan ekosistemnya
  • External Zone : Perlindungan dan Kawasan Wisata
dimana Dinas perikanan dan kelautan sebagai lembaga yang bertugas untuk mempersiapkan perencanaan Kawasan Konservasi Laut Daerah, mengkoordinasikan dan sekaligus mensosialisaikan kepada semua pihak terkait.

 Snorkling di Danau Kakaban, seharusnya tidak perlu dilakukan (Foto : Koleksi Pribadi)

Dari dua produk hukum diatas, intinya adalah sama! Ingin menjaga dan melestarikan habitat dan ekosistem Pulau Kakaban. Pertanyaannya, apakah dua produk hukum diatas sudah signifikan memberikan kontribusi maksimal bagi "keamanan" dan kelestarian habitat dan ekosistem Pulau dan Danau Kakaban? Sepertinya belum!


 Jembatan titian menuju dermaga di bibir danau (foto : Koleksi pribadi)

Status Kawasan Konservasi Laut (Daerah) yang disematkan kepada pulau Kakaban menurut saya kurang tepat, karena semua yang ada di dalam Pulau Kakaban terlalu berharga. Kalau melihat data dan fakta ilmiah Pulau Kakaban yang begitu luar biasa, seharusnya status Kawasan Pulau Kakaban adalah suaka margasatwa, cagar alam atau paling tidak Taman Nasional yang mempunyai konsekuensi pengelolaan dan pemeliharaan obyek alam dimaksud lebih ketat, kuat dan legitimate, baik dari segi hukum maupun kualitas action-nya.

Berdasarkan observasi pandangan mata sederhana ketika berkunjung ke Pulau Kakaban dan Danau Kakaban beberapa hari yang lalu bersama para risers-kompasianer dalam rangkaian event Datsun Risers Expedition-Kompasiana Blog Trip, ada kegundahan dan kekhawatiran yang langsung menyeruak ketika melihat langsung "cara dan proses" para pengunjung menikmati eksklusifitas habitat dan ekosistem, khususnya Danau Kakaban yang sangat tidak sejalan dengan semangat menjaga dan melestarikan sesuai amanat Permenhut Nomor P 57 Tahun 2008 dan Surat Keputusan Bupati Berau, No.70 Tahun 2004, karena:
Terkesan asal-asalan, tidak terurus dan tidak profesional (Foto : Koleksi Pribadi)

Terkesan asal-asalan, tidak terurus dan tidak profesional (Foto : Koleksi Pribadi)
  1. Dengan mengijinkan pengunjung berinteraksi secara langsung bahkan beraktifitas didalam ekosistem biota endemik yang masuk dalam spesies-spesies prioritas nasional untuk dilindungi, merupakan sebuah blunder dan kesalahan besar yang harus segera dikoreksi! Kita, manusia termakan jargon "ubur-ubur di danau Kakaban sangat bersahabat dengan manusia". Ini jelas konyol! Karena "bersahabat" jelas-jelas bukan naluri binatang. Jangan-jangan jargon ini sebenarnya adalah upaya legalisasi kita untuk menginvasi dan mengeksploitasi mereka yang lemah tanpa senjata berikut ekosistemnya?  Seandainya ubur-ubur di danau Kakaban bisa diajak berdialog dengan bahasa manusia, mungkin hanya keluh kesah dan bahasa galau yang akan keluar dari mulut mereka! Analogi berikut mudah-mudahan bisa membantu logika emosional kita. Kira-kira apa yang kita rasakan, ketika tiba-tiba ada segerobolan gajah yang tentunya lebih besar dan lebih kuat dari kita, meskipun jinak tapi tetap mempunyai naluri membunuh dan merusak, tiba-tiba masuk ke komplek perumahan kita, ingin berdekat-dekatan, bermain-main dengan kita, anak-anak kita dan lingkunan komplek perumahan kita? manusia
  2. Eksploitasi Danau Kakaban sebagai daerah pariwisata umum, seharusnya juga dikoreksi! Menurut Surat Keputusan Bupati Berau, No.70 Tahun 2004, kawasan Danau Kakaban seharusnya masuk dalam Inner Zone, yaitu fungsi perlindungan habitat dan ekosistemnya. Kalau kita memang ingin melindungi habitat dan ekosistem Danau Kakaban, seharusnya secara total jangan setengah-setengah, riilnya habitat dan ekosistem Danau Kakaban harusnya bersih dari berbagai aktifitas dan kegiatan manusia dalam bentuk apapun, apalagi berinteraksi/bersentuhan secara langsung dengan biota Danau Kakaban seperti berendam, berenang, snorkling dan diving, kecuali untuk tujuan pendidikan dan penelitian ilmiah. Kalaupun Danau Kakaban tetap dipaksa menjadi destinasi wisata umum karena keunikan fakta dan data ilmiah diatas, tidak seharusnya pengunjung bisa berinteraksi secara langsung dengan berenang, snorkling, bahkan menyelam sampai ke dasar, tapi cukup dengan mengamati dari dermaga yang sudah ada. Mungkin cara ini lebih arif dan bijaksana untuk menjaga eksklusifitas dan privasi ekosistem Danau Kakaban. Atau kalau memungkinkan, kedepan bisa dibuatkan semacam terowongan kaca seperti seaworld di dasar danau dari ujung dinding ke ujung dinding danau? Tapi opsi ini tentu harus melawati kajian yang mendalam meliputi teknologi dan dampak lingkungannya.
  3. Tidak ada mekanisme aturan atau peraturan yang secara jelas, lugas dan tegas untuk pengunjung, terpasang di lokasi yang mudah diakses oleh pengunjung, selain himbauan dan informasi umum yang dipasang dengan kesan asal-asalan, tidak terurus, tidak profesional bahkan terlihat jorok dan merusak view alam yang begitu indah, Materinyapun sudah tidak terlalu jelas isi pesannya.
  4. Tidak ada petugas pendamping atau sistem teknologi pengawasan yang ditugaskan, ditempatkan dan diterapkan dilapangan. Kesan yang tertangkap, pengunjung memang bebas untuk melakukan apapun di Danau Kakaban. Waduuuuuh! Seiring dengan tersebarnya keunikan dan kecantikan Danau Kakaban ke seantero dunia, logikanya pasti akan berbanding lurus dengan angka kunjungan wisatawan dan pasti berbanding lurus juga dengan juimlah manusia yang nyebur ke Danau Kakaban. Jadi ngeri membayangkan masa depan ubur-ubur yang begitu ramah menyambut kedatangan para pengunjung.

 Berinteraksi dengan ubur-ubur semacam ini seharusnya dilarang! (Foto : Koleksi Pribadi)

Keunikan dan kecantikan Pulau Kakaban dengan instrument laguna air payau peninggalan jaman prasejarah yang menjadi habitat berbagai spesies flora dan fauna langka hasil evolusi selama ribuan tahun lamanya, masih menyimpan banyak misteri ilmu pengetahuan yang belum terungkap dan harus diungkap dengan cara yang arif dan bijaksana. Itu tugas kita bersama! Mari kita sebarluaskan keunikan dan kecantikan Pulau Kakaban sekaligus mengkampanyekan larangan untuk beraktifitas dan berinteraksi langsung dengan ekosistem didalamnya!


 Keindahan dan kecantikan Pulau Kakaban memang mempesona! (Foto : Koleksi Pribadi)

[/caption]Mari Kita Nikmati Keunikan dan Kecantikan Danau Kakaban Dengan Cara yang Cerdas! Lindungi Habitat dan Ekosistem Alami Danau Kakaban dengan Tidak Berenang, Snorkling dan Diving di dalamnya!

Rabu, 30 Desember 2015

Unik & Menantang! Berkubang Dengan Si Jago Renang, Kerbau Rawa Danau Panggang

Sumber gambar : www.skyscrapercity.com




Spesifik dan Endemik Destinasi Wisata Kalsel   

Propinsi Kalimantan Selatan mempunyai destinasi pariwisata yang lengkap mulai wisata alam, seni, budaya, belanja, sejarah, kuliner dan religi semua ada. Hebatnya, untuk destinasi wisata unggulan rata-rata bersifat spesifik dan endemik, dimana destinasi wisata unggulan yang dimiliki   semuanya eksklusif alias hanya ada di Kalimantan Selatan, sehingga tidak akan bisa ditemui di daerah lain, maka tidak heran jika maskapai penerbangan sekelas Garuda Indonesia juga tertarik, bahkan merasa perlu untuk mendukung perkembangan destinasi pariwisata Kalsel, agar lebih maju lagi dengan menyediakan rute penerbangan dengan pelayanan terbaiknya ke Banjarmasin secara reguler dari berbagai kota di Indonesia.
Sebut saja Pasar terapung, sebagai icon wisata Kalimantan Selatan, merupakan satu-satunya destinasi pasar terapung alami yang ada di dunia. Kalaupun sekarang bermunculan pasar terapung lain, semuanya merupakan destinasi wisata buatan. 

Pasar Terapung Alami Khas Kalimantan Selatan
Sumber gambar :  Kompasiana

Pertokoan Bumi Cahaya Selamat (BCS) di Kota Martapura, Kabupaten Banjar di kenal sebagai pasar batu mulia terbesar di Indonesia. Keberadaan Pasar Bumi Cahaya Salawat (BCS) semakin memperkuat status Kota Martapura sebagai Kota Intan. Disebut Kota Intan karena perut bumi Kota Martapura dan sekitarnya termasuk daerah Pumpung, Cempaka, Kota Banjarbaru merupakan gudangnya intan berkualitas wahid.  

Pertokoan BCS
 Sumber gambar : NGI


Balanting di Sungai Amandit, Loksado merupakan destinasi petualangan alam yang khas banua Kalimantan Selatan. Balanting merupakan sebuah konsep pariwisata yang memadukan wisata susur sungai dan jeram dengan menggunakan lanting, yaitu semacam rakit yang dibuat dari bambu yang dirangkai menjadi satu di Sungai Amandit dengan wisata ekobudaya yang menyuguhkan eksotisme alam liar khas Kalimantan yang dipadu dengan suguhan khas adat istiadat dan budaya masyarakat Dayak Loksado. 

Balanting di Sungai Amandit
Sumber gambar : Ayo Pelesiran.com


Kerbau Rawa, Si Jago Renang dari Danau Panggang

Diantara destinasi wisata eksklusif di Kalimantan Selatan, destinasi wisata yang benar-benar menawarkan eksotisme eksklusif tingkat tinggi adalah wisata Kerbau Rawa (Masyarakat setempat menyebut hadangan kalang. hadangan = kerbau ; bhs banjar) di daerah Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), salah satu Kabupaten ter-unik di Indonesia. 
Kabupaten Hulu Sungai Utara masuk dalam daftar Kabupaten terunik di Indonesia karena mempunyai ke-khasan yang tidak dipunyai oleh kabupaten lain di Indonesia, yaitu wilayah teritorialnya yang 70% berupa rawa sedang daratannya hanya 30%, sehingga sebagian besar masyarakatnya tinggal di atas air/rawa. Inilah negeri diatas air! 
Kabupaten dengan ibu kota Kota Amuntai ini, juga dikenal dengan populasi itik kualitas unggul yang dikenal dengan nama itik alabio.

Monumen Itik Alabio, Kota amuntai juga dikenal dengan Kota 1000 itik
Sumber gambar : wikimedia.org

Kabupaten Hulu Sungai Utara bisa ditempuh melalui dua jalur dari Banjarmasin, ibu kota Propinsi Kalimantan Selatan.  Jalur darat dengan jarak sekitar 171,9 km bisa ditempuh selama kurang lebih 4 jam perjalanan. Sedangkan melalui jalur sungai jarak tempuh lebih dekat dan lebih cepat, hanya saja sekarang hampir tidak ada taksi air yang melayani rute perjalanan Banjarmasin-Hulu Sungai Utara secara reguler. 
Kerbau rawa (Bubalus Bubalis) termasuk ternak ruminansia (plasma nutfah) yang perlu dijaga kelestariannya. Berbeda dengan kerbau pada umumnya yang sesekali saja berendam di kubangan air, kerbau rawa justeru menghabiskan hampir seluruh harinya di dalam rawa, Mereka naik ke kandang yang juga berada di tengah rawa-rawa ketika sore menjelang malam dan segera turun ke lagi rawa-rawa untuk mencari akan dan aktifitas lainnya begitu matahari pagi menampakkan sinarnya.  


 Kandang Kerbau Rawa di tengah rawa-rawa jauh dari pemukiman
Sumber gambar : travel.kompas.com


Populasi kerbau rawa terbanyak ada didaerah Paminggir, sekitar 1-2 jam perjalanan dari Kota Amuntai, Ibu Kota Kabupaten Hulu Sungai Utara. Dari Amuntai untuk menuju Paminggir tidak bisa melalui jalan darat, tapi menggunakan transportasi air seperti speedboat atau kelotok (sejenis perahu bermesin tempel)) dari dermaga Danau Panggang, pintu yang menghubungkan wilayah daratan dengan daerah pedalaman yang memang tidak ada sarana transportasi darat. Wooooow menantang bukan?  
Perjalanan dari Dermaga Danau Panggang menuju Paminggir, merupakan perjalanan yang sensasional yang akan memberikan pengalaman tak terlupakan. Kita akan disuguhi oleh pemandangan deretan rumah panggung dengan arsitektur khas banjar berikut aktifitas khas masyarakat setempat. Anak-anak yang pergi ke sekolah, ibu-ibu yang berangkat ke pasar, atau bapak-bapak yang akan berangkat memantau ternak kerbau rawanya, semuanya mengendarai jukung (perahu), satu-satunya alat transportasi masyarakat di daerah ini. 


 Perjalanan ditengah vegetasi rawa
Sumber gambar : @wargabanua

Selain itu di sepanjang perjalanan, kita juga disuguhi pemandangan ekosistem rawa dengan berbagai vegetasi tanaman air seperti eceng gondok dan padihiang, makanan utama kerbau rawa, yang sebagian menutupi permukaan rawa (masyarakat setempat menyebutnya danau). Sekitar satu jam perjalanan, kita akan mulai menemukan kandang-kandang kerbau rawa dengan konsep rumah lanting (apung) terbuka yang terbuat dari susunan kayu gelondongan yang dirangkai menjadi semacam rakit raksasa dan dilengkapi dengan pagar keliling di sekitarnya (kalang). Inilah sebabnya kerbau rawa oleh masayakat setempat juga desebut dengan hadangan kalang.


Aktifitas pagi hari, kerbau mulai turun ke air dan berenang, menakjubkan!
Sumber gambar : travel.kompas.com


Semua yang melekat pada identitas kerbau rawa merupakan hal unik yang benar-benar memberikan pemahaman dan pengetahuan baru tentang keberagaman fauna Nusantara. Mulai dari kerbaunya sendiri dengan perilakunya yang lebih suka hidup berkubang (bakunyung ; bhs.banjar) di rawa dalam, cara mereka makan dan mencari makan dengan cara berenang yang bisa mencapai puluhan kilometer, padihiang jenis makanan mereka. 
Selain itu, cara penggembalaan mereka, kandang mereka dan cara menandai kepemilikan kerbau dengan cara menggunting bagian telinga semuanya menawarkan sensasi wisata yang luar biasa.  

Cara menggembalakan kerbau rawa
Sumber gambar : Harusancraft


Rekomendasi waktu yang paling bagus untuk melihat aktifitas kerbau rawa, termasuk untuk mengambil gambar adalah pada pagi hari waktu kerbau rawa turun ke air, siang waktu makan dan sore hari waktu mereka naik ke kandang.



Potensi Pengembangan Produksi dan Pariwisata Kerbau Rawa


Potensi pengembangan produksi ternak kerbau rawa sebagai sumber protein hewani dan pariwisata masih sangat terbuka lebar.  Sebagai komoditi ekonomi utama bagi sebagian besar masyarakat Kecamatan Paminggir, kerbau rawa bisa dibilang sebagai komoditi sentral bagi perekonomian setempat. Dengan budget pemeliharaan dan perawatan yang relatif rendah (karena sebagian besar disediakan alam), tapi hebatnya harga kerbau rawa relatif mahal, harga kerbau rawa dewasa bisa mencapai 10 juta per-ekor. Tentu ini peluang bisnis yang menggiurkan. 
Hanya saja, seiring terdegradasinya alam secara global dan daya dukung lingkungan rawa-rawa di daerah Paminggir dan sekitarnya yang mulai menurun, menyebabkan beberapa masalah baru yang berimbas pada kerbau rawa. Banjir yang sekarang sering melanda daerah paminggir bila musim hujan, sering menyebabkan rawa-rawa semakin dalam dan menenggelamkan tanaman-tanaman rawa yang menjadi sumber makanan kerbau rawa. Hal ini menyebabkan terjadinya krisis pakan pada kerbau rawa. Tentu ini sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup kerbau rawa, kalau tidak ada solusinya. Apalagi banjir di daerah Paminggir bisa berlangsung sampai berbulan-bulan, bahkan pernah sampai 5 bulan.


Kerbau rawa sedang bakunyung 


Sedangkan untuk pariwisata, potensi kerbau rawa  menjadi icon destinasi wisata Kalsel masih sangat terbuka lebar. Memang harus sinergi antara semua pemangku kepentingan, agar semua agenda pembangunan destinasi pariwisata kerbau rawa bisa berjalan dengan baik. Agenda utama yang harus segera diperbaiki adalah aspek kenyamanan dan keamanan pengunjung, mulai dari hotel dan penginapan yang representatif, sarana dan prasarana transportasi yang aman dan nyaman, manajemen paket wisata yang profesional dan satu lagi yang tidak kalah pentingnya adalah pengembangan konsep wisata kerbau rawanya sendiri. Seharusnya, kerbau rawa bisa diberdayakan lagi lebih dari yang ada sekarang yang hanya ditonton aktifitas kesehariannya saja. Seharusnya diadakan event yang berkaitan dengan kerbau rawa! Misalkan, kontes kerbau rawa paling besar dan gagah (berat dan postur seimbang/proporsional), lomba balap kerbau rawa atau karapan kerbau rawa dengan joki diatas jukung, festival/lomba kuliner berbahan olahan daging kerbau rawa. 

Inilah Kalimantan Selatan, the most exclusive place in the world! Sejengkal sorga yang jatuh di bumi Nusantara. Tunggu apalagi? Yuk, jalan-jalan ke banua kita, Kalimantan Selatan! Jangan lupa naik Garuda Indonesia ya....! Karena inilah The Airline of Indonesia.




Ayo, Kalimantan Selatan Bisa!

Kita punya segalanya…




Negeriku Indonesia : Kerbau Rawa