Tampilkan postingan dengan label kemenPUPERA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kemenPUPERA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Desember 2015

Format Inovatif dan Edukatif Penuntasan Masalah Sampah di Indonesia



Sampah merupakan salah satu produk dari proses dinamika kehidupan peradaban manusia, baik individual maupun komunal. Laju kuantitas produksi sampah secara individual biasanya sangat dipengaruhi oleh kompleksitas kebutuhan hidup masing-masing individu manusia, sedangkan secara komunal akan berbanding lurus dengan laju pertumbuhan dan pertambahan penduduk pada luasan area tertentu.

Secara umum sampah yang dihasilkan oleh manusia di bagi dalam 2 (dua) golongan besar, yaitu sampah organik (bisa diuraikan oleh bakteri mikroba dan diserap kembali oleh alam) dan sampah non organik (tidak bisa diurai secara alami dan berpotensi besar mencemari lingkungan). Dua golongan besar jenis sampah tersebut mempunyai karekteristik sifat dan potensi yang sangat berbeda, sehingga keduanya juga memerlukan proses penanganan yang berbeda pula

Sampai detik ini, sampah masih menjadi salah satu sumber permasalahan serius bagi sebagian besar kota-kota di Indonesia. Rendahnya pemahaman, kepedulian serta partisipasi aktif masyarakat dalam manajemen pengelolaan sampah plus semakin terbatasnya daya dukung dan daya tampung alami lingkungan di perkotaan, sering dituding sebagai biang keladi ribet dan berlarut-larutnya penyelesaian permasalahan sampah di berbagai kota di Indonesia.

Di Indonesia, permasalahan pengelolaan sampah beserta turunannya seperti banjir, pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan dll, termasuk masalah “laten” yang unik dan menggelitik! Karena, Berapapun dana yang dialokasikan, sehebat apapun program dan manajemen kontrol yang dibuat, sebanyak apapun peraturan perundangan beserta turunannya yang ditetapkan dan secanggih apapun inovasi alat yang digunakan, masih belum mampu memberikan progress yang signifikan terhadap permasalahan sampah di Indonesia.

Seperti negara berkembang lainnya, Indonesia yang kebetulan mempunyai latar belakang karekteristik sosial budaya yang begitu beragam dengan kompleksitas aturan, nilai dan tatanan yang begitu rumit, permasalahan sampah lebih banyak berkutat pada pada masalah orang-nya bukan pada perangkat elemen yang lain, seperti program, teknologi, pembiayaan atau produk hukum yang ada. Sejarah mencatat, sudah berapa kali produk hukum yang mengatur sampah di buat dan disahkan, sudah berapa macam dan jenis program pengentasan permasalahan sampah di gulirkan oleh pemerintah, sudah berapa banyak inovasi teknologi diterapkan untuk pengelolaan sampah, sudah berapa banyak dana yang dikeluarkan pemerintah dan masyarakat yang peduli lingkungan untuk mereduksi sampah? Semuanya nihil alias tidak memberikan hasil dan pengaruh signifikan bagi penyelesaian permasalahan sampah di berbagai kota di Indonesia.

Seandainya semua konsisten, sejak pemerintah menetapkan UU No. 18 Tahun 2008 tanggal 7 Mei 2008 tentang pengelolaan sampah, permasalahan sampah di Indonesia khususnya di Kota-kota besar, seharusnya sudah game over alias sudah tamat, sehingga energi potensial bangsa bisa dialokasikan untuk kepentingan-kepentingan lain yang tidak kalah pentingnya. Tapi kenyataannya tujuh tahun berlalu sejak diketok palu, UU No. 18 Tahun 2008 tak lebih dari macan kertas yang tidak bisa berbuat dan membuat pengaruh apa-apa! Lantas apa sebenarnya yang kita perlukan?

Untuk mengatasi masalah sampah di Indonesia, ada 3 (tiga) kunci utama yang wajib dipegang, dibenahi dan diberdayakan dengan benar secara maksimal, yaitu Mental Manusia (Pemerintah dan rakyat/masyarakat), Teknologi dan Sistem/Mekanisme

I. (MENTAL) MANUSIA

I.1Pemerintah
Indonesia sudah merdeka sejak 70 tahun yang lalu, berbagai masalah bangsa yang mendera bangsa Indonesia sejak era kemerdekaan di tahun 1945 seharusnya memberikan pengalaman yang berharga kepada semua elemen bangsa, sedangkan kita selama ini terlanjur memahami bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Sebenarnya agak aneh, kalau tidak pantas dibilang lucu! Di jaman serba digital dengan akses teknologi informasi yang bisa melipat ruang dan waktu menjadi sedemikian efektif dan efisien, bangsa sebesar Indonesia sampai detik ini masih saja disibukkan oleh urusan sampah (rumah tangga)? Apa yang salah?

Memang, permasalahan sampah bukan domain dari kota-kota di Indonesia saja! Hampir semua kota besar dan maju di dunia semuanya "pernah" mengalami krisis permasalahan sampah. Bedanya, kalau kota-kota besar dan maju di luar sana "pernah" mengalami krisis permasalahan sampah. Kata pernah artinya menunjukkan kata lampau. Jadi, mereka akhirya menemukan solusi, tapi kalau kita bukan hanya pernah saja tapi terus menerus dihantui masalah sampah sampai sekarang. Pertanyaanya, kenapa bisa begitu? Karena kita tidak pernah sungguh-sungguh mau belajar dari pengalaman plus contoh-contoh konkrit yang ada di luar sana secara komprehensif dan sayangnya, situsi ini diperparah oleh tabiat atau kebiasaan bangsa kita yang suka lupa dan melupakan.

Untuk menyelesaikan masalah sampah secara tuntas dan komprehensif, point pertama yang wajib dan harus disiapkan adalah sebuah otoritas pemerintahan yang legal, kredibel dan bermental kuat, baik dari segi manajemen maupun politik. Dengan bergaining power yang kuat, maka konsistentensi dan akselerasi semua program pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah relatif bisa dikontrol dan dijaga stabilitasnya sampai tuntas. Sejauh ini, program pemerintah dalam pengentasan masalah sampah (dan program lain yang menyasar masyarakat) selalu mentok di level jalur distribusi. Kita kuat dalam konsep tapi lemah dalam penerapan dan pengawasan. Sehingga banyak program, termasuk pengentasan sampah yang manfaatnya tidak sampai pada masyarakat hanya berhenti pada kertas laporan yang ujung-ujungnya adalah ABS alias Asal Bapak Senang.

Sekarang, kita memerlukan sebuah gagasan program nasional pengelolaan sampah dari pemerintah yang bersifat menggebrak masyarakat! Power daya gebraknya kalau perlu yang bisa memberikan efek shock Therapy kepada masyarakat dengan tujuan untuk mengembalikan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya sendiri, khususnya terhadap sampah. Program gebrakan dari pemerintah ini tetap harus dilengkapi dengan visi dan misi yang jelas dan terukur, aturan main yang aplicable dan kelengkapan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan. Disini, kita juga memerlukan sebuah tim pemerintahan yang kreatif, inovatif, mau bekerja keras dan bekerja cerdas.

Memang secara teori, idealnya sebuah program yang menyasar kepada masyarakat akan berjalan lebih efektif dan efisien jika pola strategi yang dipakai pemerintah adalah pola bottom up bukan top down dimana masyarakat dilibatkan secara langsung untuk ikut menentukan skala prioritas dan teknis operasional yang sesuai dengan karakter sosioculture-nya masing-masing. Tapi akan lebih ideal jika memakai pola berimbang, dimana masyarakat tetap dilibatkan secara langsung untuk ikut menentukan skala prioritas dan teknis operasional yang sesuai dengan karakter sosioculture-nya masing-masing, sedangkan pemerintah berperan sebagai steering comite, advisor dan supervisi yang wajib menjamin keberlangsungan dan keberjasilan program yang telah dicanangkan pemerintah.

Sebagai contoh :
Saat ini sebagian masyarakat kita sedang demam bank sampah. Bank sampah dinilai oleh (masih) sebagian masyarakat kita sebagai salah satu solusi inovatif untuk mengentaskan masalah sampah di daerah/wilayah masing-masing (level RT, RW dan Desa). Seharusnya pemerintah mengkaji fenomena bank sampah yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat ini dan kalau memang metode bank sampah ini dinilai efektif, efisien, cocok dan tepatguna untuk menyelesaikan permasalahan sampah di seluruh Indonesia, segera ambil langkah strategis menjadikan bank sampah sebagai program nasional untuk mengentaskan masalah sampah di seluruh Indonesia.
Pemerintah melalui perangkatnya sampai level paling bawah bisa "memaksa" masyarakat untuk membangun bank sampah dengan cakupan luas wilayah sesuai kebutuhan. Bisa per-RT, RW, atau desa/kelurahan dengan penanggung jawab pengelolaan program dipegang pemimpin atau ketua wilayah setempat, kalau lingkungan RT ya ketua RT, kalau lingkungan RW ketua RW dan kalau cakupannya wilayah desa otomatis kepala desanya. Atau kalau mau formal sekaligus profesional pengelolaan bisa diserahkan kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) atau dengan mendirikan koperasi. Ini hanya sebuah contoh dari rancangan kasar, untuk bentuk detail dan idealnya pemerintah melalui kemeterian atau kedinasan terkait bisa mengkaji lebih dalam. 

I.2 Masyarakat
Inti dari permasalahan sampah di Indonesia lebih kepada orang/manusia-nya daripada faktor yang lain. Untuk itu, faktor manusia harus menjadi perhatian pertama dan utama pemerintah sebelum mebenahi faktor lainnya jika ingin permasalahan sampah bisa segera dituntaskan. Untuk kepentigan ini, memang harus ada kerja sama/sinergi lintas sektoral bisa lintas kementerian atau juga lintas kedinasan tidak bisa dibebankan pada satu titik domain saja. Seperti kita pahami bersama, masalah infrastruktur adalah domain dari kemeterian PUPR, untuk optimalisasi berbagai program yang berkaitan dengan infrastruktur tentunya kementerian pUPR tidak bisa bekerja sendiri tapi harus bersinergi dengan pemangku kepentingan lainnya sesuai situasi dan kebutuhannya.   Sebagai contoh, untuk mengembalikan kesadaran, pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungannya, masyarakat perlu treatment riil yang aplicable seperti keteladanan dan kurikulum pendidikan yang bisa mendukung sosialisasi program-program yang telah dicanangkan oleh pemerintah. 

I.2.a. Teladan
"Guru kencing berdiri, murid kencing berlari" peribahasa yang menggambarkan pentingnya sebuah keteladanan ini sangat cocok untuk mengambarkan keresahan masyarakat dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Salah satu penyebab kegagalan kita mengatasi masalah sampah adalah minimnya keteladanan dalam lingkungan kita. Sebagai contoh, Kota Banjarmasin yang terkenal dengan "Kota Seribu Sungai", beberapa tahun silam pernah mendapatkan predikat sebagai kota terkotor di Indonesia. Parameternya jelas! Jika berkaitan dengan kata kotor urusannya pasti tidak jauh dari masalah sampah. Ironis memang, sungai yang selama ini menjadi icon Kota Banjarmasin dan telah menjadi urat nadi bagi kehidupan masyarakat Kota Banjarmasin selama berabad-abad lamanya, disaat bersamaan juga menjadi keranjang sampah bagi sebagian besar masyarakat kota yang tinggal di bantaran sungai.
Kenapa bisa begitu? Jawabannya adalah karena teladan atau contoh! Generasi sekarang kalau ditanya kenapa buang sampah ke sungai? jawabnya pasti karena melihat pendahulunya juga membuang sampah di sungai. Begitu terus tidak akan pernah sampai keujung. Jadi keteladanan merupakan salah satu kunci pembentuk karakter baik individu maupun komunal. Rumah, sebagai lingkungan terkecil sekaligus influence yang paling kuat dan intensif dalam pembentukan karakter anggotanya merupakan titik penting sumber keteladanan. Disini, peran tetua, orang yang dituakan dan orangtua merupakan titik sentral dalam membentuk generasi yang peduli sampah. Disini Kementerian PUPR bisa bersinergi dengan menteri yang terkait, bisa kementerian Sosial, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kemneterian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau yang lainnya sesuai kebutuhan.

I.2.b. Pendidikan/Sekolah
Setelah keteladanan, metode lain yang bisa digunakan untuk membentuk karakter generasi peduli sampah adalah melalui media pendidikan. Sekolah merupakan lingkungan kedua setelah rumah, sebagai sumber influence yang paling efektif untuk membentuk karakter dan kepribadian anak-anak kita. Guru  sebagai sosok yang digugu dan ditiru merupakan sumber keteladanan kedua setelah orang tua dirumah.
Strategi efektif lain yang paling memungkinkan untuk menanamkan kesadaran dan kepedulian terhadap sampah kepada generasi mendatang adalah dengan memasukkan materi persampahan secara lengkap ke dalam kurikulum bahan ajar di sekolah baik formal maupun non formal, kalu memungkinkan dari level terendah (PAUD) sampai level tertinggi (Univesitas). Level terendah harus di masuki karena alam bawah sadar anak-anak umumnya mempunyai kekuatan merekam berbagai influence yang ada disektarnya dengan kuat sehingga keteladanan-keteladanan positif yang berkaitan dengan sampah termasuk materi teoritisnya akan terus terpatri dalam alam bawah sadar mereka sampai dewasa. Harapannya, dengan menanamkan kesadaran dan kepedulian terhadap sampah dari kecil akan membentuk karakter kapribadian yang kuat sampai dewasa. Disini Kementerian PR PU bisa bersinergi dengan kementerian Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah

II. SISTEM/MEKANISME KELEMBAGAAN
Untuk menyelesaikan masalah sampah di Indonesia, selain harus membenahi mental, pola pikir dan sikap manusia-nya. Sepertinya pemerintah juga perlu membentuk sistem/mekanisme kelembagaan secara formal yang secara khusus mengurusi sampah. Fungsi dan tugas kelembagaan ini adalah melakukan proses manajerial pengendalian dan pengelolaan sampah dari hulu sampai hilir, termasuk didalamnya akses perencanaan, pendanaan, upaya sosialisasi program, kegiatan kampanye, edukasi masyarakat, pengembangan usaha produksi, dsb. Agar tidak tumpang tindih dengan suku kedinasan serupa di daerah maka pemimpin daerah punya kewenangan untuk mengatur pola kerjasama sinergis diantara keduanya.
Kelembagaan ini diperlukan agar bisa bekerja mengurus sampah dengan fokus dan simultan dengan penanggung jawab dan pertanggungjawaban yang jelas pula sehingga permasalahan sampah di Indonesia bisa diselesaikan secara komprehensif dengan proses sistemik dan menghasilkan output maksimal untuk kesejahteraan masyarakat. Ingat! Jika sampah diurus dengan benar akan memberikan dampak ikutan yang mencengangkan, selain potensi kelestarian lingkungan, sampah juga mempunyai potensi ekonomi yang menggiurkan.

Kelembagaan formal yang diperlukan bisa berbentuk badan atau komisi atau bisa juga semacam gugus tugas dengan struktur kelembagaan dari tingkat pusat sampai lingkup daerah terkecil, RT. Kalau tidak mau repot dan mengeluarkan biaya lebih, idealnya pemerintah bisa menunjuk jaringan pemerintahan dalam negeri yang sudah ada, dimana di level propinsi berarti Gubernur yang bertanggung jawab begitu terus sampai tingkat RT. Kelembagaan ini nantinya juga berfungsi sebagai penghubung antara pemerintah dengan masyarakat, menyangkut masalah persampahan berikut atribut trunannya.

Sebagai referensi, mungkin kita bisa belajar dari Kota Curitiba, Siapa sangka kota yang sekarang mempunyai julukan mentereng "the most Innovative City In The World"  ini, dua dasawarsa sebelumnya adalah kota langganan bajir, macet dan termasuk kota terkotor dan terkumuh di Brazil. Perubahan revolusioner diawali dengan tekad dan keinginan kuat pemerintahan setempat untuk berubah. Dengan modal political will dan pemerintahan yang kuat, pemerintah berhasil mendorong masyarakat untuk  bertransformasi dengan ikut bergerak secara aktif mengelola lingkungan. Pemerintah melalui gugus tugas yang dibentuk menyusun perencanan yang sangat fundamentalis untuk ruang tata kota, pengelolaan sampah, pendidikan warga, pengendalian banjir,lalu lintas sampai teknis produksi oksigen dan resapan air juga diperhatikan dan diperhitungkan secara serius keberlangsungannya. Hebatnya, semua perencanaan dengan motto "Design by Nature" tersebut didasarkan pada keseimbangan alam dan lingkungan, sesuatuyang belum pernah kita temukan di Indonesia.

III. TEKNOLOGI
Berbicara teknologi tentu tidak akan lepas dari inovasi. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Baltbang PUPR) merupakan badan yang diberi amanah oleh pemerintah untuk menciptakan produk-produk berdayaguna tinggi, optimal dan berkelanjutan dengan berpedoman pada 4 (empat) konsep dasar sebuah produk inovatif, yaitu relevan (sesuai dengan kebutuhan dan keperluan), aplikatif (bisa diterapkan dan dimanfaatkan secara riil), inovatif (bisa dikembangkan) dan kompetitif (bisa bersaing di pasar). Penanganan masalah sampah merupakan salah satu obyek permasalahan yang menjadi tugas dan perhatian balitbang PUPR. Berbagai upaya untuk menciptakan produk-produk inovatif yang bisa memberi solusi bagi permasalahan sampah terus dilakukan oleh balitbang PUPR sampai saat ini.
Beberapa diantaranya yang telah dilepas dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat adalah teknologi inovatif Biofill, yaitu teknologi terapan tepatguna untuk mengolah tinja/kotoran manusia agar tidak mencemari alam dan lingkungan.



Biofil merupakan septictank ramah lingkungan yang bisa mengolah limbah kotoran manusia menjadi cairan yang lebih bersahabat dengan alam, bahkan cairan hasil proses Biofil bisa langsung dialirkan ke kolam ikan dan bisa juga dipakai untuk menyiram tanaman di kebun atau di taman.
Selain itu balitbang PUPR juga menciptakan Komposter, yaitu teknologi terapan tepaguna untuk mengubah sampah organik menjadi kompos yang bernilai ekonomi tinggi.

 

Komposter merupakan inovasi produk pengurai sampah organik unggulan Balitbang PUPR yang paling aplikatif  untuk diterapkan secara massal di masyarakat. Selain logika teknologi yang sebenarnya sederhana, bahan yang dibutuhkan untuk produksi unit komposter juga terbilang sangat mudah untuk didapatkan dipasaran, seperti tong bekas, paralon beserta perangkat tambahan seperti lem paralon. kemudian semua bhan dirangkai seperti gambar diatas terus ditanam dalam tanah. Cara kerja Komposter juga sangat sederhana,  semua sampah organik yang ada disekitar kita seperti daun-daunan, sisa makanan, nasi, sayuran, ikan semuanya bisa diproses, dengan cara dimasukkan dalam tong instalasi yang telah dibenamkan dalam tanah dengan rentang waktu tertentu, tergantung pada volume sampah organik yang diproses. Bahan-bahan sampah organik tersebut nantinya akan mengalami pembusukan oleh mikroorganisme yang terdapat dalam sampah dan didalam tanah. Proses ini nantinya akan menghasilkan lindi (pupuk cair) dengan komposisi C/N ratio : 16-20, Ca 23-27, N 1,79. Lindi selain bisa dipakai sendiri untuk memupuk tanaman juga mempunyai nilai ekonomis, karena bisa dijual.

Selain produk-produk diatas, sebenarnya Balitbang PUPR masih mempunyai banyak produk inovatif yang bisa diterapkan secara tepatguna di berbagai bidang keperluan masyarakat, tapi sayang karena kurangnya publikasi dan komunikasi dengan masyarakat menyebabkan berbagai produk inovatif dan aplikatif karya anak bangsa tersebut sama sekali tidak dikenal oleh masyarakat. Kalau situasi ini dibiarkan terus maka karya inovatif kelas dunia tersebut akan menjadi mubazir dan tidak bermanfaat. Pemerintah melalui kementerian PUPR ahrus segera membenahi situasi ini. Komunikasi yang efektif dengan masyarakat harus segera dilakukan sehingga bisa sama-sama saling sharing untuk mendapatkan format take & give yang berimbang dan memberi manfaat secara maksimal. Sehingga permasalahan sampah dan lainnya bisa segera teratasi secara tuntas.

Permasalahan sampah di Indonesia memang harus diselesaikan dengan tuntas. Sinergi dan komunikasi efektif semua pihak yang berkepentingan terutama pemerintah dengan rakyatnya harus lebih diintensifkan.  Tidak ada masalah tanpa solusi! Dengan mengimplementasikan langkah-langkah yang telah dipaparkan diatas, yaitu membenahi dan memberdayakan dengan benar dan maksimal Mental Manusia-nya (Pemerintah dan rakyat/masyarakat), Teknologi dan Sistem/Mekanisme Kelembagaan  secara konsisten, Insha Allah permasalahan sampah di Indonesia akan teratasi.

Minggu, 29 November 2015

Oleh-oleh dari Bali (HHD 2015) #2 : … Udeng, Sanggul dan Kopiah Pak Haji di Jalanan Kota Denpasar.

Setelah rangkaian acara seremonial malam puncak  Hari Habitat Dunia 2015 (HHD 2015)  di Wisma Werdhapura, Sanur selesai, saya langsung bergegas menuju kamar tempat saya dan dua rekan kompasianer  Ali Muakhir dan Martino menginap. Tempat menginap kami masih satu lokasi dengan tempat acara berlangsung yaitu di Wisma Werdhapura. Mungkin karena sudah kelelahan setelah melakukan penerbangan masing-masing dari CGK dan BDG, dua sahabat saya Ali Muakhir dan Martino sepertinya langsung go to bed. 




Meskipun saya sebenarnya juga merasa lelah dan penat setelah hampir 7 jam melakukan “perjalanan” udara  BDJ-DPS, dan sempat transit di JOG hampir 4 jam. Setelah mandi (maaf, burung besi milik Garuda yang membawa saya terbang BDJ-DPS baru turun saat acara sudah dimulai, jadi sepanjang perjalanan dari bandara sampai tempat acara selama kurang lebih 45 menit handphone saya terus berdering. Panitia seperti panik karena keterlambatan saya. Begitu sampai di tempat acara, ternyata saya sudah ditunggu oleh 2 orang ibu-ibu dari Kemen PUPR di depan lobby dan oleh mereka saya langsung diminta untuk ganti “kostum”, pakai batik tanpa mandi dan bersih-bersih dulu. Kebayang deh….rasa dan baunya badan saat itu….ha…ha…ha….! Alasanya, acara inti untuk kami,  “penyerahan hadiah”  Blog Competition sebentar lagi dimulai) dan membereskan pernak-pernik hadiah yang baru saja di berikan panitia, tiba-tiba…

“…..Toook…took …took!” Ada bunyi ketokan di pintu kamar saya. Ternyata sahabat saya yang sejak lulus kuliah sekitar 15 tahun lalu tidak pernah bersua, sekarang berdiri di depan pintu dengan pakaian layaknya seorang ustad dengan kopiah haji berwarna putih menutupi kepala. Dia Ustad Imam Tumaji! Sahabat lama yang sekarang sudah menetap di Kota Denpasar, rumahnya kira-kira 15 menit perjalanan dari tempat saya menginap di Wisma Werdhapura. Kami memang sudah janjian untuk bertemu. Setelah berbincang sejenak untuk melepas rindu karena sekian lama nggak ketemu, Ustad Imam Tumaji menawari saya untuk jalan-jalan keliling Kota Denpasar dengan mengendarai sepeda motor, “rasakan sensasi malam di Denpasar” katanya. Tanpa pikir panjang tawaran menikmati sensasi malam di Kota Denpasar langsung saya iyakan. Disinilah cerita dimulai…..

Ada yang sedikit janggal, ada yang kurang  dalam perjalanan itu! Ketika Ustad Imam Tumaji mempersilakan saya untuk naik ke boncengan sepeda motornya, saya menanyakan helm untuk saya. Maklum, sudah menjadi kebiasaan saya di Banjarmasin, untuk mengendarai sepeda motor di jalan raya harus memakai perlengkapan standart yaitu helm standart yang sudah ber-SNI. Jawaban mengejutkan datang dari Ustad Imam Tumaji,  ternyata dia memang hanya membawa 1 helm saja. Tentu saya terbengong-bengong dibuatnya. Dalam hati saya bertanya-tanya….Mau ngajak jalan-jalan berkeliling Kota Denpasar kok Cuma membawa 1 helm saja.



“ Jangan kuatir, pakai kopiah haji saya saja!” jawabnya. Saya semakin bingung.
“Kok pakai kopiah haji? Memang di Kota Denpasar tidak ada Polisi yang berjaga pada malam hari? Pikir saya  dalam hati.
Menurut Ustad Imam Tumaji, Di Bali berbeda dengan daerah di Indonesia lainnya! Disini ada semacam aturan tidak tertulis menyangkut masalah pemakaian helm di jalan raya. Bagi semua warga Bali, apapun agamanya selama yang bersangkutan memakai atribut di kepala untuk kepentingan ibadah (Hindu ; Udeng untuk laki-laki, Sanggul untuk wanita, Islam ; Kopiah haji  untuk laki-laki, Jilbab untuk perempuan.), maka tidak diwajibkan untuk memakai helm ketika berkendara roda 2 di jalan raya.

“Wooooow, ini bentuk dari kebijakan yang tidak biasa menurut saya, ini memang hanya ada di Bali! sebuah bentuk penghormatan terhadap “local genius” (meminjam istilah Ketua Komisi I DPRD Bali, Ketut Tama Tenaya) Bali. Jika merujuk pada istilah “local genius”, sepertinya dispensasi tidak wajib pakai helm bagi pengendara roda 2 di jalan raya di Bali awalnya diberikan kepada umat Hindu  saja, sebagai identitas religi dan budaya asli masyarakat Bali, tapi dalam perkembangannya seperti ada pelebaran ruang dispensasi tidak wajib helm ini. Umat Islam (Bali) yang kebetulan salah satu simbol atribut identiasnya juga berada di kepala (Kopiah Haji untuk laki-laki dan jilbab untuk perempuan,) akhirnya ikut “menikmati” dispensasi ini.

Dengan perasaan sedikit ragu, akhirnya saya ikuti saran Ustad Imam Tumaji untuk memakai kopiah hajinya dan akhirnya malam itu kami memang benar-benar berkeliling Kota Denpasar dengan hanya memakai 1 helm yang dipakai Ustad Imam Tumaji yang nyetir didepan sedang saya yang di belakang hanya pakai kopiah haji saja.

Jujur. Sepanjang perjalanan yang kami lalui malam itu sebenarnya terbersit rasa ragu dan cemas dalam hati saya. Apalagi kalau harus melewati titik persimpangan (perempatan, pertigaan) yang dijaga polisi atau ada pos polisinya degub jantung saya akan semakin kencang…..ada sensasi ganjil disana! Mungkin karena di Kota Banjarmasin saya tidak terbiasa (mungkin lebih tepatnya “tidak mungkin”) dengan apa yang kami lakukan seperti malam ini, keliling Kota tanpa atribut lengkap. Karena kalau ini saya lakukan di Banjarmasin pasti akan menimbulkan masalah besar (duit tilangnya…he…he…he….)

Tapi memang benar kata Ustad Imam Tumaji! Mungkin karena belum terbiasa saja, nanti lama-lama terbiasa kok! Haaaah terbiasa….? Waduuuuuh.

Setelah tikungan demi tikungan, pos polisi demi pos polisi dan polisi demi polisi kami lalui, berangsur-angsur rasa cemas dan canggung saya mulai menghilang. Tatapan bapak-bapak polisi yang sedang berdinas jaga di jalanan yang awalnya terasa tajam kearah saya, lama-kelamaan terasa lebih bersahabat dan akhirnya sayapun benar-benar bisa menikmati sensasi eksotisnya berkeliling Kota Denpasar di malam hari yang sebenarnya!  Mau coba?

Setelah puas berkeliling dan (sempat tiga kali singgah di area kuliner) menikmati malam di Kota Denpasar, akhirnya sekitar jam 01.30 WITA dinihari kami memutuskan untuk kembali ke Wisma Werdhapura di Sanur, tempat saya menginap dan kami sepakat untuk melanjutkan sensasi petualangan (pakai kopiah haji) besok pagi. Hmmmmm sensasi apalagi yang nanti didapat  ya……?

Pagi akhirnya datang juga! Setelah Sholat Subuh saya turun ke pantai yang letaknya  di belakang hotel. Tujuannya jelas, nungguin sunset di pantai Sanur sambil rebahan di gazebo yang sering dipakai syuting FTV atau sinetron-sinetron di TV kita. Tidak lama sang mentari benar-benar memberikan fragmentasi alam yang luar biasa indahnya. Sayang seribu sayang! Fragmentasi alam yang menjadi salah satu andalan wisata di Bali itu tidak sempat terekam baik dalam bentuk foto maupun video karena kamera dan HP sedang lowbatt, lupa untuk nge-charge.   



Setelah beberapa saat menikmati indahnya awal perjalanan sang mentari untuk menerangi bumi pagi ini, saya dan dua sahabat kompasianer,  Ali Muakhir dan Martino akhirnya meneruskan langkah menuju tempat sarapan yang letaknya di bibir pantai Sanur. Kira-kira kebayang nggak gimana indahnya suasana saat itu?....Hmmmm pokoknya keren dah….

Pagi itu kami sarapan dengan menu masakan Indonesia dan satu menu khas Bali, sate lilit. Ditengah-tengah cengkerama sarapan pagi, tiba-tiba datang Ustad Imam Tumaji dengan seyuman khasnya yang masih seperti dulu saat masih kuliah, selalu sanggup membuat siapapun “terhipnotis” untuk lebih bersemangat menjalani hidup. Obrolan pagi saat sarapan itu semakin seru ketika Bapak Edward Abdurahman dari Kemen PUPERA ikut bergabung dan menceritakan berbagai pengalaman serunya keliling ke berbagai Negara untuk mengikuti workshop tentang tata kelola lingkungan. Tidak terasa waktu belalu begitu cepat, kami baru tersadar ketika Martino minta ijin pamit mau berkemas, soalnya jam 09.30 harus terbang balik ke CGK.



Setelah bersama-sama mengurus “berbagai” administrasi dengan pihak panitia dari Kemen PUPERA, kami bertiga berpisah Martino berkemas dan langsung meluncur ke Bandara DPS, Ali Muakhir siap-siap berkemas dan saya  juga langsung check out dari Wisma Werdhapura. Bersama Ustad Imam Tumaji kami akan meneruskan petualangan kami yang  belum selesai. 



Waktu di Jam tangan saya menunjukan pukul 10.15 WITA dan saya harus terbang balik  DPS-BDJ transit SUB jam 12.50 WITA. Artinya ada space waktu sekitar 1,5 jam saja untuk menjelajah Kota Denpasar , karena 1 jam sebelum take off saya harus sudah boarding. Waduuuuuuh mepet bangeeeeet!
“Let’s go!” Kata Ustad Imam Tumaji.

Lagi-lagi saya disuruh pakai kopiah haji yang tadi malam diikhlaskan sebagai kenang-kenagan buat saya. Dengan tas ransel yang telah penuh di punggung, Ustad Imam Tumaji langsung tancap gas……Tujuan kami adalah mencari buah tangan khas Bali untuk keluarga dirumah. Liku-liku jalanan Kota Denpasar yang kami lalui tidak satupun yang saya ingat saking kencangnya Ustad Tumaji membawa sepeda motor, karenanya perasaan was-was kembali muncul dalam hati saya. Selain hanya memakai kopiah haji saja tanpa helm, tentu penampilan saya bukanlah sesuatu yang umum bagi masyarakat setempat,  ditambah lagi kendaraan yang melaju kencang sering menjadi perhatian sesama pengendara dan polisi yang berjaga di beberapa titik yang kami lalui.

Tepat di ruas jalan Tukat Bilah (nama jalan ini saja yang saya ingat, karena sempat membaca namanya di beberapa lokasi) tiba-tiba Ustad Imam Tumaji mengurangi kecepatan secara drastic. Ternyata di depan banyak pecalang tengah berjaga, sedangkan sebagian lainnya mengatur lalulintas. Ternyata di ruas jalan Tukat Bilah itu sedang ada iring-iringan masyarakat yang sedang mempersiapkan upacara ngaben. Dengan pelan kami menyusuri sepanjang iring-iringan warga yang tengah mempersiapkan upacara ngaben yang panjangnya hampir 500 meter tersebut, setelah itu kami melaju dengan kecepatan normal kembali alias ngebuuuuut!



Akhirnya kami sampai di tujuan kami yang pertama, yaitu di pusat oleh-oleh Bali Erlangga 2 di Jl. Nusa Kambangan 160 A Denpasar. Banyaknya item produk oleh-oleh yang disediakan dari kaos, kain, snack, dan berbagai pernak-pernik khas Bali membuat kami tertahan agak lama disini. Sampai ustad Imam Tumaji mengingatkan saya. “Durasiiiiiiii…..! Setelah foto-foto sejenak, kami langsung melanjutkan ptualangan dengan si kopiah haji menuju ke oleh-oleh khas Bali Krisna yang letaknya tidak jauh dari  Erlangga 2 di Jl. Nusa Kambangan.  Setelah mengobrak-abrik semua koleksi kaos yang saya cari kami langsung cabut dan meneruskan petualangan menuju destyinasi oleh-oleh yang paling di cari oleh wisatawan di Bali, pabrik kata-kata JOGER di jalan raya Kuta. Perjalanan dari outlet Krisna menuju JOGER inilah yang paling mengangkan bagi saya. Selain melewati banyak pos polisi, padatnya lalu lintas kota menuju Kuta membuat perjalanan bersama si kopiah haji agak tersendat dan satu lagi, kami dibatasi durasi yang semakin mepet! Benar saja dugaan kami, karena sekarang hari sabtu berarti saatnya  weekend,  JOGER pasti penuh sesak. Setelah memilih dan memilah oleh-oleh sambil berlari nabrak sana-sini, saya langsung menuju kasir dan……antrinya masih 15 orang lagi! Saya melirik jam tangan saya. Sekarang jam 11.50 artinya tepat 1 jam lagi pesawat Lion yang membawa saya pulang ke BDJ akan terbang. Syukurnya, Ustad Imam Tumaji bilang. Durasi masih cukup kalau antrian ludes dalam waktu 10-15 menit! Sambil terus menunggu antrian di kasir, saya terus memantau perjalanan putran jarum jam di tangan saya. Alhamdulillah, tet…jam 12.05 kami sudah keluar dari rumah pabrik kata-kata JOGER dan harus kembali menyusuri jalanan menuju bandara DPS, sekali lagi dengan si kopiah haji! Dengan kecepatan layaknya pembalap motoGP, USTAD Imam Tumaji memacu si kuda besi dengan meliuk-liuk di sela-sela padatnya ruas jalanan menuju bandara DPS dan akhirnya tepat pukul 12.20 kami sampai di tempat parker sepeda motor bandara DPS. Tapi, nyali saya kembali ciut ketika mengetahui jarak antara tempat parkir sepeda motor ini dengan area boarding bandara masih harus jalan kaki sejauh sekitar 1km lagi, apalagi kami membawa barang bawaan yang tidak sedikit. Dengan setengah berlari sambil terengah-engah akhirnya sampai juga kami di ruang keberangkatan bandara DPS. Setelah mengucapkan salam perpisahan, Akhirnya saya tinggalkan Ustad Imam Tumaji yang telah membawa saya mengenali sedikit keunikan Bali yang begitu luar biasa berkesan. Betapa terkejut dan leganya saya, ternyata pesawat yang membawa saya pulang ke BDJ ternyata di ­delay……(delay kok seneng ya……..?!Ha…ha…ha…..)

Jumat, 06 November 2015

the chronicle of "BLOG JUARA" by kaekaha

Ini dia galery sang juara....




1.  6 Oleh-oleh khas di "Kota Seribu Sungai" Kalimantan Selatan (Liputan 6.com)

    

   Link pengumuman juara klik disini

  


2. Indonesia "Mutu Manikam" di Antara 2 Samudera dan Benua



Link pengumuman juara klik disini








Link pengumuman juara klik disini




Inilah hadiah dari Liputan6.com  bagi pemenang setiap periode : 















Link pengumuman juara klik disini




Inilah hadiah dari Kompasiana dan Kementerian PU-PERA :


Piagam & plakat Penghargaan


Karya Blogger Kompasiana juara di Pameran HHD 2015
Wisma Werdhapura, Sanur, Bali


Uang Tunai, trip ke Bali+akomodasi+uang saku





Video Penyerahan hadiah Juara BLOG HHD 2015







Link pengumuman pemenang klik disini 




Ini dia hadiah dari Smartfren 


Alhamdulillah!  
Terima kasih Ya Allah..... 
Semoga membawa berkah dunia akhirat 
dan..... 
Tambah semangat untuk terus berkarya melalui tulisan
...keep writing!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kompasiana/inilah-16-pemenang-traveling-bersama-smartfren-4g-lte-advanced_564c6c744723bdf106261640
Yuk, Pindahkan Kantor di Saku Celana!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kaekaha.4277/yuk-pindahkan-kantor-di-saku-celana_5610067d349373f70b03c0f4

Senin, 02 November 2015

Oleh-oleh dari Bali (HHD 2015) #1 : Melihat Pameran Karya Bloger "Terpilih" Kompasiana-HHD 2015



Trip ke Bali sekaligus menghadiri undangan dari Kementerian PU-PERA dalam acara Malam Puncak Peringatan Hari Habitat Dunia (HHD) 2015 beberapa hari yang lalu, benar-benar memberikan wawasan yang baru. Ternyata Indonesia mempunyai satu program (wacana) untuk mengantispasi dinamika masyarakat urban berkaitan dengan isu-isu lingkungan perkotaan yang tiap tahunnya berubah mengikuti pola isu lingkungan dan masyarakat urban perkotaan dunia.





Jujur! Sebelum membaca pamflet , mural, spanduk dan baliho informasi kegiatan di sekitar lokasi acara (seremonial) yang dipusatkan di Wisma Werdhapura, Sanur, Bali sebenarnya saya masih belum ngeh dengan istilah Hari Habitat Dunia. Apa esensi dan manfaat riil dari Hari Habitat Dunia untuk masyarakat ? Istilah Hari Habitat Dunia masih terlalu asing bagi saya, entah saya yang kurang wawasan dan informasi atau memang pemerintah melalui Kementerian PU-PERA sebagai pelaksana kerja di Indonesia yang tidak pernah melakukan sosialsasi kepada masyarakat dengan benar? Menurut anda?



Saya mengenal istilah Hari Habitat Dunia ....ya baru kemarin! Waktu Kompasiana mengadakan event blogcontest bekerjasama dengan Kementerian PU-PERA. Kebetulan tema blogcontest yang dilombakan masih tergolong umum dan kebetulan masuk dalam ranah sosial, seni dan budaya, tema yang selama ini paling banyak menjadi obyek tulisan saya, Public Space For All atau Ruang Publik Untuk Semua.




Kegagapan dan keheranan saya semakin jadi ketika mulai memasuki gerbang pintu masuk Wisma Werdhatama, dimana dinding sisi sebelah kanan sepanjang kurang lebih 100 meter dihiasi mural bergambar berbagai tema  Hari Habitat Dunia mulai tahun 2007! Haaaah, sejak tahun 2007 ternyata Indonesia sudah ikut memperingati Hari Habitat Dunia? ...kok tidak pernah terdengar gaungnya ya...? Apalagi manfaatnya untuk masyarakat? Jangan-jangan.......! Ah sudahlah, bukan itu yang ingin saya bahas disini.



Ini dia, detail tema Hari Habitat Dunia dari tahun 2007 sampai 2014, yang tepajang dalam mural di sisi sebelah kiri pintu keluar Wisma Werdhapura.







Kalau dilihat, tema-tema Hari Habitat Dunia semuanya memberi angin segar bagi lingkungan hidup kita. Coba lihat dari 2007 A Save City Is A Just City, 2008 Harmonious Cities, 2009 Planning Our Urban Future, 2010 Better Ciyty Better Life, 2011 Cities And Climate Change, 2012 Canges Cities Building Opportunities. 2013 Urban Mobility dan 2014 Voices From Slums. Kalau untuk tahun 2015 sudah pada tahukan....!?

Dari area pameran yang diisi oleh stand dari beberapa Kota di Indonesia (sayang tidak semua Kota di Indonesia, terutama kota besar hadir mengisi stand yang disediakan), banyak potret masyarakat urban yang menarik untuk disimak dan dijadikan bahan kajian sekaligus inspirasi bagi pemberdayaan masyarakat urban secara tepatguna sesuai sosiokultur kota atau daerahnya masing-masing oleh semua pihak yang berkepentingan, terutama pemerintah.
Memang menarik menyimak potret dinamika masyarakat urban perkotaan dari berbagai kota atau daerah di Indonesia. Masing-masing mempunyai skala dan titik problematika yang berbeda-beda satu sama lain, masing-masing mempunyai identitas ke-khasan yang sangat kuat (dipengaruhi oleh sosiokultur masing-masing daerah). walaupun secara umum mempunyai benang merah yang sama.

Seperti yang kita ketahui bersama, untuk memperingati Hari Habitat Dunia 2015, Kementerian PU-PERA sebagai pelaksana tugas di Indonesia, menggandeng Kompasiana untuk menyelenggarakan blogcompetition dengan tema persis dengan tema Hari Habitat Dunia 2015, Public Space For All atau Ruang Publik Untuk Semua dan yang menarik, ternyata 10 (sepuluh) karya blogger Kompasiana yang terpilih juga dipamerkan oleh pihak panitia, berdampingan dengan potret-potret masyarakat urban perkotaan dengan tema yang sama. Karya tulisan blogger Kompasiana yang terpilih diambil intisarinya dan dikemas dalam bentuk feature pendek yang dicetak pada bahan seperti plastik yang tahan air (tidak memerlukan kaca/mika untu pelindung) dan dipigura dengan ukuran sekitar 60x40cm. Cantik dan elegan! Ada tambahan perasaan bangga bila memandangnya..... (penampakannya bisa dilihat di bawah!). 

Foto-foto (maaf kualitasnya seadanya!) ringkasan blog hasil karya blogger Kompasiana yang dipajang dan dipamerkan di ajang Puncak Peringatan Hari Habitat Dunia 2015 di Bali ini, saya dedikasikan untuk diri saya pribadi dan semua rekan Kompasianer  terutama pemilik karya tulisan yang tidak sempat hadir di Bali. Harapannya! Semoga menjadi inspirasi positif dan bisa memompa semangat kita untuk terus belajar dan berkreatifitas dalam tulisan yang lebih baik dan bisa memberi manfaat untuk semua orang.  


Casmudi

 
Febri Dwi Yanto

Asri Wijayanti

 
Hendra Wardhana

Muh Ivan Azhari

 
Empi Muslion

Ali Muakhir

Martino


Semoga bermanfaat! See you...........!!!


Salam sukses buat sahabatku Ali Muakhir dan Martino!
Kapanlagi kita sarapan bareng, sambil nungguin sunrise di Pantai Sanur?



video pengumuman juara dan penyerahan hadiah
(maaf videonya juga seadanya!...he...he...he...)