Tampilkan postingan dengan label figur inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label figur inspiratif. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Februari 2016

Djulak Larau, Perawat Seni Tradisi dan Budaya Banjar


 "Djulak Larau" aka Drs. Mukhlis Maman (Gambar : facebook Mukhlis Maman)

Awal perjumpaan saya dengan “Djulak Larau” nama panggung dari budayawan  dan seniman Banjar yang dikenal serba bisa Drs Mukhlis Maman, sekitar pertengahan tahun 2000-an. Diawali ketika kami sama-sama mengisi beberapa program acara budaya di Radio NIRWANA FM, Banjarmasin, yaitu jaringan radio swasta terbesar di di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Di Radio dengan tagline “Radionya Urang Banjar” yang saat itu begitu getol menampilkan tema budaya dalam berbagai programnya itu, beliau dengan beberapa rekan main di acara budaya “Warung Bubuhan” yang secara reguler ditayangkan TVRI Kalimantan Selatan sampai sekarang, seperti Bang Irwan, Bang Ariel dan Bang Sukur secara reguler membawakan tema acara budaya Banjar dengan konsep semi dialog dalam acara surung sintak dan Lanting Kai, sedangkan saya saat itu mengisi acara dengan latar belakang tema  budaya Jawa dengan konsep yang kurang lebih sama dalam acara Tombo Kangen. Khusus pada hari Minggu, dalam acara Dialog Budaya yang berkonsep dialog interaktif dengan pendengar, beberapa kali kami sempat berpasangan untuk mengisi acara yang lebih banyak mengungkap dan mengangkat tema kekayaan, keberagaman dan keunikan budaya dari hasil akulturasi budaya masyarakat di seputar Kota Banjarmasin dan Kalimantan Selatan yang secara riil memang sangat heterogen alias multi etnis. Dari beberapa kali bertemu dan berdiskusi baik on air maupun off air saya baru menyadari bagaimana pola dan cara kerja dedikasi sidin (beliau ; Bhs Banjar) terhadap seni dan budaya Banjar yang sangat luar biasa.

 Warung Bubuhan TVRI Kalimantan Selatan (Gambar : facebook Mukhlis Maman)




Ada satu pernyataan sidin saat kami membawakan salah satu acara dialog budaya, secara live atau on air di Radio NIRWANA yang sampai sekarang masih saya ingat diluar kepala. Pernyataan yang saya terjemahkan sebagai konsep berkesenian sidin ini, begitu menginspirasi pendengar dan gerak langkah serta pola pikir saya dalam menjalani kehidupan, "berkesenian itu jangan asal mengikuti arus, kita harus punya ciri (tredemark) sendiri agar karya kita lebih mudah dikenali orang dan tidak membosankan, sehingga akan awet dan abadi. Contoh : Kalau kebanyakan pencipta lagu Banjar lebih banyak mencipta lagu Banjar dengan tema sungai, karena Banjarmasin dan Kalimantan Selatan identik dengan sungai dan budaya sungai, tapi kalau aku tidak! Aku lebih suka membuat lagu Banjar dengan tema gunung, bukit atau sawah yang hijau. Mungkin sedikit tidak lazim, tapi jangan salah obyek itu juga ada di Kalimantan Selatan! Jadi tidak melenceng dari fakta tentang Kalimantan Selatan sendiri"

"Djulak Larau” yang juga Pamong Budaya Madya ini dikenal sebagai budayawan Banjar sekaligus seniman multitalent. Dalam aktifitas berkesenian, beliau dikenal sebagai penyair, koreografer, sutradara, komedian, musisi, pencipta lagu dan banyak lagi yang lainnya. Selain sebagai pelaku seni, sidin  juga tercatat sebagai salah satu penulis dokumentasi seni dan budaya Banjar yang cukup produktif. Beberapa buku karya sidin yang kesemuanya mengangkat tema budaya Banjar, seperti Wayang Gung kalimantan Selatan (2012), Gamelan Banjar Kalimantan Selatan (2007) dan Topeng Banjar di Barikin (2012) sampai sekarang masih menjadi rujukan bagi semua pihak yang ingin mempelajari eksotisnya seluk beluk berbagai seni dan tradisi Banjar.


 "Djulak Larau" dan rekan-rekan (Gambar : facebook Mukhlis Maman)


Era globalisasi menghadirkan revolusi teknologi, khususnya teknologi informasi dengan berbagai produk turunannya yang telah berhasil melipat dimensi ruang dan waktu menjadi semakin linier tanpa sekat dan batas, menyebabkan munculnya era dunia baru yang ditandai dengan mulai bergesernya tata budaya masyarakat dunia, khususnya negara-negara berkembang seperti Indonesia. Derasnya arus informasi global tidak hanya menambah wawasan dan pengetahuan secara umum, tapi juga mulai merubah pola pikir, sikap,  perilaku, gaya hidup dan etika sosial yang secara perlahan tapi pasti juga akan merubah tata nilai dan tata laku budaya masyarakat. Banyaknya asset seni dan budaya bangsa dari berbagai suku di Indonesia yang mulai punah, ditengarai sebagai salah satu bukti riilnya. Di Kalimantan Selatan sendiri, kesenian tari, teater rakyat dan sastra tutur yang dulu pernah merajai panggung hiburan rakyat seperti tari baksa kambang, japin, dammar ulan, wayang gong, wayang kulit banjar, mamanda, mamanda tubau, bapandung, balamut dan madihin sekarang sudah sangat jarang bahkan tidak ada yang memainkannya. Bisa jadi orang Banjar generasi sekarang justeru asing mendengar nama-namanya.

Kehadiran sosok-sosok dedikatif seperti “Djulak Larau” dan kawan-kawan dalam lingkungan masyarakat yang sedang mengalami euphoria transisi budaya yang sekarang sedang membius sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk Kalimantan Selatan akibat serbuan aneka budaya pop yang terlihat lebih renyah, simple  dan menggoda merupakan hembusan angin segar sekaligus setetes harapan bagi eksistensi  seni budaya khas daerah Kalimantan Selatan.

  Alat musik Unggut (Gambar : facebook Mukhlis Maman)

Berbagai usaha dan upaya pelestarian seni budaya khas suku Banjar telah dilakukan oleh seniman serba bisa yang juga jagau (jago : Bhs.Banjar) dalam bermain catur ini. Bersama-sama dengan rekan-rekan seperjuangan di markas “Taman Budaya Kalimantan Selatan’, yang sudah dianggap sebagai rumah kedua bagi sidin lahir ide-ide kreatif dan konsep “format” menuju titik ideal untuk melestarikan dan merawat seni tradisi dan budaya Banjar.  Salah satunya adalah melalui karya tulisan dokumenter tentang seni dan budaya. Karya tulisan sidin tidak hanya dalam bentuk buku seperti tersebut diatas, tapi juga dalam bentuk artikel yang tersebar di berbagai media baik cetak maupun online. Selain itu, sidin juga aktif menjadi pengisi acara bertema budaya di TVRI Kalimantan Selatan, baik yang berkonsep drama seperti dalam acara “warung bubuhan” maupun dialog interaktif.

  "Djulak Larau" memainkan "tartar" (Gambar : facebook Mukhlis Maman)

Di luar itu, sidin juga sering berbagi pengetahuan dan pemahaman tentang budaya Banjar dengan menjadi pembicara dalam berbagai seminar dan sarasehan budaya baik tingkat lokal maupun nasional, menjadi koreografer sekaligus pengajar tari di beberapa sanggar seni Banjar. Khusus untuk yang satu ini sidin juga masih sering turun untuk melakukan pentas seni baik di tingkat lokal maupun nasional   dan yang paling menarik adalah upaya sidin untuk melestarikan beberapa alat musik tradisional Kalimantan Selatan yang sudah lama terkubur dan terlindas jaman seperti  kuriding. Melalui tangan dingin sidin alat musik khas Indonesia yang di Kalimantan Selatan telah lama hilang dan tenggelam oleh waktu itu, sekarang mulai mewabah lagi di kalangan anak muda Banjarmasin. Begitu juga dengan alat musik unggut, alat musik khas pedalaman Kalimantan Selatan yang mirip dengan panting ini kembali diperkenalkan sidin kepada masyarakat Kalimantan Selatan dan yang paling baru, sidin kembali berimprovisasi dengan menciptakan alat musik baru kombinasi antara gitar dan tarbang (terbang/rebana ; bhs. Banjar) yang dinamai sidin  “tartar” alias singkatan dari gitar dan tarbang.

Seorang Djulak Larau alias Drs Mukhlis Maman dan semua rekan yang aktif menggerakkan seni tradisi dan buadaya Banjar di Taman Budaya Kalimantan Selatan tentu tidak bisa sendirian berjuang mempertahankan eksistensi seni tradisi dan budaya Banjar. Peran sidin dan rekan-rekan sebagai katalisator pelestarian seni tradisi dan budaya Banjar harus mendapat support dari semua elemen masyarakat Banjar. Apalagi kalau melihat banyaknya seni tradisi dan budaya Banjar yang memerlukan langkah restrukturisasi dan reaktualisasi karena keberadaanya yang terancam punah. Idealnya, untuk menjaga dan merawat kelestarian seni tradisi dan Budaya Banjar harus bersifat kolektif. Artinya, kelestarian seni tradisi dan Budaya Banjar harus menjadi tanggung jawab semua masyarakat Banjar.


Artikel pertama kali di publikasikan do Indonesiana.Tempo.com

Senin, 22 Februari 2016

Melestarikan Rumah Adat Banjar dengan Miniatur


Salah satu kekayaan budaya dan tradisi yang dimiliki oleh Suku Banjar yang mendiami sebagian besar wilayah Propinsi Kalimantan Selatan adalah seni arsitektur rumah adat, yang biasa disebut Rumah Adat Banjar. Menurut situs resmi Kesultanan Banjar, ada 10 (sepuluh) jenis rumah adat banjar, yaitu bubungan tinggi, gajah baliku, gajah manyusu, balai laki, balai bini, palimasan, palimbangan, cacak burung/anjung surung, tadah alas, dan lanting. Sebagian lagi ada yang menambahkan jenis joglo gudang dan joglo bangun gudang yang konon sudah dipengaruhi oleh arsitektur rumah adat joglo dari Pulau Jawa. Seluruh ornament dan elemen rumah adat Banjar, seperti halnya rumah adat dari daerah lain di Indonesia, semuanya terbuat dari bahan kayu dan sebagian besar diantaranya memakai kayu ulin atau kayu besi (Eusideroxylon zwageri) kayu khas Pulau Kalimantan yang terkenal kuat dan tahan lama. Maka tidak heran jika sampai sekarang masih banyak ditemukan berbagai jenis rumah adat Banjar berusia ratusan tahun yang masih tegak berdiri di berbagai kota di Kalimantan Selatan, minimal kerangka utama berbahan kayu ulin yang masih tersisa, sehingga jenis dan tipe rumah masih bisa dilacak dan dikenali.


Nasib rumah adat Banjar di Kalimantan Selatan, tidak jauh berbeda dengan saudara-saudaranya rumah adat di berbagai daerah di Indonesia. Pertumbuhan tidak ada alias nol, sementara pemeliharaan pada obyek yang tersisa terkesan seadanya (rata-rata dimiliki dan dihuni oleh kaum lanjut usia yang tidak mempunyai kemampuan memelihara dan merawat secara maksimal), menyebabkan menurunnya total populasi dari waktu kewaktu. Beruntung, tahun 2015 yang lalu bersama 10 (sepuluh) kota lain di Indonesia, seperti Kota Banda Aceh, Sawah Lunto (Sumatera Barat), Palembang (Sumatera Selatan), Semarang (Jawa Tengah), Bogor (Jawa Barat), Yogyakarta, Karangasem (Bali), Denpasar (Bali) dan Bau-bau (Pulau Buton, Sulawesi Tenggara), Kota Banjarmasin ditetapkan sebagai Kota Pusaka, yaitu Kota yang mempunyai warisan budaya baik dalam bentuk benda maupun bukan benda. Penetapan Kota Pusaka oleh pemerintah pusat dalam Program P3KP (Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka) ini, bertujuan untuk terciptanya Kota Pusaka berkelanjutan yang dapat meningkatkan kesejahteraan bagi penduduknya dengan “Quality of Space” seimbang dan memadai dengan harapan tercapainya “Quality of Life” yang terbaik. Dengan masuknya Kota Banjarmasin sebagai salah satu Kota Pusaka di Indonesia, diharapkan adanya kontribusi serius, nyata dan maksimal terutama dari pemerintah, baik pusat maupun daerah dalam menjaga, melestarikan dan sekaligus memberdayakan semua asset warisan budaya di Kota 1000 sungai secara baik dan benar untuk kesejahteraan dan kemaslahatan bersama, termasuk diantaranya pelestarian berbagai jenis rumah adat Banjar, baik yang didalam Kota Banjarmasin maupun yang ada di wilayah lain di Kalimantan Selatan yang diatas kertas sangat berpotensi menjadi destinasi pariwisata dan pendidikan yang tentunya juga bernilai ekonomis tinggi.


Wacana penyelamatan dan pelestarian berbagai jenis rumah adat Banjar oleh berbagai pihak, sejauh ini masih banyak berkutat dalam bentuk konsep dan wacana yang belum menyentuh pada solusi aplikatif dan konklusi riil di lapangan, kecuali pada Rumah Anno 1925 yang kebetulan karena lokasinya berada satu paket dengan “etalase Kota Banjarmasin” yaitu destinasi wisata menara pandang di Komplek Siring Sungai Martapura.
Langkah nyata penyelamatan dan pelestarian berbagai jenis rumah adat Banjar “tanpa suara bergema” justeru sudah lebih dulu dilakukan oleh seorang pemuda dari Kota Martapura, Rusman "Suryanata" Efendi. Sejak tahun 2012, melalui “Gerakan Melestarikan Rumah Adat Banjar dengan Miniatur” yang digagasnya dalam website pribadi Suryanata.com. Pemuda  kelahiran Amuntai, Hulu Sungai Utara ini telah memulai melakukan serangkaian penelitian sekaligus inventarisasi terhadap hampir semua asset rumah adat Banjar di seluruh Kalimantan Selatan secara mandiri. Dari data primer hasil penelitian dan inventarisasi yang sekarang masih dalam proses pemutakhiran data ini, Rusman Suryanata Efendi bertekad dan bercita-cita ingin menjadikan semacam bank data yang suatu saat bisa di terbitkan dalam bentuk buku, ebook dan sejenisnya dengan konsep ensiklopedi yang bisa dijadikan rujukan bagi siapa saja yang berkepentingan.
Selain melakukan penelitian dan inventarisasi mandiri, Rusman "Suryanata" Efendi juga menawarkan sebuah solusi cerdas untuk melestarikan berbagai jenis rumah adat Banjar melalui sebuah produk kreatif dan inofatif hasil karyanya berupa “miniatur rumah adat Banjar” yang berbahan dasar kayu agatis dan berbagai produk sampingan lainnya seperti kaos, kalender, flashdisk dan berbagai produk lainnya yang kesemuanya mengangkat tema rumah adat banjar. Kejelian Rusman "Suryanata" Efendi memilih media pelestarian rumah adat Banjar dalam bentuk miniatur dan produk sampingan lainnya, mungkin memang bukan yang pertama, tapi setidaknya upaya nyata yang dibalut dengan tekad, keseriusan dan dedikasinya berkiprah dalam penyelamatan serta pelestarian rumah adat banjar dengan berbagai metode, cara dan terobosan yang sebelumnya mungkin dianggap sebagai khayalan dan mimpi di siang bolong, belum ada yang menyamai sampai detik ini!


Produk yang layak disebut kreatif dan inovatif berupa rumah adat Banjar beserta produk sampingan lainnya karya Rusman "Suryanata" Efendi, setidaknya mempunyai 3 (tiga) nilai fungsi strategis, yaitu fungsi pelestarian, ekonomis dan ideologis. Untuk fungsi pelestarian, sudah jelas! Upaya kreatif pemuda kelahiran 1979 ini tidak sekedar mendokumentasikan saja tapi juga mewujudkan dalam bentuk wujud fisik berbagai jenis rumah adat Banjar dengan  skala presisi dan otentisitas yang bisa dibilang 100% otentik dengan aslinya. Ini sangat penting, mengingat dalam wujud aslinya tidak semua rumah adat Banjar yang tercatat dalam berbagai literature masih ada bentuk dan wujud fisiknya. Jadi kehadiran bentuk miniatur rumah adat Banjar bisa menjadi jembatan antara ruang konsep (2 dimensi) dengan ruang nyata (3 dimensi) Rumah adat Banjar, khususnya rumah adat Banjar yang hanya ada dalam gambar karena sudah lenyap dari muka bumi.
Sedangkan untuk fungsi ekonomi, lebih mudah melihatnya! Produk miniatur rumah adat Banjar karya Rusman "Suryanata' Efendi yang begitu detail dengan akurasi mendekati sempurna dan mempunyai karakter artistik yang sangat kuat mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi alias sangat layak jual! Buktinya, produk miniatur rumah adat Banjar produksi Rusman "Suryanata" Efendi banyak diapresiasi dan diburu oleh para kolektor benda seni dari luar daerah dan luar negeri seperti dari Jepang, Eropa dan Amerika. Hanya saja, sepertinya ada fakta anomalis terjadi di lapangan. Sampai detik ini, dedikasi total pemuda yang juga pengajar kelas computer dan internet ini masih belum mendapatkan respon dan apresiasi positif dari instansi terkait khususnya pihak-pihak terkait urusan seni, budaya dan pariwisata, khususnya lagi di Kalimantan Selatan sendiri. Padahal, apabila potensi ekonomi kreatif yang sangat menjanjikan ini  dikelola dan dibina dengan baik dan benar, sedikit banyak pasti bisa memberi dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitarnya, sehingga secara bertahap bisa membantu mengurai permasalahan umum yang sekarang sedang membelit sebagian besar daerah di Kalimantan Selatan dan Indonesia secara umum, seperti pengangguran dan kebuntuan inovasi penggerak perekonomian.


Untuk fungsi ideologis, sepertinya bukan suatu yang berlebihan bila apa yang dilakukan oleh seorang Rusman "Suryanata" Effendi ini layak menjadi sebuah inspirasi besar, khususnya bagi kaum muda Banjar dan bagi semua masyarakat Banjar dan Kalimantan Selatan umumnya. Siapa lagi yang akan melestarikan semua kekayaan adat dan tradisi Suku Banjar, selain kita sendiri masyarakat Banjar dan Kalimantan Selatan!?
Sebuah dedikasi anak bangsa untuk menjaga, merawat dan melestarikan kekayaan budaya leluhurnya memang sebuah keniscayaan kodrati, sebuah tanggung jawab kolegial yang seharusnya berlaku umum! Tapi fakta riil di lapangan ternyata memberi pesan anomalis yang lebih banyak berbanding terbalik. Perjalanan berliku dan penuh tantangan seorang Rusman "Suryanata" Effendi dalam melestarikan rumah adat Banjar, secara tersirat memberi pesan kepada kita semua, khususnya masyarakat Banjar dan Kalimantan Selatan terhadap tanggung jawab kolegial kita dalam menjaga dan melestarikan aset budaya Banjar yang sekarang semakin luntur dan melemah. Semoga, bersamaan dengan kehadiran sosok-sosok baru dalam tampuk kepemimpinan Kalimantan Selatan, akan memberi harapan baru, semangat baru dan energi baru pada semangat kolegial kita dalam upaya melestarikan semua elemen budaya Banjar di banua tercinta, Kalimantan Selatan.

Semua foto dari : Suryanata.com
Artikel pertama kali di posting di Indonesiana, Tempo.com