Tampilkan postingan dengan label banjar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label banjar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 April 2016

[Pasarkita] Romantika Seputar Vermaak Wajah "Pasar Kindai Limpuar" Gambut



Wajah baru Pasar Kindai Limpuar, Gambut, Kabupaten Banjar

Kindai Limpuar Idiom Bahasa Banjar yang Unik dan Sarat Makna 

Kindai Limpuar! Frasa idiomatik dalam Bahasa Banjar yang satu ini menempati ruang spesial dalam benak saya. Aksentuasinya menurut saya unik dan menarik, mudah dibaca, dilafalkan dan nyaman didengarkan.! Melafalkan kata kindai berasa seperti melafalkan english style, sedangkan kata limpuar berasa banget ethnical taste-nya. Selain itu, kombinasi kata pembentuk frasa-nya terasa pas dan paling menarik perhatian saya, jika dibanding frasa-frasa idiomatik dalam Bahasa Banjar lainnya yang jumlahnya sangat banyak, layaknya kecerdasan budaya bahasa sub-suku bangsa Melayu lainnya.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah rantau, tanah seberang, Kalimantan Selatan yang juga tanah moyang keluarga besar saya. Frasa idiomatik Kindai Limpuar pertama kali saya dapatkan di papan nama sebuah pasar tradisonal di daerah Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. Pertama kali membaca sekaligus mengamati papan nama sederhana yang terletak dibagian atas bangunan pasar dengan latar belakang atap sirap khas suku Banjar yang menurut saya begitu artistik dan kental rasa tradisinya itu, saya seperti dibawa menjelajahi muara dari kearifan lokal sebuah entitas budaya masyarakat Banjar. 

Wajah lama Pasar Kindai Limpuar (2015) (Foto : banjarmasin.tribun,news)
Perpaduan dua elemen budaya Banjar, berupa desain artistik arsitektur khas Banjar yang diwakili oleh atap sirap plus beberapa ornamen kayu yang membentuk rumah adat Banjar bubungan tinggi dengan susunan frasa idiomatik Bahasa Banjar sebagai identias budaya Banjar lainnya di dalam satu bingkai yang diletakkan di salah satu ruang publik dengan intensitas interaksi masyarakat paling tinggi merupakan salah satu wujud dari sense of belonging atau rasa memiliki yang tinggi masyarakat terhadap sebuah entitas budayanya. Sekaligus sebagai bentuk strategis pemangku kebijakan dalam  upaya  melestarikan entitas budaya masyarakat Banjar. 

Idiom tematik yang didasarkan dari kearifan lokal masyarakat Banjar, khususnya daerah Gambut Kabupaten Banjar ini tersusun dari dua kosakata pembentuk, yaitu Kindai yang berarti lumbung (padi) dan Limpuar yang berarti penuh sampai meluber. Jadi makna leksikal dari idiom ini adalah lumbung padi yang penuh sampai meluber, sedang makna gramatikal-nya secara umum dipahami  sebagai lambang kemakmuran, yang dilambangkan dengan wadah yang isinya melimpah ruah. Hal ini terkait dengan posisi Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar yang dikenal sebagai lumbung padi-nya Kalimantan Selatan, khususnya untuk varian padi jenis Siam dan Unus, jenis padi penghasil beras Banjar nomor wahid sekaligus paling mahal. Di sinilah ternyata titik temu dari logika kausalitas penamaan pasar Kindai Limpuar, titik simpul perekonomian masyarakat Gambut.

Macam-macam beras Banjar dengan keterangan harga dalam satuan liter (Foto : Koleksi Pribadi)
Saya baru menyadari, seperti mempunyai ikatan emosional dengan perpaduan dua kata ini. Mungkin karena taste unik dari kosakatanya atau juga frasa kata yang menurut saya pas (seperti uaraian saya diatas) atau juga karena idiom ini adalah rangkaian kata dalam Bahasa Banjar pertama yang mendarat dalam kontak visual saya yang akhirnya mendarat mulus dalam alam bawah sadar saya. Seperti emosi "cinta pertama" yang katanya tidak akan terlupakan seumur hidup. Mungkin emosi layaknya cinta pertama inilah yang tanpa saya sadari telah menghadirkan ikatan emosional antara saya dengan idiom "Kindai Limpuar". 

Papan nama Pasar Kindai Limpuar Baru (Foto ; Koleksi Pribadi)
Pasar Kindai Limpuar, Ruang publik pusat perekonomian Masyarakat Gambut

Pasar Kindai Limpuar adalah sebuar pasar rakyat atau pasar tradisonal yang lokasinya sangat strategis. Berada tepat di pinggir jalan poros trans Kalimantan, tepatnya di Jalan Ahmad Yani Km. 14 Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar. Lokasi ini merupakan lokasi premium di Kalimantan Selatan, sebagai jalur utama transportasi dari Kota Banjarmasin ke Bandar Udara Syamsuddin Noor di Banjarbaru dan Kota Banjarmasin ke komplek Kantor Gubernur di Banjarbaru plus jalur darat satu-satunya yang reperesentatif untuk jalur koneksi antar propinsi di Kalimantan (Kaltara-Kaltim menuju Kalteng-Kalbar atau sebaliknya)  tidak heran jika kawasan ini disebut-sebut sebagai etalase-nya Kalimantan Selatan. Bagi anda yang sempat atau pernah berkunjung ke Banjarmasin via Bandara Syamsuddin Noor tentu akan melewati pasar ini. Jika perjalanan dari Bandara menuju Banjarmasin, maka posisi pasar Kindai Limpuar terletak di sebelah kiri jalan dengan rentang jarak dari Bandara Syamsuddin Noor sekitar 8 km.

Pedagang "iwak karing" alias ikan kering  ( Foto : Koleksi Pribadi)
Pasar Kindai Limpuar, pada sisi bagian depan terdiri dari dua lantai bangunan semen permanen berbentuk kios, sebagian besar diisi oleh pedagang "keringan" seperti baju, elektronik, grossir makanan ringan, stasionary dan toko kelontong. Selebihnya di bagian belakang berupa kios dan lapak yang didominasi oleh pedagang hasil pertanian dan perikanan air tawar khas Kalimantan Selatan. Situasi di dalam pasar yang konon sudah puluhan tahun berdiri itu tidak jauh berbeda dengan pasar-pasar tradisonal lainnya. Selalu penuh di pagi hari dan mulai sepi menjelang siang. Rata-rata pedagang di sini hanya buka pada pagi sampai tengah hari saja, hanya beberapa saja yang berjualan sampai sore hari. 

Kios pebjahit pakaian (Foto : Koleksi Pribadi)

Pedagang Sayuran di Los Pasar Kindai Limpuar (Foto : Koleksi Pribadi)

Dari pantauan saya beberapa hari yang lalu, saat bernostalgia di pasar rakyat pertama di Kalimantan Selatan yang pernah saya masuki sekitar 15 tahun yang lalu itu, tampak tidak ada perubahan yang signifikan di dalamnya. Mungkin hanya jumlah pedagang yang terlihat semakin banyak dan luas pasar yang semakin melebar ke arah belakang yang terlihat berubah. Selebihnya masih seperti yang dulu, layaknya pasar tradisional lainnya terlihat semrawut, kumuh dan di beberapa bagian terlihat becek  plus tercium bau yang tidak sedap. Inilah romantika sebagian besar pasar tradisonal kita yang sering memunculkan dilema tapi disisi lain tetap saja memunculkan sisi romantisme yang sulit untuk diterjemahkan dengan kata-kata. Atau mungkin, kata "ngangeni" bisa dipilih untuk mewakili?

Pedagang ikan air tawar (Foto : Koleksi Pribadi)
Menurut Informasi dari beberapa pedagang, sebenarnya sejak 4-5 tahun yang lalu pasar Kindai Limpuar direlokasi berikut para pedagangnya ke lokasi baru di bekas lahan UPT Penyuluhan Pertanian Kabupaten Banjar yang terletak di seberang jalan arah Banjarbaru yang jaraknya sekitar 300 meter dari lokasi sekarang. Tapi para pedagang menolak untuk direlokasi dengan alasan tempatnya kurang strategis meskipun sama-sama di pinggir jalan raya Ahmad Yani. Selain itu, karena daya tampung di lokasi baru masih belum siap untuk menampung semua pedagang yang sudah terdaftar dan satu lagi alasan relokasi pasar menurut mereka masih belum jelas. Ada yang mengatakan untuk revitalisasi jalur hujau, ada juga yang mengatakan untuk terminal regional bahkan ada juga selentingan yang mengatakan bahwa lahan pasar Kindai Limpuar diminati oleh investor besar untuk dijadikan pasar modern lengkap dengan fasilitas masyarakat urban lainnya. Entah mana yang benar?
Dari berita yang dirilis beberapa media masa lokal, dikabarkan tahun 2016 ini semua pedagang akan direlokasi ke lokasi yang baru, seiring telah rampungnya semua fasilitas pasar Kindai Limpuar baru untuk menampung semua pedagang Kindai Limpuar lama. 

Bongkar muat di depan pasar (Foto : Koleksi Pribadi)

Restorasi Total Wajah Pasar Kindai Limpuar

Berita tentang relokasi pasar Kindai Limpuar memang sudah lama terdengar, jadi bukan berita baru yang mengagetkan bagi masyarakat Gambut dan sekitarnya, termasuk saya. Tapi, saya justeru dibuat kaget oleh vermaak total  wajah depan dari pasar Kindai Limpuar yang entah sejak kapan terjadinya!?

Tampilan wajah baru pasar kebanggan masyarakat Gambut itu sekarang lebih ngejreng  dari biasanya. Warna kuning dan merah berikut nama dari salah satu operator seluler besar tanah air tampak mendominasi wajah baru Pasar Kindai Limpuar.  Dari penampakan ini, semua bisa menebak kalau wajah Pasar Kindai Limpuar sudah masuk dalam wilayah komersialisasi ruang publik. 

Wajah baru Pasar Kindai Limpuar. (Foto : Koleksi Pribadi)
Secara pribadi, menurut saya branding product wajah pasar Kindai Limpuar oleh operator seluler nasional bukanlah sebuah masalah, selama tidak mengganggu ketertiban umum, aturan/hukum adat dan hukum positif yang berlaku. Bahkan menurut saya, ini sebuah terobosan cerdas dari pemangku kebijakan untuk menambah PAD dengan memaksimalkan manfaat aset-aset “tidur” milik pemerintah. Tentu tetap harus melalui prosedur yang benar dan tanpa KKN!  

Apalagi, tampilan fresh dan ngejreng warna-warni pasar Kindai Limpuar yang didominasi warna kuning dan merah, selaras dengan makna simbol warna yang selama ini menjadi trademark  budaya Banjar dan Melayu umumnya yang mengartikan warna kuning sebagai simbol kemakmuran dan warna merah sebagai simbol keberanian. Hanya saja, sepertinya ada yang terlewatkan dan terabaikan dari proses vermaak wajah Pasar Kindai Limpuar yang menurut saya merupakan “kesalahan” fatal! yaitu, dihilangkannya “penampakan” ornament-ornament khas budaya Banjar tanpa berusaha mengganti dengan tampilan yang baru, termasuk tulisan nama Pasar Kindai Limpuar yang biasa menempel di wajah pasar.

"Ngejreeeeng!". Wajah baru Pasar Kindai Limpuar. (Foto : Koleksi Pribadi)


Memang harus diakui, tema ornament tradisional terakhir  yang masih tersisa dari wajah Pasar Kindai Limpuar yang berupa atap sirap, memberi kesan kuno dan jadul.  Mungkin dianggap tidak akan mix n’ match  dengan tema modernitas dan teknologi high end yang diusung oleh operator seluler yang menyewa  wajah Pasar Kindai Limpuar untuk di branding. Tapi budaya Banjar yang elok kan tidak hanya melulu atap sirap saja! Kalau mau lebih arif dan repot sedikit, sebenarnya ornament kain sasirangan  khas Banjar bisa ditampilkan pada cat warna-warni merah dan kuning polos yang mendominasi wajah pasar. Apalagi, warna merah dan kuning juga cukup dominant pada kain sasirangan. Sehingga sangat cocok.  Seandainya ini benar-benar mendapatkan apresiasi dan menjadi kenyataan, ada beberapa manfaat yang didapat dari vermaak  wajah pasar Kindai Limpuar. 

Pertama. Tetap sebagai media promosi dari operator seluler, karena warna-warna identik perusahaan mereka tidak berubah, tetap merah dan kuning.
Kedua.  Dengan menambahkan ornament kain sasirangan pada blok ruang warna tersebut maka perusahaan seluler tersebut juga ikut serta dalam pelestarian asset seni dan budaya masyarakat Banjar dan cara ber-empati pada seni dan budaya masyarakat setempat seperti ini, sebenarnya termasuk strategi marketing yang cantik dan smart untuk merebut hati masyarakat Banjar. Bukankah itu tujuan perusahaan seluler melakukan branding  wajah Pasar Kindai Limpuar?
Ketiga. Seandainya ide kreatif ini terwujud, tidak menutup kemungkinan, kedepan Pasar Kindai Limpuar tidak hanya menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli saja, tapi juga menjadi destinasi wisata baru yang menarik. Lukisan mural raksasa ornament kain sasirangan di wajah Pasar Kindai Limpuar berwarna dominant merah dan kuning bisa dijual sebagai destinasi wisata.  

Corak ornamen Kain Sasirangan (Gambar : BatikSasirangan.com)
Mudah-mudahan ide sederhana ini bisa memberi sedikit wacana untuk upaya melestarikan sebagian asset seni dan budaya Banjar, khususnya di ruang public terbuka. Dan ….ikatan emosional masyarakat Banjar dengan Pasar Kindai Limpuar tidak akan sirna seiring keniscayaan sebuah perubahan yang akan terus terjadi di muka bumi.

Semoga bermanfaat!

Kertakhanyar, Banjar  17 April 2016


Sabtu, 27 Februari 2016

Tradisi “Baayun Maulid”, Kearifan Konklusif Dialektika Agama dan Budaya Lokal Kalimantan Selatan



Prosesi Baayun Maulid
(Gambar : infobublik.id)

Baayun Tradisi Unik Cara Menidurkan Anak
Baayun atau maayun anak adalah salah satu cara tradisional ibu-ibu masyarakat suku Dayak dan Banjar di Kalimantan Selatan dalam usahannya menidurkan anak-anak (balita) dengan cara mengayun-ayunkannya pada ayunan yang terbuat dari tapih bahalai (Kain Jarik : Bhs.Banjar) yang ujung-ujungnya diikat dengan tali haduk (ijuk) yang umumnya diikatkan dengan cara digantung pada bagian-bagian rumah yang kuat seperti plafon dan kuda-kuda rumah. Pada sebagian masyarakat ada mengikatkan Surah Yasin, daun jariangau (Acorus calamus L), kacang parang dan katupat guntur pada tali ayunan dengan tujuan sebagai penghalau jin (mahluk halus)
Secara umum, dilihat dari posisi si-anak dalam ayunan, cara maayun anak pada masyarakat suku Banjar dibagi menjadi 2 (dua) macam, yaitu
1.    Dibaringkan, cara ini merupakan cara regular atau cara umum yang dipakai masyarakat Banjar. 
 Maayun

2.           Didudukkan atau di-pukung, cara ini biasanya dipakai bila si anak dalam keadaan rewel atau susah ditidurkan dengan cara baayun yang pertama (dibaringkan).  

 Bapukung
(Gambar : theasianparent.com)

Sedangkan, dari teknik mengayun juga di bagi menjadi 2 (dua) macam, yaitu
1.           Maayun lapas, (mengayun lepas ; Bhs Banjar) cara ini juga termasuk cara regular atau cara umum yang dipakai masyarakat Banjar. Disini pengayun akan menjaga intensitas ayunan, dengan cara menambah kekuatan ayunan setelah beberapa kali ayunan mengayun atau ketika ayunan semakin melemah. Disini, pengayun biasanya sambil melakukan aktifitas lain.

 Maayun Badundang
(Gambar : beritabanjar.com)

2.     Maayun Badundang, (mengayun sambil bersenandung ; Bhs Banjar) sambil berdendang, pengayun tetap memegangi tali ayunan yang digoyang-goyangkannya. Cara ini biasanya dipakai bila si anak dalam keadaan rewel atau susah ditidurkan dengan cara baayun yang pertama (dibaringkan). 

Baayun Maulid Tradisi Unik, Dialektika Agama dan Budaya
Baayun Maulid adalah sebuah prosesi tradisi maayun anak-anak (terkadang ada juga orang dewasa dan orang tua yang turut serta) khas Kalimantan Selatan yang diselenggarakan secara massal bertepatan dengan perayaan tasyakuran hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau biasa dikenal dengan Maulid Nabi, setiap tanggal 12 Rabbiul Awal penanggalan kalender hijriah. Tujuannya adalah sebagai salah satu bentuk ikhtiar dan doa bagi putra-putri yang dikutkan prosesi agar bisa meneladani kehidupan Rasulullah Muhammad SAW.
Ada 2 (dua) versi catatan terkait asal muasal dari tradisi Baayun Maulid di Kalimantan Selatan, yaitu

1.   Menurut tatuha Banjar (sesepuh Suku Banjar) yang secara turun temurun menyampaikan pesannya, upacara Baayun Maulid sebenarnya telah dikenal masyarakat Banjar sejak berdirinya Kerajaan Banjar yang ditandai dengan masuk Islam-nya Pangeran Samudra beserta semua pengikut dan rakyatnya dengan gelar Sultan Suriansyah. Dahulu upacara ini hanya diperuntukan pada anak-anak dari keluarga besar kerajaan yang lahir di bulan Safar. Mereka melaksanakan upacara ini dikarenakan bulan Safar dipercaya sebagai bulan yang penuh bala. Oleh karena itu untuk menghindari tertimpanya bala pada anak tersebut, maka sang anak wajib diayun sebagai bentuk ritual tolak bala.

2.     Tradisi  Baayun atau maayun sudah ada sebelum Islam masuk di Kalimantan Selatan. Pada masa pra Islam di Kalimantan Selatan tersebut, masyarakat memeluk kepercayaan Kaharingan yang sekarang dikenal sebagai kepercayaan atau agama asli Suku Dayak. Tata cara prosesi Baayun Maulid yang awalnya merupakan tradisi masyarakat Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan ini sebenarnya bersumber dari tata cara prosesi bapalas bidan yang dilandasi kepercayaan Kaharingan masyarakat setempat dan ketika pengaruh agama Hindu mulai masuk dan berkembang, maka berkembang pula beberapa prosesi tradisi turunan uang menyerupai, seperti baayunwayang, baayun topeng dan baayun madihin. Seiring berdirinya Kesultanan Banjar yang mengakui agama Islam sebagai agama resmi kerajaan, sejak saat itu pengaruh ajaran Islam menyebar ke seluruh pelosok wilayah kekuasaan KesultananBanjar yang meliputi Negara Agung (wilayah sentral budaya Banjar yaitu wilayah Banjar Kuala, Batang Banyu dan Pahuluan), Mancanegara (daerah rantau: Kepangeranan Kotawaringin, Tanah Dusun, Tanah Laut, Pulau Laut, Tanah Bumbu, dan Paser) dan Daerah Pesisir (daerah tepi/terluar: Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur/Utara). 

Lambang Kesultanan Banjar


Dalam menyebarkan Islam ke seluruh pelosok wilayah kekuasaan Kesultanan Banjar, salah satu strategi jitu para ulama saat itu adalah melalui pendekatan budaya dan tradisi. Tradisi leluhur yang berlandaskan kepercayaan Kaharingan tidak serta merta dihapus tapi dirubah esensi-nya (maksud dan tujuan, prosesi, perlengkapan, waktu pelaksanaan dan perlambang atau simbol yang dipakai) untuk disesuaikan dengan ajaran Islam. Semisal, upacara Aruh Ganal setelah panen hasil bumi, terutama padi hasilnya melimpah. Sebelumnya upacara ini diisi dengan ritual pesta adat dengan tari-tarian dan bacaan-bacaan balian (pemuka agama Kaharingan) yang berisi mantra-mantra, doa dan persembahan kepada para dewa, leluhur dan nenek moyang yang diselenggarakan secara besar-besaran selama beberapa hari di Balai adat, akhirnya digantikan dengan pembacaan doa kepada Allah SWT, syair-syair yang berisi sejarah, perjuangan, dan pujian terhadap Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan di masjid. Begitu juga dengan berbagai syarat ritual yang biasa di sebut dengan piduduk (sesaji), kalau sebelumnya dimaksudkan untuk persembahan kepada para dewa, leluhur dan nenek moyang, dirubah makna esensi-nya dengan sedekah yang diakhir acara nantinya bisa dimanfaatkan kembali baik secara individu maupun komunal. Kalau piduduk berupa makanan, maka bisa dimakan bersama-sama, kalau berupa barang tentu bisa dimanfaatkan kembali sesuai kebutuhan. Begitu juga dengan prosesi ritual adat bapalas bidan yang juga disesuaikan dengan tuntunan ajaran agama Islam yang pada akhirnya melahirkan sebuah budaya baru bernafaskan Islam yang sekarang dikenal dengan Baayun Maulid.  

 Bayi tertidur pulas dalam ayunan, prosesi Baayun Maulid konklusi dialektika agama dan budaya

Inilah yang dimaksud Baayun Maulid sebagai kearifan konklusif dialektika agama dan budaya lokal di Kalimantan Selatan, dimana budaya yang diwakili oleh tradisi baayun dan agama diwakili oleh peristiwa maulid bisa bersatu dalam sebuah local genius. Budaya berjalan seiring dengan agama dan agama datang menuntun budaya. Baayun Maulid merupakan simbol pertemuan antara ajaran agama Islam dengan tradisi budaya lokal Kalimantan Selatan dengan cara yang elegan dan damai. Keduanya tetap bisa hidup bersama dengan saling mengisi layaknya simbiosis mutualisma, agama akan memberikan spirit pada kebudayaan, sedangkan ragam kebudayaan dalam naungan konsepsi ajaran Islam semakin menunjukkan konsepsi ajaran Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin. Rahmat untuk seluruh alam beserta isinya.

Baayun Maulid, Local Genius yang Harus di Lestarikan
Prosesi Baayun Maulid hanya bisa ditemui di Kalimantan Selatan dan sebagian kecil komunitas masyarakat Suku Banjar yang ter-diaspora ke beberapa daerah seperti Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Tembilahan-Riau dan Semenanjung Malaysia. Prosesi Baayun Maulid, memang tidak lagi menjadi domain dari masyarakat Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara, Kabupaten Tapin saja, tapi telah menjadi bagian budaya dari masyarakat suku Banjar secara umum. 

 Masjid Keramat Al Mukarromah, Banua Halat, Tapin, Kalimantan Selatan
(Gambar : Gorden 313)

Setiap tanggal 12 Rabbiul Awal atau bertepatan dengan hari Maulid Nabi Muhamad SAW, hampir semua daerah di Kalimantan Selatan menyelenggarakan prosesi Baayun Maulid. Hanya saja, prosesi paling meriah dengan peserta paling banyak tetap dipegang oleh daerah asalnya, yatu Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara, Kabupaten Tapin. Disini, penyelenggaraan Baayun Maulid dipusatkan di area Masjid Al Mukarramah atau yang lebih dekenal masyarakat sebagai Masjid Keramat Banua Halat dengan maksud agar anak-anak yang diayun nantinya terpaut terus dengan masjid sebagai pusat kegiatan umat Islam. Masjid Al Mukarramah dibangun sejak yahun 1840, merupakan salah satu Masjid tertua di Kalimantan Selatan dan termasuk situs cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah.

 Turis asing sedang menikmati tradisi Baayun Maulid di Banua Halat Tapin
(Gambar : kalsel.prokal.co)

Seiring dengan ditatapkannya prosesi Baayun Maulid di area Masjid Al Mukkaramah Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara, Kabupaten Tapin dalam kalender pariwisata oleh Pemkab Tapin dan Pemprov Kalimantan Selatan, popularitas Baayun Maulid  semakin menanjak. Turis dan wisatawan baik lokal maupun mancanegara selalu membanjiri Desa Banua Halat saat pelaksanaan prosesi Baayun Maulid. Begitu juga antusiasme masyarakat dalam mengikuti prosesi, dari tahun ke tahun pesertanya terus bertambah dan berkembang, tidak hanya anak-anak bahkan banyak orang dewasa dan manula yang mendaftar untuk mengikuti prosesi Baayun Maulid dengan berbagai tujuan dan puncaknya ketika MURI (Musium Rekor Dunia dan Indonesia) pada tahun  2008 memberikan piagam pengakuan rekor yang tercipta pada prosesi Baayun Maulid di Masjid Al Mukarramah Banua Halat dengan kategori penyelenggara Baayun Maulid denganpeserta terbanyak, dengan rincian peserta sebanyak 1.544 orang terdiri dari 1.643 anak-anak, dan sisanya 401 orang dewasa. Piagam dengan register No 30311/R.MURI/III/2008 yang ditandatangani langsung oleh Jaya Suprana tersebut diserahkan oleh Manager MURI Paulus Pangka kepada Bupati Tapin (saat itu) Drs H Idis Nurdin Halidi MAP dan Ketua Panitia Kegiatan H Nafiah Khairani, disaksikan Gubernur Kalimantan Selatan (saat itu) H Rudy Arifin dan Guru Riduan atau Guru Kapuh, serta para pejabat di Propinsi Kalimantan Selatan. Pada akhir tahun 2015, Upacara Baayun Maulid di Kabupaten Tapin mendapat pengakuan sekaligus penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Anies Baswedan, sebagai warisan budaya Tak benda Indonesia.

 
Penyerahan piagam oleh Asisten Tiga Pemprov Kalimantan Selatan Kepada Bupati Tapin

Prosesi Baayun Maulid Banua Halat, Tapin, Kalimantan Selatan
Ayunan untuk prosesi Baayun Maulid dibuat dari tiga lapis kain, yakni kain kuning pada bagian luar, kemudian kain putih dan bagian dalam tapih bahalai (Jarik ; Bhs Jawa). Sedangkan pada tali-tali pengikat ayunan tersebut diberi identitas berupa nama anak yang akan menempati ayunan tersebut plus dihias anyaman kembang dan janur yang dibentuk dengan berbagai kreasi, seperti burung, bunga, lipan, rantai, keris dan sebagainya. 

 Macam-macam piduduk dalam prosesi Baayun Maulid

Di bawah jajaran ayunan-ayunan tersebut, masing-masingnya terdapat piduduk atau syarat upacara, yaitu piduduk dalam piring makan yang diisi wadai 41 yaitu berbagai macam kue khas Banjar berjumlah 41 macam dan berbagai syarat lainnya, seperti lakatan (olahan ketan), apam, kue cucur, inti kelapa (adonan kelapa dengan gula merah), telur ayam rebus, papari, pisang, dan tapai ketan. Sedangkan dalam ember ukuran kecil diisi dengan beras, buah kelapa yang sudah dikupas, garam, dan gula merah. “Piduduk” juga ditempatkan di setiap tiang utama Masjid yang diletakan pada dua buah piring makan, yaitu berisi beras ketan putih yang di tengah-tengahnya dihiasi dengan inti kelapa. Piring satunya berisi beras kuning yang di tengah-tengahnya juga diletakkan inti kelapa. Ketika prosesi Baayun Maulid selesai,  semua piduduk  akan dimakan bersama-sama dan selebihnya bisa dbawa pulang untuk dimakan bersama di rumah.

 Rangkaian ayunan yang dipakai untuk prosesi Baayun Maulid

Bagi keluarga peserta prosesi Baayun Maulid, yang menghadiri dan menyaksikan acara tersebut memadati bagian sisi jajaran ayunan tersebut. Untuk laki-laki berjajar pada bagian depan ruang utama mesjid, tepatnya di barisan depan jajaran ayunan. Sedangkan yang perempuan berada di sisi kiri-kanan dan belakang ayunan.
Prosesi acara Baayun Maulid  dimulai dengan pembacaan Syair Maulid yang dipimpin oleh seorang Tuan Guru (Ulama) dengan diiringi rebana. Syair-syair Maulid yang umum dibawakan pada acara Baayun Anak seperti Syair MawludBarjanzi, Mawlud Syaraf al-Anam atau Mawlud al-Dayba’i. Pada saat yang bersamaan, Ulama yang memimpin pembacaan Syair Maulid berjalan ke arah ibu-ibu untuk memberikan “tapung tawar” pada masing-masing anak tersebut.

 Prosesi tapung tawar dalam Baayun Maulid

Tapung tawar adalah prosesi memberi doa yang ditandai dengan mengusap jidat setiap anak dan mencipratinya dengan air “tatungkal” yang terdiri dari campuran air, minyak buburih dan rempah-rempah. Setelah selesai, semua hadirin dan pengunjung duduk kembali selanjutnya dibacakan doa khatam al-mawlud dan dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran serta tausiah yang disampaikan oleh pemuka agama atau ulama yang memang diundang. Setelah semua rangkaian acara dilaksanakan, biasanya ditutup dengan acara silaturahmi dan makan bersama.



Referensi   :



















 

Selasa, 23 Februari 2016

Djulak Larau, Perawat Seni Tradisi dan Budaya Banjar


 "Djulak Larau" aka Drs. Mukhlis Maman (Gambar : facebook Mukhlis Maman)

Awal perjumpaan saya dengan “Djulak Larau” nama panggung dari budayawan  dan seniman Banjar yang dikenal serba bisa Drs Mukhlis Maman, sekitar pertengahan tahun 2000-an. Diawali ketika kami sama-sama mengisi beberapa program acara budaya di Radio NIRWANA FM, Banjarmasin, yaitu jaringan radio swasta terbesar di di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Di Radio dengan tagline “Radionya Urang Banjar” yang saat itu begitu getol menampilkan tema budaya dalam berbagai programnya itu, beliau dengan beberapa rekan main di acara budaya “Warung Bubuhan” yang secara reguler ditayangkan TVRI Kalimantan Selatan sampai sekarang, seperti Bang Irwan, Bang Ariel dan Bang Sukur secara reguler membawakan tema acara budaya Banjar dengan konsep semi dialog dalam acara surung sintak dan Lanting Kai, sedangkan saya saat itu mengisi acara dengan latar belakang tema  budaya Jawa dengan konsep yang kurang lebih sama dalam acara Tombo Kangen. Khusus pada hari Minggu, dalam acara Dialog Budaya yang berkonsep dialog interaktif dengan pendengar, beberapa kali kami sempat berpasangan untuk mengisi acara yang lebih banyak mengungkap dan mengangkat tema kekayaan, keberagaman dan keunikan budaya dari hasil akulturasi budaya masyarakat di seputar Kota Banjarmasin dan Kalimantan Selatan yang secara riil memang sangat heterogen alias multi etnis. Dari beberapa kali bertemu dan berdiskusi baik on air maupun off air saya baru menyadari bagaimana pola dan cara kerja dedikasi sidin (beliau ; Bhs Banjar) terhadap seni dan budaya Banjar yang sangat luar biasa.

 Warung Bubuhan TVRI Kalimantan Selatan (Gambar : facebook Mukhlis Maman)




Ada satu pernyataan sidin saat kami membawakan salah satu acara dialog budaya, secara live atau on air di Radio NIRWANA yang sampai sekarang masih saya ingat diluar kepala. Pernyataan yang saya terjemahkan sebagai konsep berkesenian sidin ini, begitu menginspirasi pendengar dan gerak langkah serta pola pikir saya dalam menjalani kehidupan, "berkesenian itu jangan asal mengikuti arus, kita harus punya ciri (tredemark) sendiri agar karya kita lebih mudah dikenali orang dan tidak membosankan, sehingga akan awet dan abadi. Contoh : Kalau kebanyakan pencipta lagu Banjar lebih banyak mencipta lagu Banjar dengan tema sungai, karena Banjarmasin dan Kalimantan Selatan identik dengan sungai dan budaya sungai, tapi kalau aku tidak! Aku lebih suka membuat lagu Banjar dengan tema gunung, bukit atau sawah yang hijau. Mungkin sedikit tidak lazim, tapi jangan salah obyek itu juga ada di Kalimantan Selatan! Jadi tidak melenceng dari fakta tentang Kalimantan Selatan sendiri"

"Djulak Larau” yang juga Pamong Budaya Madya ini dikenal sebagai budayawan Banjar sekaligus seniman multitalent. Dalam aktifitas berkesenian, beliau dikenal sebagai penyair, koreografer, sutradara, komedian, musisi, pencipta lagu dan banyak lagi yang lainnya. Selain sebagai pelaku seni, sidin  juga tercatat sebagai salah satu penulis dokumentasi seni dan budaya Banjar yang cukup produktif. Beberapa buku karya sidin yang kesemuanya mengangkat tema budaya Banjar, seperti Wayang Gung kalimantan Selatan (2012), Gamelan Banjar Kalimantan Selatan (2007) dan Topeng Banjar di Barikin (2012) sampai sekarang masih menjadi rujukan bagi semua pihak yang ingin mempelajari eksotisnya seluk beluk berbagai seni dan tradisi Banjar.


 "Djulak Larau" dan rekan-rekan (Gambar : facebook Mukhlis Maman)


Era globalisasi menghadirkan revolusi teknologi, khususnya teknologi informasi dengan berbagai produk turunannya yang telah berhasil melipat dimensi ruang dan waktu menjadi semakin linier tanpa sekat dan batas, menyebabkan munculnya era dunia baru yang ditandai dengan mulai bergesernya tata budaya masyarakat dunia, khususnya negara-negara berkembang seperti Indonesia. Derasnya arus informasi global tidak hanya menambah wawasan dan pengetahuan secara umum, tapi juga mulai merubah pola pikir, sikap,  perilaku, gaya hidup dan etika sosial yang secara perlahan tapi pasti juga akan merubah tata nilai dan tata laku budaya masyarakat. Banyaknya asset seni dan budaya bangsa dari berbagai suku di Indonesia yang mulai punah, ditengarai sebagai salah satu bukti riilnya. Di Kalimantan Selatan sendiri, kesenian tari, teater rakyat dan sastra tutur yang dulu pernah merajai panggung hiburan rakyat seperti tari baksa kambang, japin, dammar ulan, wayang gong, wayang kulit banjar, mamanda, mamanda tubau, bapandung, balamut dan madihin sekarang sudah sangat jarang bahkan tidak ada yang memainkannya. Bisa jadi orang Banjar generasi sekarang justeru asing mendengar nama-namanya.

Kehadiran sosok-sosok dedikatif seperti “Djulak Larau” dan kawan-kawan dalam lingkungan masyarakat yang sedang mengalami euphoria transisi budaya yang sekarang sedang membius sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk Kalimantan Selatan akibat serbuan aneka budaya pop yang terlihat lebih renyah, simple  dan menggoda merupakan hembusan angin segar sekaligus setetes harapan bagi eksistensi  seni budaya khas daerah Kalimantan Selatan.

  Alat musik Unggut (Gambar : facebook Mukhlis Maman)

Berbagai usaha dan upaya pelestarian seni budaya khas suku Banjar telah dilakukan oleh seniman serba bisa yang juga jagau (jago : Bhs.Banjar) dalam bermain catur ini. Bersama-sama dengan rekan-rekan seperjuangan di markas “Taman Budaya Kalimantan Selatan’, yang sudah dianggap sebagai rumah kedua bagi sidin lahir ide-ide kreatif dan konsep “format” menuju titik ideal untuk melestarikan dan merawat seni tradisi dan budaya Banjar.  Salah satunya adalah melalui karya tulisan dokumenter tentang seni dan budaya. Karya tulisan sidin tidak hanya dalam bentuk buku seperti tersebut diatas, tapi juga dalam bentuk artikel yang tersebar di berbagai media baik cetak maupun online. Selain itu, sidin juga aktif menjadi pengisi acara bertema budaya di TVRI Kalimantan Selatan, baik yang berkonsep drama seperti dalam acara “warung bubuhan” maupun dialog interaktif.

  "Djulak Larau" memainkan "tartar" (Gambar : facebook Mukhlis Maman)

Di luar itu, sidin juga sering berbagi pengetahuan dan pemahaman tentang budaya Banjar dengan menjadi pembicara dalam berbagai seminar dan sarasehan budaya baik tingkat lokal maupun nasional, menjadi koreografer sekaligus pengajar tari di beberapa sanggar seni Banjar. Khusus untuk yang satu ini sidin juga masih sering turun untuk melakukan pentas seni baik di tingkat lokal maupun nasional   dan yang paling menarik adalah upaya sidin untuk melestarikan beberapa alat musik tradisional Kalimantan Selatan yang sudah lama terkubur dan terlindas jaman seperti  kuriding. Melalui tangan dingin sidin alat musik khas Indonesia yang di Kalimantan Selatan telah lama hilang dan tenggelam oleh waktu itu, sekarang mulai mewabah lagi di kalangan anak muda Banjarmasin. Begitu juga dengan alat musik unggut, alat musik khas pedalaman Kalimantan Selatan yang mirip dengan panting ini kembali diperkenalkan sidin kepada masyarakat Kalimantan Selatan dan yang paling baru, sidin kembali berimprovisasi dengan menciptakan alat musik baru kombinasi antara gitar dan tarbang (terbang/rebana ; bhs. Banjar) yang dinamai sidin  “tartar” alias singkatan dari gitar dan tarbang.

Seorang Djulak Larau alias Drs Mukhlis Maman dan semua rekan yang aktif menggerakkan seni tradisi dan buadaya Banjar di Taman Budaya Kalimantan Selatan tentu tidak bisa sendirian berjuang mempertahankan eksistensi seni tradisi dan budaya Banjar. Peran sidin dan rekan-rekan sebagai katalisator pelestarian seni tradisi dan budaya Banjar harus mendapat support dari semua elemen masyarakat Banjar. Apalagi kalau melihat banyaknya seni tradisi dan budaya Banjar yang memerlukan langkah restrukturisasi dan reaktualisasi karena keberadaanya yang terancam punah. Idealnya, untuk menjaga dan merawat kelestarian seni tradisi dan Budaya Banjar harus bersifat kolektif. Artinya, kelestarian seni tradisi dan Budaya Banjar harus menjadi tanggung jawab semua masyarakat Banjar.


Artikel pertama kali di publikasikan do Indonesiana.Tempo.com

Senin, 15 Februari 2016

Penggerak UMKM & Pariwisata Banjarmasin, Kalimantan Selatan



Pulau Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan sejauh ini memang belum dikenal luas sebagai penyedia destinasi wisata yang mumpuni bagi masyarakat Indonesia dan dunia. Meskipun sebenarnya, semua destinasi wisata yang terdapat di Pulau Kalimantan sejatinya sangat layak untuk bisa berkembang dan dikembangkan menjadi destinasi wisata berkelas, karena mempunyai karakter khas Pulau Kalimantan yang rata-rata bersifat endemic dan specific, dimana destinasi wisata didalamnya bersifat ekslusif yang tidak akan bisa ditemui di daerah manapun di belahan bumi nusantara bahkan dunia. 

Di Kalimantan Selatan, ada Banjarmasin Kota 1000 Sungai, Pasar Terapung alami Muara Kuin dan Lok Baintan, Kerbau rawa, Bamboo Rafting Khas Suku Dayak Meratus, Alat musik Panting, Berbagai spesies Anggrek alam endemik Pegunungan Meratus, Kain Sasirangan, Kuliner Soto Banjar, Katupat Kandangan, Kerupuk Amplang Kuku Macan dsb, tapi sayang semua potensi berkelas wahid tersebut, masih belum bisa menarik perhatian pemerintah pusat untuk ikut serta membangun dan mengembangkan potensi besar pariwisata Pulau Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan yang lebih baik lagi. Maka tidak heran, jika akhirnya pertumbuhan pariwisata di Pulau Kalimantan cenderung stagnan dan berjalan di tempat. Memang, situasi dan kondisi ini tidak serta merta mengahancurkan asa pariwisata di bumi Kalimantan. Kerasnya tempaan persaingan dunia pariwisata ternyata justru melahirkan ide-ide kreatif dan semangat untuk berkembang dari local hero yang terpancing provokasi dari otak kanan untuk terus mempertahankan bahkan mengembangkan pariwisata Kalimantan Selatan bermodalkan ide dan kreatifitas masing-masing, salah satunya adalah Selamat Budianto.




Pemuda asli kelahiran, Kota Banjarmasin  8 Mei 1976 ini adalah salah satu pelopor penggerak ekonomi dan pariwisata Kota Banjarmasin dan Kalimantan Selatan melalui produk UMKM yang dirintisnya dari nol. Berawal dari hobinya mengoleksi berbagai pernik oleh-oleh dari berbagai daerah yang dimulai sejak kuliah di Diploma III Pariwisata, Jurusan Usaha perjalanan wisata, Universitas Merdeka Malang, akhirnya Budi Banjar panggilan akrab  Selamat Budianto, terus bergulat dengan ide dan imajinasinya untuk ikut serta menggerakkan pariwisata Kota Banjarmasin dan Kalimantan Selatan melalui produk souvenir khas Banjarmasin/Kalimantan Selatan yang saat itu belum mempunyai ciri dan kekhasan.


Dengan tekad bulat plus sedikit nekat! Pada tahun 2010, dengan modal awal sekitar 5juta akhirnya muncul ide cemerlang untuk memulai usaha souvenir yang diberinya label b-banjar singkatan dari namanya budi banjar. Diawali dengan memproduksi “Sandal Khas Banjar”, yaitu serupa sandal jepit khas Banjarmasin yang menampilkan semua identitas Suku Banjar, seperti Bahasa Banjar, Ornamen Banjar, Kain Sasirangan, gambar Bekantan si monyet Belanda, arsitektur rumah adat Banjar, Pasar Terapung dsb. Memilih sandal jepit sebagai titik awal untuk memulai usaha souvenir khas Banjar bukan tanpa alasan. Sandal khas yang identik dengan daerah masih sedikit pemainnya, hanya ada di Bali dan Jogjakarta, dua Kota tujuan pariwisata paling ramai di Indonesia. Jadi peluang pasarnya masih terbuka lebar di daerah seperti Banjarmasin. Apalagi menurut kebiasaan, sandal jepit yang luwes, simpel dan relatif cocok dipakai kemana saja sering terlupakan dalam daftar bawaan kalau mau bepergian! Mantap juga idenya……



Gayung bersambut, permintaan pasar ternyata melebihi ekspektasi awalnya. Produksi 1000 pasang sebulan ternyata ludes terus di pasar, bahkan permintaan merembet ke produk yang lain seperti kaos, topi, tas, dan produk kreatif lainnya. Tidak mau setengah-setengah, akhirnya Selamat Budianto benar-benar serius ingin mengelola usaha yang berasal dari hobbi ini. Sebagai bukti keseriusannya, Selamat Budianto akhirnya membuka gerai souvenir b-banjar di Jalan A. Yani Km. 4,5. Jalan protokol penghubung 5 propinsi di Kalimantan. Tidak hanya memproduksi dan menjual sandal saja, Selamat Budianto melengkapi  gerainya dengan berbagai souvenir khas Banjarmasin dan Kalimantan Selatan, seperti kaos, tas, dompet, topi, slayer, kain sasirangan khas Banjar, berbagai miniatur rumah Banjar, bahkan berbagai souvenir khas suku Dayak semuanya lengkap tersedia.


Untuk memperkenalkan sekaligus mempromosikan usaha pendukung “pariwisatanya”, Selamat Budianto juga membuatkan situsonline  yang bisa diakses dari belahan dunia manapun. Selain itu, Selamat Budianto juga mulai membangun komunikasi intensif dengan berbagai organisasi, lembaga dan institusi pemerintahan yang bergerak di bidang Pariwisata di Banjarmasin dan Kalimantan Selatan, termasuk dengan rekan-rekannya di perusahaan perjalanan wisata/travel. Hasilnya, berbagai pameran pariwisata mulai tingkat lokal, regional, nasional bahkan internasional sering diikutinya untuk memperkenalkan berbagai produk souvenir khas Banjarmasin dan Kalimantan Selatan hasil produksinya.




Perjuangan Selamat Budianto, selama 5 tahun berjibaku dengan produk souvenir khas Banjarmasin dan Kalimantan Selatan, dari waktu ke waktu terus memberikan hasil positif. Salah satunya ditandai dengan munculnya banyak pesaing yang juga memproduksi berbagai souvenir khas Banjarmasin/Kalimantan Selatan dengan nama dan bentuk yang semakin beragam dan bervariasi. Melihat ini semua, sebagai inspirator sekaligus inisiator bagi tumbuh kembangnya UKM pendukung kepariwisataan di Banjarmasin dan Kalimantan Selatan, tidak membuat Selamat Budianto risau dan galau menatap masa depan usahanya yang mulai banyak pesaing, tapi justru membuatnya bangga! Karena usaha dan upayanya menggerakkan ekonomi sekaligus memberdayakan elemen pariwisata di Banjarmasin dan Kalimantan Selatan mulai mendapatkan titik terang dan kemajuan yang signifikan. Puncaknya! Ketika gerai usaha b-banjar diakui dan masuk dalam direktori 500 UKM WOW Indonesia 2015 dalam ajang Marketeers Festivalyang digagas oleh Founder and CEO Martplus, Hermawan Kartajaya.



Di awal tahun 2016, Selamat Budianto sudah mempunyai rancangan paten untuk memperkuat pasar produk b-banjar agar tetap bisa menjadi market leader. Selain terus mengeksplorasi kekayaan dan keunikan Kota Banjarmasin dan Kalimantan Selatan guna menambah item produk termasuk desainnya, jalur distribusi dan marketing juga tidak luput dari perhatiannya.  Salah satu ide kreatif cemerlangnya adalah mendirikan outlet gerai yang lebih luas dan lengkap bertajuk KPK singkatan dari Kaos Pariwisata Kalimantan  b-banjar dan  membuat mobile outlet b-banjar dengan memanfaatkan mobil minibus yang didesain khusus menjadi toko berjalan. Mantaaaap! 


artikel ini pertama kali di posting di Indonesiana (TEMPO.COM)