Tampilkan postingan dengan label kearifan lokal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kearifan lokal. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juli 2018

Menjelajah Eksotika Pasar Terapung Banjarmasin


Inilah Kota Banjarmasin Kota 1000 Sungai
Banjarmasin Kota 1000 Sungai

Banjarmasin, ibu kota Propinsi Kalimantan Selatan telah lama dikenal sebagai salah satu kota perdagangan tua di Nusantara. Sejak jaman kejayaan Kesultanan Banjar pada abad XVI telah menjadi bandar perdagangan Internasional sekaligus pintu masuk utama bagi mobilisasi dan distribusi manusia serta barang dari dan menuju pedalaman Kalimantan. 

Eksistensi peran strategis Kota Banjarmasin ini tetap terjaga sampai sekarang, salah satunya karena dukungan topografi alam Kota Banjarmasin yang unik! 

Banjarmasin yang juga dengan julukan “Kota 1000 Sungai” ini,  merupakan kota yang daratannya banyak dialiri sungai dengan berbagai ukuran yang jumlahnya sangat banyak, bisa jadi yang terbanyak di Indonesia bahkan mungkin dunia.
Beberapa papan nama sungai yang ada di Banjarmasin

Konfigurasi banyaknya aliran sungai yang membelah daratan, menjadikan lanskap kota Banjarmasin seperti sekumpulan pulau-pulau kecil jika dilihat dari udara. Bahkan ada juga yang melihatnya seperti liukan seekor ular raksasa yang dikerubuti anak-anaknya. Unik bukan!? Tapi tunggu dulu, karena ada lagi yang lebih unik! 

Ketinggian rata-rata permukaan tanah di Kota Banjarmasin ±60cm dibawah permukaan air laut. Hal ini menyebabkan sebagian besar wilayah daratan Kota Banjarmasin didominasi oleh dataran rendah berupa lahan basah /rawa-rawa dengan intensitas kedalaman yang berbeda-beda. Bisa membayangkan bagaimana posisi sebuah kawasan/daratan yang permukaannya lebih rendah dari permukaan air laut?

Keunikan lain yang dimiliki Kota Banjarmasin terkait topografinya adalah fenomena arus serta arah aliran sungai yang tergantung oleh pasang surut air laut. Normalnya, aliran air sungai mengalir dari hulu menuju ke hilir atau dari hulu menuju muara, tapi di Banjarmasin bisa sebaliknya bila air laut pasang. Hal ini menyebabkan terjadinya intrusi air laut, sehingga air sungai dan rawa bisa berubah-ubah taste-nya tergantung waktunya. Terkadang pagi tawar, siang atau sore bisa berubah menjadi payau bahkan asin. Unik bukan?
Bus Air atau Taksi Air, salah satu produk budaya sungai khas Kota Banjarmasin

Pasar Terapung, Produk Budaya Sungai 
Khas Banjarmasin

Sungai telah menjadi identitas Kota Banjarmasin dan masyarakat suku Banjar yang mendiaminya. Sungai adalah urat nadi kehidupan masyarakat yang tidak akan pernah tergantikan. Proses interaksi selama berabad-abad diantara keduanya, membentuk peradaban budaya sungai yang telah berurat dan berakar begitu kuat dalam pola aktifitas sosial, ekonomi, seni dan budaya masyarakat Kota Banjarmasin. 
Masjid Sultan Suriansyah, Masjid tertua di Kalimantan  ini dibangun di tepian Sungai Kuin, Banjarmasin

Sebagai bukti, hampir semua sarana dan prasaran publik lokasinya ada di sekitar sungai dan pada awalnya menghadap ke arah sungai, mulai dari sekolah, perkantoran pemerintah, militer, sarana ibadah, bahkan pelabuhan Tri Sakti yang merupakan pintu masuk jalur perairan, juga dibangun di tepi sungai bukan di tepi laut layaknya pelabuhan besar lainnya di Indonesia. 

Fakta yang paling menarik adalah keberadaan 3 pasar tradisional khas Kota Banjarmasin, yaitu “pasar terapung” di daerah Kuin, Siring Kota dan Lok Baintan, lokasinya bukan di daratan layaknya pasar-pasar rakyat pada umumnya, tapi mengapung diatas aliran sungai. Ini dia yang paling unik! 
Ulun Himung Pian Datang
Saya Senang Anda Datang
Mengabadikan Senyuman Terindah 
Pasar Terapung Siring Kota 

Berpetualang menjelajahi keunikan pasar terapung di Banjarmasin merupakan wisata alam dan budaya yang tidak akan bisa ditemui di daerah lain, bahkan di belahan dunia manapun! Setiap moment yang terekam di sepanjang petualangan, dijamin akan memberikan pengalaman berkesan yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup!

Agar petualangan berjalan lancar, jangan lupa membawa MIXAGRIP ya! Karena MIXAGRIP cocok untuk melawan “kombinasi maut” antara panasnya iklim Banjarmasin dengan tingginya  kelembaban udara yang dikhawatirkan akan mengundang  flu dan batuk, jika “bertemu” dengan badan yang tidak fit, karena kelelahan setelah seharian berpetualang bersentuhan dengan air. 

Saat ini, di Kalimantan Selatan terdapat 3 destinasi Pasar Terapung, yaitu Pasar Terapung alami tertua yang berusia ratusan tahun di muara Sungai kuin di tepian Sungai Barito (tempat syuting ID Station RCTI, awal tahun 90-an), Pasar Terapung buatan di Siring Kota Sungai Martapura (keduanya terletak di wilayah Kota Banjarmasin) dan yang terakhir adalah Pasar Terapung Desa Lok Baintan, di Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar yang sekarang sedang naik daun.

Dari ketiga pasar terapung diatas, masing-masing menawarkan karakteristik sensasi dan eksotisme yang berbeda-beda, tapi semuanya dijamin ngangeni! 
Eksotisnya warna-warni Pasar Terapung 

Khusus bagi wisatawan yang ingin menikmati sensasi dan eksotisme pasar terapung, tapi mempunyai keterbatasan waktu! Jangan kuatir! Berbeda dengan pasar terapung alami di muara Sungai Kuin dan di Desa Lok Baintan yang hanya sekitar 2 jam saja (wisatawan harus berangkat pagi buta, karena biasanya pasar akan bubar ketika matahari mulai beranjak terang), maka pasar terapung buatan di kawasan siring kota yang berada di tengah kota Banjarmasin ini bisa menjadi alternatif pilihan.
Suasana menara pandang, kawasan wisata sungai terpadu di jantung Kota Banjarmasin


Pasar terapung ini lokasinya di kawasan wisata sungai terpadu yang dibangun di tepian Sungai Martapura, tepat di jantung kota Banjarmasin. Selain destinasi pasar terapung, di sini juga terdapat beberapa destinasi lain yang tak kalah menarik untuk di eksplorasi, ada wisata susur sungai, rumah adat ANNO 1925, patung Bekantan raksasa dan menara pandang, untuk melihat landscape Kota Banjarmasin dari ketinggian.

Pasar terapung buatan yang digagas oleh Pemko Banjarmasin ini, relatif lebih mudah untuk “dinikmati”, karena lokasinya yang strategis serta jam operasional yang lebih lama dan yang terpenting, meskipun buatan tapi tetap menyuguhkan “suasana” ala pasar terapung alami di muara Sungai Kuin dan Desa Lok Baintan yang legendaris. 
Suasana khas pasar terapung, jukung para pedagang saling berdesak-desakan mencari posisi paling strategis

Para pedagang disini biasa disebut dukuh atau penyambangan sebagian besar adalah ibu-ibu dan nini-nini yang berasal dari desa-desa di hulu perbatasan Kabupaten Banjar. Karena jaraknya yang relatif jauh, biasanya mereka datang dan pulang bersama-sama dengan cara ditarik dengan kelotok, sebutan untuk perahu bermesin tempel yang ukuranya lebih besar.
  
Pulang bersama-sama dengan ditarik kelotok

Sebagian besar, keunikan pasar terapung alami muara Sungai Kuin dan Desa Lok Baintan juga ada di sini. Para pedagang disini biasa di panggil acil, sebagian besar “berseragam” atribut khas layaknya perempuan petani suku Banjar, yaitu memakai baju muslim, tanggui untuk tutup kepala dan memulas pupur dingin tradisonal di seluruh wajah untuk melindungi dari terik matahari. 
Inilah wajah-wajah ceria dengan senyuman khas yang akan selalu menyapa anda di pasar terapung


Penampilan khas acil-acil ini semakin mempesona tatkala senyuman tulus, hangat dan bersahabat khas mereka mulai mengembang disaat menyapa para pengunjung yang datang. Hanya saja, kesan ini mungkin berbeda di mata pengunjung anak-anak yang baru pertama kali melihat penampilan ibu-ibu “bertopeng” layaknya riasan badut ini, ekspresinya bisa macam-macam. Ada yang tertawa terpingkal-pingkal tapi tidak jarang ada juga yang menangis ketakutan. Lucu ya!
Aneka buah-buahan dan sayuran yang dijajakan oleh acil-acil di Pasar Terapung

Acil-acil pedagang disini menjual, buah-buahan, sayuran, bumbu dapur, tanaman, bunga, ayam, itik, telur, sembako, aneka wadai (kue), nasi kuning, soto Banjar, sampai kerajinan tangan khas suku Banjar juga ada di sini. 
Kedai apung "SOTO ALAM ROH" menyediakan kuliner Soto Banjar di pasar terapung 

Sebagian besar acil-acil disini berbicara dengan bahasa Banjar pesisir yang relatif mudah dipahami oleh pengunjung dari luar Banjar, hanya saja logat dan cara bicara yang relatif agak cepat sering kali mempersulit komunikasi, tidak jarang si-pembeli akhirnya hanya melongo mendengarkan pandiran si-acil. 
"Pilih...pilih...pilih handak yang mana ikam......!?"
Pilih...pilih...pilih mau yang mana kamu.......!?

Jukung yang dipakai acil-acil berjualan ukurannya berbeda-beda, sehingga tidak semua jukung bisa benar-benar merapat mendekati pembeli. Hal ini mengharuskan para acil memakai tongkat dayungnya untuk mengambil uang atau menyerahkan barang yang dibeli oleh pengunjung. Begitu pula jika pembeli ingin mengambil gorengan atau kudapan, mereka harus memakai tongkat dengan tusukan diujungnya….. 
Seorang Pembeli menyerahkan sejumlah uang pembayaran kepada pedagang di Pasar Terapung

Selain keunikan-keunikan diatas, ada beberapa tradisi warisan budaya Banjar bahari (lama) yang sampai sekarang masih terlihat di sini, yaitu tradisi bapanduk atau barter barang dengan barang dan akad jual beli diantara penjual dan pembeli seperti yang disyaratkan dalam syariat agama Islam. Saat ini, selain di pasar terapung sepertinya susah untuk menemui tradisi bapanduk alias barter dan akad jual beli dalam transaksi jual beli di masyarakat.
Si-Acil menyerahkan sekantung buah kepada pembelinya dengan memakai tongkat dayungnya

Inilah #CeritaSamaMixagrip tentang eksotika budaya pasar terapung di Banjarmasin. Warisan peradaban budaya sungai suku Banjar yang telah berumur ratusan tahun dan tetap terjaga sampai saat ini. Penasaran!? Yuk jalan-jalan ke Banjarmasin…..!


Artikel terkait :

1. Membangun Ruang Publik, Berbasis (Budaya) Sungai ala Kota Banjarmasin



Minggu, 23 Agustus 2015

Sensasi Menakjubkan dari Kota Seribu Sungai, Banjarmasin Bungas!

gambar diambil dari sini

Kota “Seribu Sungai” itulah julukan Kota Banjarmasin yang dikenal dunia! Kota tua yang juga dikenal sebagai kota perdagangan di Pulau Kalimantan ini mempunyai banyak keunikan yang benar-benar tidak bisa ditemui didaerah lain di Indonesia bahkan belahan dunia manapun. 
Sebagian besar wilayah Ibu Kota Propinsi Kalimantan Selatan ini merupakan dataran rendah bahkan posisi daratannya 60cm dibawah permukaan laut. Unik bukan? Ada sebuah Kota yang rata-rata ketinggian daratannya di bawah permukaan air laut? Hal inilah yang menyebabkan sebagian besar wilayah Kota Banjarmasin berupa lahan basah atau rawa-rawa yang selalu digenangi air. Kalau di lihat dari udara, wilayah Kota Banjarmasin seperti sekumpulan pulau-pulau kecil yang disatukan oleh liukan sungai-sungai besar maupun kecil yang begitu banyak jumlahnya.

Kondisi alam Kota Banjarmasin yang didominasi oleh rawa-rawa dan sungai inilah yang menjadi, titik awal terbentuknya budaya air/sungai di Kota Banjarmasin. Sungai dan rawa-rawa telah menjadi urat nadi bagi kehidupan masyarakat Kota Banjarmasin dan sekitarnya. Wujud nyata budaya sungai yang sampai detik ini masih eksis dan  bisa dinikmati adalah keberadaan pasar terapung “alami” di Muara Sungai Kuin dan Lok Baintan yang sekarang menjadi ikon pariwisata terpenting di Kota Banjarmasin dan Kalimantan Selatan. Pasar terapung “alami” merupakan salah satu produk dari budaya sungai khas Kota Banjarmasin yang tidak akan bisa ditemukan di daerah lain di belahan bumi manapun. Dengan menggunakan jukung/kelotok (sejenis perahu kecil bermesin tempel), selepas subuh para pedagang dan pembeli melakukan transaksi di atas air dengan ditingkahi riak-riak ombak sungai. Uniknya lagi sebagian besar transaksi di sini awalnya dilakukan secara “barter” tanpa uang sepeserpun. Tapi seiring dengan meroketnya pamor pasar terapung sejak djadikan ID station salah satu TV swasta nasional di awal 90-an yang ditandai dengan banyaknya turis dan wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang untuk melihat dan berinteraksi secara langsung, proses transaksi “barter” mulai bergeser menjadi transaksi menggunakan uang tunai. Transaksi barter akhirnya terbatas hanya untuk sesama pedagang saja. Pergeseran tidak hanya terjadi pada alat dan proses transaksinya saja. Barang-dagangan yang dibawa oleh pedagang juga semakin beraneka rupa. Jika awalnya hanya hasil alam seperti buah-buahan, sayuran dan ikan-ikan sungai sekarang berkembang menjadi semakin lengkap,  mulai dari sembako, mainan anak-anak bahkan berbagai kuliner khas suku Banjar seperti soto Banjar, wadai (kue) khas Banjar dll. Berinteraksi dengan pedagang dan pembeli lain yang rata-rata menggunakan bahasa Banjar dari atas kelotok yang ditingkahi riak ombak sungai akan memberi sensasi dan pengalaman menakjubkan yang tidak akan terlupakan seumur hidup. Unik, tidak biasa dan sensasional!

Sensasi menakjubkan dari Kota Banjarmasin tidak hanya pasar terapung “alami” saja. Sekarang yang sedang naik daun dan lagi digandrungi wisatawan adalah wisata susur sungai, yaitu mengunjungi titik-titik tempat wisata di Kota Banjarmasin melalui jalur sungai dengan menggunakan taksi air, yaitu sejenis perahu bermesin dengan kapasitas penumpang sekitar 20-25 penumpang. Uniknya, taksi air disini tidak ada trayek khusus, rute sesuai permintaan pengunjujng dan asiknya lagi, tarifnyapun bisa nego alias tawar menawar.. Ada beberapa titik pangkalan taksi air yang bisa melayani wisata susur sungai ini dantaranya bisa mulai dari titik siring tendean di seberang Masjid SabilalMuhtadin, bisa juga mulai dari Warung Soto Banjar “Bang Amat” di daerah Banua Anyar salah satu icon wisata kuliner di Kota Banjarmasin. Sepanjang perjalanan menyusuri sungai-sungai di Kota Banjarmasin, kita akan disuguhi fragmentasi alamiah produk budaya sungai khas Kota Banjarmasin. Kita bisa melihat dari dekat aktifitas kehidupan sehari-hari masyarakat Kota Banjarmasin secara langsung, seperti uniknya cara suku Banjar menangkap ikan dengan berbagai alat penagkap ikan tradisional, “rumah lanting” yaitu rumah terapung di tengah sungai,  bermacam-macam arsitektur rumah adat Banjar  yang telah berusia ratusan tahun dan banyak lagi yang lainnya. Penasaran? Pasti…..  

Selain eksotisme produk budaya sungai, Kota Banjarmasin juga mempunyai destinasi wisata kuliner yang wajib untuk di kunjungi dan dinikmati sensasinya.  Selain Lontong Orari yang sudah melegenda, Banjarmasin juga mempunyai kuliner soto khas suku Banjar, yang dikenal dengan “Soto Banjar”. Selain rasanya yang sensasional ada yang unik dalam pembuatan soto khas masyarakat Kalimantan Selatan ini, yaitu kuahnya yang terbuat dari campuran susu cair dan berbagai rempah-rempah alami khas Kalimantan Selatan. Menikmati sedapnya Soto Banjar akan semakin lengkap bila dipadukan dengan pilihan tempat yang tepat yaitu di tepi sungai yang teduh dan sejuk. Makan soto Banjar sambil melihat atraksi burung elang yang berputar-putar mengincar mangsa di balik permukaan air atau lalu-lalang perahu kelotok atau taksi air yang membawa penumpang, menawarkan kesegaran pada  otak dan mata kita dan akan memberi efek relaksasi yang menenangkan. Hemmmmmh….. mau mencoba sensasinya?
Selain Soto Banjar yang sudah banyak dikenal, Kota Banjarmasin sebenarnya masih mempunyai banyak produk kuliner yang sangat layak untuk dicoba dan kalau perlu dijadikan sebagai oleh-oleh untuk keluarga di dirumah. Salah satu diantaranya adalah wadai-wadai khas Banjar yang terkenal dengan citarasa manis legit. Sebut saja bingka barandam, lam, bingka kentang, pais pisang, kelelepon buntut, tapai gambut,dll  Sudah menelan ludah….? Ha…ha…ha….ini belum seberapa! Karena kalau merasakan wadai-wadai aslinya pasti akan nambah, nambah dan nambah lagi menelan ludahnya…….

Inilah Kota Banjarmasin, Venesia dari bagian selatan Pulau Kalimantan yang tidak cukup sehari dua hari untuk meng-eksplorasi sensasi keunikannya…..lebih lama singgah di Banjarmasin akan lebih sensasional perjalanan kita! Yuk jalan-jalan ke Banjarmasin! 













Kamis, 11 Desember 2014

6 Oleh-oleh Khas di "Kota Seribu Sungai" Kalimantan Selatan


131014akain.jpg"Kota Seribu Sungai", itulah julukan kotaku, Kota Banjarmasin. Sebagai ibukota pemerintahan Provinsi Kalimantan Selatan, Kota Banjarmasin adalah "etalase" Bumi Banjar, yaitu tanah bertuah milik masyarakat suku Banjar di selatan Pulau Kalimantan.

Kota Banjarmasin dan Pulau Kalimantan secara umum sebenarnya menyimpan segudang eksotisme yang pantas untuk di apresiasi, baik dari sisi budaya, kekayaan alam, maupun geografis, dan geopolitiknya (tentu semua pernah mendengar wacana ibu
kota Negara di pindah ke Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah).

Pernahkah Anda membayangkan sebuah
kota yang tinggi permukaanya di bawah permukaan laut? Itulah Kota Banjarmasin, yang posisinya 60cm di bawah permukaan laut. Unik-kan?! Sayang, Keunikan Kota Banjarmasin yang satu ini memang jarang ter-ekspos keluar.

Kalau berkunjung ke
Banjarmasin, melalui jalur udara, tanda-tanda eksotisme lain, sudah mulai nampak ketika pesawat mulai memasuki wilayah udara muara Sungai Barito. Dari langit, kita bisa melihat DAS sungai Barito yang meliuk-liuk panjang laksana seekor ular raksasa yang menyusui ribuan anak-anaknya di tengah kerimbungan hutan yang hijau. Ribuan anak ular yang tak lain adalah anak-anak Sungai Barito inilah yang menjadikan Kota Banjarmasin dijuluki sebagai "Kota Seribu Sungai", karena banyaknya sungai besar maupun kecil yang membelah bumi Kota Banjarmasin.

Selain anugrah alam yang begitu mempesona, Kota Banjarmasin dan Provinsi Kalimantan Selatan juga memiliki potensi budaya yang sangat layak untuk di eksplor lebih jauh. Budaya Banjar sebagai identitas Suku Banjar selalu identik dengan budaya perairan khususnya perairan darat, hal ini dikarenakan wilayah perairan darat yang mendominasi sebagian besar wilayah Provinsi Kalimantan Selatan. Pesona  Budaya Banjar inilah magnet bagi pariwisata di Kalimantan Selatan dan Kota Banjarmasin khususnya!

Bagi penikmat wisata, ikon pariwisata seperti pasar terapung, kerbau rawa, itik alabio, soto banjar, dan tentunya
kota Intan Martapura pasti sudah akrab di telinga. Sedangkan untuk souvenir atau oleh-oleh khas Kalimantan Selatan? Jangan kuatir! Kota Banjarmasin sebagai "etalase" Bumi Banjar, Kalimantan Selatan mempunyai oleh-oleh khas yang betul-betul khas Kalimantan Selatan, di antaranya :

1. Batuan Mulia
Kota Martapura, ibu kota Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan selain dikenal sebagai serambi Makkah-nya Kalimantan, juga dikenal sebagai "kota intan". Kota Martapura inilah 'surga-nya' pecinta batu mulia. Hampir semua jenis batu mulia bisa ditemukan di sini!. Dari harga ribuan sampai milyaran rupiah, semua ada di sini. Pusat konsentrasi jual-beli batu mulia letaknya tepat di tengah kota, yaitu di pertokoan Cahaya Bumi Shalawat (CBS). Selain lokasinya yang strategis, karakter proses jual beli batu mulia disini layaknya pasar tradisional, sehingga proses interaksi antara penjual dan pembeli lebih intens, dekat, dan akrab, Jadi kalau anda berkunjung ke sini jangan heran kalau tempat ini tidak pernah sepi dari pengunjung, baik wisatawan lokal, interlokal, maupun mancanegara.

2. Kain Sasirangan
Kain sasirangan adalah kain khas suku Banjar di Kalimantan selatan. Nama "Sasirangan" sebenarnya adalah kata kerja, yaitu mengadopsi dari proses pembuatannya. "Sa" yang berarti "satu" dan "sirang" yang berarti "jelujur/lajur". Secara harfiah sasirangan bisa diartikan sebagai proses pen-jelujur/lajur-an yang di simpul/diikat dengan benang atau tali lainnya kemudian di celup untuk pewarnaannya.

Sasirangan setidaknya mengenal 19 motif, di antaranya sarigading, ombak sinapur karang (ombak menerjang batu karang), hiris pudak (irisan daun pudak), bayam raja (daun bayam), kambang kacang (bunga kacang panjang), naga balimbur (ular naga), daun jeruju (daun tanaman jeruju), bintang bahambur (bintang bertaburan di langit), kulat karikit (jamur kecil), gigi haruan (gigi ikan gabus), turun dayang(garis-garis), kangkung kaombakan (daun kangkung), dan jajumputan (jumputan). Selain itu ada pula kambang tampuk manggis (bunga buah manggis), dara manginang (remaja makan daun sirih), putri manangis (putrid menangis), kambang cengkeh (bunga cengkeh), awan beriring (awan sedang diterpa angin), dan benawati (warna pelangi).

Menurut sejarahnya, masing-masing motif kain sasirangan mempunyai fungsi yang berbeda-beda dalam ritual upacara adat suku banjar, ada yang khusus untuk pengobatan orang sakit (ghaib), laung (ikat kepala adat Banjar), Kakamban (serudung), udat (kemben), babat (ikat pinggang), tapih bahalai (sarung/jarik untuk perempuan), dan lain sebagainya.

Seiring ke-khasan kain Sasirangan yang "menjual", peruntukan kain sasirangan tidak hanya sebagai bagian dari ritual adat suku Banjar saja, tapi sudah melebar dan meluas melampaui batas-batas sakral sebagaimana fungsi awalnya. Sekarang, ditangan pejuang-pejuang kreatif, (tanpa berusaha mengubah fungsi utamanya), kain kebanggan masyarakat Kalimantan Selatan ini telah menjelma menjadi berbagai produk seni yang menakjubkan, bahkan sudah siap untuk go internasional!
  

3. Amplang
Kalimantan Selatan mempunyai camilan sejenis kerupuk yang dikenal dengan sebutan "Amplang". Awalnya, bahan baku utama pembuatan Amplang adalah ikan pipih (Notopterus chitala H.B.) yaitu sejenis ikan air tawar yang habitat alamnya adalah sungai dan rawa. Tapi seiring dengan semakin langkanya ikan pipih, perajin amplang memilih ikan tenggiri atau ikan gabus untuk dijadikan bahan baku utamanya dikombinasikan dengan berbagai rempah dan bumbu khas resep turun temurun!  


sumber foto  http://amplangikan.blogspot.com/
Dengan tekstur olahan yang renyah dan lembut, plus aroma dan rasa ikan yang menggoda, hhmm….maknyuus! Dijamin bikin Anda ketagihan! Sentra pembuatan amplang paling terkenal adalah di daerah Kabupaten Kotabaru, tapi sekarang seiring perkembangan pariwisata di seluruh wilayah Kalimantan Selatan yang begitu pesat menjadikan sentra industri amplang mulai meluas dan berkembang di berbagai daerah di Kalimantan Selatan. 

4. Panting
Panting adalah alat musik petik khas Kalimantan Selatan yang bentuk dasarnya mirip gambus Arab dengan ukuran yang lebih kecil, tapi mempunyai hiasan dengan ornament ukiran dan painting khas Kalimantan Selatan di beberapa bagian. Seperti ukiran kepala naga di bagian kepala Panting dan ornament khas suku Banjar di bagian lambung 

sumber foto : https://www.facebook.com/rashya.smenda

Kata "Panting" berarti petik, mengadopsi dari cara memainkannya yakni, membunyikan senar dengan teknik petikan/sentilan. Awalnya, "Panting" hanya memiliki tiga buah tali atau dawai, dimana masing-masing mempunyai fungsi masing-masing. Tali pertama disebut pangalik. Yaitu tali yang dibunyikan untuk penyisip nyanyian atau melodi. Tali kedua, disebut panggundah atau pangguda yang digunakan sebagai penyusun lagu atau paningkah. Sedang tali ketiga disebut agur yang berfungsi sebagai bass.

Tali "Panting" pada masa lalu dibuat dari haduk
hanau (ijuk), serat nenas, serat kulit kayu bikat, benang mesin, atau benang sinali. Tapi sekarang benang nilon dan kawat/string (dengan empat bentangan pada badan "Panting") tampak lebih banyak digunakan karena lebih mudah didapatkan dan bunyinya yang jauh lebih merdu.

Seiring semakin kreatif dan variatifnya ornament penghias yang melekat di badan panting, fungsi panting sekarang tidak hanya  untuk dinikmati alunan nada-nadanya saja, tapi juga cocok untuk benda seni pajangan penghias ruangan

5. Miniatur Rumah Adat Banjar

Suku Banjar mempunyai beberapa jenis rumah adat yang sangat khas di antaranya bubungan tinggi, gajah baliku, palimasan, balai bini, tadah alas, gajah manyusu, balai laki, palimbangan, cacak burung, lanting, joglo gudang, dan joglo bangun gudang.
Suku Banjar mempunyai beberapa jenis rumah adat yang sangat khas di antaranya bubungan tinggi, gajah baliku, palimasan, balai bini, tadah alas, gajah manyusu, balai laki, palimbangan, cacak burung, lanting, joglo gudang, dan joglo bangun gudang. Untuk souvenir miniatur rumahadat banjar, sesuai dengan aslinya bahan baku utamanya adalah kayu. Hanya saja, jenis kayu yang di digunakan adalah kayu agatis, bukan kayu ulin/kayu besi seperti bahan kayu rumah aslinya. Saat ini, miniatur rumah adat Banjar asli Banjarmasin ini menjadi buruan kolektor, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

6. Kaos Banjar
Trend kaos dengan tema daerah memang lagi booming, tidak ketinggalan di Kota Banjarmasin. Kalau di Jogja ada kaos Dagadu, di Banjarmasin ada kaos HY-MUNK yang artinya senang, bahagia dan kaos B-Banjar. 

 
sumber foto : http://hymunk.blogspot.com/ &  http://www.kaosbanjarmasin.com/
Berbeda dengan konsep kaos daerah lainnya, kaos asli Banjar ini lebih memilih untuk menjadi media promosi bagi berbagai potensi adat dan budaya masyarakat Suku Banjar secara detail. Bila melihat katalog produk dari kaos HY-MUNK, kita seperti melihat dan membaca rekam jejak (ensiklopedi) budaya, adat istiadat dan profil suku banjar serta daerah Kalimantan Selatan secara utuh tanpa harus mengurangi roh artistik dan komersial dari produk kaosnya. Sungguh eksotis dan pasti menarik untuk dipakai dan dikoleksi

artikel ini bisa juga di baca di sini