Tampilkan postingan dengan label Banjarbaru Book Festival. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Banjarbaru Book Festival. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 April 2016

Menjadi Tetangga DA 1






Ada yang berbeda dalam beberapa hari terakhir di Komplek perumahan tempat saya tinggal. Setiap pagi di jalur utama masuk perumahan banyak sekali terdapat mobil patroli dan ubarampe-nya. Delapan tahun saya menghuni komplek, baru kali ini ada penampakan tidak biasa seperti ini dan yang paling menarik perhatian saya adalah mobil sedan hitam paling mewah yang ada diantara mobil-mobil itu. 

Mobil dengan plat merah bertuliskan DA 1 itu sudah beberapa hari ini nongkrong di salah satu rumah di jalur utama tersebut. Siapakah gerangan dirinya, pemilik mobil itu? Ternyata pemiliknya adalah Paman Birin, panggilan akrab H. Sahbirin Noor, Hobnor (Gubernur;Bhs Banjar) terpilih Kalimantan Selatan periode 2016-2021.

Benar-benar nggak nyangka, di Komplek saya ternyata juga dihuni oleh orang nomor 1 di Kalimantan Selatan. Padahal sejak kecil saya tidak pernah bermimpi jadi Hobnor apalagi punya tetangga Hobnor...he...he...he, ngelantur! Begini, sebagai warga Kalimantan Selatan dan kebetulan selama ini belum pernah bertetangga dengan Bapak Hobnor, mau-nggak mau saya harus menimbang-nimbang, kira-kira asyik nggak ya, kalo bertetangga dengan Bapak Hobnor ?


Harusnya sih asyik! Tahu kenapa...? 
Sebagai warga Kalimantan Selatan sejak sebelas tahun lalu, belum pernah sekalipun saya melihat wajah pejabat Gubernur Kalimantan Selatan secara langsung! Nah sekarang, karena berdekatan mestinya bisa setiap hari bisa melihat beliau! Bertegur sapa bahkan tidak menutup kemungkinan untuk ngobrol sama sidin (Beliau; Bhs Banjar). 

Ini keasyikan PERTAMA yang seharusnya saya dapatkan. Alasannya banyak! Pertama, jarang-jarang lho bisa bertetangga dengan Bapak Hobnor. Kedua, Balik lagi, Sejak kecil saya belum pernah melihat apalagi berjabat tangan, ngobrol dan sejenisnya dengan Bapak Hobnor. Ketiga, saya dan warga komplek bisa selfie (laaaah, laki kok selfie! Harusnya kan Bambang, Joko atau parno) sama sidin (kalau sidin mau...he...he...he!) Ya, minimal sama mobil dinas sidin DA 1, kan jarang-jarang tuh ada yang bisa! Keempat, ini berkaitan dengan pendidikan politik untuk anak-anak kecil di komplek kami, termasuk anak-anak saya. Mereka pasti akan bertanya, "siapa itu bah, kok mobilnya dikawal polisi?" Kalau dijawab, itu Bapak Hobnor Kalimantan Selatan. Pasti ada pertanyaan lanjutan dari anak saya, "Bapak Hobnor itu apa bah ...bla...bla...bla...?" Menurut saya, ini bagus untuk pendidikan politik anak-anak saya, karena masih kecil sudah bersentuhan dengan istilah Hobnor. Syukur-syukur dia bisa menangkap penjelasan saya dan akhirnya bisa membangun mimpi dan bercita-cita jadi presiden eh hobnor...he...he...he...
Keasyikkan berikutnya, KEDUA. Jalan utama di depan rumah sidin selain menjadi julur utama lalulintas keluar masuk komplek, juga menjadi jalur utama warga komplek untuk aktifitas olahraga pagi dan sore, seperti jogging, bersepeda bahkan karena minimnya fasilitas umum dan olahraga sama anak-anak biasanya juga dijadikan tempat bermain bulutangkis dan main sepakbola. Harapannya, kehadiran sidin bisa menjadi katalis untuk semakin menggairahkan olahraga di lingkungan komplek. Syukur-syukur, bisa menambah fasilitas olahraga di komplek yang selama ini hanya dijanjikan terus sama pengembang, biar jalanan didepan rumah sidin ngak dipakai anak-anak main bola lagi ...he...he...he...! Hiks...berharap banget! Lagian pasti lucu kalau tertangkap kamera wartawan, jalanan depan rumah Hobnor kok jadi lapangan bola anak-anak!? Kasihan Patroli pengawalnya kalau setiap saat sidin lewat harus "menghalau" anak-anak yang lagi asyik main...he...he...he! 


Ucapan selamat dari kolega 

Satu lagi yang sedang heboh, jadi omogan warga sekomplek! Adanya rencana tanah kosong dibawah SUTET yang berada di seberang rumah sidin. Dengar-dengar kabar burung, mau dibangun Masjid besar oleh sidin untuk menggantikan Mushola kecil yang selama ini menjadi pusat kegiatan ibadah warga komplek. Woooow, mantaaap! Kalau rencana ini benar-benar menjadi kenyataan, penantian warga komplek selama lebih dari 10 tahun mendapatkan fasum yang memadai (khususnya sarana ibadah dan olahraga) akan terwujud. Mudah-mudahan, dengan adanya jalur olah raga di depan rumah dan Masjid Besar di seberang rumah sidin, harapannya warga komplek khususnya bisa lebih sehat jasmani dan rohani sehingga bisa berinteraksi lebih intensif untuk bersua, bercengkerama dan bertukar pikiran secara informal dengan sidin seperti saat kampanye (berdasarkan pengalaman, kalau suasana tidak formal, biasanya uneg-uneg warga yang keluar lebih oyektif dan sesuai realitas bukan yang normatif saja), siapa tahu dari kumpul-kumpul dengan warga komplek yang mempunyai latar belakang campur aduk, bisa ketemu dengan ide-ide cerdas untuk mengembalikan trend positif perekonomian Kalimantan Selatan yang sekarang sedang down akibat turunnya pamor komoditas batubara, karet dan kelapa sawit yang selama ini menjadi andalan Kalimantan Selatan.

Apalagi orang di komplek kami yang sebagian besar orang Banjar asli, tahu betul potensi besar Kalimantan Selatan yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah untuk dikembangkan adalah sektor pariwisata! Apalagi potensi pariwisata Kalimantan Selatan selama ini dikenal termasuk kelas wahid! Siapa tidak tahu Kota Seribu Sungai yang eksotis? Siapa yang tidak pernah mendengar pasar terapung alami satu-satunya di dunia? Siapa yang tidak tahu kerbau rawa Danau Panggang? Siapa yang tidak tahu Soto Banjar yang citarasanya ngangeni? Sayang, selama ini potensi besar itu terabaikan karena ninabobo batubara dan kelapa sawit yang terbukti benar-benar memabukkan dan menyesatkan masa depan perekonomian dan kelestarian lingkungan hidup Kalimantan Selatan. Waduuuh, kok jadi memanjang ya....

Nah...ini dia keasyikan yang paling asyik! KETIGA, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah distribusi listriknya kan sering byarpet seperti lampu disko, apalagi jalur Jl. AYani arah keluar kota tempat komplek kami berada intensitas pet-nya lebih sering, panjang dan lama dibanding yang lain dari pada byar-nya. Mudah-mudahan dengan menjadi tetangga Bapak Hobnor kisah dan ceritanya bisa berbeda. PLN yang biasanya sering mematikan distribusi untuk jalur wilayah kami, mudah-mudahan karena ada Bapak Hobnor tidak akan lagi. Syukur-syukur dibuatkan jalur prioritas...he...he...he....! Begitu juga dengan distribusi air PDAM yang sering macet, bahkan sering tidak kebagian....!

Kebetulan posisi komplek tempat saya tinggal, berada di perbatasan antara Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar. Secara administratif kami masuk wilayah Kabupaten Banjar dengan ibu kota Martapura yang jaraknya sekitar 33 km dari komplek kami, tapi fasilitas PDAM dilayani oleh jaringan distribusi PDAM Bandarmasih milik Pemko Banjarmasin, karena secara geografis kami lebih dekat dengan Kota Banjarmasin yang jarak pusat kotanya sekitar 7 km saja dari komplek kami. Posisi ini, menjadikan kami seperti layaknya "anak tiri" dengan berbagai fragmentasi problematika layaknya daerah perbatasan lainnya. Mudah-mudahan dengan hadirnya Bapak Hobnor di komplek kami semuanya bisa segera berubah! Amin dan keasyikan terakhirnya, KEEMPAT adalah komplek perumahan kami jadi lebih aman, karena banyak aparat yang berjaga diseputar komplek kami.


Artikel terkait : 




 


Rabu, 06 April 2016

"Lampu Disko 2016", Kado PLN untuk Kalimantan Selatan dan Tengah!





  (Gambar : Hariesaja)

(Gambar : Hariesaja)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kaekaha.4277/lampu-disko-2016-kado-pln-untuk-kalimantan-selatan-dan-tengah_56af0e2ff67e613f07da6f4f
(Gambar : Hariesaja)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kaekaha.4277/lampu-disko-2016-kado-pln-untuk-kalimantan-selatan-dan-tengah_56af0e2ff67e613f07da6f4f
(Gambar : Hariesaja)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kaekaha.4277/lampu-disko-2016-kado-pln-untuk-kalimantan-selatan-dan-tengah_56af0e2ff67e613f07da6f4f


Sesak di dada semakin naik ke ubun-ubun, ketika pagi-pagi Selasa, 5 April 2016 membuka halaman ke-16 Harian Banjarmasin Post, masih saja  terpampang satu halaman penuh advertorial PLN yang berisi pengumuman "PEMBERITAHUAN RENCANA JADUAL PEMADAMAN BERGILIR PT. PLN (PERSERO) WILAYAH KALSELTENG" mengulangi advertorial yang sama pada edisi-edisi sebelumnya. seperti Jumat, 29 Januari 2016 mulai tanggal 29 Januari - 10 Februari 2016 dengan tagline cantik "SERVIS BERKALA DEMI KONDISI PRIMA". wadaaaaah! Apa lagi ini? Saat itu, tidak berapa lama masuk pesan Twitter dari @wargabanua memberikan informasi yang sama dalam versi ringkas dan langsung saya balas dengan versi lengkap dari Banjarmasin Post biar mantaaaaaap!


(Gambar : twitter @wargabanua)

Kemarin (29/01) siang sehabis Sholat Jumat tet! sampai pukul 5-an sore tanpa ba..bi..bu lampu sudah tewas dengan sukses pakai lama lagi! Yang membuat semakin "panas" hati dan otak adalah, suhu udara Banjarmasin dan sekitarnya saat itu mencapai 32 derajat Celcius! Alamaaaak, panas dan gerah tidak bisa terhindarkan. Mau menghidupkan Genset (Generator Set) kasihan sama tetangga yang lagi istirahat (sudah kepanasan dapat bising sama asap, apa tidak tambah pusing?). Bisakan membayangkan bagaimana gerahnya seisi kota? Besoknya, tanggal 30 Januari 2016, Banjarmasin Post menurunkan berita yang lebih menyesakkan dada! "Pemadaman Bergilir Hingga Akhir 2016". Alamaaaaak apa pula ini PLN?

 (Gambar : Repro epaper Banjarmasin Post)

Ada satu hal yang perlu diingat, panas udara Kota Banjarmasin beda dengan kota-kota lain di Indonesia lho! Ini dia sebabnya, sebagian besar lahan Kota Banjarmasin berupa lahan basah dataran rendah yang berisi air. Berbeda dengan daratan yang cepat menyerap panas dan cepat melepas panas, sifat air sebaliknya, lambat menyerap panas dan lambat pula melepas panas. Ini yang terjadi di Banjarmasin.
Stabilnya panas suhu udara, selain karena pancaran sinar matahari juga dipicu oleh pelepasan panas secara perlahan oleh air yang menggenangi sebagian besar Kota Banjarmasin (logika mudahnya, Kota Banjarmasin seperti berada di atas bejana perebus air yang direbus menggunakan energi panas dari atas seperti cahaya matahari) dan puncak pelepasan panas akan terjadi ketika matahari mulai menghilang atau ketika malam tiba. Jadi jangan dikira bila malam hari suhu udara akan turun! Justru semakin gerah dan pengap. Bisa membayangkan bagaimana rasanya mati lampu malam hari di Banjarmasin?
Dalam satu bulan terakhir, beberapa kali PLN memadamkan aliran listriknya di malam hari dan selalu dimulai sekitar pukul 22.00 WITA dengan durasi yang bervariasi. Sepertinya tidak perlu lagi saya tulis di sini detail drama yang terjadi selama lampu mati. Bagaimana harus menidurkan anak-anak dengan suhu udara dalam rumah seperti rebusan dalam bejana? Saya yakin semua bisa membayangkan fragmentasinya! Siang ini, Senin 1 Februari 2016 PLN kembali mematikan listrik di lingkungan tempat tinggal saya 2 (dua) kali, sekitar pukul 11.00-12.00 WITA dan 14.00-17.00 WITA, padahal kalau merujuk pada pengumuman yang dipasang PLN di Harian Banjarmasin Post, hari ini kami tidak ada jadwal pemadaman. Bagaimana PLN? 

(Gambar : epaper Banjarmasin Post)

 (Gambar : epaper Banjarmasin Post)

Kondisi kelistrikan di wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah (Mungkin seluruh Indonesia, ya?) sampai detik ini memang masih saja memprihatinkan. Pemadaman bergilir yang berlarut-larut dan stabilitas tegangan yang naik-turun menjadi momok menakutkan bagi pengguna jasa listrik PLN. Teringat janji manis PLN di tahun-tahun sebelumnya di berbagai media yang selalu mengatakan “mudah-mudahan tahun ini merupakan pemadaman bergilir terakhir di Kalsel-teng!” Seperti pungguk merindukan bulan!
Terbukti, tahun 2016 ini rencana pemeliharaan 4 (empat) mesin pembangkit Asam-Asam, jika diibaratkan mesin sepeda motor harus full turun mesin dan akan mengakibatkan pemadaman bergilir lebih lama dari biasanya, sekitar 10 bulan ke depan. PLN hanya menyisakan rumah dinas Gubernur Kalsel yang menggunakan jaringan VIP dan momen bulan Ramadhan yang akan bebas "lampu disko".
Tapi janji manis PLN untuk tidak mengganggu Bulan Suci Ramadhan dan lebaran dengan "lampu disko" menjadi catatan serius bagi Hasby Mahbara, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Kalimantan Selatan. "Prinsipnya permasalahan PLN bisa dipahami, masalahnya PLN sering tidak menepati janjinya sendiri! Kali ini, PLN harus benar-benar konsisten dengan janjinya, jangan sampai meleset dan masyarakat dikecewakan lagi" (Banjarmasin Post, Sabtu 30 Januari 2016). Apalagi untuk mendapatkan pasokan listrik dari PLN, masyarakat tidak gratis alias bayar! Harus tepat waktu lagi! iya kan Pak?
Kekhawatiran dan kecemasan mendalam juga dirasakan oleh Direktur Rumah Sakit Ulin Banjarmasin, Rumah Sakit terbesar di Kalselteng, Hj. Suciati. Ada tiga ruangan fital utama dalam rumah sakit yang tidak boleh putus dari aliran listrik sedetik pun, yaitu ruang operasi, ICU (Intensive Care Unit), dan ICCU (Intensive Cardiology Care Unit). Makanya beliau meminta kepada PLN, agar RSUD Ulin mendapatkan prioritas bebas "lampu Disko".


(Gambar : Tribun Manado)

Berkaitan dengan masalah "lampu disko" di Kalselteng, ada pernyataan menarik dari Taufik Arbain, S.Sos M.Si, dosen FISIP Universitas Lambung Mangkurat yang juga Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Politik dan Pembangunan Daerah, Unlam yang dimuat Harian Banjarmasin Post, Rabu 2 Desember 2016. Menurutnya, 20 tahun sudah PLN tidak bisa mengatasi masalah "lampu disko" di wilayah Kalselteng. Anehnya, permasalahannya yang dikemukakan PLN tetap itu-itu juga! Debit air pembangkit yang turun drastis di musim kemarau, adanya mesin yang rusak atau dalam perawatan dan gangguan transmisi.
20 tahun bukanlah waktu yang singkat! Kalau memang benar masalah ini sudah berlangsung selama itu, saya kira wajar kalau masyarakat akhirnya bertanya apa saja kerjaan PLN, selama ini? Alih-alih ada progress perbaikan, sepanjang tahun 2015 masalah "lampu disko" terus berlangsung. Tercatat, pada bulan November 2015, pemadaman bergilir oleh PLN semakin jadi dan semakin parah tidak sesuai jadwalnya. Jeda waktu pemadaman semakin sempit dan durasi pemadaman semakin lama bisa sampai 6-7 jam, bahkan tidak jarang sampai seharian full.
Masalahnya bukan hanya panas dan kepanasan saja, tapi merembet ke mana-mana. Banyak bidang usaha yang terganggu bahkan lumpuh karena kado "lampu disko" dari PLN. Situasi ini jelas sangat mengganggu stabilitas ekonomi mikro maupun makro. Tidak itu saja, stabilitas keamanan regional juga terusik. Celakanya, ternyata tahun 2016 kinerja kelistrikan PLN bukannya lebih baik, tapi justru lebih parah dibanding tahun 2015! Baru saja masyarakat Kalimantan Selatan dan Tengah memasuki tahun 2016 dengan beban kondisi perokonomian yang terseok-seok, ibarat hidup segan mati tak mau dikejutkan dengan berita kado "lampu disko" dari PLN yang statusnya sudah masuk stadium lanjut, GAWAT DAN DARURAT! Ampun...ampun...ampun!


(Gambar : Banjarmasin Post)

Pernyataan lebih keras datang dari Riswandi, anggota Komisi III DPRD Kalsel yang menyebut pembelian mesin dari Tiongkok sebagai penyebabnya! "Kalau beli mesin yang betu-betul", katanya. Sementara itu Dr H Fauzan Ramon SM MH, Ketua Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen Banjarmasin (YLPKB) Kalimantan Selatan mengatakan, seharusnya anggota dewan selain meminta keterangan dari pihak PLN Kalselteng, juga harus "bergerak" ke pusat untuk menanyakan masalah "lampu disko" ini ke Dirut PLN dan Menteri ESDM menanyakan masalah "lampu disko" ini, termasuk soal mesin-mesin listrik yang beroperasi di PLN Kalselteng selama ini. Selain masalahnya sudah lama dan berlarut-larut, pemadaman yang terus berlangsung sangat mengganggu dan meresahkan masyarakat. Hal ini tidak boleh dibiarkan, harus segera dicarikan solusinya.
Kata ironis, bahkan kakeknya ironis sekalipun, sepertinya tidak cukup untuk menggambarkan kondisi kelistrikan di wilayah Kalsel-teng. Masyarakat Kalimantan Selatan dan Tengah seperti anak ayam yang kelaparan bahkan mati di dalam lumbung padinya sendiri! Kalimantan Selatan dan Tengah selama ini dikenal sebagai gudangnya sumber energi batubara, salah satu sumber energi utama pembangkit listrik. Uniknya (sekaligus menyesakkan dada) konon daerah inilah penyuplai batubara terbesar berbagai pembangkit listrik di berbagai daerah di Indonesia. Weleh..weleh...weleh...
Melihat dan merasakan semua fakta kelistrikan di Kalimantan (Selatan dan Tengah) yang seperti ini, apakah salah? Kalau kami menjadi “iri” dengan pelayanan kelistrikan di Pulau Jawa-Bali! Jangankan terdengar adanya pemadaman bergilir sampai hampir setahun, mati lampu saja tidak pernah ada beritanya! Kalaupun terdengar ada permasalahan kelistrikan, kesannya “cepat beres”! Amat sangat berbeda dengan Kalimantan dan mungkin semua daerah di luar Jawa. Atau yang paling gampang dicari parameternya, mungkin pertanyaan ini bisa membantu. "Pernah dengar atau baca berita, PLTU Paiton/Suralaya sering overhaul? Apalagi sampai mengakibatkan Pulau Jawa dan Bali mengalami pemadaman bergilir? Maaf, Ini fakta yang harus dijawab kawan! 




Artikel ini pertama kali diposting tgl 2 Pebruari 2016 di Kompasiana

Kamis, 12 Maret 2015

Menggagas Destinasi ”Kota Wisata Buku” (Oleh-oleh dari Banjarbaru Book Fair, 2015)

Sekitar lima tahun yang lalu, secara tidak sengaja saya menemukan sebaris kalimat sesanti yang tidak biasa,  “Banjarmasin Kota Wisata Buku”, terpampang di salah satu pilar Toko Buku Gramedia Banjarmasin. Selain tidak biasa, sesanti “tidak umum” ini memang asing di mata dan telinga. Jadi wajar kalau memunculkan pertanyaan dalam benak siapapun yang sempat membacanya. Entah, apa maksud Toko Gramedia memajang sesanti yang sama sekali tidak familiar tersebut, sekedar kalimat promotif biasa atau memang ada maksud tertentu yang terkandung di dalamnya? Selama ini Kota Banjarmasin tidak mempunyai latar belakang hubungan yang signifikan dengan dunia per-bukuan, sehingga diantara keduanya sama sekali tidak menunjukkan ke-identikan satu sama lain. Apalagi dalam balutan kata wisata! Semakin tidak connect! Apa mungkin Kota Banjarmasin bisa menjadi “Kota Wisata Buku?”
Meskipun pada dasarnya merasa apatis dengan sesanti “Banjarmasin Kota Wisata Buku”, tapi pesan tersirat dalam sesanti tersebut sebenarnya sebuah lompatan ide atau gagasan yang sangat brilliant dan visioner untuk perkembangan dan kemajuan Kota Banjarmasin kedepan, khususnya sektor pariwisata dan perbukuan yang kebetulan saat ini menjadi PR paling aktual pemerintah kota Banjarmasin dan Propinsi Kalimantan  Selatan secara umum.
 Segenap warga Kota Banjarmasin, tentu sangat bangga seandainya ide brilliant Toko Buku Gramedia tersebut benar-benar menjadi kenyataan. Menyandingkan Kota Banjarmasin dengan buku dalam sebuah wahana berkonsep pariwisata, selain akan menambah destinasi wisata (edukatif) baru bagi masyarakat Kota Banjarmasin dan sekitarnya, tentu juga akan membawa dampak yang sangat positif bagi pertumbuhan budaya baca masyarakat banua  yang tergolong masih rendah. Bahkan tidak menutup kemungkinan, multiplier effect-nya juga akan membangkitkan produktifitas dunia tulis menulis dan kesusastraan banua yang sedang mati suri, alias hidup segan mati tak mau dan yang tidak kalah pentingnya, kehadiran wahana wisata buku diharapkan bisa menjadi wadah penyaluran kreatifitas semua unsur masyarakat, terutama bagi para pemuda banua sehingga bisa membantu mengurangi keterlibatan mereka pada tindak kriminal, sex bebas dan narkoba yang semakin mengkhawatirkan dari ke hari.
Berkaca dari diskripsi diatas, gagasan besar menjadikan “Banjarmasin Kota Wisata Buku”, sangat layak untuk diapresiasi dan ditindaklanjuti secara bijak oleh semua pihak yang berkepentingan. Tapi, sepertinya gayung tidak bersambut. Setelah menunggu sekian lama ide segar yang tersirat dalam sesanti “Banjarmasin Kota Wisata Buku” tersebut sepi dari apresiasi publik dan pihak-pihak terkait terutama para pemangku kebijakan di banua.  Buktinya, selain tidak ada progress  yang nyata, spanduk kecil yang memuat tagline “Banjarmasin Kota Wisata Buku” di Toko Gramedia bukannya semakin diperbesar dan diperbanyak agar menjadi trending topic dalam isu regional, justeru sudah menghilang sejak lama dari tempatnya.
Syukurnya, ketika Kota Banjarmasin tidak juga tertarik dengan godaan daya tarik serta pesona dunia perbukuan, tidak terduga justeru tetangga sebelah Kota Banjarbaru yang jeli membaca dan menangkap celah dari ruang kosong dunia perbukuan di banua dengan membangun sebuah event perbukuan bertajuk Banjarbaru Book Fair (BBF), yaitu gelaran pameran buku terbesar di Kalimantan Selatan yang di selenggarakan sejak tahun 2013. Artinya tahun ini penyelenggaraan BBF telah memasuki edisi yang ke-3. Hebatnya, dari tahun ke-tahun kualitas dan kuantitas event ini terus bertumbuh disetiap penyelenggaraannya. Salah satu indikatornya adalah kehadiran beberapa penulis ternama Indonesia yang mau berbagi ilmu kepenulisan dan tentunya liku-liku jalan sukses yang telah mereka pilih dan jalani untuk menjadi seorang penulis sukses. Mungkinkah gelaran BBF bisa menjadi pondasi sekaligus batu loncatan bagi lahirnya sebuah destinasi “Kota Wisata Buku” di Banjarbaru? Sebuah destinasi wisata (edukatif) buku yang sifatnya permanen tidak seperti gelaran BBF yang lebih bersifat insidental?
Jika mengacu pada animo masyarakat dan komitmen pemerintah kota Banjarbaru selaku pemangku kebijakan yang selama ini selalu all out menjadi penyelenggara, sepertinya bukan hal yang mustahil jika kedepan Kota Banjarbaru bisa melahirkan sebuah destinasi wisata baru dengan genre edukatif yang berkualitas, pertama di Pulau Kalimantan, “Kota Wisata Buku”.
Kota Banjarbaru mempunyai modal awal yang memadai untuk menumbuhkan kembangkan destinasi Wisata Buku, selain event BBF yang terbukti sukses,  kota Banjarbaru mempunyai lembaga pendidikan dari tingkat SD sampai perguruan tinggi, baik negeri, swasta bahkan kedinasan yang tentunya sangat membutuhkan ruang ekspresi edukatif untuk menumpahkan gejolak kreatifitas yang representatif sebagai wadah interaktif dengan “taste” berbeda yang lebih luas dan komprehensif dari sekedar bangku sekolah, bangku kuliah maupun dunia maya, guna mendukung pengembangan pengetahuan dan wawasan baik individu maupun komunal. Selain itu, lahan Kota Banjarbaru yang masih luas plus tata kota Banjabaru yang sangat mendukung (rapi, terencana dan teorganisir dengan baik)  sangat memungkinkan untuk memberi ruang  permanen yang representatif bagi tumbuh kembang wahana edukatif yang bisa menampung semua aktifitas kreatif masyarakat, terutama yang berkaitan dengan dunia perbukuan.


Untuk konsep teknis destinasi “wisata buku” di lapangan, pada dasarnya tidak ada konsep baku yang harus dijadikan acuan standarisasi. Sampai pada point ini yang berlaku adalah hukum “pasar”, dimana kejelian dan kreatifitas membaca kebutuhan segmen pasar yang dibidik, kemasan (packaging) destinasi wisata yang di jual dan nilai lebih (benefit) yang bisa di berikan kepada pasar akan mempengaruhi daya jual, daya saing dan eksistensi sebuah destinasi wisata. Intinya, sejauh mana pengelola bisa menerapkan strategi jitu untuk membangun dan mengembangkan sebuah destinasi wisata yang berkualitas dan bernilai jual tinggi.
Melihat soliditas dan keseriusan Pemko Banjarbaru dalam membangun hajatan BBF dari awal sampai akhir, rasanya memang layak kalau harapan besar lahirnya sebuah destinasi “Kota Wisata Buku” kita mandatkan kepada Kota Banjarbaru. Mudah-mudahan, kegelisahan “positif” masyarakat banua yang merindukan sebuah destinasi wisata edukatif yang inovatif, menghibur, mendidik dan tentunya berbiaya relatif murah segera terwujud guna memancing kembali gairah dunia pariwisata dan perekonomian Kalimantan Selatan. Ayo, Banjarbaru bisa.....!!!