Tampilkan postingan dengan label ide. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ide. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Maret 2015

Menggagas Destinasi ”Kota Wisata Buku” (Oleh-oleh dari Banjarbaru Book Fair, 2015)

Sekitar lima tahun yang lalu, secara tidak sengaja saya menemukan sebaris kalimat sesanti yang tidak biasa,  “Banjarmasin Kota Wisata Buku”, terpampang di salah satu pilar Toko Buku Gramedia Banjarmasin. Selain tidak biasa, sesanti “tidak umum” ini memang asing di mata dan telinga. Jadi wajar kalau memunculkan pertanyaan dalam benak siapapun yang sempat membacanya. Entah, apa maksud Toko Gramedia memajang sesanti yang sama sekali tidak familiar tersebut, sekedar kalimat promotif biasa atau memang ada maksud tertentu yang terkandung di dalamnya? Selama ini Kota Banjarmasin tidak mempunyai latar belakang hubungan yang signifikan dengan dunia per-bukuan, sehingga diantara keduanya sama sekali tidak menunjukkan ke-identikan satu sama lain. Apalagi dalam balutan kata wisata! Semakin tidak connect! Apa mungkin Kota Banjarmasin bisa menjadi “Kota Wisata Buku?”
Meskipun pada dasarnya merasa apatis dengan sesanti “Banjarmasin Kota Wisata Buku”, tapi pesan tersirat dalam sesanti tersebut sebenarnya sebuah lompatan ide atau gagasan yang sangat brilliant dan visioner untuk perkembangan dan kemajuan Kota Banjarmasin kedepan, khususnya sektor pariwisata dan perbukuan yang kebetulan saat ini menjadi PR paling aktual pemerintah kota Banjarmasin dan Propinsi Kalimantan  Selatan secara umum.
 Segenap warga Kota Banjarmasin, tentu sangat bangga seandainya ide brilliant Toko Buku Gramedia tersebut benar-benar menjadi kenyataan. Menyandingkan Kota Banjarmasin dengan buku dalam sebuah wahana berkonsep pariwisata, selain akan menambah destinasi wisata (edukatif) baru bagi masyarakat Kota Banjarmasin dan sekitarnya, tentu juga akan membawa dampak yang sangat positif bagi pertumbuhan budaya baca masyarakat banua  yang tergolong masih rendah. Bahkan tidak menutup kemungkinan, multiplier effect-nya juga akan membangkitkan produktifitas dunia tulis menulis dan kesusastraan banua yang sedang mati suri, alias hidup segan mati tak mau dan yang tidak kalah pentingnya, kehadiran wahana wisata buku diharapkan bisa menjadi wadah penyaluran kreatifitas semua unsur masyarakat, terutama bagi para pemuda banua sehingga bisa membantu mengurangi keterlibatan mereka pada tindak kriminal, sex bebas dan narkoba yang semakin mengkhawatirkan dari ke hari.
Berkaca dari diskripsi diatas, gagasan besar menjadikan “Banjarmasin Kota Wisata Buku”, sangat layak untuk diapresiasi dan ditindaklanjuti secara bijak oleh semua pihak yang berkepentingan. Tapi, sepertinya gayung tidak bersambut. Setelah menunggu sekian lama ide segar yang tersirat dalam sesanti “Banjarmasin Kota Wisata Buku” tersebut sepi dari apresiasi publik dan pihak-pihak terkait terutama para pemangku kebijakan di banua.  Buktinya, selain tidak ada progress  yang nyata, spanduk kecil yang memuat tagline “Banjarmasin Kota Wisata Buku” di Toko Gramedia bukannya semakin diperbesar dan diperbanyak agar menjadi trending topic dalam isu regional, justeru sudah menghilang sejak lama dari tempatnya.
Syukurnya, ketika Kota Banjarmasin tidak juga tertarik dengan godaan daya tarik serta pesona dunia perbukuan, tidak terduga justeru tetangga sebelah Kota Banjarbaru yang jeli membaca dan menangkap celah dari ruang kosong dunia perbukuan di banua dengan membangun sebuah event perbukuan bertajuk Banjarbaru Book Fair (BBF), yaitu gelaran pameran buku terbesar di Kalimantan Selatan yang di selenggarakan sejak tahun 2013. Artinya tahun ini penyelenggaraan BBF telah memasuki edisi yang ke-3. Hebatnya, dari tahun ke-tahun kualitas dan kuantitas event ini terus bertumbuh disetiap penyelenggaraannya. Salah satu indikatornya adalah kehadiran beberapa penulis ternama Indonesia yang mau berbagi ilmu kepenulisan dan tentunya liku-liku jalan sukses yang telah mereka pilih dan jalani untuk menjadi seorang penulis sukses. Mungkinkah gelaran BBF bisa menjadi pondasi sekaligus batu loncatan bagi lahirnya sebuah destinasi “Kota Wisata Buku” di Banjarbaru? Sebuah destinasi wisata (edukatif) buku yang sifatnya permanen tidak seperti gelaran BBF yang lebih bersifat insidental?
Jika mengacu pada animo masyarakat dan komitmen pemerintah kota Banjarbaru selaku pemangku kebijakan yang selama ini selalu all out menjadi penyelenggara, sepertinya bukan hal yang mustahil jika kedepan Kota Banjarbaru bisa melahirkan sebuah destinasi wisata baru dengan genre edukatif yang berkualitas, pertama di Pulau Kalimantan, “Kota Wisata Buku”.
Kota Banjarbaru mempunyai modal awal yang memadai untuk menumbuhkan kembangkan destinasi Wisata Buku, selain event BBF yang terbukti sukses,  kota Banjarbaru mempunyai lembaga pendidikan dari tingkat SD sampai perguruan tinggi, baik negeri, swasta bahkan kedinasan yang tentunya sangat membutuhkan ruang ekspresi edukatif untuk menumpahkan gejolak kreatifitas yang representatif sebagai wadah interaktif dengan “taste” berbeda yang lebih luas dan komprehensif dari sekedar bangku sekolah, bangku kuliah maupun dunia maya, guna mendukung pengembangan pengetahuan dan wawasan baik individu maupun komunal. Selain itu, lahan Kota Banjarbaru yang masih luas plus tata kota Banjabaru yang sangat mendukung (rapi, terencana dan teorganisir dengan baik)  sangat memungkinkan untuk memberi ruang  permanen yang representatif bagi tumbuh kembang wahana edukatif yang bisa menampung semua aktifitas kreatif masyarakat, terutama yang berkaitan dengan dunia perbukuan.


Untuk konsep teknis destinasi “wisata buku” di lapangan, pada dasarnya tidak ada konsep baku yang harus dijadikan acuan standarisasi. Sampai pada point ini yang berlaku adalah hukum “pasar”, dimana kejelian dan kreatifitas membaca kebutuhan segmen pasar yang dibidik, kemasan (packaging) destinasi wisata yang di jual dan nilai lebih (benefit) yang bisa di berikan kepada pasar akan mempengaruhi daya jual, daya saing dan eksistensi sebuah destinasi wisata. Intinya, sejauh mana pengelola bisa menerapkan strategi jitu untuk membangun dan mengembangkan sebuah destinasi wisata yang berkualitas dan bernilai jual tinggi.
Melihat soliditas dan keseriusan Pemko Banjarbaru dalam membangun hajatan BBF dari awal sampai akhir, rasanya memang layak kalau harapan besar lahirnya sebuah destinasi “Kota Wisata Buku” kita mandatkan kepada Kota Banjarbaru. Mudah-mudahan, kegelisahan “positif” masyarakat banua yang merindukan sebuah destinasi wisata edukatif yang inovatif, menghibur, mendidik dan tentunya berbiaya relatif murah segera terwujud guna memancing kembali gairah dunia pariwisata dan perekonomian Kalimantan Selatan. Ayo, Banjarbaru bisa.....!!!

Kamis, 11 Desember 2014

Out Of The Box! Menambah Kaki-Kaki Baru…

Hidup memang seperti putaran roda pedati. Untuk menuju satu atau beberapa titik tujuan, roda memang harus berputar terus menerus sampai titik tujuan yang diinginkan. Konsekuensinya, jika sebuah roda dalam keadaan berputar maka posisi roda akan terus berubah kadang diatas, disamping kanan atau kiri dan tentu ada saatnya ada di bawah. Begitu juga perjalanan hidup saya seorang anak manusia biasa yang terlahir dengan berbagai mimpi-mimpi indah untuk menjadi manusia yang sesempurna mungkin, terutama di mata Tuhan.. Ada kalanya diatas, di tengah dan tidak menutup kemungkinan suatu saat akan berada di bawah yang kesemuanya membawa konsekuensinya masing-masing. Filosofi inilah yang menjadi referensi pertama dan utama bagi saya dalam menjalani prosesi kehidupan agar semuanya tetap berimbang

Sejak melepas pekerjaan terakhir di bidang  human resources di sebuah perusahaan retail asing dengan jabatan terakhir level manajerial, sekitar 6 tahun yang lalu, dengan bermodalkan tekad, sedikit uang plus dua etalase mungil, saya memutuskan untuk membuka kios atau toko kelontong kecil-kecilan di garasi rumah dengan konsep jemput bola (by delivery), dimana pelanggan tidak perlu repot datang ke toko tapi tinggal duduk manis dirumah, angkat telepon atau SMS maka, dalam waktu beberapa saat barang sudah sampai di depan pintu rumah pelanggan. Alhamdulillah, setelah berjibaku sekitar empat tahun, omset yang semula hanya puluhan ribu berkembang menjadi jutaan rupiah per-harinya. Karena garasi sudah tidak bisa lagi menampung item barang yang mencapai ribuan, akhirnya saya harus merelakan rumah kami untuk di modifikasi sepenuhnya menjadi toko.
Memasuki pertengahan 2013, saya membaca ada yang berubah dengan perekonomian regional Kalimantan (Selatan). Indikatornya adalah perubahan perilaku konsumen yang cenderung lebih berhemat dam menahan diri dalam berbelanja. Situasi ini mengakibatkan, turunya omzet toko secara signifikan dari hari ke hari. Memasuki tahun 2014 perekonomian regional Kalimantan (Selatan) benar-benar semakin terpuruk. Hal ini ditengarai akibat terpuruknya bisnis sektor pertambangan, khususnya batubara, yang selama ini menjadi penggerak utama perekonomian regional Kalimantan (Selatan). Meredupnya bisnis pertambangan batubara di Kalimantan (Selatan) membawa efek domino yang cukup besar dan tidak sederhana bagi perekonomian regional Kalimantan (Selatan), semua lini usaha baik yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan bisnis batubara semua ikut gulung tikar termasuk usaha toko kelontong yang saya kelola. Satu persatu pelanggan besar kami yang rata-rata perusahaan yang berkaitan dengan bisnis batubara mulai mengurangi belanja bahkan beberapa stop order karena gulung tikar alias bangkrut, sedangkan daya beli pelanggan individu dan  rumahan juga turun drastis. Memang harus diakui, perekonomian regional Kalimantan (Selatan) selama ini memang dominan tergerakkan oleh bisnis batubara.  
Celakanya, ketika perekonomian sedang stagnan, spertinya pemerintah daerah kehabisan akal dan energi untuk mendongkrak dan menggairahkan perekonomian regional sehingga mengambil langkah instant, mengijinkan beberapa jaringan retail berskala nasional yang notabene bermodal besar untuk menyerbu Kalimantan Selatan secara massive, khususnya Kota Banjarmasin dan beberapa kota satelit disekitarnya seperi Banjarbaru, Martapura dan Pelaihari. Didukung dengan modal besar yang tak terbatas, sistem chain store sampai ke kampung-kampung serta sistem teknologi informasi yang mumpuni, jelas bukan tandingan kami untuk head to head. Sudah bisa diduga akibatnya, satu-persatu pedagang-pedagang kecil di sekitar komplek kami tutup satu persatu. Diakui atau tidak itulah faktanya! Ruang gerak usaha retail bermodal menegah kebawah seperti kami yang sebelumnya sudah tertatih-tatih terkena imbas kelesuan bisnis batubara, semakin terjepit. Jangankan untuk berkembang, sekedar bisa bertahan saja wajib hukumnya untuk bersyukur.
Setelah mencoba berbagai teori dan strategi yang masuk akal, tetapi pertumbuhan omzet toko tidak juga signifikan bahkan cenderung menurun terus, disinilah kekuatan dari “kepepet” mulai bekerja. Saya harus berpikir dan bergerak cepat out of the box, keluar dari zona nyaman dan kepasrahan tanpa ikhtiar berdiri hanya pada “satu kaki” saja, yaitu toko kelontong yang sudah ada. Momentum  “titik balik” ini mengantarkan saya untuk sesegera mungkin mencari dan mendapatkan kaki-kaki baru yang memungkinkan untuk bisa tumbuh berkembang dan berjalan seirama dengan kaki yang sudah ada. Dengan menggunakan analisa SWOT sederhana, akhirnya saya memutuskan untuk sesegera mungkin  membangun kaki baru untuk menopang semakin besar dan beratnya beban pengeluaran. Pilihan jatuh pada usaha laundry, dengan pertimbangan tidak memerlukan modal kerja yang terlalu besar karena alat kerja yang diperlukan adalah alat rumah tangga yang sudah ada. Sedangkan untuk tenaga kerja, saya memaksimalkan potensi tim kerja di toko dengan sistem rolling. Alhamdulillah dalam tempo tiga bulan saja “kaki ke dua” ini sudah bisa berdiri sendiri, bahkan saya proyeksikan untuk memberi subsidi modal kerja rencana pembentukan “kaki ke-tiga” yang masih berada dalam tahap analisa kelayakan potensi usaha. Setelah sekitar seminggu mencari referensi kesana-kemari dari berbagai sumber, akhirnya saya menemukan juga jenis usaha yang paling memungkinkan untuk dibangun menjadi kaki ke-tiga.  Seperti halnya “kaki pertama dan ke-dua”, “Kaki ke-tiga” yang berhasil saya dirikan sebulan berikutnya ini, masih tetap mengandalkan “goodwill” dari “kaki pertama” toko kelontong terdahulu. Pilihan saya jatuh pada usaha PPOB (Payment Point Online  Bank) atau loket pembayaran tagihan on line dan penjualan tiket pesawat. Untuk memulai usaha ini, modal kerja yang dibutuhkan juga relative kecil, peralatan kerja yang dibutuhkan seperti seperangkat komputer dan jaringan internet semua sudah tersedia. Untuk tenaga kerja, sementara waktu saya sendiri yang mengoperasikan, jadi tidak memerlukkan tambahan biaya untuk menggaji karyawan. Sedangkan untuk modal deposit tidak ada batasan minimal alias sesuai kemampuan,.sehingga subsidi silang dari kaki ke-dua, usaha laundry untuk tahap awal sudah cukup.

Menginjak bulan ketiga, seiring jumlah pelanggan yang semakin banyak otomatis jumlah transaksi PPOB juga ikut bertambah tentu hal ini berbanding lurus dengan total fee yang saya dapatkan di akhir bulan. Waktu terus berjalan, seiring niat saya untuk mencari dan menambah kaki-kaki baru, diluar dugaan berkat kegigihan doa dan ikhtiar team saya, akhirnya pertolongan Allah SWT benar-benar datang dalam wujudnya yang nyata. Setelah melihat dan mengkaji prospek market share PPOB kami, salah satu provider PPOB dari salah satu Bank terkemuka tertarik untuk bekerjasama dalam penyediaan software  dan saldo deposit. Tidak tanggung-tanggung mereka menyediakan saldo deposit hingga seratus juta rupiah tanpa jaminan atau agunan apapun. Untuk memaksimalkan potensi yang ada, akhirnya saya merekrut satu orang khusus untuk meng-handle PPOB dan penjualan tiket pesawat. Alhamdulillah, seiring dengan semakin banyaknya pelanggan saya untuk laundry dan PPOB yang datang langsung ke counter yang letaknya satu lokasi dengan toko, ternyata juga membawa pengaruh luar biasa pada omzet toko. Secara tidak sengaja saya telah menghadirkan konsep one stop service pada pelanggan-pelanggan saya. Selain membayar tagihan listrik, pelanggan saya bisa sekalian laundry baju sekaligus berbelanja kebutuhan sehari-hari seperti AMDK gallon, gas dan keperluan harian lainnya dan semuanya bisa antar jemput just by call. Pada waktu bersamaan, datang penawaran menartik dari salah satu sahabat lama yang sudah lama tidak bertemu. Kami bertemu secara tidak sengaja di situs facebook.  Penawaran menarik yang akhirnya menjadi kaki keempat saya ini berupa bisnis “kurir”, yaitu mengantar surat/paket khusus kepada customer dari lembaga perbankan dan leasing. Dengan keyakinan penuh dan didukung oleh team kerja yang solid akhirnya kaki ke-empat saya benar-benar bisa tegak berdiri untuk menopang semua beban pengeluaran kami sekeluarga. Sekarang ini saya sedang menganalisa kelayakan bisnis sebuah peluang usaha di bidang kuliner yang dulu sempat saya geluti ketika duduk dibangku kuliah. yang saya proyeksikan untuk menjadi kaki ke-lima saya. Doakan ya sobat semoga semuanya bisa berjalan dengan baik dan benar sesuai rencana saya. Amin.

Artikel ini juga bisa dibaca disini

Selasa, 18 November 2014

Kampanye Test Buta Warna Sejak Dini



Di Indonesia, buta warna dan penyandang buta warna sepertinya harus berjuang sendiri mencari identitas dan proporsinya dalam bergelut dengan kehidupan. Masih banyak diantara kita yang tidak atau belum menyadari bahwa buta warna begitu penting dalam hidup dan kehidupan, bahkan dalam beberapa situasi posisinya menjadi “penentu” bagi perjalanan hidup seseorang dalam memilih jalan kehidupan.
Di dalam tatanan kehidupan masyarakat Indonesia, buta warna sepertinya jatuh dalam ranah pribadi (private) sehingga semua konsekuensi yang muncul sebagai akibat menyandang buta warna jarang ter-ekspos keluar, akibatnya gaung buta warna dan berbagai permasalahan yang mengikutinya sering luput dari perhatian masyarakat bahkan Negara yang seharusnya punya tanggung jawab atas pemberdayaan potensi seluruh rakyatnya, termasuk penyandang buta warna. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya sistem terpadu yang diterapkan oleh pihak berwenang (pemerintah)  dalam upaya memetakan potensi anak-anak Indonesia sejak dini sebagai salah satu element guna menyusun blueprint manajemen sumber daya manusia Indonesia kedepan.
Dalam kehidupan sehari-hari penyandang buta warna biasanya tidak akan tampak berbeda dengan manusia normal lainnya. Mereka tetap bisa berinteraksi bahkan beradaptasi dengan baik dalam lingkunganya, yang membedakan adalah kemampuan individual dalam adalah kemampuan individual dalam menganalisa dan mengenali warna, terutama untuk warna-warna turunan yang sifatnya tidak fullblock.
Berangkat dari pengalaman pribadi yang sangat menyakitkan karena “tidak terduga” menyandang buta warna, mengakibatkan saya “salah memilih cita-cita”. Sejak kecil saya bercita-cita ingin menjadi dokter dan sepanjang perjalanan hidup saya sudah saya persiapkan sesempurna mungkin untuk meraih cita-cita tersebut. Tapi sayang, kenyataan harus berkata lain, karena divonis menyandang buta warna saya harus merelakan cita-cita besar saya untuk menjadi dokter sirna lewat begitu saja justeru ketika satu kaki saya sudah menjejak dunia impian saya itu,.  Padahal sejak kecil saya sudah membangun tekad dan menyusun langkah guna merengkuh cita-cita untuk menjadi dokter. Sedih dan kecewa sudah pasti! Tapi yang paling menyedihkan bagi saya adalah kenapa kelainan bawaan (keturunan) yang terpaut sex itu baru sekarang terdeteksi? Kenapa tidak dari dulu, sehingga saya bisa menyesuaikan arah cita-cita  dan kemungkinan jalan hidup yang sesuai dengan kondisi saya. Kalau sudah begini, ibarat nasi sudah menjadi bubur! Waktu yang sudah berlalu tidak bisa di putar kembali. Semua harus saya mulai dari nol lagi, sehingga memerlukan perencanaan ulang yang memakan banyak waktu, tenaga dan biaya yang hasilnya masih tanda tanya besar.
Dari diskripsi singkat kisah diatas, saya bertekat untuk melakukan “sesuatu” bagi bangsa Indonesia, terutama bagi masyarakat pinggiran dan menengah kebawah yang masih minim akses informasi. Jangan sampai “tragedi” yang saya alami terulang pada generasi emas Indonesia selanjutnya. Jangan sampai potensi besar yang ada tidak di manage dan tidak mempunyai arah yang jelas ujungnya.
Saya ingin mengkampanyekan sekaligus action lapangan perlunya tindakan “test buta warna sejak dini”, gratis tanpa dipungut biaya untuk anak-anak Indonesia secara bertahap. Tahapan kerjanya, dengan memperkenalkan seluk beluk kelainan buta warna dan test buta warna mandiri dengan memamaki alat test Ishihara manual maupun digital. Untuk tahap awal saya akan membuat area pilot project di Daerah Kecamatan Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan daerah tempat tinggal saya dengan sasaran anak SD kelas 4,5 dan 6. Saya pilih kelas 4,5 dan 6 karena saya anggap sudah cakap mengenali angka dan huruf (test ishihara tenisnya mengenali angka atau huruf dalam lembaran piring warna)  plus sudah bisa diajak untuk berkomunikasi verbal dengan baik.  Sebenarnya saya berharap, ide dan upaya saya mengkampanyekan perlunya tindakan “test buta warna sejak dini”, gratis tanpa dipungut biaya untuk anak-anak Indonesia ini mendapat apresiasi dari pemerintah melalui dinas terkait (pendidikan, kesehatan dan sosial) dan atau LSM yang bergerak di bidang pemberdayaan manusia. Harapannya suatu saat bisa  dijadikan agenda wajib oleh pemerintah. sehingga legalitas proses dan hasil dari project ini lebih valid, diakui, bisa dipertanggung jawabkan dan yang terpenting bermanfaat untuk semua pihak yang berkepentingan. Tapi kalaupun apresiasi itu tidak ada, tidak menjadi soal karena prinsipnya test buta warna bisa dilakukan secara mandiri dan project kampanye ini pada dasarnya justeru membantu tugas dan kewajiban  pemerintah yang mungkin terlewatkan.
Untuk masalah biaya dan pendanaan, saya akan mencari donatur dan sponsor independent untuk ikut serta membantu. Pengeluaran terbesar mungkin terserap untuk pengadaan software dan hardware alat test Ishihara yang harganya sekitar dua jutaan rupiah tapi bisa dipakai untuk selamanya. Untuk personil, pada prinsipnya sudah banyak teman-teman relawan yang siap untuk turut terjun ke lapangan setiap saat.
Menyandang buta  warna memang adalah takdir yang tidak dapat ditolak oleh siapapun. Sedih, galau, menyakitkan mungkin sesuatu yang wajar bagi penyandangnya. Tapi ingat, menyandang buta warna bukanlah akhir segalanya, tapi justeru awal dari segalanya. Mari berbagi harapan dengan saudara-saudara kita yang menyandang buta warna. Semoga semua langkah dan usaha kita menebar kebaikan di muka bumi Allah, mendapat ridha dan restu-Nya. Amin.

Minggu, 05 Oktober 2014

Memaksimalkan Kepintaran Si Listrik Pintar


Bagi saya pribadi, program listrik pintar PLN merupakan sebuah lompatan ide berbasis teknologi yang cukup brilliant. Plus dan minus yang menyertai dalam proses perjalanannya adalah hal biasa dalam upaya perbaikan yang berkelanjutan. Dalam postingan blog ini, saya ingin menuangkan ide-ide segar yang sebenarnya adalah angan-angan tanpa batas yang mudah-mudahan suatu saat nanti bisa diwujudkan oleh PLN.
Meter listrik prabayar kalau diperhatikan mempunyai bagian-bagian layaknya handphone generasi pertama ada layar dan keypad yang fungsinya pun kurang lebih sama. Bedanya, keypad pada meter listrik tidak atau belum dilengkapi dengan fungsi huruf, hanya fungsi numeric saja dan meskipun dilayar tampak ada gambar  sinyal, tapi sepertinya sinyal tersebut fungsinya hanya sebatas untuk one way connection dengan server PLN saja yang mungkin fungsinya untuk memantau dan mendeteksi dari kejauhan data-data kelistrikan masing-masing pelanggan oleh operator internal PLN.  Dari sinilah, titik awal ide saya muncul. Logika sederhana saya mengatakan, dengan fitur alat yang fungsinya hampir sama dengan handphone, mustinya fungsi meter listrik prabayar kedepan bisa di kembangkan lagi lebih jauh menjadi alat yang multifungsi dan serbaguna yang bisa memberi manfaat lebih bagi PLN sendiri maupun pelanggan, Agar lebih mudah membaca kerangka berpikir saya yang sederhana ini, ide pengembangannya saya bagi menjadi beberapa bagian (saya beri istilah RING) sesuai dengan skala prioritas kepentingannya.
RING 1. (Fitur primer yang berhubungan langsung dengan PLN)
Untuk Ring 1 ini, saya berangan-angan nantinya untuk menghubungi operator PLN dengan tujuan/urusan  apapun yang masih berhubungan dengan masalah kelistrikan, kita tinggal pencet tombol angka tertentu sebagai kode tujuan menghubungi operator. Misalkan tombol angka 1 merupakan induk dari layanan keluhan dan pengaduan konsumen, angka 2 merupakan induk layanan pasang baru, tambah daya dll, angka 3 saran dan masukan dari pelanngan. Dari tiga nomor induk tadi bisa di breakdown lagi, misalkan tombol 11 untuk keluhan sifatnya individu seperti listrik di rumah mati sendiri sedang yang lain hidup, tombol 12 untuk cek transaksi token sudah masuk atau belum dll. Begitu seterusnya. Konsekuensinya, keypad pada meter listrik harus ditambah untuk fungsi huruf.
Teknis operasionalnya seperti layaknya mengirim SMS atau sistem chatting layaknya BBM/WhatsApp/YM dll. Untuk memanfaatkan fitur –fitur tersebut, ada dua pilihan konsekuensi yang bisa diberlakukan oleh PLN sebagai pemilik infrastruktur. Pertama, free alias gratis. Kedua, pelanggan di kenai tarif layanan yang mekanismenya layaknya layanan telekomunikasi seluler, setiap melakukan aktivitas akan mengurangi deposit pulsa (listrik). Ini logika terbalik dari penjualan pulsa, kalau selama ini penjual pulsa bisa menjual pulsa dari satu sumber deposit untuk dua fungsi sekaligus, handphone dan listrik, maka sebaliknya pulsa listrik harusnya juga bisa dipakai untuk dua fungsi sekaligus.
fitur ini juga akan lebih hebat dan maksimal fungsinya bila bisa terkoneksi ke smartphone dan perangkat komunikasi cerdas lainnya agar bisa dmonitor dari manapun.
Kelebihannya,
pertama, pelanggan tidak perlu panik dan bingung lagi ketika listrik di rumah sedang bermasalah, tinggal pencet angka sesuai keluhannya dan dilanjut dengan (chatting) mengetik keluhannya. Komunikasi lebih efektif dan efisien, pelanggan lebih yakin dengan tindakan yang dilakukan dan kemungkinan solusi yang diberikan lebih efektif, endingnya pelanggan lebih merasa aman, nyaman dan terlayani dengan cara yang lebih private dengan cepat.
Kedua, pelanggan tidak perlu mengeluarkan tambahan biaya untuk telepon
RING 2. (fitur sekunder, tambahan yang masih berhubungan langsung)
Ring 2 ini merupakan fitur tambahan untuk menyempurnakan fitur ring 1. Misalkan,
Pertama, layar pada meter dimanfaatkan sebagai media informasi PLN kepada pelanggan. Sebagai contoh untuk pengumuman pemadaman (area pemadaman, waktu pemadaman, perkiraan durasi pemadaman dst) dan program-program PLN lainnya. Mekanismenya, seperti mengirim SMS yang ditandai dengan bunyi tanda pesan layaknya hendphone. Hebat lagi seandainya pesan pada layar meter ini juga terkoneksi ke smartphone dan perangkat komunikasi cerdas lainnya.
Ide ini terinspirasi dari CCTV yang sekarang juga bisa terkoneksi ke smartphone dan perangkat komunikasi cerdas lainnya.
Kedua, memaksimalkan fungsi speaker yang terpasang pada meter listrik. Sehingga fungsinya lebih banyak dan bervariasi (sesuai kebutuhan) bukan sekedar untuk mengingatkan saldo pulsa yang menipis. Contoh,
  1. Berfungsi sebagai alarm peringatan penyimpangan tegangan listrik yang melewati batas normal yang biasanya bisa merusak peralatan elektronik tertentu (baik kenaikan maupun penurunan),
  2. Berfungsi sebagai alarm dan pemberi info korsleting, kalau biasanya begitu korsleting terjadi sensor langsung memutus kontak pada saklar yang dikuti terputusnya aliran listrik. Disini sensor di beri tugas tambahan sekaligus untuk membunyikan alarm peringatan begitu terdeteksi adanya tanda-tanda kemungkinan kontak arus pendek/ korslet.  
  3. Berfungsi sebagai alarm untuk peringatan pemakaian yang hampir melebihi batas beban daya yang tersedia.
  4.  Bunyi alarm pada meter listrik diberi pilihan variasi bunyi layaknya ringtone pada handphone sehingga tidak monoton seperti yang ada sekarang. Bahkan kalau perlu pelanggan diberi space untuk meng-upload  sendiri nada dering sesuai dengan kesukaanya, misalnya lagu-lagu pendek   berbasis MP3.
  5. Volume bunyi alarm bisa dirubah sesuai dengan kebutuhan.
Seperti halnya pada point pertama RING 2, fitur ini juga akan lebih hebat dan maksimal fungsinya bila bisa terkoneksi ke smartphone dan perangkat komunikasi cerdas lainnya.
Manfaat lain yang bisa diambil dari RING 2 adalah PLN tidak perlu keluar biaya tambahan untuk memasang iklan publikasi berbagai informasi yang ingin disampaikan kepada para pelanggan maupun khalayak umum di berbagai media masa yang tentunya menyerap anggaran tidak sedikit. Seperti pengumuman kenaikan tarif dasar listrik (TDL), pemadaman, program pasang baru atau/upgrade daya dll. Disamping itu pengumuman akan lebih efektif dan efisien karena tepat sasaran.
RING 3 (Fitur tersier, tambahan yang mungkin tidak berhubungan secara langsung)
Pada RING 3, yang sifatnya tersier ini  ada beberapa yang mungkin bisa diterapkan, diantaranya
  1. Pengembangan RING 1, pemanfaatan tombol kode angka diperluas (internoneksi) untuk kepentingan darurat kepada pihak ketiga seperti rumah sakit, kepolisian, pemadam kebakaran dll. Ini tentu sangat membantu bagi daerah atau individu/keluarga yang belum terlayani fasilitas telekomunikasi tapi rawan dari kriminalitas dan bencana alam. 
  2. Pengembangan RING 2, PLN bisa mendapatkan pendapatan tambahan dengan bekerja sama dengan pihak ketiga yang bisa memasang iklan berupa pesan tertulis yang didistribusikan via layar meter listrik yang terkoneksi ke smartphone dan perangkat komunikasi cerdas lain milik pelanggan PLN.
  3. Mengembangkan fungsi speaker yang terpasang pada meter listrik dan interkoneksi dengan pihak ketiga (RING 3, point 1) plus terkoneksi ke smartphone dan perangkat komunikasi cerdas lainnya, speaker yang bunyinya bisa diatur volumenya bisa dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan darurat seperti bahaya kebakaran, banjir, pencurian, perampokan dll yang area dan koneksitasnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan layaknya handie talkie/HT. Baik dengan pesan verbal maupun bunyi-bunyian seperti sirine.
  4. Kalau memungkinkan bisa dipasang kamera  pengintai di meter listrik yang terhubung dengan smartphone dan perangkat komunikasi cerdas lain.
Bersama blog sederhana ini, semoga ideKU Untuk PLN bermanfaat dan suatu saat nanti bisa terwujud menjadi kenyataan. Amin.