Minggu, 08 Juli 2018

Asyiknya Menjadi "Penjarah" Keren di Saat Lebaran Tiba!



Perkampungan suku Banjar di tepian dalam Sungai Martapura
Foto : @kaekaha

Inilah Kotaku, Kota 1000 Sungai!

“Kota 1000 Sungai” itulah julukan yang paling dikenal masyarakat di Indonesia untuk kotaku tercinta, Banjarmasin! Ibu kota Propinsi Kalimantan Selatan yang pada tanggal 24 September nanti genap berusia 492 tahun. Wooooow…! Hampir 5 abad usianya!

Kota Banjarmasin, merupakan salah satu kota tua di Nusantara yang sejak abad XVI telah dikenal sebagai kota perdagangan internasional sekaligus pintu masuk mobilisasi barang dan manusia dari dan menuju pedalaman Pulau Kalimantan. 


Pasar Sungai Lulut, Salah satu sudut Kota 1000 Sungai
Foto : @kaekaha

Posisi strategis  ini didukung oleh topografi alam khas pesisir Kalimantan yang sangat unik dan ideal, yaitu dataran rendah (bahkan teramat rendah, karena rata-rata permukaan tanah di Kota Banjarmasin adalah sekitar 60 cm dibawah permukaan laut) yang beriklim panas dengan kelembaban udara yang tinggi. Posisi daratan yang teramat rendah ini, menyebabkan wilayah Kota Banjarmasin di dominasi oleh lahan basah berupa rawa lebak dan sungai. Itulah sebabnya Kota Banjarmasin mempunyai banyak sungai, sehingga akhirnya di juluki sebagai “Kota 1000 Sungai”


Sungai Kerukan, Salah stu dari sekian banyak sungai di Kota Banjarmasin

Banyaknya rawa lebak dan sungai dengan berbagai ukuran yang mengalir di Kota Banjarmasin menjadikan aktifitas sosial, ekonomi, seni dan budaya bahkan politik dan keamanan masyarakat tidak bisa dipisahkan dari sungai beserta segala atributnya. Inilah peradaban budaya perairan (rawa/sungai) khas Banjarmasin, Kalimantan Selatan yang unik dan khas, buah dari harmonisasi dan interaksi antara manusia dengan alamnya yang berlangsung berabad-abad lamanya. 



Ketika Lebaran Tiba…

Lebaran adalah hari yang paling ditunggu oleh umat Islam di seluruh dunia, begitu juga dengan masyarakat di kampungku di tepian dalam Sungai Martapura, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Kampung tempatku tinggal sebagian besar merupakan rawa lebak pasang surut yang terkoneksi dengan Sungai Martapura yang membelah tengah Kota Banjarmasin. Uniknya, di musim kemarau air rawa di sekitar tempatku tinggal selalu berubah-ubah warna dan rasanya, kadang pagi hari rasanya tawar, siang agak sepet  sorenya bisa payau atau bahkan jadi asin. 
Titian kayu ulin
Foto : @kaekaha

Perubahan rasa ini juga diikuti oleh perubahan warna airnya. Semua ini terjadi karena rawa-rawa di sekitar rumah kami terkoneksi secara langsung dengan sungai martapura, karena posisi daratan lebih rendah dari permukaan air laut, maka ketika laut pasang akan terjadi intrusi air laut ke Sungai Barito dan akhirnya menyebar ke anak-anak sungai lainnya termasuk Sungai Martapura. 

Kampungku memang unik! Untuk transportasi antar kampung, sebagian warga masih memakai jukung, sebutan untuk perahu kecil yang terbuat dari kayu ulin (eusideroxylon zwageri). Jalan darat, baik berupa jalan tanah yang dipadatkan maupun berupa aspal sebenarnya sudah ada, tapi masih belum bisa menjangkau semua kampung, terutama yang ada di bagian dalam. Untuk itu, masyarakat membangun titian  dari kayu ulin (eusideroxylon zwageri) agar bisa tetap berkomunikasi dan bersilaturrahmi dengan dunia luar, seperti saat lebaran tiba!


Jembatan Gantung di atas Pasar Terapung
Foto : @kaekaha


Di kampung kami, ada beberapa tradisi unik saat lebaran tiba yang berlangsung secara turun-temurun, dari generasi ke generasi sejak jaman dahulu,  yaitu 

- Tradisi Serba Baru -

Tradisi yang satu ini memang bukan domain kampung kami saja, tapi sepertinya seluruh umat Islam di indonesia ya...!? 

Menurut Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, dalam buku Sejarah Nasional Indonesia, ternyata tradisi “serba baru” saat lebaran sudah dimulai sejak tahun 1596 di wilayah Kesultanan Banten, khususnya tradisi untuk memakai “baju baru” dengan tujuan untuk memberikan semangat dan motivasi agar meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT setelah selesai berpuasa di bulan Ramadan.





Seperti halnya di daerah lain, tradisi “serba baru” juga menjadi salah satu tradisi masyarakat di kampung kami ketika lebaran tiba. Baju baru, celana baru, sarung baru, mukena baru, kacamata baru, jam tangan baru, HP baru, sepeda baru, mobil baru bahkan istri ba…..eh, maaf kalau yang ini jangan dulu deh! Kecuali syarat dan ketentuan berlaku …he…he…he… 

Selain baju baru, kacamata dan jam tangan melengkapi tradisi “serba baru” di lebaranku kali ini. Bukan sekedar untuk penampilan semata atau bahkan sengaja untuk berlebih-lebihan, keduanya memang benda yang  paling aku butuhkan untuk menunjang pekerjaanku.

Tapi….. tetap harus bisa dipakai untuk #tampilkerensaatlebaran, terutama saat aku jadi penjarah di H+1 nanti. Untuk itu, aku harus “memilih” kacamata dan jam tangan yang berkualitas, bukan yang asal-asalan.

Apalagi, semua sudah tahukan!? Kondisi alam lingkungan tempat tinggalku yang “serba air”! Halaman muka, samping kiri dan kanan adalah rawa-rawa, sedangkan  halaman belakang tidak jauh beda, semua air, air dan air. 

Karena lingkungan dan aktifitasku yang tidak jauh-jauh dari air, maka khusus untuk jam tangan aku memerlukan jam tangan pria tipe sporty yang tahan air dan tidak mudah korosif, aku tertarik dengan jam tangan terbaru produk TIMEX yang dijual di situs THE WATCH COseperti TIMEX THE WATERBURY LINEAR CHRONOGRAPH - TW2R69200 atau TIMEX ALLIED CHRONO PU - TW2R60400 dan khusus untuk istriku tercinta, aku ingin memberikan hadiah lebaran jam tangan wanita yang cute seperti produk keren TIMEX ORIGINAL SEMI BANGLE - TW2R70100 

atau TIMEX ORIGINAL SEMI BANGLE - TW2R70000, agar dia juga bisa #tampilkerensaatramadhan dan #tampilkerensaatlebaran terutama saat jadi penjarah sepertiku di lebaran H+1 nanti. Apalagi dibulan ramadhan ini, THE WATCH CO. hadir dengan program promo ramadhan yang tentunya sangat-sangat memanjakan semua pelanggannya…

-- Bajarah --

Tradisi Bajarah ini merupakan tradisi khas kampung kami saat lebaran tiba, baik lebaran Idul Fitri maupun Idul Adha, berupa jamuan makan dan atau pun sekadar minum dari warga untuk warga yang umumnya dilaksanakan pada H+1, atau hari ke-2 lebaran. 

Tradisi bajarah ini mirip dengan tradisi saruan bamaulid di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, bedanya saruan bamaulid merupakan tradisi untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, jadi diadakan bukan pada saat lebaran di bulan syawal atau Dzulhijjah, tapi di bulan Rabbiul Awal.

Di sini, siapa saja bisa menjadi tamu (penjarah) atau tuan rumah (dijarah). Dengan dipimpin tetuha kampung atau tokoh masyarakat, setelah berkumpul ditempat yang disepakati, rombongan bergerak menuju rumah-rumah yang dituju. Setelah membaca doa bersama-sama, rombongan menikmati hidangan yang biasanya dihabiskan sambil berdialog ringan (bersilaturahmi) dengan semua yang hadir.

Umumnya, hidangan yang disediakan oleh tuan rumah adalah berbagai kuliner khas Banjar, seperti Soto Banjar, Ketupat batumis, Nasi Kuning, Nasi Itik Gambut, Ketupat Kandangan, Lamang dan aneka wadai atau kue legit khas Suku Banjar seperti bingka, tapai lakatan hijau dll.

Hidangan yang disediakan untuk penjarah, pada dasarnya memang tidak ada pakem atau ketentuannya, semua terserah atau tergantung pada kemampuan tuan rumah (dijarah) yang penting tidak memberatkan, bahkan bila ada warga yang tidak ingin dijarah-pun tidak ada sanksi sosial apa-apa! Warga yang lain tetap menghormatinya! Terpenting, silaturahmi antar warga masyarakat tetap terjaga dengan baik.
Ketupat Banjar
Foto : @kaekaha

Setelah dianggap cukup, sambil bermaafan-maafan dengan semua penghuni rumah, rombongan  penjarah langsung pamit untuk menuju rumah berikutnya. Begitu seterusnya hingga semua rumah yang hari itu masuk daftar dijarah, semuanya ludes dan tuntas dijarah

Karena tidak semua rumah di kampung kami terhubung dengan jalan darat, maka untuk menuju ke rumah tersebut kami harus naik jukung beramai-ramai atau naik kelotok yang ukurannya lebih besar sehingga bisa memuat penumpang yang lebih banyak. Asyik ya….!

Bagi warga yang dijarah, banyaknya penjarah yang datang merupakan kebahagiaan tersendiri. Mereka akan semakin bersyukur, karena semakin banyak yang mendoakan keluarganya. 
ini yang namanya, Kelotok, alat transportasi khas Banjarmasin
Foto : @kaekaha 

Khusus untuk penjarah dalam tradisi bajarah ini, awalnya harus dilakukan secara bersama-sama atau rombongan, tapi sekarang sudah mulai ada pergeseran dalam penerapannya, terutama untuk anak-anak mudanya! Mereka sekarang lebih suka bergerak dalam grup-grup dengan jumlah rombongan yang lebih kecil, bahkan perorangan. 

Sedangkan pergeseran untuk dijarah, ada pada jenis hidangan dan  kemasannya. Kalau dulu, hidangan untuk penjarah sebagian besar berupa kuliner tradisional khas Banjar, sekarang sudah banyak yang menggantinya dengan fastfood  merek luar negeri yang banyak dijual di mall-mall di Banjarmasin. Lebih Praktis?

Begitu juga dengan kemasannya, kalau dulu disajikan dengan setting hanya untuk makan di tempat saja, sekarang sudah ada yang menyediakan hidangan yang sudah atau siap untuk di bungkus. Jadi penjarah tidak perlu lama-lama duduk. Setelah bermaaf-maafan dan berdoa bisa langsung pulang dengan sebungkus hidangan ditangan. Lebih praktis dan higienis? 

Entahlah, mungkin anda lebih obyektif dalam memberi penilaian yang akurat. Kami hanya berusaha menjaga tradisi "bajarah" ini tidak hilang dari kampung kami, meskipun kemasan asli tradisinya mulai bergeser dan berubah karena mengikuti perkembangan jaman.





4 komentar: