Kamis, 11 September 2014

2 0 0 6

Sudah beberapa hari ini sebagaian besar daerah di Pulau Kalimantan terkurung asap akibat kebakaran lahan gambut yang semakin meluas. Di Kotaku Banjarmasin, jarak pandang dijalanan kalau siang nggak sampai 100 meter. Jelas kondisi ini sangat mengganggu aktifitas kami. Anak-anak sekolah sebagian besar sudah diliburkan sejak empat hari yang lalu, kegiatan belajar mengajar diganti dengan belajar mandiri di rumah dengan pengawasan dari orang tua masing-masing. Kantor-kantor pemerintahan dan layanan publik tetap buka, hanya saja jam buka lebih singkat dari biasanya. Menurut berita online tadi pagi, Seluruh Puskesmas dan rumah sakit  dipenuhi pasien ISPA, saking penuhnya ruangan yang ada tidak lagi mampu menampung luberan pasien. Akhirnya pasien dirawat dengan fasilitas darurat di lorong-lorong koridor rumah sakit. Bandara Syamsudin Noor satu-satunya lapangan terbang yang bisa didarati pesawat berbadan lebar di Kalimantan Selatan lumpuh total, tidak ada aktifitas penerbangan sama sekali dalam beberapa hari ini, akibatnya penumpang terlantar dan keleleran. Kapal-kapal dari luar daerah dengan tujuan pelabuhan Tri Sakti Banjarmasin sebagian besar masih tertahan di muara sungai Barito, selain menunggu air pasang, jarak pandang yang sangat minim mengakibatkan antrean panjang untuk memasuki alur barito, satu-satunya jalur menuju pelabuhan Tri Sakti yang letaknya di tepian Sungai Barito. Akibatnya, jadwal pelayaran semuanya kacau, distribusi barang kebutuhan pokok dari pulau Jawa jadi sangat terganggu padahal sebagian besar kebutuhan sembako masyarakat Kalimantan Selatan dan Tengah masih bergantung pada pasokan dari pulau Jawa. Barang-barang yang tidak tahan lama seperti sayuran, buah-buahan dan telur banyak yang rusak karena busuk sebelum sampai ke tempat tujuan. Hal ini menyebabkan kelangkaan stok di pasaran, karena stok terbatas otomatis hukum pasar yang berlaku, harga barang-barang tersebut jadi meroket, melonjak nggak ketulungan! Mobilisasi orang dan distribusi barang antar kota, baik melalui jalur sungai maupun jalur darat juga terkena imbasnya.. Banyak operator taksi air yang memilih untuk  off atau menahan diri beberapa saat sambil menunggu semuanya kondusif. Selain karena alasan keselamatan, barang-barang kebutuhan pokok yang secara reguler biasanya didistribusikan ke daerah pedalaman stok-nya masih terbatas, sehingga harganya nggak terjangkau lagi. Itulah gambaran real efek domino dari selimut kabut asap yang setiap tahun selalu menghantui kami, masyarakat Kalimantan Selatan. Siapapun bisa membayangkan, betapa mengerikannya efek yang tercipta…..#AksiLawanAsap @GreenpeaceID @SBYudhoyono @jokowi_do2
Malam ini, seperti biasa aku sudah terbangun ketika jam dindingku menunjukkan pukul 03.00 WITA, pas…! tidak kurang atau lebih! Aku memang berusaha membiasakan diri untuk membersihkan diri melalui proses meditasi di sepertiga malam terakhir, yaitu dengan Sholatullail secara rutin. Disitu aku merasakan adanya proses peluruhan segala racun dalam tubuhku secara simultan. Disitu ada ruang tak terbatas untuk berdialog tentang apa saja dengan-Nya. Dzat pemberi kehidupan bagi semua makhluk-Nya. Hanya saja, malam ini aku merasakan sesuatu yang tidak biasa, berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Udara malam ini terasa lebih panas, pengab dan berbau menyengat, seperti bau benda yang terbakar. Setelah lampu kamar kunyalakan, aku baru sadar ternyata kamar tidurku telah penuh dengan asap yang entah darimana asalnya. Aku berusaha mengusir tumpukan asap dikamarku dengan kipas angin, tapi tidak ada hasilnya tumpukan asap di kamarku hanya berputar-putar saja. Setelah kubangunkan semua anak dan istriku, kuminta mereka untuk tidak panik dan tetap bertahan didalam rumah saja. Mereka kusuruh memakai masker sebagai alat perlindungan darurat. Selanjutnya, aku mencoba keluar rumah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Betapa terkejutnya aku, ketika diluar rumah ternyata kabut asap yang begitu pekat seperti telah mengurung komplek perumahan kami. Jarak pandang sangat terbatas, bisa-bisa hanya 1 sampai 2 meter saja. Aku tidak bisa melihat apapun saat itu. Sungguh aku merasakan kengerian yang luar biasa…! Aku seperti berada dalam dunia lain, dunia antah berantah yang sama sekali tidak pernah ku kenali sebelumnya. Karena merasa tidak bisa berbuat apa-apa, aku langsung kembali masuk kedalam rumah, kucari HP-ku dan kucoba untuk menghubungi tetangga-tetanggaku…
“Haloo, ya pak…! Terdengar jawaban Om Kahfi, tetangga sebelah rumah yang ternyata juga sedang terjaga .
“Pak, kita dikepung kabut asap ya…!?” tanyaku pada om Kahfi
“Iya pak! Mulai masuk rumah! Di luar lebih mengerikan pak, nggak keliatan apa-apa! Nih saya di depan rumah sama Pak Haris.” Jawabnya lagi sambil terbatuk-batuk.
“Iya eh….! Spertinya, kebakaran lahan gambutnya semakin meluas ya pak…!” Aku mencoba mencari tahu mungkin ada informasi terkait selimut kabut yang mengurung daerah kami saat ini.
Aku tetap terjaga sampai adzan Shubuh menggema di angkasa. Seperti biasa aku mengeluarkan sepeda motorku untuk Sholat Shubuh berjamaah di Masjid komplek yang jaraknya kurang lebih sekitar 800 meter dari rumahku.
“Hmmmm Subhanallah! Dosa apa yang telah kami perbuat sampai Engkau menurunkan azab seperti ini kepada kami, Ya Allah….?” Tanyaku dalam hati, ketika diluar rumah kulihat kabut asap bukanya meghilang tapi justeru menebal. Sekarang jarak pandang lebih pendek lagi, tidak sampai 1 meter.
“….waduh, lha kok semakin tebal kabut asapnya! Jangankan melihat jalan, speedometer saja nggak terlihat. Waduuuuh gimana ya, kacau deh kalau begini…!?” Aku jadi ragu untuk berangkat ke masjid, karena kabut asap yang menyelimuti kami semakin pekat dan berbau menyengat. Disaat keraguanku semakin memuncak, aku melihat sorot lampu yang diikuti oleh deru kendaraan dari kejauhan. Dari suara kendaraannya aku mengenali itu suara kendaraan patroli security komplek perumahan kami. Setelah ngobrol sebentar akhirnya kuputuskan untuk menerima tawaran Pak Ji, security senior yang menawariku untuk mengantar sampai Masjid. Dari contact HT milik Pak ji akhirnya aku temukan jawaban, ternyata seluruh wilayah Kalimantan Selatan saat ini telah dikurung oleh selimut kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut! Sungguh bencana yang paling mengerikan, dalam sejarah hidupku di banua! Harus sampai kapan!? dan

Tulisan ini saya dedikasikan kepada semua yang terpaksa tersakiti oleh "bencana laten" selimut kabut asap dan semua relawan #AksiLawanAsap. Ikut berpartisipasi pada Forest Fire Campaign Kit Competition yang diprakarsai oleh Greenpeace Indonesia 

www.100persenindonesia.org


3 komentar:

  1. iya emang harus sampai kapan kalimantan sperti ini terus. bikin sakit kepala

    BalasHapus
  2. Itulah fakta yg ada bro...! memang miris kalo melihat ini semua! Coba anda baca artikel saya yg lain "Kalimantan, bagai anak ayam kelaparan dalam lumbung", dijamin menambah wawasan tentang nasib Kalimantan! Tapi ga usah pesimis bro....... Masa depan Kalimantan ada pada kita sendiri! makanya kita semua harus kompak satu suara untuk memperjuangkan kemajuan pulau Kalimantan khususnya Kalsel dan Banjarmasin! Hidup banua.....

    BalasHapus
  3. Bgmn kalo kabut asap diulah jadi wisata xtrem!? biasanya yg aneh-aneh begini banyak yang suka! sekalian ulah souvenirnya di @kaosbanjar?!

    BalasHapus