Rabu, 27 Januari 2016

Pesona Pulau Derawan Bikin "Mabuk Kepayang"

Pulau Derawan (foto : Dokumen pribadi)

Seringkali kita melihat berbagai liputan destinasi pariwisata di berbagai media masa, baik cetak maupun elektronik tampilan gambar dan feature-nya begitu cantik dan mempesona sehingga begitu menggoda untuk masuk daftar wishlist jalan-jalan kita dan keluarga, tapi begitu didatangi ternyata rupa dan penampakan aslinya jauh dari expectasi atau harapan, tak secantik seperti yang kita lihat dari berbagai informasi media masa yang mengulas sebelumnya. Inilah salah satu problem Wisata di Indonesia! 
Tapi situasi tidak mengenakkan ini sepertinya tidak berlaku untuk wisata Pulau Derawan di Perairan Kabupaten Berau Kalimantan Timur. Pulau wisata berpasir putih dengan air laut yang super bening ini begitu menakjubkan, keindahan sisi-sisi pantainya yang khas memberikan expectasi lebih dari yang saya pikirkan dan angankan selama ini.
Pagi ini, Rabu 13 Januari 2016 semua peserta Kompasiana Blog Trip - Datsun Risers Expedtion berkesempatan menjadi saksi keindahan Pulau Derawan yang selama ini hanya bisa kami lihat dari berita dan liputan berbagai media baik cetak maupun elektronik. Tepat pukul 07.30 WITA, dari penginapan kami di Hotel Cantika Swara di jalan Pulau Panjang, dengan menggunakan mobil Datsun Go+ Panca yang telah kami uji ketangguhannya dari Balikpapan sampai Tanjung Redeb, kami ber-konvoi menuju  Pelabuhan Tanjung Batu  di pinggiran Kota Tanjung Redeb  selama sekitar 15 menit perjalanan.

Suasana Pelabuhan Tanjung Batu, Tanjung Redeb, Berau (Foto : Dokumen Pribadi)

Dari pelabuhan Tanjung Batu, rombongan Kompasiana Blog Trip - Datsun Risers Expedtion menyewa speedboat yang secara reguler selalu standby di pelabuhan dengan harga sewa (konon) berkisar antara Rp.500 ribu-1juta-an (tergantung muatan dan nego) untuk meneruskan perjalanan menuju Pulau Derawan

Speedboat yang membawa kami menuju Pulau Derawan (Foto : Dokumen Pribadi)

Sekitar 40 menit pertama perjalanan menuju Pulau Derawan, kami disuguhi hijaunya hutan bakau yang tumbuh di sepanjang pantai Tanjung Redeb yang sesekali diselingi perkampungan penduduk setempat.

Tampak hutan bakau di sekeliling jalur yang dilalui (Foto : Dokumen Pribadi)

Setelah itu, speedboat membawa kami mengarungi lautan lepas tanpa terlihat batas. Pagi ini ombak lautan sepertinya sedang bersahabat, speedboat yang kami tumpangi bisa melaju dengan baik tanpa hambatan yang berarti. Karena speedboat bisa melaju dengan kecepatan maksimal,  akhirnya kami rombongan  Kompasiana Blog Trip - Datsun Risers Expedtion merapat di dermaga milik DERAWAN DIVE RESORT yang sebelumnya sudah dipesan oleh tim official  setelah mengarungi lautan sekitar 2,5 jam perjalanan.

Dermaga Derawan Dive Resort (Foto : Dokumen Pribadi) 

 
Menginjakkan kaki di dermaga kayu milik DERAWAN DIVE RESORT, kami seperti dibawa ke dunia lain. Dunia yang mimpi yang begitu tenang dan meneduhkan mata , hati dan pikiran. Suguhan air bening di bawah kaki-kaki kayu dermaga, hembusan udara sejuk di tengah terik mentari dan riak-riak suara hempasan ombak kecil menghantam dermaga yang dipadu dengan suara khas cuitan burung-burung laut yang berterbangan di langit yang berwarna biru utuh benar-benar membuat kami terkesima dengan ciptan-Nya yang begitu anggung dan luar biasa indahnya! Masha Allah......! Selanjutnya oleh officiai dan local guide, kami dibawa menuju sebuah ruangan seperti aula untuk koordinasi dan pembekalan singkat mengenai seluk beluk wisata Derawan, sekaligus dilanjut makan siang dan pembagian kamar untuk para risers di Dalawan Kafe & Restaurant yang unik. Kafe terapung ini di bagian tengahnya terdapat sebuah "lubang" besar layaknya kolam dengan diameter sekitar 3 meter yang dikelilingi meja untuk bersantap. Fungsi lubang yang langsung terakses ke laut ini adalah sebagai hiburan tambahan bagi para pengunjung kafe yang ingin menikmati santapan sekaligus melihat aktifitas berbagai biota laut yang sedang lalu-lalang di sekitar kaki-kaki bangunan kafe yang terbuat dari kayu tersebut. Air laut yang jernih memungkinkan pengunjung kafe untuk berinteraksi dengan kawanan ikan, belut laut dan juga kura-kutra yang sedang melintas di lubang kolam tersebut. Selain itu, ada satu hal yang membuat kafe ini agak unik, yaitu larangan merokok di dalam kafe! Bahkan untuk menjaga konsistensinya, kafe ini tidak menjual rokok lho!

Dalawan Kafe & Restaurant yang unik! (Foto : Dokumen Pribadi)

Lho itu kan bagus! Kata beberapa risers perempuan yang kebetulan menyahut obrolan para risers yang lagi asyik ngobrol tentang larangan merokok di Dalawan Kafe & Restaurant. Memang sih sebenarnya bagus dan bisa diacungi jempol, dua jempol malah.....! Cuma kalau melihat segmen dari DERAWAN DIVE RESORT secara keseluruhan yang sangat international (ditandai dengan bendera berbagai negara yang menghiasi pintu masuk) apakah ini tidak kontra produktif? Begitulah bisik-bisik para risers yang kebetulan para perokok.
Tanpa menunggu lama sekalian untuk menghemat waktuKami langsung bubar untuk mengambil semua barang bawaan yang tadi diangkut porter dari dermaga dengan gerobak untuk dibawa menuju kamar kami masing-masing. Kamar yang saya maksud disini sebenarnya mengacu pada istilah umum ketika kita mau menginap di hotel atau resort. Sedangkan kamar di DERAWAN DIVE RESORT sebenarnya lebih mirip rumah atau paviliun yang terpisah antara satu dengan yang lainnya dengan kapasitas tempat tidur untuk 3 orang/3 tempat tidur. Letaknya tepat di bibir pantai....wooooow....kereeeen!

Paviliun DERAWAN DIVE RESORT (Foto : Dokumen Pribadi)

Setelah membereskan barang bawaan ke dalam kamar masing-masing, semua Kompasiana Blog Trip - Datsun Risers Expedtion langsung berkumpul di tengah-tengah gosong atau gugusan pulau pasir putih di tengah laut yang hanya muncul ketika air laut sedang surut antara jam 12.00-1500 WITA, setelahnya gosong ini akan kembali tenggelam oleh air pasang. Selain mengambil foto, disini kami juga syuting untuk jingle video dokumentasi.

Gugusan gosong pasir patih di tengah laut yang sangat luas (Foto : Dokumen Pribadi)

Biota laut yang ada di sekitar gosong (Foto : Dokumen Pribadi)

Suasana syuting video dokumentasi
(Foto : Official Team Datsun) 

Kami tidak bisa berlama-lama berada di tempat ini. Puas nggak puas kami harus segera meninggalkan  gosong laut berpasir putih luar biasa indahnya ini, karena sebentar lagi air laut pasang akan segera menutup permukaanya.
Agenda kami berikutnya adalah snorkling melihat kumpulan ikan-ikan cantik warna-warni di sekitar dermaga utama DERAWAN DIVE RESORT yang airnya sangat jernih. Sehingga kita bisa melihat berbagai bita laut yang ada di situ dengan jelas. Selain jenis ikan-ikan laut berwarna-warni yang cantik, di tempat ini juga terdapat kawanan ubur-ubur dan penyu laut plus gugusan karang yang agak tajam, jadi tetap harus berhati-hati.

Aktifitas snorkling yang begitu mengasyikkan (Foto : Dokumen Pribadi)

Karena sudah merasa kelelahan setelah sekitar 2 jam melakukan aktifitas snorkling di sekitar dermaga utama DERAWAN DIVE RESORT, akhirnya semua risers menyudahi aktifitas yang mengasyikkan ini. Sambil menikmati menu makan siang agak sore (tambahan), kami menunggu datangnya sunset di senja hari di dermaga kayu tersebut.

Menunggu sunset datang (Foto : Dokumen Pribadi)

Sedetik sunset yng segera lewat (Foto : Dokumen Pribadi)

Berbeda dengan sunrise yang prosesnya relatif lebih lama, moment sunset berlaku sebaliknya sangat cepat berlalu. Seperti itu juga yang terjadi di Pantai Derawan. Karena sibuk mencari lokasiyang pas untuk membidik sunset, akhirnya malah kehilangan moment langka tersebut di Pulau Derawan. Menurut infoemasi warga sekitar, untuk mendapatkan moment sunset yang paling bagus sebaiknya di dermaga umum Pulau Derawan, bukan di lokasi tempat kami sekarang berada di dermaga utama DERAWAN DIVE RESORT. walaaaaaah, semua risers sedikit kecewa! Karena untuk menuju dermaga umum tersebut di perlukan waktu sekitar 30 menit bila jalan kaki menyusuri perkampungan penuduk. Lewat deh........!!! Tapi tak apalah, sekarang para risers gagal mendapatkan moment sunset toh besok pagi masih ada moment sunrise yang bisa diambil dari dermaga utama DERAWAN DIVE RESORT.
Malam akhirnya merapat juga di Pulau Derawan, secara perlahan tapi pasti sang mentari kembali ke peraduan setelah seharian menyertai kami menjelajahi setiap sudut Pulau Derawan dengan sejuta pesonanya. Tidak berapa lama Suara panggilan Adzan Sholat Maghrib dari Masjid Jami Islamiyah terdengar sayup-sayup berbarengan dengan suara debur ombak yang menandai air laut pasang. Setelah melaksanakan Sholat Maghrib, di Kamar masing-masing semua risers berkumpul di Dalawan Kafe & Restaurant untuk makan malam. Setelah makan malam semua risers kembali kepada habitatnya sebagai Kompasianers yaitu menulis feature tentang semua yang telah dijalani selama seharian menjelajahi Pulau Derawan yang cantik mempesona. Tapi sayang, sekali lagi koneksi internet yang tidak mendukung membuat para risers-Kompasianers keluar kamar masing-masing. Akhirnya para risers sepakat janjian untuk mencari oleh-oleh di perkampungan yang letaknya di belakang penginapan yang hanya dibatasi oleh pagar kawat berduri.
Waktu menunjukkan pukul 21.15 WITA saat para risers mulai menyusuri perkampungan penduduk yang sebagian besar dihuni oleh pendatang dari Pulau Sulawesi tersebut. Sebagian besar outlet dan toko yang menyediakan souvenir untuk buah tangan ternyata sudah tutup sejak pukul 5 sore, tapi tetap ada sebagian kecil yang masih buka walaupun tidak terlalu banyak dan salah satunya yang diserbu oleh para risers adalah "TOKO REGI". Toko milik tokoh masyarakat setempat. Toko souvenir ini bergabung dengan toko kelontong yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat setempat. Menurut cerita Mas Agus orang asli Surabaya yang melayani kami di toko souvenir, "TOKO REGI" yang dijaganya biasa tutup sampai tengah malam, toko ini milik Pak Haji ini salah seorang tokoh masyarakat yang juga seorang pengusaha grosir barang-barang kelontong kebutuhan sehari-hari. Dalam seminggu dengan menggunakan armada kapal milik sendiri Pak Haji 3 kali bolak-balik mengambil barang ke Tanjung Redeb. Untuk urusan souvenir khususnya produk kaos, "TOKO REGI" mempunyai brand sendiri seperti nama tokonya "TOKO REGI". keren ya, naluri bisnis Pak Haji! Kaos-kaos mereka dipesan langsung dari salahsatu industri konveksi di Bandung, makanya Mas Agus menjamin kalau produk kaos mereka mempunyai kualitas yang jauh lebih baik dengan harga yang relatif lebih murah dibanding oleh outlet atau toko souvenir lainnya diseputaran Pulau Derawan.

Sebagian desain kaos "TOKO REGI" (Foto : Dokumen Pribadi)

Setelah puas memilih dan memilah berbagai souvenir yang diincar, para risers akhirnya kembali ke kamar masing-masing untuk kembali mencoba koneksi internet untuk melanjutkan aktifitas sebagai Kompasianers tapi karena koneksi internet tidak juga kunjung membaik sebagian besar memilih untuk beristirahat, karena besok pagi masih banyak aktifitas yang harus dilakukan termasuk menjelajah di Pulau Kakaban yang terkenal dengan populasi fauna langka yang habitatnya hanya ada di 2 tempat di dunia, salah satunya di Pulau Kakaban, yaitu ubur-ubur tanpa racun yang lucu dan menggemaskan.
Serasa semenit saja, para risers memejamkan mata ketika tiba-tiba terdengar panggilan adzan Subuh yang ditingkahi oleh sahutan kokok ayam jantan milik warga masyarakat setempat.  Artinya sebentar lagi kita akan bertemu dengan cantiknya sunrise di Pulau Derawan.

Bagian sunrise yang begitu indah di Pulau Derawan (Foto : Dokumen Pribadi)

Selamat Pagi Derawan!
Pagi yang cerah dan begitu indah sekan membuat para risers kembali mendapatkan suntikan tenaga baru yang  menyegarkan dan menggairahkan jiwa dan raga. Memang harus diakui, kesegaran udara pagi Pulau Derawan seperti mampu menyihir semua rasa lelah dan capek yang menghinggapi semua risers yang telah menjelajahi sebagian Pulau Kalimantan dengan Datsun Go+ Panca.
Tapi sayang, munculnya sang mentari pagi ini juga menjadi tanda berakhirnya para risers bercengkerama dengan indahnya Pulau Derawan, karena pagi ini juga setelah sarapan pagi semua risers dan official harus melanjutkan ekspedisi ke Pulau Kakaban. Tapi kami para risers berjanji akan terus mengabarkan kepada dunia akan eksotisnya pulau berpasir putih di tengah laut Sulawesi ini dan kami juga berharap, suatu saat nanti diberi kesempatan lagi oleh Yang Maha Memberi Hidup untuk datang lagi, bercumbu dengan pasir putih dan ombak laut Derawan yang begitu lembut dan mempesona! Insha Allah!
Pulau Derawan...I love u full! Kami benar-benar mabuk kepayang karenamu.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar