Kamis, 07 April 2016

Menjadi Tetangga DA 1






Ada yang berbeda dalam beberapa hari terakhir di Komplek perumahan tempat saya tinggal. Setiap pagi di jalur utama masuk perumahan banyak sekali terdapat mobil patroli dan ubarampe-nya. Delapan tahun saya menghuni komplek, baru kali ini ada penampakan tidak biasa seperti ini dan yang paling menarik perhatian saya adalah mobil sedan hitam paling mewah yang ada diantara mobil-mobil itu. 

Mobil dengan plat merah bertuliskan DA 1 itu sudah beberapa hari ini nongkrong di salah satu rumah di jalur utama tersebut. Siapakah gerangan dirinya, pemilik mobil itu? Ternyata pemiliknya adalah Paman Birin, panggilan akrab H. Sahbirin Noor, Hobnor (Gubernur;Bhs Banjar) terpilih Kalimantan Selatan periode 2016-2021.

Benar-benar nggak nyangka, di Komplek saya ternyata juga dihuni oleh orang nomor 1 di Kalimantan Selatan. Padahal sejak kecil saya tidak pernah bermimpi jadi Hobnor apalagi punya tetangga Hobnor...he...he...he, ngelantur! Begini, sebagai warga Kalimantan Selatan dan kebetulan selama ini belum pernah bertetangga dengan Bapak Hobnor, mau-nggak mau saya harus menimbang-nimbang, kira-kira asyik nggak ya, kalo bertetangga dengan Bapak Hobnor ?


Harusnya sih asyik! Tahu kenapa...? 
Sebagai warga Kalimantan Selatan sejak sebelas tahun lalu, belum pernah sekalipun saya melihat wajah pejabat Gubernur Kalimantan Selatan secara langsung! Nah sekarang, karena berdekatan mestinya bisa setiap hari bisa melihat beliau! Bertegur sapa bahkan tidak menutup kemungkinan untuk ngobrol sama sidin (Beliau; Bhs Banjar). 

Ini keasyikan PERTAMA yang seharusnya saya dapatkan. Alasannya banyak! Pertama, jarang-jarang lho bisa bertetangga dengan Bapak Hobnor. Kedua, Balik lagi, Sejak kecil saya belum pernah melihat apalagi berjabat tangan, ngobrol dan sejenisnya dengan Bapak Hobnor. Ketiga, saya dan warga komplek bisa selfie (laaaah, laki kok selfie! Harusnya kan Bambang, Joko atau parno) sama sidin (kalau sidin mau...he...he...he!) Ya, minimal sama mobil dinas sidin DA 1, kan jarang-jarang tuh ada yang bisa! Keempat, ini berkaitan dengan pendidikan politik untuk anak-anak kecil di komplek kami, termasuk anak-anak saya. Mereka pasti akan bertanya, "siapa itu bah, kok mobilnya dikawal polisi?" Kalau dijawab, itu Bapak Hobnor Kalimantan Selatan. Pasti ada pertanyaan lanjutan dari anak saya, "Bapak Hobnor itu apa bah ...bla...bla...bla...?" Menurut saya, ini bagus untuk pendidikan politik anak-anak saya, karena masih kecil sudah bersentuhan dengan istilah Hobnor. Syukur-syukur dia bisa menangkap penjelasan saya dan akhirnya bisa membangun mimpi dan bercita-cita jadi presiden eh hobnor...he...he...he...
Keasyikkan berikutnya, KEDUA. Jalan utama di depan rumah sidin selain menjadi julur utama lalulintas keluar masuk komplek, juga menjadi jalur utama warga komplek untuk aktifitas olahraga pagi dan sore, seperti jogging, bersepeda bahkan karena minimnya fasilitas umum dan olahraga sama anak-anak biasanya juga dijadikan tempat bermain bulutangkis dan main sepakbola. Harapannya, kehadiran sidin bisa menjadi katalis untuk semakin menggairahkan olahraga di lingkungan komplek. Syukur-syukur, bisa menambah fasilitas olahraga di komplek yang selama ini hanya dijanjikan terus sama pengembang, biar jalanan didepan rumah sidin ngak dipakai anak-anak main bola lagi ...he...he...he...! Hiks...berharap banget! Lagian pasti lucu kalau tertangkap kamera wartawan, jalanan depan rumah Hobnor kok jadi lapangan bola anak-anak!? Kasihan Patroli pengawalnya kalau setiap saat sidin lewat harus "menghalau" anak-anak yang lagi asyik main...he...he...he! 


Ucapan selamat dari kolega 

Satu lagi yang sedang heboh, jadi omogan warga sekomplek! Adanya rencana tanah kosong dibawah SUTET yang berada di seberang rumah sidin. Dengar-dengar kabar burung, mau dibangun Masjid besar oleh sidin untuk menggantikan Mushola kecil yang selama ini menjadi pusat kegiatan ibadah warga komplek. Woooow, mantaaap! Kalau rencana ini benar-benar menjadi kenyataan, penantian warga komplek selama lebih dari 10 tahun mendapatkan fasum yang memadai (khususnya sarana ibadah dan olahraga) akan terwujud. Mudah-mudahan, dengan adanya jalur olah raga di depan rumah dan Masjid Besar di seberang rumah sidin, harapannya warga komplek khususnya bisa lebih sehat jasmani dan rohani sehingga bisa berinteraksi lebih intensif untuk bersua, bercengkerama dan bertukar pikiran secara informal dengan sidin seperti saat kampanye (berdasarkan pengalaman, kalau suasana tidak formal, biasanya uneg-uneg warga yang keluar lebih oyektif dan sesuai realitas bukan yang normatif saja), siapa tahu dari kumpul-kumpul dengan warga komplek yang mempunyai latar belakang campur aduk, bisa ketemu dengan ide-ide cerdas untuk mengembalikan trend positif perekonomian Kalimantan Selatan yang sekarang sedang down akibat turunnya pamor komoditas batubara, karet dan kelapa sawit yang selama ini menjadi andalan Kalimantan Selatan.

Apalagi orang di komplek kami yang sebagian besar orang Banjar asli, tahu betul potensi besar Kalimantan Selatan yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah untuk dikembangkan adalah sektor pariwisata! Apalagi potensi pariwisata Kalimantan Selatan selama ini dikenal termasuk kelas wahid! Siapa tidak tahu Kota Seribu Sungai yang eksotis? Siapa yang tidak pernah mendengar pasar terapung alami satu-satunya di dunia? Siapa yang tidak tahu kerbau rawa Danau Panggang? Siapa yang tidak tahu Soto Banjar yang citarasanya ngangeni? Sayang, selama ini potensi besar itu terabaikan karena ninabobo batubara dan kelapa sawit yang terbukti benar-benar memabukkan dan menyesatkan masa depan perekonomian dan kelestarian lingkungan hidup Kalimantan Selatan. Waduuuh, kok jadi memanjang ya....

Nah...ini dia keasyikan yang paling asyik! KETIGA, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah distribusi listriknya kan sering byarpet seperti lampu disko, apalagi jalur Jl. AYani arah keluar kota tempat komplek kami berada intensitas pet-nya lebih sering, panjang dan lama dibanding yang lain dari pada byar-nya. Mudah-mudahan dengan menjadi tetangga Bapak Hobnor kisah dan ceritanya bisa berbeda. PLN yang biasanya sering mematikan distribusi untuk jalur wilayah kami, mudah-mudahan karena ada Bapak Hobnor tidak akan lagi. Syukur-syukur dibuatkan jalur prioritas...he...he...he....! Begitu juga dengan distribusi air PDAM yang sering macet, bahkan sering tidak kebagian....!

Kebetulan posisi komplek tempat saya tinggal, berada di perbatasan antara Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar. Secara administratif kami masuk wilayah Kabupaten Banjar dengan ibu kota Martapura yang jaraknya sekitar 33 km dari komplek kami, tapi fasilitas PDAM dilayani oleh jaringan distribusi PDAM Bandarmasih milik Pemko Banjarmasin, karena secara geografis kami lebih dekat dengan Kota Banjarmasin yang jarak pusat kotanya sekitar 7 km saja dari komplek kami. Posisi ini, menjadikan kami seperti layaknya "anak tiri" dengan berbagai fragmentasi problematika layaknya daerah perbatasan lainnya. Mudah-mudahan dengan hadirnya Bapak Hobnor di komplek kami semuanya bisa segera berubah! Amin dan keasyikan terakhirnya, KEEMPAT adalah komplek perumahan kami jadi lebih aman, karena banyak aparat yang berjaga diseputar komplek kami.


Artikel terkait : 




 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar