Selasa, 19 April 2016

[Pasarkita] Romantika Seputar Vermaak Wajah "Pasar Kindai Limpuar" Gambut



Wajah baru Pasar Kindai Limpuar, Gambut, Kabupaten Banjar

Kindai Limpuar Idiom Bahasa Banjar yang Unik dan Sarat Makna 

Kindai Limpuar! Frasa idiomatik dalam Bahasa Banjar yang satu ini menempati ruang spesial dalam benak saya. Aksentuasinya menurut saya unik dan menarik, mudah dibaca, dilafalkan dan nyaman didengarkan.! Melafalkan kata kindai berasa seperti melafalkan english style, sedangkan kata limpuar berasa banget ethnical taste-nya. Selain itu, kombinasi kata pembentuk frasa-nya terasa pas dan paling menarik perhatian saya, jika dibanding frasa-frasa idiomatik dalam Bahasa Banjar lainnya yang jumlahnya sangat banyak, layaknya kecerdasan budaya bahasa sub-suku bangsa Melayu lainnya.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah rantau, tanah seberang, Kalimantan Selatan yang juga tanah moyang keluarga besar saya. Frasa idiomatik Kindai Limpuar pertama kali saya dapatkan di papan nama sebuah pasar tradisonal di daerah Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. Pertama kali membaca sekaligus mengamati papan nama sederhana yang terletak dibagian atas bangunan pasar dengan latar belakang atap sirap khas suku Banjar yang menurut saya begitu artistik dan kental rasa tradisinya itu, saya seperti dibawa menjelajahi muara dari kearifan lokal sebuah entitas budaya masyarakat Banjar. 

Wajah lama Pasar Kindai Limpuar (2015) (Foto : banjarmasin.tribun,news)
Perpaduan dua elemen budaya Banjar, berupa desain artistik arsitektur khas Banjar yang diwakili oleh atap sirap plus beberapa ornamen kayu yang membentuk rumah adat Banjar bubungan tinggi dengan susunan frasa idiomatik Bahasa Banjar sebagai identias budaya Banjar lainnya di dalam satu bingkai yang diletakkan di salah satu ruang publik dengan intensitas interaksi masyarakat paling tinggi merupakan salah satu wujud dari sense of belonging atau rasa memiliki yang tinggi masyarakat terhadap sebuah entitas budayanya. Sekaligus sebagai bentuk strategis pemangku kebijakan dalam  upaya  melestarikan entitas budaya masyarakat Banjar. 

Idiom tematik yang didasarkan dari kearifan lokal masyarakat Banjar, khususnya daerah Gambut Kabupaten Banjar ini tersusun dari dua kosakata pembentuk, yaitu Kindai yang berarti lumbung (padi) dan Limpuar yang berarti penuh sampai meluber. Jadi makna leksikal dari idiom ini adalah lumbung padi yang penuh sampai meluber, sedang makna gramatikal-nya secara umum dipahami  sebagai lambang kemakmuran, yang dilambangkan dengan wadah yang isinya melimpah ruah. Hal ini terkait dengan posisi Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar yang dikenal sebagai lumbung padi-nya Kalimantan Selatan, khususnya untuk varian padi jenis Siam dan Unus, jenis padi penghasil beras Banjar nomor wahid sekaligus paling mahal. Di sinilah ternyata titik temu dari logika kausalitas penamaan pasar Kindai Limpuar, titik simpul perekonomian masyarakat Gambut.

Macam-macam beras Banjar dengan keterangan harga dalam satuan liter (Foto : Koleksi Pribadi)
Saya baru menyadari, seperti mempunyai ikatan emosional dengan perpaduan dua kata ini. Mungkin karena taste unik dari kosakatanya atau juga frasa kata yang menurut saya pas (seperti uaraian saya diatas) atau juga karena idiom ini adalah rangkaian kata dalam Bahasa Banjar pertama yang mendarat dalam kontak visual saya yang akhirnya mendarat mulus dalam alam bawah sadar saya. Seperti emosi "cinta pertama" yang katanya tidak akan terlupakan seumur hidup. Mungkin emosi layaknya cinta pertama inilah yang tanpa saya sadari telah menghadirkan ikatan emosional antara saya dengan idiom "Kindai Limpuar". 

Papan nama Pasar Kindai Limpuar Baru (Foto ; Koleksi Pribadi)
Pasar Kindai Limpuar, Ruang publik pusat perekonomian Masyarakat Gambut

Pasar Kindai Limpuar adalah sebuar pasar rakyat atau pasar tradisonal yang lokasinya sangat strategis. Berada tepat di pinggir jalan poros trans Kalimantan, tepatnya di Jalan Ahmad Yani Km. 14 Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar. Lokasi ini merupakan lokasi premium di Kalimantan Selatan, sebagai jalur utama transportasi dari Kota Banjarmasin ke Bandar Udara Syamsuddin Noor di Banjarbaru dan Kota Banjarmasin ke komplek Kantor Gubernur di Banjarbaru plus jalur darat satu-satunya yang reperesentatif untuk jalur koneksi antar propinsi di Kalimantan (Kaltara-Kaltim menuju Kalteng-Kalbar atau sebaliknya)  tidak heran jika kawasan ini disebut-sebut sebagai etalase-nya Kalimantan Selatan. Bagi anda yang sempat atau pernah berkunjung ke Banjarmasin via Bandara Syamsuddin Noor tentu akan melewati pasar ini. Jika perjalanan dari Bandara menuju Banjarmasin, maka posisi pasar Kindai Limpuar terletak di sebelah kiri jalan dengan rentang jarak dari Bandara Syamsuddin Noor sekitar 8 km.

Pedagang "iwak karing" alias ikan kering  ( Foto : Koleksi Pribadi)
Pasar Kindai Limpuar, pada sisi bagian depan terdiri dari dua lantai bangunan semen permanen berbentuk kios, sebagian besar diisi oleh pedagang "keringan" seperti baju, elektronik, grossir makanan ringan, stasionary dan toko kelontong. Selebihnya di bagian belakang berupa kios dan lapak yang didominasi oleh pedagang hasil pertanian dan perikanan air tawar khas Kalimantan Selatan. Situasi di dalam pasar yang konon sudah puluhan tahun berdiri itu tidak jauh berbeda dengan pasar-pasar tradisonal lainnya. Selalu penuh di pagi hari dan mulai sepi menjelang siang. Rata-rata pedagang di sini hanya buka pada pagi sampai tengah hari saja, hanya beberapa saja yang berjualan sampai sore hari. 

Kios pebjahit pakaian (Foto : Koleksi Pribadi)

Pedagang Sayuran di Los Pasar Kindai Limpuar (Foto : Koleksi Pribadi)

Dari pantauan saya beberapa hari yang lalu, saat bernostalgia di pasar rakyat pertama di Kalimantan Selatan yang pernah saya masuki sekitar 15 tahun yang lalu itu, tampak tidak ada perubahan yang signifikan di dalamnya. Mungkin hanya jumlah pedagang yang terlihat semakin banyak dan luas pasar yang semakin melebar ke arah belakang yang terlihat berubah. Selebihnya masih seperti yang dulu, layaknya pasar tradisional lainnya terlihat semrawut, kumuh dan di beberapa bagian terlihat becek  plus tercium bau yang tidak sedap. Inilah romantika sebagian besar pasar tradisonal kita yang sering memunculkan dilema tapi disisi lain tetap saja memunculkan sisi romantisme yang sulit untuk diterjemahkan dengan kata-kata. Atau mungkin, kata "ngangeni" bisa dipilih untuk mewakili?

Pedagang ikan air tawar (Foto : Koleksi Pribadi)
Menurut Informasi dari beberapa pedagang, sebenarnya sejak 4-5 tahun yang lalu pasar Kindai Limpuar direlokasi berikut para pedagangnya ke lokasi baru di bekas lahan UPT Penyuluhan Pertanian Kabupaten Banjar yang terletak di seberang jalan arah Banjarbaru yang jaraknya sekitar 300 meter dari lokasi sekarang. Tapi para pedagang menolak untuk direlokasi dengan alasan tempatnya kurang strategis meskipun sama-sama di pinggir jalan raya Ahmad Yani. Selain itu, karena daya tampung di lokasi baru masih belum siap untuk menampung semua pedagang yang sudah terdaftar dan satu lagi alasan relokasi pasar menurut mereka masih belum jelas. Ada yang mengatakan untuk revitalisasi jalur hujau, ada juga yang mengatakan untuk terminal regional bahkan ada juga selentingan yang mengatakan bahwa lahan pasar Kindai Limpuar diminati oleh investor besar untuk dijadikan pasar modern lengkap dengan fasilitas masyarakat urban lainnya. Entah mana yang benar?
Dari berita yang dirilis beberapa media masa lokal, dikabarkan tahun 2016 ini semua pedagang akan direlokasi ke lokasi yang baru, seiring telah rampungnya semua fasilitas pasar Kindai Limpuar baru untuk menampung semua pedagang Kindai Limpuar lama. 

Bongkar muat di depan pasar (Foto : Koleksi Pribadi)

Restorasi Total Wajah Pasar Kindai Limpuar

Berita tentang relokasi pasar Kindai Limpuar memang sudah lama terdengar, jadi bukan berita baru yang mengagetkan bagi masyarakat Gambut dan sekitarnya, termasuk saya. Tapi, saya justeru dibuat kaget oleh vermaak total  wajah depan dari pasar Kindai Limpuar yang entah sejak kapan terjadinya!?

Tampilan wajah baru pasar kebanggan masyarakat Gambut itu sekarang lebih ngejreng  dari biasanya. Warna kuning dan merah berikut nama dari salah satu operator seluler besar tanah air tampak mendominasi wajah baru Pasar Kindai Limpuar.  Dari penampakan ini, semua bisa menebak kalau wajah Pasar Kindai Limpuar sudah masuk dalam wilayah komersialisasi ruang publik. 

Wajah baru Pasar Kindai Limpuar. (Foto : Koleksi Pribadi)
Secara pribadi, menurut saya branding product wajah pasar Kindai Limpuar oleh operator seluler nasional bukanlah sebuah masalah, selama tidak mengganggu ketertiban umum, aturan/hukum adat dan hukum positif yang berlaku. Bahkan menurut saya, ini sebuah terobosan cerdas dari pemangku kebijakan untuk menambah PAD dengan memaksimalkan manfaat aset-aset “tidur” milik pemerintah. Tentu tetap harus melalui prosedur yang benar dan tanpa KKN!  

Apalagi, tampilan fresh dan ngejreng warna-warni pasar Kindai Limpuar yang didominasi warna kuning dan merah, selaras dengan makna simbol warna yang selama ini menjadi trademark  budaya Banjar dan Melayu umumnya yang mengartikan warna kuning sebagai simbol kemakmuran dan warna merah sebagai simbol keberanian. Hanya saja, sepertinya ada yang terlewatkan dan terabaikan dari proses vermaak wajah Pasar Kindai Limpuar yang menurut saya merupakan “kesalahan” fatal! yaitu, dihilangkannya “penampakan” ornament-ornament khas budaya Banjar tanpa berusaha mengganti dengan tampilan yang baru, termasuk tulisan nama Pasar Kindai Limpuar yang biasa menempel di wajah pasar.

"Ngejreeeeng!". Wajah baru Pasar Kindai Limpuar. (Foto : Koleksi Pribadi)


Memang harus diakui, tema ornament tradisional terakhir  yang masih tersisa dari wajah Pasar Kindai Limpuar yang berupa atap sirap, memberi kesan kuno dan jadul.  Mungkin dianggap tidak akan mix n’ match  dengan tema modernitas dan teknologi high end yang diusung oleh operator seluler yang menyewa  wajah Pasar Kindai Limpuar untuk di branding. Tapi budaya Banjar yang elok kan tidak hanya melulu atap sirap saja! Kalau mau lebih arif dan repot sedikit, sebenarnya ornament kain sasirangan  khas Banjar bisa ditampilkan pada cat warna-warni merah dan kuning polos yang mendominasi wajah pasar. Apalagi, warna merah dan kuning juga cukup dominant pada kain sasirangan. Sehingga sangat cocok.  Seandainya ini benar-benar mendapatkan apresiasi dan menjadi kenyataan, ada beberapa manfaat yang didapat dari vermaak  wajah pasar Kindai Limpuar. 

Pertama. Tetap sebagai media promosi dari operator seluler, karena warna-warna identik perusahaan mereka tidak berubah, tetap merah dan kuning.
Kedua.  Dengan menambahkan ornament kain sasirangan pada blok ruang warna tersebut maka perusahaan seluler tersebut juga ikut serta dalam pelestarian asset seni dan budaya masyarakat Banjar dan cara ber-empati pada seni dan budaya masyarakat setempat seperti ini, sebenarnya termasuk strategi marketing yang cantik dan smart untuk merebut hati masyarakat Banjar. Bukankah itu tujuan perusahaan seluler melakukan branding  wajah Pasar Kindai Limpuar?
Ketiga. Seandainya ide kreatif ini terwujud, tidak menutup kemungkinan, kedepan Pasar Kindai Limpuar tidak hanya menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli saja, tapi juga menjadi destinasi wisata baru yang menarik. Lukisan mural raksasa ornament kain sasirangan di wajah Pasar Kindai Limpuar berwarna dominant merah dan kuning bisa dijual sebagai destinasi wisata.  

Corak ornamen Kain Sasirangan (Gambar : BatikSasirangan.com)
Mudah-mudahan ide sederhana ini bisa memberi sedikit wacana untuk upaya melestarikan sebagian asset seni dan budaya Banjar, khususnya di ruang public terbuka. Dan ….ikatan emosional masyarakat Banjar dengan Pasar Kindai Limpuar tidak akan sirna seiring keniscayaan sebuah perubahan yang akan terus terjadi di muka bumi.

Semoga bermanfaat!

Kertakhanyar, Banjar  17 April 2016


4 komentar: