Jumat, 29 April 2016

Testimoni Faktual Berlangganan Si Listrik Pintar




Hampir 3 tahun sudah saya menjadi pelanggan si Listrik pintar PLN. Jujur, awalnya saya masih merasa ragu bahkan sama sekali tidak tertarik dengan konsep teknologi si Listrik Pintar yang saat itu sedang gencar-gencarnya di sosialisasikan di Banjarmasin dan Kalimantan Selatan, karenanya tidak ada sedikitpun niatan dan keinginan saya untuk mencari tahu informasi tentang Listrik Pintar PLN, apalagi untuk bermigrasi menjadi pelanggannya.

Walaupun akhirnya saya bersentuhan juga dengan Si Listrik Pintar, semuanya berawal dari sebuah kebetulan alias tanpa saya sengaja plus sedikit paksaan halus dari PLN. Begini ceritanya,  kebetulan mulai awal 2013 jaringan listrik di rumah yang menyatu dengan toko kelontong yang saya kelola sering mati atau jeglek meternya. Setelah saya cek, ternyata daya listrik terpasang di rumah saya memang sudah tidak memadai lagi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi listrik keluarga kami. Kebetulan di bulan Agustus berikutnya, bertepatan dengan ulang tahun PLN ada program tambah daya gratis yang saat itu gencar di promosikan oleh PLN Banjarmasin.

Tanpa menunggu lama, dengan melengkapi persyaratan yang diperlukan seperti KTP, rek pembayaran terakhir dan materai akhirnya saya mengajukan permohonan kenaikan daya listrik untuk rumah saya. Saat mengisi formulir pengajuan, disinilah saya baru bersentuhan dengan istilah listrik prabayar atau Listrik Pintar. Pada kolom isian pilihan alat meter listrik terdapat dua optional yaitu meter reguler (pascabayar) dan meter baru digital (prabayar), karena tidak ada niatan untuk bermigrasi menjadi pelanggan pasca bayar/listrik pintar, maka saya conteng pilihan pada meter reguler/pascabayar setelah selesai dan saya kembalikan kepada petugasnya, betapa kagetnya saya ketika diberitahu bahwa opsi pilihan saya untuk meter reguler/pascabayar sudah tidak tersedia lagi dengan alasan mesin meterannya sudah tidak ada stoknya lagi. Artinya, mau tidak mau saya harus memilih mesin meter baru/prabayar. Sebenarnya saya sempat protes untuk masalah ini. Tapi, karena menurut penjelasan dari petugas yang melayani saya saat itu, kebijakan ini dari pusat dan berlaku nasional! Ya sudah, akhirnya saya menyerah.... 

Inilah yang saya sebut sebagai paksaan halus dari PLN. Karena akhirnya otomatis termigrasi ke listrik prabayar, maka saya dikenai biaya paket awal pulsa listrik yang nantinya tertanam secara otomatis di meter prabayar baru dengan besaran nominal bervariasi dan untuk yang ini Kita bisa memilih sesuai budget. Paket awal pulsa listrik ini nantinya bisa kita gunakan di awal pemakaian setelah meter prabayar dipasang menggantikan meter reguler yang lama. Jadi kita tidak perlu bingung lagi mencari atau membeli pulsa listrik setelah meter prabayar terpasang.

Setelah menunggu sekitar 2 (dua) minggu, akhirnya meter listrik lama saya diganti juga dengan meter pulsa listrik digital dengan daya baru sesuai permohonan saya dan tanpa menunggu lama listrik langsung menyala dengan menggunakan pulsa paket awal yang sudah terisi di meter listrik. Setelah memasang meter listriknya, petugas pemasang memberikan penjelasan singkat mengenai teknik operasional meter prabayar, biasanya tentang teknik atau cara mengisi pulsa dan cara membaca sisa pulsa pada layar monitor  yang sudah dikonversi dalam satuan kwh, termasuk cara setting alarm penanda batas minimal pulsa (dalam satuan kwh) sebagai tanda untuk pengisian ulang pulsa listrik.



Memang harus diakui, khusus untuk lompatan teknologi dari inovasi ”listrik pintar” yang digulirkan PLN sejak 5 tahunan yang lalu, tidak hanya memberikan wacana manfaat lebih saja kepada pelanggan, tapi memang memberikan manfaat dan kemudahan dalam arti sebenarnya seperti klaim PLN dalam berbagai bentuk alat promosi dan sosialisasi yang banyak bertebaran di mana-mana. Walaupun memang masih ada beberapa item yang memerlukan perbaikan dan penyempurnaan, saya yang awalnya sempat meragukan program listrik prabayar PLN dengan label "Listrik Pintar" ini, sekarang setelah hampir 3 (tiga tahun) menjadi pelanggan benar-benar merasakan banyak manfaat dan kemudahan dari si listrik pintar. Berikut rincian manfaat dan kemudahan yang saya dapatkan setelah merasakan sendiri menjadi pelanggan listrik pintar PLN, 

1. Tidak ada biaya beban bulanan/abonemen
Pada saat masih menggunakan listrik program reguler (pascabayar), saya dikenai biaya abonemen atau biaya tetap berlangganan yang tetap diperhitungkan oleh PLN apapun kondisi dan berapapun pemakaian listrik kami. Intinya, dipakai atau tidak pasokan listrik dari jaringan PLN, bagus atau jelek layanan PLN biaya abonemen ini tetap ditagih oleh PLN dengan besaran yang tetap. Sekarang, sejak menjadi pelanggan listrik pintar, kita tidak ada elemen biaya abonemen. Jadi berapapun uang yang kita belanjakan untuk beli pulsa listrik semuanya akan dikonversi menjadi Kwh setelah dikurangi PPJ 5% dan biaya adm pembelian pulsa token listrik sebesar Rp.2500-3000,- (tergantung bank penyedia)



2. Lebih mudah mengendalikan pemakaian listrik
Untuk prinsip pengendalian pemakaian listrik, baik listrik prabayar maupun pascabayar pada dasarnya memang kita sebagai pengguna yang memegang peran kendali, semua tergantung dari gaya hidup dan kebutuhan riil kita terhadap energi listrik. Hanya saja, berdasarkan pengalaman saya selama menggunakan listrik prabayar, karena untuk mendapatkan pasokan listrik kita harus  beli/bayar dimuka, logika umumnya alam bawah sadar kita relatif akan lebih mudah untuk dibawa/disetting untuk menumbuhkan sikap aplikatif lebih bijak dengan berperilaku lebih hemat untuk memanfaatkan energi listrik, sekaligus menyusun strategi praktis untuk pilihan berhemat listrik.

3. Tidak ada resiko denda dan resiko pemutusan sambungan
Dengan bermigrasi menjadi pelanggan listrik pintar prabayar, saya tidak akan tersentuh lagi dengan resiko denda dan pemutusan sambungan/jaringan oleh PLN. Saya merasa lebih enjoy! Karena saya tidak perlu lagi membuat catatan atau agenda bayar listrik tanpa denda dan berbagai urusan terkait tagihan listrik saya yang sebelumnya sering bermasalah (biasanya akurasi pencatatannya) yang akhirnya mengharuskan saya meluangkan waktu untuk komplain yang terkadang harus megelus dada karena saking jengkelnya. Dengan menjadi pelanggan listrik prabayar, saya tidak lagi berurusan secara reguler dengan PLN. Bahkan ada beberapa tetangga yang merasa seperti sudah putus hubungan dengan institusi PLN. Wooooow! (kecuali ada masalah dengan kelistrikan di rumah ya....)
Kalau pada listrik reguler pascabayar, biasanya terdapat limit waktu pembayaran rekening listrik pada tanggal 20 tiap bulannya dan bila terlewatkan oleh sebab apapun (PLN jelas tidak mau tahu!) kita akan diberikan denda yang besarannya berbeda-beda sesuai dengan plafon daya listrik yang mengalir ke rumah kita. Begitu juga dengan kemungkinan pemutusan jaringan listrik karena keterlambatan/tunggakan pembayaran yang biasanya diberlakukan setelah menunggak pembayaran 2 (dua) bulan ke atas.



4. Terhindar dari Kerugian Kesalahan pencatatan angka meter
Ini merupakan pengalaman aneh, lucu, menggelikan sekaligus menjengkelkan yang benar-benar dialami oleh tetangga saya yang berkaitan dengan pencatatan meter listrik yang tidak akurat oleh pencatat meter PLN. Tidak hanya satu lho, tapi ada beberapa tetangga saya yang mengalaminya! Ilustrasi faktual berikut ini adalah salah satu yang menurut saya paling memberikan pelajaran bagi saya, kita dan PLN tentunya. 

Begini ilustrasinya, tetangga baru saya tersebut kebetulan sudah memasuki tahun ke-2 (dua) tinggal dirumah yang disewanya tersebut. Letaknya terpaut sekitar beberapa rumah dari rumah saya. Selama ini tagihan bulanan PLN tergolong normal-normal saja dengan variasi tagihan antara 250-400rb untuk daya terpasang 1300VA dan menurut tetangga saya tersebut hitungannya dianggap pas saja dengan pemakaian (masih masuk akal, katanya!). Tapi, ketika mau membayar tagihan bulan selanjutnya betapa  terkejutnya tetangga saya tersebut, karena tagihan terbaru mencapai hampir 20 juta. Setelah melakukan komplain sekaligus crosscheck antara data angka meter terakhir yang tertera pada mesin meter Kwh dengan data catatan PLN, akhirnya memang ditemukan ada selisih pemakaian yang mencapai puluhan ribu kwh. 

Pihak PLN memang mengakui ada kesalahan akurasi dalam proses pencatatan angka meter yang dilakukan oleh petugasnya. Tapi untuk mesin meter Kwh dan angka angka meter yang tertera tidak ada kesalahan dan itu dibuktikan oleh angka meter terakhir dalam struk tagihan bulan sebelumnya (angka meter yang sudah ditagih PLN) ketika di  crosscheck dengan angka yang tertera di meter listrik. Hanya saja, dalam masalah ini PLN tidak bisa menjelaskan mulai kapan selisih pencatatan itu terjadi, apakah sejak rumah berdiri atau baru saja sejak disewa oleh tetangga saya tersebut? Hal ini terkait dengan penanggung jawab yang harus membayar selisih pembayaran terhutang kepada PLN yang begitu besar. Faktanya, rumah tersebut sejak berdiri 12 tahun yang lalu memang dijadikan sebagai rumah sewaan dan selisih pencatatan yang berakibat adanya tagihan terhutang baru diketahui sekarang, setelah penyewanya berganti sampai lebih dari 6 orang!  Hayo, Kalau sudah begini harus gimana dong? 

Mudah-mudahan ilustrasi faktual ini mendapat perhatian dari PLN agar tidak terulang lagi dikemudian hari, karena kejadian seperti ini sangat-sangat merugikan dan memberatkan pelanggan. Saya yakin, semua bukan berawal dari sebuah niat/kesengajaan dari institusi PLN, tapi lebih pada human error dari personil pencatat meter yang biasanya memang bukan karyawan PLN tapi tenaga kontrak yang disediakan oleh rekanan. Mudah-mudahan fakta-fakta seperti ini tidak seperti fenomena gunung es yang hanya terlihat sebagian kecil puncaknya saja tapi kenyataanya yang tidak terlihat jauh lebih besar.  

Untuk terhindar dari ribetnya masalah-masalah seperti diatas, sepertinya solusi jitu yang paling aman bagi pelanggan listrik PLN adalah dengan beralih menjadi pelanggan listrik pintar alias listrik prabayar! Enjoy aja....!

5. Privasi dan kemanan lingkungan pelanggan yang lebih terjaga
Seperti yang saya sebutkan pada point  3 (tiga) diatas, dengan menjadi pelanggan listrik prabayar saya merasa enjoy! semua kendali terkait PLN sudah ada ditangan dan kalaupun ada masalah dengan kelistrikan di rumah tinggal call ke 123, beres!. Bagusnya lagi, secara reguler tidak akan ada lagi petugas pencatat meter yang datang ke rumah untuk mencatat angka meter yang terkadang datang tidak beraturan dan diwaktu yang tidak tepat sehingga kehadirannya terasa mengganggu aktifitas dan privasi kita.
Selain itu, pernahkah terpikirkan siapa dan apa latar belakang mereka? Saya yakin hampir semua diantara kita tidak mengenal siapa mereka yang tiba-tiba masuk halaman kita untuk mencatat atau memfoto meter listrik kita? Celakanya lagi, sulit bagi kita untuk melakukan konfirmasi kepada PLN tentang identitas petugasnya dilapangan yang sering terlihat tidak melengkapi diri dengan seragam dan tanda pengenal resmi dengan berbagai alasan (Fakta ini sering saya dapati di lingkunan tempat tinggal saya di Banjarmasin! Entah di lingkuangan yang lain). Intinya, dengan semakin memperkecil kemungkinan akses orang luar yang tidak kita kenal masuk wilayah privasi kita, tentu juga mengurangi resiko akan keamanan lingkungan kita.
Jadi menurut saya, upaya PLN menghadirkan inovasi pelayanan melalui teknologi listrik pintar prabayar yang meminimalisir keterlibatan pihak lain (orang/human) dalam hubungan antara pelanggan dengan PLN, mempunyai banyak sisi positifnya. Selain mengurangi resiko human error, seperti salah catat yang berakibat sengketa fatal (point 3) juga bermanfaat untuk mengeliminir kemungkinan resiko keamanan lingkungan pelanggan.

6. Pulsa listrik yang mudah didapat dengan nominal bervariasi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan
Sejak tanggal 1 Oktober 2015, pilihan nominal token listrik prabayar ditetapkan dengan sistem fix rate yang nominalnya sudah ditentukan oleh operator seperti layaknya sistem yang dipakai pulsa handphone yaitu pecahan 20.000, 50,000, 100.000, 200.000, 500.000, 1.000.000, 2.000.000 dan 5.000.000. Sedangkan pilihan  custom rate (angka nominal token sesuai permintaan konsumen) yang sebelumnya menjadi pilihan favorit pelanggan resmi dihapuskan. Walaupun pilihan transaksi token listrik custom rate dihapuskan (menurut saya konsep transaksi ini sangat demokratis ; rincian penjelasan di bawah), tapi beragamnya nominal token listrik yang disediakan saya kira masih sangat mudah untuk dijangkau oleh semua kalangan.
Untuk mendapatkan pulsa listrik, bukan perkara sulit! Hampir semua bank sekarang menyediakan token pulsa listrik. Selain itu,  sekarang di pelosok-pelosok daerah sudah banyak tersebar PPOB (Payment Point Online Bank), yaitu outlet/loket pembayaran tagihan online yang biasanya berafiliasi dengan bank-bank resmi yang bekerja sama dengan PLN untuk menyediakan token pulsa listrik untuk masyarakat. Jadi tidak perlu kuatir kesulitan mencari pulsa listrik!

7. Meter listrik digital multi fungsi dengan akurasi tingkat tinggi
Berbeda dengan meter listrik reguler (pascabayar) yang sebagian besar masih menggunakan teknologi analog dan fungsinya hanya mencatat kwh yang dipakai oleh pelanggan, meter listrik digital jauh lebih canggih. Berikut, beberapa fakta kecanggihan dan manfaatnya

7.1 Koneksi data antara meter listrik dengan server PLN menggunakan sinyal layaknya handphone. Sehingga, data situasi dan kondisi umum kelistrikan kita tetap bisa dipantau dari server PLN. Jadi kalau ada masalah dengan kelistrikan kita, PLN tetap bisa memberi bantuan secepatnya.
7.2  Layar digital meter listrik tidak hanya memberikan informasi tentang kwh saja, tapi juga bisa memberikan informasi penting lainnya yang tidak dimiliki oleh meter listrik pascabayar, diantaranya


- Fitur lampu pada layar
Berbeda dengan meter listrik analog pada listrik pascabayar yang tanpa lampu, meter listrik prabayar dilengkapi dengan layar berlampu yang bisa digunakan untuk mendeteksi koneksi listrik dengan jaringan PLN. Ketika lampu di rumah padam, kita bisa mendeteksi sumber yang menyebabkan listrik padam. Kalau layar berlampu ikut mati, artinya indikasi sumber pemadaman berada di luar instalasi kelistrikan di dalam rumah. Entah karena pemadaman oleh PLN atau karena gangguan masalah jaringan di luar pemadaman oleh PLN, seperti terkena petir, kabel putus karena pohon tumbang dsb. Begitu juga sebaliknya, seandainya lampu dirumah padam tapi layar pada meter listrik masih menyala, berarti masalah ada didalam rangkaian instalasi kelistrikan didalam rumah kita.
Fungsi lainnya, layar meter ini juga bisa dijadikan indikator 

- Fitur peringatan berupa tanda gambar padea layar
Bila ada bagian jaringan instalasi kelistrikan didalam rumah kita tidak normal atau bermasalah, maka pada panel indikator di layara meter listrik akan memberi tanda berupa gambar-gambar tertentu sesuai dengan diagnosa penyebab masalahnya. Sehingga kemungkinan adanya bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh masalah tersebut bisa di minimalisir. 

- Fitur alarm penanda pulsa minimal
Seperti layaknya pulsa handphone yang bisa habis karena di pakai, begitu juga dengan pulsa listrik prabayar. Bedanya, meter listrik pintar ini dilengkapi dengan fitur alarm yang akan mengeluarkan bunyi ketika stok kwh listrik prabayar kita mendekati angka kritis dan harus segera diisi ulang. Fitur ini bisa disetting sesuai kebutuhan, baik bunyi maupun limit angka kwh sebagai batas kritisnya. Sehingga, kemungkinan sekaligus kekhawatiran listrik dirumah akan padam karena kehabisan pulsa kwh tanpa sempat mengisi ulang, sangat-sangat bisa diminimalisir dengan fitur alarm ini.
Itulah beberapa kelebihan dan manfaat faktual yang saya rasakan sejak bermigrasi menjadi pelanggan listrik pintar PLN. Memang, manfaat-manfaat diatas sifatnya sangat subyektif. Semuanya dari sudut pandang saya yang mungkin secara kebetulan pas atau sesuai dengan materi yang dipromosikan oleh PLN melalui berbagai media promosinya.
Tapi tunggu dulu! Selain catatan testimonial diatas saya juga mempunyai beberapa ide dan catatan penting berkaitan dengan si Listrik Pintar yang mudah-mudahan bisa menjadi bagian dari konstruksi besar yang dirancang PLN dalam upayanya memaksimalkan kepintaran si listrik pintar, Semoga!

Memang tidak ada gading yang tak retak! Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini! Saya kira ungkapan pepatah tersebut sangat relevan dengan usaha keras PLN dalam upayanya memberikan pelayanan maksimal bagi semua pelanggannya di seluruh Indonesia, termasuk inovasi teknologi listrik prabayar yang diluncurkan dengan label "Listrik Pintar" yang menurut saya memang benar-benar pintar!. Tapi apakah semuanya sudah sempurna?  Jawabnya tentu belum! Karena saya masih melihat beberapa titik yang masih perlu membutuhkan inovasi dan perbaikan lebih lanjut agar kepintaran si listrik pintar benar-benar maksimal dan bisa diambil manfaatnya oleh pelanggan secara maksimal juga!
Berikut catatannya : 


Pertama. Proses pengisian pulsa listrik dinilai tidak praktis dan kurang efisien
Proses pengisian pulsa listrik masih menggunakan cara manual dengan cara menekan tombol kode token berupa angka sebanyak 20 digit yang tertera pada voucher fisik yang dibeli di PPOB atau ATM Bank. Cara ini mengadopsi cara pengisian pulsa handphone dengan voucher fisik yang relatif sudah ketinggalan jaman dan mulai ditinggalkan oleh masyarakat dan operator seluler, karena dinilai tidak praktis dan kurang efisien. Tidak praktis, karena pelanggan harus meluangkan waktu untuk mengisikan token ke meter listrik. Tidak efisien, karena dinilai boros kertas.

Sebagai gantinya, operator seluler sekarang lebih intensif mengutamakan penjualan pulsa dengan sistem elektrik. Tanpa kertas dan bisa langsung masuk ke nomor pelanggan. Seharusnya, PLN juga mengadopsi cara dan teknologi operator seluler dalam menjual pulsa listrik pintarnya. Alasannya, jelas lebih praktis dan efisien. Selebihnya adalah untuk membuang ironi! Lho kok ironi!? Coba perhatikan kalimat "pulsa elektrik"! Kata elektrik dalam bahasa Indonesia artinya kan listrik. Logikanya, PLN kan pemilik dan pengelola listrik masak tidak bisa menjual pulsa listriknya secara "elektrik" seperti operator seluler yang tidak punya sumber listrik...he...he...he...intermeso!?
Satu lagi! Pemakaian kertas untuk mencetak struk pembelian token. Coba bayangkan! Dari total jutaan pelanggan listrik pintar PLN di seluruh Indonesia, berapa juta diantaranya yang bertransaksi dalam 1 (satu) harinya? Tentu ini akan berbanding lurus dengan kebutuhan kertas dan ujung-ujungnya merembet ke masalah lingkungan! Berapa batang pohong yang akan ditebang untuk memproduksi kertas tersebut? Apa ini tidak bertentangan dengan tagline si listrik pintar yang tercantum pada  kartu pelanggan seperti pada gambar diatas? Hemat energi Selamatkan Bumi! 

Kedua, Jam buka outlet dan koneksitas server PLN
Pulsa listrik memang sudah banyak yang menjualnya, bisa melalui loket PPOB, transaksi Bank, ATM, minimarket jaringan dan outlet pulsa HP. Tapi sayangnya rata-rata semua mempunyai jam buka terbatas tidak sampai 24 jam, kalaupun ada minimarket dan ATM yang bisa diakses sampai 24 jam tapi tidak semua sistem PPOB dan ATM bank bisa connect 24 jam juga dengan server. Rata-rata diatas jam 24.00 sudah jarang yang connect dan bisa transaksi.

Dari besaran pulsa yang dibeli, pelanggan listrik pintar bisa dibagi menjadi dua, yaitu pembeli pulsa sesuai kemampuan dan pembeli pulsa sesuai kebutuhan. Tentu untuk tipikal pelanggan yang belanja listriknya sesuai kemampuan akan kesulitan membeli pulsa seandainya tepat pada jam-jam kritis itu meter listrik ”teriak-teriak” minta diisi. Khusus untuk tipikal pelanggan yang biasa belanja pulsa listrik sesuai kemampuan, ada tambahan tugas ekstra, yaitu harus selalu mengontrol saldo pulsa yang tertera di layar monitor meter listrik.





Ketiga, skema nominal pulsa listrik pintar
Seperti yang saya sebutkan pada point no. 6 diatas. Sejak tanggal 1 Oktober 2015, ada 2 (dua) perubahan penting pada skema penjualan pulsa listrik pintar PLN. yaitu, dihapusnya custom rate menjadi fix rate dan dikeluarkan/dipisahnya biaya administrasi bank dari elemen rincian biaya pembelian pulsa listrik. Perubahan-perubahan mendasar ini menurut saya kurang smart sehingga mengingkari semangat pintar dari si listrik pintar itu sendiri. Bahkan ada beberapa yang menilai perubahan itu cenderung memberatkan pelanggan. 

Begini ilustrasinya, sebelum tanggal 1 Oktober 2015, nilai uang berapapun asal diatas Rp.20.000 bisa di konversikan secara otomatis menjadi pulsa listrik (sistem langsung bisa mengkonversikan nilai uang kedalam berbagai rincian biaya yang ada). Misalkan, kita belanja di minimarket atau toko yang sekaligus menyediakan PPOB, setelah transaksi ada kembalian sebesar Rp.23.550,- kita bisa minta kembalian itu dalam bentuk pulsa listrik tanpa tambahan biaya apapun, karena semua elemen biaya selain biaya pulsa seperti  PPJ (Pajak Penerangan Jalan) dan admin Bank sudah include. Tapi sejak ada perubahan skema per-tanggal 1 Oktober 2015 yang lalu, fleksibilitas yang saya istilahkan dengan custom rate yang terlanjur dianggap bagian dari smart-nya si listrik pintar tidak bisa lagi dilakukan, karena besaran nilai nominal pulsa listrik yang tersedia sudah ditentukan (fix rate), yaitu pecahan 20, 50, 100, 200, 500, 1 jt, 2jt dan 5jt.

Masalah lain yang sering menjadi keluhan adalah bagi pelanggan yang sudah terbiasa belanja sesuai kebutuhan atau biaya listrik di tanggung oleh instansi tempat bekerja dengan nominal yang sudah ditentukan. Berangkat dari pengalaman terdahulu, tipikal pelanggan yang satu ini biasanya sudah hapal betul berapa kebutuhan listrik dalam satu periode tertentu (umumnya mingguan, dwi mingguan atau bulanan). Kalau kebetulan nilai nominal kebutuhan per-periode tidak sesuai dengan pecahan nominal pulsa listrik yang tersedia, maka pelanggan harus bertransaksi beberapa kali untuk mendapatkan pulsa listrik yang sesuai dengan kebutuhannya. 

Contohnya begini, Kebutuhan listrik perbulan  Rp. 850.000. Bila transaksi sebelum tanggal 1 Oktober 2015, maka pelanggan membayar kepada penjual pulsa listrik/ATM sama seperti nominal yang dibeli yaitu sebesar Rp.850.000 dengan membayar 1 (satu) kali biaya administrasi bank plus 1 (satu) kali biaya materai yang sudah include.
Tapi sejak tanggal 1 Oktober 2015, maka untuk mendapatkan nominal  pulsa listrik sebesar Rp. 850.000 si pelanggan harus bertransaksi minimal 4 (empat) kali transaksi yaitu, 500 rb, 200rb, 100rb dan terakhir 50rb. dengan 4 (empat) kali transaksi berarti si pelanggan harus membayar administrasi bank sebanyak 4 (empat) kali juga, itu rtinya lebih boros!  Celakanya, struk yang harus dicetak juga lebih banyak yaitu 4 (empat) kali cetak!

Keempat, Tentang batas atas nominal saldo kwh mengendap di meter Point ini yang sebagian besar masyarakat dan pelanggan banyak yang belum mengerti. Meter listrik prabayar mempunyai batas atas atau saldo mengendap maksimal yang perhitungannya tidak pernah di sosialisasikan kepada pelanggan, berikut berbagai konsekuensinya (yang ternyata lumayan mengerikan!) Jadi apabila pelanggan mempunyai rezeki lebih, tidak bisa serta merta menabung pulsa listrik sebanyak yang pelanggan mau. Ternyata ada mekanisme ratio kontrolnya, tidak bisa sembarangan.

Sayangnya, selain tidak adanya sosialisasi dan transparansi perhitungan batas atas ini, pelanggan juga tidak mendapatkan notifikasi atau peringatan atau pemberitahuan. Biasanya hanya ditandai dengan tidak bisa membeli pulsa listrik baik di ATM ataupuin di outlet PPOB. Memang ada keterangan yang keluar ketika bertransaksi, tapi keterangannya tidak secara tegas mengatakan bahwa stok saldo pelanggan melebihi batas atas. Dan apabila pelanggan memaksakan diri bertransaksi sampai 3 kali maka secara otomatis mesin meter listrik pintar milik pelanggan akan terkunci oleh sistem dan akibatnya, (ini yang agak kurang nyaman!) pelanggan harus menyelesaikan urusannya ke kantor PLN terdekat. Anehnya, dalam kasus ini pelanggan dianggap tidak layak lagi berlangganan dengan kapasitas daya yang sekarang terpasang dengan alasan kebutuhan daya listrik pelanggan yang sebenarnya lebih besar dari kapasitas daya yang sekarang terpasang. Nah, lho...?
Mudahan kedepan ada penjelasan dari PLN terkait masalah ini dalam berbagai media promosi PLN.

Kelima, Sosialisasi berkelanjutan dengan bersinergi
Sejak awal di gulirkan oleh PLN, masyarakat pengguna layanan listrik prabayar mempunyai pendapat dan testimoni yang berbeda-beda terkait layanan si listrik pintar. Ada yang merasa lebih murah atau irit, tapi banyak juga yang mengatakan lebih mahal. Ada yang merasakan lebih enjoy dan langsung familiar, tapi ada juga yang merasa lebih merepotkan dan terbebani aktifitas baru yang merepotkan. Tapi anehnya, semuanya berdasarkan pengalaman sendiri lho! Bukan sekedar kata-nya dan katanya. Kok bisa berbeda-beda ya?

Memang banyak faktor yang mempengaruhinya. Beda daya tentu beda tarif, beda gaya hidup tentu juga beda kebutuhan pemakaiannya. Beda wawasan tentu beda juga cara merespon masalah, beda aktifitas keseharian juga beda cara pandangnya. Intinya, keberagaman latar belakang tersebut akan berpengaruh terhadap pengalaman testimonial masyarakat saat bersentuhan dengan si listrik pintar.

Menurut saya, persepsi masyarakat terhadap si listrik pintar harus diluruskan guna menetralisir sekaligus meminimalisir kemungkinan terjadinya salah persepsi secara masal terhadap si listrik pintar karena beragamnya opini didalam masyarakat. Seperti kita pahami bersama, budaya tutur dengan sistem getok tularyang telah menjadi kultur komunikasi masyarakat kita, sangat efektif untuk menyebarkan berita, terlepas dari benar-tidaknya kandungan isinya.

Untuk keperluan tersebut, ada baiknya PLN melakukan sosialisasi berkelanjutan dengan berbagai media yang disesuaikan dengan sosiokultur masyarakat setempat dengan bersinergi lintas sektoral dengan berbagai pihak yang mempunyai visi sama untuk kemajuan dan kemaslahatan masyarakat Indonesia. Satu lagi, jangan lupa untuk tetap membuat semacam brosur atau buku saku pintar tentang si listrik pintar sedetail mungkin untuk dibagikan kepada seluruh masyarakat karena keberadaan brosur/buku saku ini merupakan instrument paling efektif untuk menjembatani eksistensi ruang dan waktu semua segmen masyarakat dengan berbagai program PLN kapan saja dan dimana saja. Coba bandingkan dengan instrument aplikasi lain yang berbasis internet, radio atau televisi semuanya mempunyai ruang dan waktu yang masih terbatas.

Enam, Strategi Promosi dan Pengembangan yang produktif bagi Si Listrik Pintar

Saya heran sekaligus bingung dengan munculnya berbagai berita miring tentang penolakan masyarakat terkait si Listrik Pintar dengan berbagai macam alasan di berbagai daerah di Indonesia. Dikabarkan adanya pemaksaan migrasi listrik pasca bayar ke prabayar, penggantian meter diam-diam oleh oknum PLN, tindakan represif dengan memanfaatkan aparat untuk menakut-nakuti masyarakat agar mau bermigrasi ke listrik pintar, kecurangan penjual pulsa listrik dengan menambah harga jual dari harga normal yang memang tidak pernah ada kontrol dari PLN, pelanggan yang merasa dijebak PLN agar mau bermigrasi ke listrik prabayar dan lain-lainnya. Benar tidaknya berita yang terlanjur memasyarakat ini, sayangnya tidak mendapatkan tanggapan serius dari PLN yang terkesan cuek bebek. PLN seperti tidak berusaha untuk memberikan klarifikasi terkait berita-berita miring tersebut. Atau jangan-jangan semuanya benar? Lantas untuk apa itu semua? Bukankah semuanya merupakan tindakan kontraproduktif yang justeru akan meneggelamkan pamor kepintaran si listrik pintar!?

Mungkin belajar dari filosofi intan bisa sedikit membantu memberi pencerahan, yang namanya intan dikubur dalam lumpur dan kotoran sekalipun, intan tetaplah intan dan kilaunya tetap akan mempesona siapapun setelah di cuci bersih. Analoginnya, inovasi produk listrik pintar PLN mau di beri label apapun selama memang lebih baik, lebih bermanfaat dan lebih efisien sehingga memberi kemanfaatan lebih kepada masyarakat, bila dipadu dengan strategi tepat tentu pasti akan terlihat pamor kepintarannya.

Jadi menurut saya akan lebih bijak bila proses pengembangan dan pemasyarakatan si listrik pintar dilakukan dengan langkah-langkah bijak dan cerdas, dengan mengedepankan upaya persuasif dan pendekatan budaya yang humanis langsung kepada masyarakat. Sudah bukan jamannya lagi menggunakan cara-cara represif dan intimidasi yang justeru akan membuat masyarakat semakin antipati, ketika mereka justeru belum memahami esensi sebenarnya dari kepintaran si listrik pintar. Saya yakin manfaat lebih Listirik Pintar PLN suatu saat nanti akan dicari orang! Dari Banjarmasin, berpikir pintar untuk si-listrik Pintar! .... Semoga bermanfaat!


2 komentar: